Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Definisi Rumah


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Mama tadi malam kalau aku hari ini harus menemui gadis kecil bernama Keyla, cucu pertama di keluarga Adhitama. Key yang begitu manis tanpa perlu waktu yang lama sudah mampu menjerat hatiku. Aku sangat menyukai anak kecil, terlebih aku ini adalah anak tunggal jadi aku sangat senang jika bertemu Key dan bermain dengannya.


Key ternyata begitu antusias setelah mengetahui aku bersedia datang ke rumahnya hari ini saat aku mendapatkan telepon dari Kak Yashinta. Terbukti ketika aku datang, orang yang membukakan pintu bukan Asisten Rumah Tangga mereka, bukan Kak Yashinta maupun Tante Ajeng, melainkan Key sendiri.


Tanpa sungkan lagi dia menyambutku dengan pelukan, aku tersanjung. Aku seperti sangat dimanjakan ketika berada di antara keluarga Adhitama ini, walaupun aku baru sebentar mengenal mereka.


Well, berhubung aku di sini, di rumah keluarga Adhitama. By the way, di mana si Tuan Sok Cuek itu ya ? Khalif maksudnya. Eh bukan artinya aku berharap dia yang menyambutku atau aku ingin bertemu dengannya ke sini, hanya saja aku datang ke sini itu lumayan pagi, bahkan Om Farhan saja baru akan berangkat kerja atau mungkin dia sudah berangkat ke kantor ?


Sejak pukul delapan pagi aku di sini Khalif tak menampakkan wujud. Ah masa bodo lah, ngapain juga aku nyariin dia. Toh kalau aku ketemu dia nggak ada untungnya juga, yang ada malah bikin nambah dosa karena cuma bikin kesal hati.


Key hari ini kurang enak badan, tubuhnya pun panas. Tuan Putri kecil itu menolak untuk dibawa ke dokter, takut katanya. Wajar sih kalau takut, aku pun dulu kalau sakit juga ogah banget diajak ke tempat berbau obat atau semacamnya itu, terlebih kata teman-temanku dulu kalau disuntik sama dokter itu sakitnya minta ampun.


Untung saja setelah dirayu cukup lama, Key mau meminum obat penurun panas. Kini, Kak Yashinta, aku dan Key yang duduk di pangkuanku sedang bercengkrama di ruang tamu. Tante Ajeng sekarang sedang di kamar menerima telepon dari seorang teman kata Kak Yashinta.


"Key senang Tante Al di sini nemenin Key" ucap Key dengan kepolosannya yang membuatku semakin gemas terhadapnya.


"Iya sayang, Tante juga senang bisa ketemu sama kamu. Kamu harus sembuh ya, obatnya diminum teratur, Tante sedih loh liat Key sakit gini"


Ku lihat Kak Yashinta dengan lekat menatap kami berdua. Sumpah, sekali lagi kukatakan kalau aku iri sekali dengan Kak Yashinta sebab dia sekarang tanpa make up pun kecantikannya sudah terpancar.


"Kakak senang banget liat kamu sama Key lengket gini Al. Dia itu kadang jutek loh kalau ketemu sama orang asing" ucap Kak Yashinta.


"Aku juga nggak tahu Kak kenapa bisa Key sedekat ini sama aku. Dia ini lucu banget, pengen deh aku bawa pulang hehe"


"Oh iya Al, kamu udah hubungin Khalif belum kalau kamu di sini ?"


Pertanyaan dari Kak Yashinta ini membuatku keheranan. Apa itu artinya Khalif sedang tidak berada di rumah ini ?


"Nggak, aku nggak hubungin Khalif sama sekali. Memangnya dia ada di mana ?" tanyaku pada Kak Yashinta langsung agar teka-tekiku bisa terjawab.


"Al, sebenarnya itu Khalif udah nggak tinggal di rumah ini. Dia lebih memilih tinggal di apartemen sendiri"


Oh jadi itu sebabnya kenapa Khalif tak kunjung muncul di rumah ini. Mungkin karena masalah yang terjadi antara dia dengan Papanya itu membuatnya memilih untuk tinggal di sebuah apartemen. Tapi menurutku keputusannya itu justru membuat hubungannya dengan Om Farhan semakin jauh, itu sih pendapatku.


Tanpa ingin terkesan menjadi orang yang ikut campur dalam masalah keluarga mereka, aku tak menanyakan apapun mengenai kenapa Khalif sampai pindah ke apartemen.


Tante Ajeng datang dari arah kamarnya menuju ke tempat kami yang duduk di ruang tamu. Wanita itu masih sama seperti terakhir kali kami bertemu, dia cantik dan bersahaja. Dia sosok wanita kuat seperti Mamaku dan juga aura keibuannya juga sangat kuat kurasakan.


