Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Mendadak Cemburu


__ADS_3

Entah sudah berapa lama kujalani kehidupan yang berkaitan dengan hidup seorang pria yang bahkan belum memiliki ikatan denganku. Meski dia sudah sedikit demi sedikit bisa mengubah sikapnya menjadi lebih hangat. Kehidupanku sekarang didominasi oleh seorang Khalif Adhitama. Dan sampai saat ini pula, aku masih belum menemukan cara agar perjodohan bodoh ini dibatalkan.


Hari ini aku sangat kesal padahal ini masih pagi. Pasalnya karena sejak subuh. Khalif meneleponku dan mencoba mengatakan hal yang tak masuk akal. Membuatku jengkel pagi-pagi. Heran apa yang terjadi dengan anak itu dalam semalam, kenapa dia jadi seperti ini. Apa kepalanya terbentur ke tembok tadi malam atau dia kecelakaan ketika sepulang mengantarku dan otaknya sedikit geser. Huh menyebalkan !


“Alyssa.” Sapanya.


“Ada apa ?” Jawabku dengan malas.


“Lagi apa ?” Tanyanya lagi.


“Menurut kamu sekarang aku lagi apa hah ??” Jawabku. “Kau sadar sudah mengganggu tidurku ?”


“Kamu masih tidur, memang nggak shalat subuh ?”


“Kayak nggak tahu perempuan. Lagi nggak bisa.” Kataku sambil mengucek-ngucek mataku yang berat karena kantuk. “Ini sebenarnya kamu mau apa ?”


“Nggak tahu juga.” Aku melototkan mataku sejenak ketika jawaban itu yang kuterima. Lalu apa maksudnya yang menghubungiku di jam segini. Apa dia tidak berpikir kalau ini akan menggangguku ?


“Khal, sudah dulu ya neleponnya. Aku masih ngantuk. Nanti lagi, deh.” Kataku.


“Ketemu saja gimana kalau hari ini. Makan siang bareng di restoran, jadi kamu nggak perlu masak buat hari ini.”


Tanpa berpikir panjang aku langsung setuju dan meng-iya-kan, juga langsung menutup sambungan telepon. “Oke.”


Siang ini kau mungkin baru tahu kebiasaanku yang baru saja kuungkap. Apa yang telah kukatakan pada Khalif waktu subuh di telepon, aku benar-benar menyesalinya. Aku mempunyai kebiasaan buruk akan meng-iya-kan segala sesuatu yang seseorang katakan ketika itu mengganggu tidurku.


Menyesalnya adalah hari ini aku harus membatalkan janjiku untuk pergi bersama Nadira hanya karena sebuah janjiku yang tak disadari pada Khalif. Aku baru menyadarinya ketika Khalif menjemputku ketika aku akan berangkat menemui Nadira di rumahnya. Untung saja sepupuku itu sangat memahami keadaan yang menjebakku saat ini. Jadi, dia memaafkanku.


“Apa sekarang ?” Tanyaku kepada Khalif dan kini saat ini kami berada di sebuah restoran yang dipilihkannya.


“Apanya ?” Dan Khalif malah balik bertanya.


“Kamu kemari mengajakku mau bicara apa ?” Kataku. “Aku harus membatalkan janjiku dengan Nadira karena kamu.”


“Bukannya kamu sudah sepakat akan bertemu denganku hari ini ?” Jawab Khalif. “Itu yang kamu katakan tadi subuh di telepon.”


“Lagipula kamu mau apa telepon aku subuh-subuh ? Ah, sudahlah. Baiklah, kamu bicara saja sekarang apa yang ingin kamu katakan.”


“Tidak ada.”

__ADS_1


Aku langsung menaruh buku menu ke meja ketika Khalif dengan santainya mengatakan tidak ada yang ingin ia bicarakan. Lalu kenapa dia masih tetap menjemputku dan membuatku merasa semakin bersalah terhadap saudara misanku, Nadira. Kalau saja sekarang aku dan dia berada di sebuah warung pinggir jalan atau makan di tempat abang-abang pakai gerobak, aku dengan sangat mungkin sudah memaki-maki pria ini. Tapi tidak kulakukan. Posisinya sekarang ada aku dan Khalif sedang di sebuah restoran yang cukup bonafit.


Aku mungkin bisa saja memaki Khalif saat ini, tapi aku juga harus siap membuat malu diriku sendiri. Orang-orang di sana pasti melihat ke arah kami. Aku hanya menahan rasa yang ditimbulkan Khalif dan membuatku mengutuknya dalam hati ketika sedang makan.


Ketika kami sedang makan, ada seseorang yang kebetulan lewat dan menyapa Khalif. Sepertinya dia teman Khalif bukan rekan bisnisnya melihat dari cara dia menyapa. Khalif memperkenalkan aku kepada pria itu.


“Alyssa.”


“Denny.”


Setelah kami berkenalan lengkap dengan jabat tangan. Ada seseorang lagi yang menghampiri kami. Kali ini seorang wanita. Cantik. Kemudian Khalif mengajak keduanya bergabung di meja kami yang masih tersisa dua kursi kosong. Aku dan wanita itu juga berkenalan seperti kepada Denny tadi, dan kuketahui dia bernama Shakira.


