Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Rencana Hidup Alyssa


__ADS_3

“Bagaimana acting-ku ? Bagus bukan ?” Khalif tanya.


“Maksudmu kau pandai berbohong ?” Perkataanku persis seperti komentarnya kalau aku pandai ber-acting di hadapan keluarganya beberapa waktu lalu di pesta peresmian kantor.


Khalif menatapku kesal. Aku hanya berusaha menahan tawa.


“Ketawa saja. Kenapa harus kau tahan ?”


“Huahahaa” tertawaku pecah setelah mendengar hal yang kuanggap persetujuan darinya. Sumpah, sekarang melihat ekspresi wajah Khalif membuatku ingin tertawa. Raut wajah yang tak biasa dan tak selalu ia tunjukkan, cenderung langka bahkan.


Aku sekarang berada di mobil Khalif, belum berangkat sih karena kami baru saja masuk. Sekarang kami ingin melaju ke salah satu restoran untuk makan siang bersama, juga Tante Ajeng katanya mau menyusul ke sana. Kami ingin merayakan hari kelulusanku dengan acara makan-makan hari ini. Sayang sekali Kak Yashinta dan Key tidak bisa ikut karena katanya mereka ke rumah mertua Kak Yashinta di Bandung dan besok baru pulang.


Juga karena hadirnya pria ini, aku malah diusir Papa dari mobilnya. Ya ampun, Papaku tega sekali. Mentang-mentang ada Khalif, Papa dan Mama memaksaku untuk pergi bersamanya melulu. Bagaimana tidak memaksa coba, mereka tidak bertanya apakah aku mau atau tidak pergi dengan Tuan Sok Cuek yang sedang ber-acting itu.


Suasana kembali hening. Entah ada angin apa, mungkin putaran waktu kembali kepada waktu di mana Khalif bersikap dingin lagi kepadaku. Kalau sudah begini, aku pun juga malas untuk memulai pembicaraan. Dan setiap kali ini terjadi, rasanya lama sekali waktu itu berjalan dan oksigen di mobil kurasa kurang untuk kuhirup sendiri.


“Selamat atas kelulusanmu.” Ucap Khalif. Aku terkejut karena ucapan selamat Khalif ini. Pikiranku baru saja ingin melayang agar pengap ini tak terlalu lama kurasa.


“Oh ? Ah ya, terima kasih.”


Aku kembali menatap seikat mawar putih yang tertata rapi lengkap dengan ucapan “Happy Graduation” yang tertera. Yang bunganya sekarang sedang kupegang.


Aku dan dia memang sudah berdamai ketika aku diajaknya ke apartemennya kemarin-kemarin. Tetap saja, aku tidak begitu mengenalnya, aku hanya mengenal Khalif yang bersikap begitu dingin kepadaku dan juga kepada Ayahnya sendiri, Om Farhan, dan Khalif yang berubah 180 derajat ketika sedang ada Key. Hanya penampakan luarnya saja, hanya apa yang ia kerjakan yang bisa kunilai darinya.


“Kenapa jadi canggung lagi ya ?” batinku.


Sama sekali tidak enak rasanya jika aku terus-menerus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Kecanggungan atau apapun yang hal itu berkaitan dengan situasi yang tidak tepat ketika bersama Khalif. Tidak tepat ? Dari awal ini adalah situasi yang tidak tepat, aku harus dijodohkan dengan dirinya.


Bukan tentang Khalif atau apa, bukan salah dirinya sepenuhnya juga. Hanya saja ini tidak tepat, waktunya tidak tepat dan terjebak dengan keadaan yang rumit. Secara sederhananya, aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak kucinta.


Kata Papa, mungkin akan ada waktunya nanti yang akan membuatku dan Khalif tumbuh rasa cinta. Mungkin saja kalian jodoh. Itu kata Papaku. Entahlah, tapi itulah pemikiran orang tua kami, berharap kami berjodoh dan menikah atas usaha yang mereka lakukan untuk menyatukan kami.