"Kamu sudah hubungin Khalif belum Al ?" pertanyaan sama seperti Kak Yashinta terlontar dari mulut Tante Ajeng. Tapi meskipun aku malas sekali membahas hal tentang Khalif sepagi ini, aku tentunya juga harus tetap tersenyum di depan mereka.


"Belum Tante soalnya aku juga baru tahu kalau Khalif nggak ada di sini. Khalif sama sekali nggak cerita kalau dia tinggal di apartemen" jelasku.


"Ya sudah kalau begitu, biar Tante saja yang hubungin dia"


Ish, kenapa sih setiap hari sejak diumumkan perjodohan kami, aku seperti "diharuskan" untuk bertemu dengan dia padahal aku sudah muak dengan sikap Sok Cueknya itu yang selalu dia tampilkan di hadapanku. Ya sudahlah bebas, inikan rumahnya jadi aku tak perlu repot memaki-maki dia dalam hati lagi.


Mendengar Om Khalifnya itu akan datang, Key sangat antusias menunggu. Oh ya biar ku jelaskan bahwa Kak Yashinta dan Key itu tinggal di rumah ini karena Mas Irfan sedang ada tugas di luar kota. Jadi, ketika Key sakit dia selalu ingin berada di dekat Khalif karena dia merasa nyaman pada pria itu.


"Khalif, Nak, kamu nanti siang ke sini ya. Mama ingin makan siang sama kamu hari ini"


"Iya Ma, Khalif ke sana siang ini"


"Oh iya Key sekarang sakit pengen banget ketemu kamu jadi kamu nggak boleh batalin janji ya"

__ADS_1


"Iya Ma"


"Ya sudah, Mama tutup ya"


Sambungan telepon antara Ibu dan anak itu pun akhirnya terputus menandakan bahwa percakapan di antara keduanya telah selesai. Ingin rasanya aku pulang sekarang juga karena mengetahui pria itu akan datang ke rumah ini dan makan siang bersamaku juga hari ini. Ah, ku harap aku takkan mendapatkan masalah gangguan pencernaan karenanya.


"Al, gimana hubungan kamu sama Khalif sekarang ? Sudah sejauh mana kalian mengenal ?" tanya Kak Yashinta begitu penasaran.


Kini hanya ada aku, Key dan Kak Yashinta karena Tante Ajeng baru saja mendapatkan telepon lagi yang membuatnya harus pergi ke restoran yang ia jalankan beberapa tahun belakangan.


"Gimana ya Kak, aku bingung juga sih sebenarnya mau cerita apa soalnya Kakak tahu kan gimana sikapnya Khalif ke aku. Kaku banget, Kak. Ya bukan artinya juga aku yang agresif pengen dia yang deketin aku. Tapi masa cuma aku yang ngobrol kalau kita ketemu, malah lebih kayak aku ngobrol sama tembok kalau lagi sama dia"


Kak Yashinta sepertinya mengerti apa yang aku rasakan, tapi dia juga tertawa di bagian ketika aku mengatakan bahwa aku seolah bicara dengan tembok ketika mengajak Khalif bicara.


Setelah kami bicara banyak ternyata bukan hanya aku korban dari Tuan Sok Cuek itu, nyatanya Kak Yashinta pun pernah. Khalif memang menyebalkan ketika bersikap seperti itu, ketika dia menanggapi obrolan hanya dengan anggukan.


Singkat cerita, jam sudah menunjukkan ke angka dua belas siang, kurang lebih. Tante Ajeng juga sudah datang dari restorannya. Aku dan Kak Yashinta juga telah selesai memasak makanan untuk makan siang di dapur. Ya, mau nggak mau aku telah memasak makanan kesukaan Khalif hari ini, spaghetti carbonara. Kata Kak Yashinta aku sebagai calon istri Khalif harus tahu apa saja yang adiknya itu suka. Menurutku hal ini juga akan sia-sia karena Khalif sampai kapan pun takkan pernah bisa menghargai apa yang ku lakukan padanya, dia sangat cuek sama apa yang ada di sekitarnya.


"Key !"


Keyla yang mendengar suara Khalif yang baru saja datang itu pun langsung melompat dari sofa tempat dia menonton siaran televisi. Aku melihat momen pelukan mereka dari arah dapur. Ku rasa dia belum mengetahui bahwa aku berada di rumah orang tuanya sekarang.


Cukup lama kebersamaan Khalif dan Key mencuri perhatianku. Dia tak sedingin yang ku kira, mungkin sikap dinginnya itu hanya untuk Ayahnya dan aku. Sisi hangatnya terlihat jelas tanpa kepura-puraan kala dia megajak keponakan satu-satunya yang sedang sakit itu bermain bahkan Khalif yang ku anggap kaku itu tertawa.