Suasana hatiku hari ini sungguh buruk dan itu di mulai sebelum matahari terbit. Hingga saat ini aku semakin kesal. Sudah cukup ketika Khalif terlihat bagai mempermainkanku hari ini dan tanpa meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. Ditambah wanita cantik bernama Shakira ini datang-datang langsung memeluk dan cipika-cipiki tanpa sungkan kepada Khalif.


“Kamu apa kabar ?” Tanya Shakira kepada Khalif.


“Baik. Bagaimana kabarmu ?” Lihatlah bagaimana bisa Khalif bersikap sehangat itu. Apa karena dia temannya sewaktu kuliah di luar negeri. Atau karena Khalif pernah memiliki perasaan dengannya. Siapa wanita ini ?


Aku hanya memandangi mereka berdua dengan tatapan yang mungkin terbilang tajam. Bisa dikatakan begitu. Steak yang dengan anggunnya ditaruh di piringku kini bentuknya menjadi tak karuan berkat aku yang memotongnya dengan penuh kesal sambil menatap Khalif yang mengabaikanku.


Berhubung aku duduk di samping Khalif karena ketika kedua temannya ini datang, dia langsung pandah ke samping, aku menemukan ide baru. Lihat saja bagaimana nantinya perempuan ini akan bereaksi. Lagipula kenapa juga Khalif tidak mengatakan kalau aku ini adalah calon istrinya kepada Denny dan Shakira. Ya memang aku dan Khalif tidak memiliki ikatan apa-apa, tetapi bagaimana mungkin dia bisa bersikap seramah itu kepada teman wanitanya dibandingkan untuk bersikap baik kepadaku.


Aku benar-benar melancarkan aksiku. Menggenggam tangan Khalif. Sontak Khalif terkejut. Akupun sama, kenapa bisa aku bersikap sedemikian terhadap dirinya. Shakira nampak menatap geram ketika tanganku menyentuh tangan Khalif. Denny juga terlihat sama terkejutnya. Mungkin mereka berpikir kalau aku ini adalah sekretaris pribadi Khalif yang makan siang bersama sehabis menemui klien.


“Sayang, aku ke toilet dulu, ya.” Itulah yang kukatakan padanya. Dengan ini kuharap Shakira menyadari kalau aku memiliki hubungan dengan teman kuliahnya itu. Dan untuk Khalif semoga dia menyadari kalau aku memanggilnya dengan kata “Sayang” dalam situasi seperti ini, itu artinya aku tidak ingin diabaikan olehnya.


“Iya.” Khalif walau sempat kaget, dia akhirnya bisa tersenyum kepadaku dan memberikan izin.


Seperti dugaanku sebelumnya. Shakira ternyata mengikutiku untuk pergi ke toilet dan aku menduga pula kalau dia akan menanyakan mengenai hubungan apa yang terjalin di antara aku dan Khalif. Aku bingung kenapa juga dia bersikap seperti ini, padahal sudah jelas kalau dia telah bersama Denny.


Shakira dan aku kini berdiri di depan cermin besar di toilet restoran.


“Kamu kekasihnya Khalif ?”


Bingo ! Sepertinya aku harus menyadarkan dia dengan lebih jelas. Ini bukan tentang diriku, tetapi aku hanya kasihan terhadap Denny yang sepertinya cemburu atas sikap Shakira terhadap Khalif. Jika ini terus dibiarkan, bisa saja akan terjadi perkelahian akibat wanita ini.


“Iya. Aku kekasihnya. Kalau kamu dengan Denny, kalian sudah berapa lama bersama ? Kalian sepertinya saling mencintai dan terlihat serasi.”


“Kami pacaran setahun dan memutuskan untuk menikah tahun depan. Denny mengatakan kalau aku sangat berharga baginya. Kalau kamu sama Khalif, bagaimana kalian bisa kenal. Selama aku dekat dengan Khalif, dia adalah pria yang dingin kalau bersikap terhadap perempuan lain. Aku kaget karena sebelumnya Khalif tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Dia begitu pemilih untuk urusan wanita.”

__ADS_1


“Kami juga berencana akan menikah sama seperti kalian. Aku dan Khalif. Kami baru kenal beberapa bulan, tapi aku dan Khalif juga keluarga kami sepakat untuk menikah. Dia mungkin dari luar terlihat dingin, tapi kurasa itu hanya penampilan luarnya. Dia sejujurnya sangat hangat dan penyayang.” Terlihat begitu jelas kalau Shakira membulatkan matanya mendengar pernyataanku. Aku hanya tidak suka dengan nada bicaranya yang seolah sangat mengenal betul bagaimana kepribadian Khalif.