Padahal dahulu itu mereka pun menikah bukan karena perjodohan, justru karena mereka saling mencintai. Atau ini jangan-jangan karena aku yang terus memilih sendiri tanpa pasangan ya hingga akhirnya mereka memutuskan memilihkan satu untuk kujadikan teman hidup.


“Santai saja. Sebentar lagi kita sampai, mereka tidak ingin melihat kita yang seperti ini, diam-diaman. Kau mengerti bukan ? Kita sudah pernah membahasnya.” Katanya yang masih berkonsentrasi pada setirnya.


“Aku hanya canggung jika terus seperti ini.” Akhirnya pernyataan itu kuungkapkan juga. Kurasa Khalif patut mengetahuinya.


“Hem, aku pun. Setiap kali kau diam, aku tidak ingin bicara dan mengganggumu yang kuanggap memang tak ingin ada kata.”


Kutatap ke samping, kepada Khalif, lalu kembali menatap lurus ke jalan sambil sesekali kutatap ke seberang kaca jendela mobil. Tak berapa kemudian, kami malah tertawa. Mungkin karena apa yang kami rasakan itu ada kesamaan. Walau tak lama, itu cukup membuatku sedikit tenang tak lagi canggung.

__ADS_1


Sampai akhirnya, kami sampai di restoran yang Mamaku tujukan. Mobil Papa dan Om Adi sudah terparkir di sana, kami tadi sempat kena lampu merah jadi sedikit terlambat. Oh ya, di sana juga mobil Tante Ajeng yang sudah sampai. Bisa dikatakan kedatangan kami yang mungkin mereka tunggu.


Tebakanku benar, mereka bahkan belum memesan apapun.


“Maaf kami terlambat. Tadi terjebak lampu merah.” Ucapku.


“Tidak apa-apa, tidak lama juga.” Ucap Om Adi.


Mereka memesan meja yang cukup panjang dan muat untuk kami makan bersama. Aku duduk di samping kiri Khalif dan di samping kananku ada Nadira. Memang di sana hanya tersisa tempat itu, walau sebenarnya aku sudah bosan berada di sampingnya. Ditambah pasti mereka tak lama lagi akan membahas mengenai kelanjutan hubungan kami.


“Tante minta maaf ya sayang karena tadi ada kerjaan di restoran jadi tidak sempat datang ke kampus kamu, Nak.” Kata Tante Ajeng yang duduknya berada tepat di hadapanku.


“Tidak apa-apa, Tante. Lagi pula sekarang kita sudah bertemu bukan. Alyssa senang Tante di sini juga dan menyempatkan waktu datang.”


“Selamat ya sayang atas kelulusanmu. Hadiahnya nanti menyusul.”


Aku sempat terkejut mendengarnya, tak kukira akan ada hadiah yang akan diberikan Tante Ajeng.


“Nih pesan dulu.” Ucap Nadira yang memberikan buku menu kepadaku dan Khalif.


“Tante tidak perlu repot-repot pakai kasih hadiah.”


“Tidak repot, Tante harap nanti kamu suka.”


Tahu apa yang dipesan Khalif ? Spaghetti Carbonara, lagi !. Tidak bosan apa memangnya itu melulu yang dimakan. Khalif kata Tante Ajeng memang kurang suka makan nasi, dia lebih suka pasta. Walau tempat dia mengenyam gelar magister adalah London, bukan Italia negerinya pasta.



Aku sudah ada di rumah Tante Ajeng, setelah acara makan-makan aku langsung diajak pulang wanita paruhbaya itu ke rumahnya. Katanya mau dikasih hadiah yang tadi masih ketinggalan di rumah berhubung beliau ke acara makan-makan tadi setelah ia dari restoran miliknya.