Khalif dan Key yang ia gendong pun menghampiri meja makan. Khalif pun akhirnya menyadari keberadaanku, dia sedikit terkejut dan merubah ekspresinya jadi datar lagi saat menatap wajahku. Menyebalkan, harusnya dia bisa berpura-pura baik atau basa-basi dengan menanyakan kabarku 'kan di depan Mama dan Kakaknya, ini yang ada malah dia diam saja.


"Loh kenapa kalian diam-diaman seperti ini ?" tanya Tante Ajeng yang memperhatikan aku dan Khalif. Tentu saja beliau menanyakan hal demikian karena sangat aneh jika ada sepasang manusia yang akan menikah tapi sekarang saat makan siang di meja yang sama justru tak saling menyapa. Kalau aku yang lebih dulu menyapa Khalif, apa menurut kalian dia akan menjawab sapaanku ? Kak Yashinta juga terlihat menggeleng-gelengkan kepala melihat aku dan Khalif sekarang.


Masa bodo dia secuek apapun hari ini yang penting awas saja kalau sampai dia mengatakan spaghetti buatanku itu tidak enak. Aku sudah susah membuatkan itu untuknya.


"Enak banget, Mah."


Sumpah demi apapun itu, mendengar Khalif mengatakan hal itu membuat hatiku sedikit bahagia dan tersenyum. Ya walaupun dia belum tahu kalau aku yang membuatnya, tetap saja aku senang masakanku dihargai.


"Baguslah kalau kamu suka. Ini kan buatan Alyssa"


"Uhukk-uhuk !"


Saat mendengar Kak Yashinta mengatakan bahwa spaghetti itu buatanku, Khalif malah batuk. Kenapa lagi sih pria ini, kenapa segitu kagetnya tahu kalau makanan kesukaannya itu aku yang membuat, apa salahnya coba ?


"Kenapa Khal ? Nggak enak ya makanannya ?" tanyaku pada Khalif. Aku sengaja menanyakan hal itu karena aku juga harus berpura-pura khawatir pada Khalif. Kalau terus-menerus diam-diaman kan malah Tante Ajeng dan Kak Yashinta yang curiga dan semakin getol membuat rencana untuk mendekatkan kami berdua.


Lucu juga melihat tingkah Khalif yang kaget karena aku mengkhawatirkannya. Tentu saja diamengatakan kalau makananku memang enak seperti jawaban pertama tadi. "Enak kok makanannya."


"Mau jalan-jalan nggak setelah ini ?"


Kali ini giliranku yang kaget dengan pertanyaan dari Khalif. Dia kesambet apa sih ? Baru banget dia itu cuek tapi sekarang dia bertingkah sok manis seperti ini sekarang, pakai acara ngajak jalan pula. Aku terjebak dan tak bisa menolak ajakannya sama sekali.


"Boleh."


Setelah adegan komunikasi yang aneh saat tadi makan siang, keheningan kembali terjadi saat aku dan Khalif di dalam mobil. Aku sama sekali tidak mengetahui kemana dia akan membawaku. "Jalan-jalan" kata priaitu dapat aku simpulkan bukan "jalan-jalan" seperti yang orang lain maksudkan. Tapi tunggu, mobilnya telah sampai di bangunan bertingkat besar dan mewah, bukan kantornya, ini di apartemen. Untuk apa Khalif membawaku ke sini ? Astaga, jangan-jangan dia... Argh cukup Alyssa jangan ngelantur deh.


Mana sempat aku menanyakan kenapa aku dibawanya ke tempat ini karena kakiku sedikit kewalahan mengikuti langkahnya yang lumayan lebar. Kami telah sampai di pintu apartemen Khalif. Sementara aku yang masih tetap berdiri di ambang pintu, Khalif sudah masuk ke dalam tanpa sadar di mana aku sekarang.

__ADS_1


"Aduh kenapa Khalif membawaku ke sini sih, aku belum pernah masuk ke dalam apartemen seorang pria bahkan posisinya sekarang cuma aku berdua dengan pria menyebalkan itu."


"Kenapa masih di sini ? Masuklah. Aku tidak akan macam-macam terhadapmu." Khalif menjemputku yang masih bimbang di ambang pintu. Wajahnya tersenyum mengejek ketika melihat wajahku yang konyol sekarang. Akhirnya aku memberanikan diriku masuk ke dalamnya.


Apartemennya rapi untuk ukuran laki-laki, ya sesuailah dengan Khalif yang. Selagi mempersiapkan kopi di dapur, Khalif mempersilakanku duduk di kursi di balkon apartemennya yang menyuguhkan pemandangan kota yang indah.