Kalau kalian menyadari, dari kalimat yang ia utarakan itu mengarah kalau setiap laki-laki selalu memperlakukan dirinya dengan istimewa, entah itu untuk Denny ataupun Khalif. Khalif hanya bersikap hangat hanya kepadanya dan mempertegas kalau wanita yang seharusnya bersama Khalif adalah dirinya. Sebenarnya Denny tidak buruk, justru pria itu mungkin terlalu baik jika harus bersama dengan wanita seperti Shakira yang tidak mengerti sebuah ketulusan.


Lepas dari makan siang itu, Khalif mengantarku pulang dan sampai sekarang dia belum meminta maaf. Khalif dengan begitu santai seperti biasanya berjalan mendahuluiku setelah keluar dari restoran. Aku mendengus kesal dan berdecak sebal.


Kuakui Khalif memang pria yang dingin dan cuek, juga sering mengabaikanku ketika sedang bersama. Tapi, meskipun begitu ia tetaplah seorang pria yang menghargai perempuan yang sedang bersamanya, salah satunya dengan cara membukakan pintu mobil untukku. Aku juga sudah terbiasa ketika dia melakukan hal itu sejak awal kenal dengan Khalif.


“Aku minta maaf.” Kata Khalif ketika kami sudah berada di dalam mobil. Akhirnya permohonan maaf itu terlontar juga dari mulutnya. Aku hanya berdehem untuk menjawab, karena agak malas menanggapi.


“Kamu marah ?” Tanyanya lagi, namun tidak kujawab. Suasana kembali menjadi hening dan itu sangat membuatku canggung. “Aku bermimpi…”


Mendengar Khalif mengatakan kalau dia bermimpi, aku bingung dengan penuturannya. Apa hubungannya denganku coba, pikirku. Sebenarnya malas menanggapi omongannya yang kemungkinan saja itu adalah hal-hal tidak masuk akal lagi yang akan ia katakan layaknya subuh tadi.


“Mimpi apa ?” Tanyaku padanya.


“Mimpi soal Papa yang sangat membenciku.” Aku sedikit heran karena pengakuannya yang begitu gamblang menceritakan hal yang begitu pribadi menurutku. Kalau boleh menebak, aku berani mengatakan kalau pria ini tidak memiliki tempat untuk mengisahkan apa yang ia rasakan. Tapi aku juga tidak mengerti mengapa dia justru mengatakan hal itu kepadaku, sedang kami tidak dekat.


“Om Farhan tidak mungkin membenci anaknya sendiri.” Aku mencoba menanggapi pernyataan Khalif dengan sedikit mencoba menenangkan pikirannya karena aku tahu saat ini dia terluka. Sementara Khalif masih fokus menyetir.


“Saat pertama kali Papa menamparku dan di matanya kutahu dia sangat membenciku mulai saat itu.” Khalif mengatakan sesuatu lagi sambil matanya seolah membayangkan kejadian dulu yang ia maksud.


“Dia pasti mempunyai alasan yang kuat. Aku tidak tahu ini menyangkut masalah apa, tapi seberapa besar masalah itu sendiri, orang tua tidak mungkin sampai membenci anaknya.” Khalif tertegun sejenak mendengar ucapanku.


“Tapi itu yang kulihat dan itu selalu mengganggu tidurku. Aku mencoba menyiksa diri dengan bersikap kalau aku juga membencinya. Seperti tadi malam, aku terjaga dan meneleponmu. Aku minta maaf.” Kata Khalif lagi. “Papa mengusirku ke luar negeri setelah dia memisahkan aku dari seseorang. Dan aku justru membalas perlakuan Papa dengan tinggal di apartemen sepulang dari sana.”


“Kenapa ? Seharusnya kamu pulang ke rumah dan memperbaiki keadaan. Papamu pasti merindukanmu, tapi dengan sikapmu yang seperti ini pasti juga rumit baginya. Semuanya jadi salah paham.”


“Ini bukan kesalahpahaman.” Tandas Khalif sambil dia melihat ke arahku sebentar, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Papa membenciku karena aku mencintai seorang wanita dari keluarga yang ia benci.”


Kini aku yang diam. Aku baru mengetahui tentang ini, kemarin Khalif hanya mengatakan kalau Papanya adalah orang yang selalu memaksakan kehendak terhadap anak-anaknya, tapi masalah ini jujur aku baru mendengar dari Khalif.


Hari ini aku tahu kalau alasan Khalif pergi ke luar negeri adalah untuk menjauhkan dia dari wanita yang ia cintai dan agar Khalif melupakan wanita itu. Aku tidak ingin bertanya untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang sebab mengapa Om Farhan membenci keluarga wanitanya itu dan aku tidak ingin Khalif beranggapan kalau  aku terkesan begitu ingin mencampuri urusan orang.


Wanita yang Khalif cintai. Mendengar kalimat itu langsung dari mulut Khalif, ada perasaan aneh lagi yang mendera. Dadaku sedikit sesak dan mataku mulai terasa panas. Mulutku pun bungkam seolah sedang menahan napas berat. Tidak tahu kenapa, kemungkinan karena cerita Khalif terdengar sedih. Setelah itu dan seterusnya sampai aku tiba di rumah, tidak ada interaksi lagi antara aku dan Khalif selama di mobil.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2