
Perkataan Om Farhan kemarin mengenai sesuatu yang pernah terjadi di antara Khalif dengan masa lalunya ternyata itu juga berhubungan denganku, sebab sekarang aku merupakan calon istri dari anak bungsu di keluarga Adhitama. Ingin sekali aku tidak peduli dengan sakitnya hatiku saat mengetahui bagaimana dulu hubungan Khalif dan Jazy yang mana mereka kemungkinan besar saat ini masih saling mencintai dan masih saling mencari.
Hari ini jika saja aku tidak akan pergi ke Bandara untuk menjemput Mama, aku pasti sudah malas keluar rumah dan akan bermanja-manja dengan bantal guling kesayanganku. Jadi, hari ini aku rencananya akan pergi menjemput Mama di Bandara sekitar jam sepuluh pagi ini. Dan Mama tidak boleh sampai mengetahui hal buruk yang telah kualami selama kepergiannya ke Singapura.
Sesampainya di Bandara, aku langsung menghubungi Mama yang katanya sudah mendarat beberapa menit yang lalu. Ponsel itu terus kutaruh di telinga sambil mataku mencari-cari keberadaanku Mamaku tercinta yang sudah begitu kurindukan. Tiba-tiba bahuku bertabrakan dengan bahu orang lain. Kulihat-lihat wanita itu sangat cantik, sepertinya dia baru saja tiba dari luar negeri.
"Maaf, saya sedang terburu-buru." Aku minta maaf atas kesalahanku yang telah menabrak bahunya. Di situ ada begitu banyak orang-orang yang juga sedang terburu-buru.
"Tidak apa-apa. Itu juga kesalahan saya." Jawab wanita itu dengan ramah.
Setelah percakapan kecil itu. Aku mendengar suara kecil yang terdengar dari ponsel yang tadi masih tersambung dengan Mama.
"Kamu di mana, Al ? Mama lagi tunggu kamu ini." Ucap Mama dari tempatnya kini berada.
"Iya, iya. Ini Alyssa cari Mama. Oh, apa itu Mama ? Yang pakai blezzer biru itu 'kan ?"
Orang yang kusebut sebagai Mama itu juga sedang menelepon seseorang dan orang itu juga terlihat dari kejauhan tengah mengedarkan pandangan ke sekitar. Kurasa itu memang benar Mamaku. Segera kuhampiri wanita itu.
"Mama !"
"Alyssa !"
Aku dan Mama langsung berpelukan untuk melepas rindu. "Maaf karena sudah buat Mama tunggu Alyssa lama di sini."
"Tak apa. Mama juga baru sampai di sini."
"Sini biar Alyssa saja yang bawa koper Mama. Ayo, kita pulang !"
Ketika aku mengajak Mama pulang, beliau justru menatap ke sekitar kembali seolah ada seseorang yang sedang ia cari dan ia tunggu kedatangannya.
"Mama cari siapa ?"
"Khalif tidak ikut kemari ?"
Ya ampun, Mamaku ini ternyata sedang mencari calon menantu yang ia idam-idamkan itu. Sepertinya Mama tidak pernah mau tahu apa aku suka atau tidak dengan pria itu, yang penting kami harus selalu terlihat bersama. Atau mungkin juga Mama takut kalau anak semata wayangnya ini akan jadi perawan tua.
"Mama, ini 'kan jam kerja, jadi Khalif mana mungkin kemari. Lagi pula dia tidak tahu kalau Mama datang hari ini."
"Kamu tidak cerita ? Apa kalian sedang berantem ?"
"Ya ampun, Mama ! Cerita atau pun tidak, dia juga tidak akan bisa datang kemari di jam segini. Dan bukannya Mama tahu sendiri kalau aku dan dia selalu berantem ?"
"Bukannya begitu. Mama dengar dari Tante Ajeng, katanya kalian semakin dekat. Jadi, Mama pikir calon menantu Mama itu juga akan jemput Mama di sini."
"Ih, Mama. Ayo, pulang !"
__ADS_1
Mamaku tertawa kecil melihat tingkahku yang sedang kesal. Kubiarkan saja Mama begitu, dia selalu sesenang itu sehabis menggodaku.
"Jadi, selama Mama di Singapura. Kamu dan Khalif sudah sedekat apa ?"