Aroma harum kopi yang dibawa Khalif menyeruak ke seisi apartemen. Khalif yang mengenakan kemeja biru muda itu tampak sempurna sebagai pria. Aku hampir saja kembali terpesona seperti pertama kali bertemu. Beruntungnya kesadaranku kembali sebelum aku mempermalukan diriku sendiri yang menatapnya lekat.


"Kenapa harus di sini ? Apa adayang ingin kau bicarakan ?"


"Tidak ada."


Sumpah, Khalif sangat menyebalkan sekarang, lalu apa maunya dia mengajak ke tempat ini jika tidak ada yang ingin dibicarakan. Memangnya tidak ada lagi yang ia kerjakan di kantor, ini kan belum jam balik kantor.


"Jadi mau kamu mengajakku ke sini untuk apa ? Pekerjaan kamu sudah selesai memangnya ?"


"Tunggu sampai rapat hari ini selesai, aku tidak ingin ke kembali sana sekarang." Kata Khalif yang kemudian menyeruput kopinya.


"Lagi, kamu menjadikanku sebagai alasan untuk absen. Memangnya kemana dengan pertemuan itu, apa masalahnya sampai kamu tidak ingin ke sana ?"


Khalif tak bergeming.


"Lalu, kenapa kamu tidak tinggal bersama mereka dan justru tinggal di sini sendirian ?"


Terdengar deru napas pria itu berat hanya dengan mendengarkan pertanyaan ini dariku. Semakin lama dia memilih diam, semakin aku penasaran ada apa yang terjadi jika dia ke sana. Bukan "kepo" seperti Nadira loh ya, aku penasaran karena sudah dua kali hal ini dilakukan Khalif.


"Hanya karena aku ingin."


Bukannya menjawab pertanyaan pertama, dia malah menjawab pertanyaan kedua dengan jawaban yang cukup mengesalkan.


"Memangnya apa definisi rumah menurutmu, Khal ?"


"Rumah, setidaknya aku pernah tinggal di dalamnya. Jika bukan karena Papa aku yang selalu memaksakan kehendaknya, aku pasti masih tinggal di sana dan jagain Mama. Aku sudah terbiasa sendiri dan aku berharap juga Papa bisa berubah untuk tidak selalu memaksakan kehendaknya... Tapi sepertinya Papa semakin membenciku sekarang dan membuat keputusan seperti sekarang"


Sekarang hatiku sedikit sakit mendengar kenyataan bahwa Khalif sungguh tak menginginkan perjodohan ini. Aku juga perempuan dan punya hati. Walau orang yang mengatakan hal itu bukan pria yang kucintai tetapi aku juga tidak mengerti kenapa sakit itu ada.


"Apa yang kita liat dan kita dengar bukan berarti semua itu benar. Kalau kamu menganggap Papa kamu itu membencimu saat ini, kemungkinan besar itu hanya kesalah pahaman. Om Farhan menurutku bukan sosok ayah yang egois, dia lebih seperti ayah yang tegas. Kamu mungkin tidak terima dengan ini, tapi ini ya pendapatku. Kita melihat seseorang dari arah yang berbeda."


"Mungkin kamu benar. Hanya kesalah pahaman yang tak kunjung selesai. Tapi Papa ya Papa, sampai sekarang hidupku diatur dirinya dan tak pernah bisa menjadi pria dewasa di hadapannya." Katanya lagi.


"Ahh, kamu terlihat menyedihkan seperti biasanya."


Dia langsung menatapku tajam. Khalif tak terima dengan pernyataanku yang mengejeknya sebagai pria yang menyedihkan. Setelah beberapa detik berlalu, entah apa yang menyebabkan kami tertawa bersama. Aneh sih hanya dengan bertatapan dengannya membuatku terkekeh dan hal itu juga terjadi padanya. Ini pertama kalinya Khalif tersenyum bahkan tertawa bersamaku, sekali lagi harus ku akui dia pria tampan meskipun sering membuat hatiku kesal.


"Terima kasih ya karena kamu aku punya alasan untuk kabur dari rapat. Aku rasa kita cocok berteman karena setelah bicara denganmu aku sedikit lebih lega sekarang karena bisasedikit membaginya."


"Memang sih daya pikatku cukup luar biasa." Kataku padanya.


"Hei kau sungguh percaya diri, Nona."


"Memangnya kenapa, itu kenyataan bukan ? Kenapa kau harus malu mengakuinya ?" tanyaku lagi.


Candaan-candaan kecil itu membuat kami kembali mengobrol hal lain yang tanpa sadar sudah lebih dari satu jam. Sepertinya yang dikatakan pria ini memang benar, kita cocok sebagai teman. Daripada harus beradu mulut melulu dengannya yang tak membuahkan hasil, memang sebaiknya jika aku dan dia akur.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?


__ADS_2