Aku dan Khalif menunggu kedatangan Tante Ajeng yang beberapa menit lalu pergi ke kamarnya untuk mengambilkan hadiah yang dikatakannya untukku sebagai hadiah kelulusan. Aku harap hadiahnya adalah aku akan lepas dari perjodohan ini. Jujur saja sampai hari ini meski sikap Khalif sudah sedikit berubah menjadi lebih hangat kepadaku, tetap saja aku tak ingin menikah dengan seseorang yang tak kucintai.


Tante Ajeng tampak senang menghampiri kami dengan sesuatu yang ia bawa. Kuharap benda itu tak terlalu berharga ataupun istimewa baginya. Karena jika begitu aku akan sangat merasa terbebani akannya. Sebab, aku merasa bersalah padanya karena di saat Tante Ajeng begitu peduli denganku, aku justru berniat menghancurkan impiannya yang ingin menjadikanku sebagai menantunya.


“Ini dia sayang, kau suka ?” Tanya Tante Ajeng yang memperlihatkan sebuah kalung yang sangat indah. “Ini adalah kalung turun-temurun yang diberikan kepada menantu perempuan di keluarga ini.”


“Suka, Tante. Tapi, apa ini tidak terlalu cepat ?” Kataku dengan hati-hati, takutnya ada kata-kataku yang membuat hatinya sakit.


“Tidak. Tante rasa ini waktu yang tepat, sudah saatnya. Tante yakin kalau kamu adalah orang yang tepat untuk mendampingi Khalif. Bagaimana ini, Tante sudah menyayangi kamu sama seperti Tante menyayangi Khalif dan Yashinta.”


Aku diam setelah mendengar hal demikian yang terucap dari bibir wanita yang kuhormati itu. Rasanya benar-benar tidak tega jikalau harus melukai hatinya yang lembut dengan rencanaku yang sekarang. Kuputuskan untuk memeluk tubuh hangatnya untuk mencari ketenangan daripada hati ini yang dilanda gundah.

__ADS_1


Aku juga sempat melirik sebentar ke tempat Khalif berada, pria itu, aku tidak tahu dia tengah memikirkan hal apa. Dia diam dengan tatapan sendunya yang di tangannya secangkir kopi bertengger. Sekali lagi aku mempertanyakan hal ini, kenapa harus pria ini yang bersamaku sekarang, kenapa harus pria yang sedingin ini hatinya yang dikirimkan untukku, andai hatiku bisa sedikit terbuka dengan tulus mencintainya atau menerima kehadirannya.


“Kalungnya indah, tapi bukan ini yang membuat Alyssa menerimanya. Itu karena Tante yang kasih, terima kasih sudah sebaik ini sama Alyssa. Kebaikan Tante, Alyssa tidak akan mampu membalasnya. Benar kata Mama, Tante adalah orang yang punya hati lembut dan sangat keibuan, Al senang bisa mengenal Tante.”


Tanpa kusadari air mataku sudah ingin terjatuh karena terharu dibuatnya. Sekali lagi, andai saja pertemuanku dengan Tante bukan berakhir dengan perjodohanku dengan anak bungsunya, itu akan sangat bagus.


“Gadis yang manis. Sekarang kita pasang kalungnya ke leher kamu, ya.” Tante Ajeng sempat melihat ke Khalif yang menonton siaran televisi sambil menyeruput kopi. Aku tahu, pasti Tante ingin agar Khalif yang memakaikannya di leherku, dengan sigap segera kutahan lengannya.


“Aku ingin Tante saja yang memakaikannya.” Kataku dan Tante tersenyum tanda setuju.


“Bagaimana rasanya kamu sudah lulus, Al ?”


“Luar biasa, Tante. Aku senang sekali bisa lihat Mama sama Papa bangga sama aku. Papa juga rela tunda kepergiannya ke Singapura karena mau hadir hari ini. Kasihan selama ini Papa harus sendirian di Singapura karena Mama harus temenin aku yang lagi kuliah di sini.”


“Mereka memang pasti sangat berbangga dengan kelulusan kamu yang dengan nilai tinggi.” Ucap Tante Ajeng. “Setelah ini rencana kamu mau melakukan apa ?”