"Sedekat apa ? Alyssa juga tidak tahu. Yang jelas semuanya masih sama seperti dulu Mama sebelum berangkat." Tidak mungkin bukan jika sekarang kuceritakan kalau aku sudah mencintai pria itu. Bisa-bisa Mama menceritakan semua itu kepada Tante Ajeng, lalu berakhir di telinga Khalif. Mati aku jika itu terjadi. "Kenapa sepanjang perjalanan Mama bahas tentang dia terus ? Seperti dia yang anak Mama dan bukannya aku."
"Kamu cemburu kalau Mama akan lebih sayang ke dia daripada ke kamu ? Mana mungkin, sayang. Mama begini karena Mama sangat menginginkan kebahagiaan kamu yang Mama rasa itu juga ada bersama Khalif."
"Kebahagiaanku yang berada di Khalif ?" Mama mengangguk seperti orang yang sangat yakin kalau aku dan Khalif akan benar-benar bersatu. "Apa Mama sangat menginginkan aku dan dia menikah ?"
Mama kurasa sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Selama ini selalu saja kata-kata ketidaksukaan yang keluar dari mulutku tertuju untuk lelaki itu. Bahkan aku sempat marah ke Mama dan Papa dulu sewaktu rencana perjodohan itu diumumkan. Selalu saja seperti itu. Tanpa kusadari tak pernah terpikir olehku untuk menanyakan alasan sebenarnya mereka menginginkan aku dinikahi oleh Khalif dan bukannya orang lain.
"Kenapa kamu tanyakan itu ? Asal kamu tahu, alasan mengapa Mama begitu menginginkan Khalif yang menjadi menantu Mama adalah bukan karena dia adalah anak sahabat Mama dan Papa. Tapi, karena Mama merasa kalau dia akan menjadikanmu wanita terbahagia nanti. Sekalipun tak ada jaminan apa semua itu akan terwujud atau hanya akan menjadi sebuah impian."
Baru juga bertemu dan ini masih dalam perjalanan pulang. Suasana di antara aku dan Mama sudah se-mellow ini. Jika sudah begini, aku jadi tidak bisa membayangkan jika nanti impian Mama akan hancur. Sekarang karena perasaanku sudah berubah, aku bisa saja tidak peduli lagi dengan rencana untuk membatalkan perjodohan ini. Tapi, Khalif tidak memiliki perasaan yang sama. Jadi, bagaimana bisa kami akan bersatu jika hanya ada satu pihak saja yang mencintai.
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi sekarang. Mulutku membungkam oleh perkataan Mama. Sengaja atau tidak, Mama pasti mengatakan hal itu karena ia bisa menebak aku akan menuruti apa kemauannya dan tidak tega untuk menghancurkan impiannya untuk berbesan dengan keluarga Adhitama.
Siangnya aku dan Mama pergi ke rumah Tante Ajeng. Di sana Mama dan Tante Ajeng bicara banyak, sedangkan aku merasa sedikit bosan karena di sana tidak ada Key ataupun Kak Yashinta. Hari ini tidak ada tugas untuk mengantarkan makan siang untuk dirinya, namun aku mendapat telepon dari pria itu dan diharuskan ke sana secepatnya.
Sedikit aneh pasti terdengar di telinga jika aku kali pergi ke Khalif tanpa pemaksaan dari mereka sebelumnya, seperti dulu. Namun, aku tak peduli dengan semua itu. Lagi pula itulah apa yang mereka inginkan. Pasti dalam pikirannya Mama mengatakan kalau memang benar adanya kalau aku dan dia sudah mengalami banyak kemajuan dan saling mengenal.
Baguslah, jika semua itu benar maka aku tidak perlu diceramahi lagi oleh Mama. Mereka juga tidak perlu merepotkan diri untuk mengatur kencan di antara aku dan Khalif. Entah bagaimana akhirnya, aku masih tidak tahu. Ke mana arahnya jalan ini akan berakhir dan di mana ujung jalan tersebut. Semuanya masih begitu buram. Akankah penantianku berbuah manis ataukah tak lebih dari sekedar hal yang sia-sia.
Anehnya aku begitu penasaran perihal siapa orang di dalam mobil itu. Setelah mobil itu berlalu pergi, segera aku menghidupkan mobilku dan bertanya dengan Pak Satpam.
"Pak, tadi itu siapa ?" Tanyaku.
"Saya juga tidak tahu dia siapa. Dia bertanya apa Mas Khalif ada di rumah atau tidak. Ya saya bilang saja kalau Mas Khalif tidak ada. Jadi, dia menitipkan ini katanya buat Mas Khalif." Jelas Pak Satpam sambil memperlihatkan sebuah kotak makan siang.