Seketika wajahku yang tadi tersenyum langsung terdiam. Bagaimana caranya aku menjawab pertanyaan itu, sedangkan kini aku sudah diikat dengan Khalif. Aku hampir tidak bisa bergerak dan menghela napas lega. Setiap kali mau pergi saja aku selalu ditanya apakah akan ada Khalif bersamaku. Bagaimana caraku mengatakan kepada Tante Ajeng jika rencanaku setelah kuliah adalah melanjutkan studiku lagi di luar negeri. Aku tidak ingin wanita itu merasa bersalah karena menghentikan langkahku.


“Alyssa juga belum tahu sekarang. Oh ya, Tante tadi dari restoran ya ? Bagaimana perkembangan restoran Tante ?” Ketahuan sekali aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Kuharap Tante Ajeng tidak berpikir kalau aku mencoba menghindari pertanyaannya.


“Iya, Alhamdulillah restoran berjalan lancar, oh ya lain waktu kamu Tante ajak ke sana. Kamu belum sempat ke sana bukan ? Nanti biar Khalif yang jemput kamu, itu juga kalau kamu tidak sedang sibuk. Mau kan ?”


“Mau, Tante.” Syukurlah Tante Ajeng tidak sadar kalau aku menghindari pertanyaannya yang satu itu.


Tante Ajeng baru saja mendapat telepon dari salah satu rekan bisnisnya. Entah Tante Ajeng ataupun Om Farhan, keduanya adalah orang-orang penting yang memulai usaha dari nol dan sukses bersama-sama dan itu di mulai sejak dulu, jadi wajar saja sampai sekarang banyak kolega mereka berdua. Kelihatan bukan ketika aku sedang berada di rumah mereka, selalu ada saja yang menghubungi Tante Ajeng. Tante kadang sebal katanya lagi seru-serunya mengobrol denganku, ada-ada saja seseorang yang mengganggu.


“Kamu bohong ‘kan ?” Tanya Khalif yang tiba-tiba bersuara. Aku menoleh ke arahnya dan tak mengerti dengan apa yang ia maksudkan.


“Bohong soal apa ?”


“Rencana ke depanmu.” Katanya. “Kau punya itu bukan ? Lalu apa itu ?”


Aku memejamkan mataku beberapa detik dan menghela napas berat. Aku padahal malas membahas persoalan ini, tapi Khalif harus tahu juga agar ia mengerti. Mungkin saja ia dapat mewujudkannya. Maksudku, mungkin saja Khalif bisa mencari alasan tepat untuk membebaskan kami berdua.


“Seharusnya aku ke luar negeri untuk gelar magister.” Kataku. “Tapi batal karena aku akan menikah denganmu nanti. Aku punya mimpi untuk menjadi designer yang terkenal dan belajar di sana, itu telah lama aku rencanakan.”


“Kalau begitu, aku harus minta maaf padamu. Secara tidak langsung, aku adalah orang yang menghentikan mimpimu. Pantas saja kau langsung diam ketika ditanya soal itu, kau pasti tidak enak hati kalau harus menjawabnya karena takut Mama sedih.”


“Kau merasa bersalah ? Kalau begitu kau harus melakukan sesuatu untukku.” Ucapku yang kini sedang menatapnya. “Cari alasan yang tepat untuk rencana kita.”


Ada sesuatu aneh yang kurasa ketika aku harus mengucapkan hal itu. Sesuatu yang tidak enak di hati. Seperti ada sesuatu yang menggores hatiku secara perlahan, namun amat perih dirasa. Itu kuyakini adalah adanya cinta yang sudah tumbuh. Aku sangat menyayangi Tante Ajeng dan tidak ingin melukai perasaannya. Perkataanku tadi kumaksudkan adalah untuk bebas dari jerat perjodohan ini dan itu artinya pula cepat maupun lambat perasaan Tante Ajeng akan sakit karena diriku.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2