Aku semakin penasaran siapa orang itu sebenarnya. Dia bahkan meninggalkan sebuah kotak makan siang untuk Khalif.
"Bapak tahu tidak siapa nama orang itu ?"
"Kalau tidak salah namanya Mbak Jazy."
Sekarang hatiku seperti ada sesuatu tajam yang menyayatnya. Perih sekali. Hanya mendengar nama itu aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan. Dia kemari untuk menemui Khalif dan bagaimana jika mereka sampai bertemu. Apa yang akan Khalif lakukan ? Apa dia akan kembali bersama wanita itu ? Lantas, bagaimana dengan diriku ?
"Ya sudah Pak, sini biar saya saja yang mengantarkannya ke Mas Khalif." Pak Satpam itu pun dengan senang hati memberikan kotak makan siang itu kepadaku. Aku langsung mengemudikan mobilku ke arah kantor Khalif.
Aku tidak ingin membicarakan apa yang sudah kulakukan sepanjang jalan karena pasti kalian sudah bisa menebak. Benar atau tidak tebakan kalian, aku tidak peduli. Hatiku sekarang sangat sakit. Khalif tentu tidak tahu. Dasar pria itu sungguh menyebalkan.
__ADS_1
Aku sampai di sana ketika jam makan siang tiba dan Khalif memang sedang ada di ruangannya kata Adinda. Di dalam elevator yang sedang naik dan terus naik itu aku gelisah. Jujur aku takut sekarang jika Khalif sewaktu-waktu akan kembali kepada mantan kekasihnya itu.
Dan kotak makan siang ini, arghh kenapa juga aku harus repot-repot segala membawanya bersamaku. Tuhan, kuatkan hatiku. Aku tidak boleh terlihat selemah ini di hadapan Khalif, terutama dia tidak boleh tahu jika aku mulai menyukai dirinya. Dia pasti akan marah.
Sebelumnya aku sudah mengabari ketika aku akan datang. Pintu ruang kerja Khalif yang kini berada tepat di depanku itu kuketuk beberapa kali. Dari dalam sana dia mempersilakan masuk.
"Hai, Al ! Duduklah." Sapanya hangat dan aku duduk. Ya Allah, aku semakin tidak bisa merelakan sikap manisnya ini jika sampai lenyap dan berubah menjadi kebalikan dari ini. Jika saja aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap orang ini, sama seperti saat pertama kali kami bertemu. Itu tidak akan menjadi masalah untukku.
"Ada perlu apa kamu memanggilku kemari ? Kamu sendiri bukan yang minta kalau aku tidak perlu membuatkan makan siang hari ini."
"Memang benar. Aku kemari mau mengajakmu makan siang bersama. Kali ini aku janji tidak akan terjadi masalah apapun dan bukan di restoran seafood."
Belum sempat aku menjawab, dia terlebih dahulu menyadari kehadiran kotak makan siang yang kubawa.
"Apa itu ?"
"Untukmu. Tapi bukan dariku." Dengan sendirinya kalimat itu keluar dari mulutku.
"Dari siapa ?" Tanyanya. Semakin aku ingin menutupinya, semakin mulutku berontak.
"Jazy..."
Kontan saja Khalif juga sama terkejutnya sepertiku. Bahkan terlihat lebih terkejut. Bagaimana tidak, wanita itu merupakan salah satu bagian dari masa lalunya yang berharga dan masih ia ingat hingga kini.
"Bawa keluar sandwhich itu dari ruangan ini."
Hebat ! Dia bahkan bisa menebak apa yang ada di dalamnya, aku sendiri yang dari tadi membawanya bersamaku belum sempat untuk membukanya. Jazy pasti sering membawakan roti lapis ini untuk Khalif sewaktu mereka masih berpacaran dulu.
"Apa yang kamu lakukan ? Dia membawakan ini untukmu. Sudah berapa lama ini, apa kamu tidak merindukannya ?"
"Tahu apa kamu soal rindu ?!"
Dia membentakku. Dia benar-benar emosi hanya karena roti lapis ini. Tepat setelah Khalif membentakku, ada Adinda yang membawakan berkas entah itu apa untuk bosnya ini. Tidak lupa juga Khalif menyuruh Adinda membawa serta kotak makan siang itu seperti sesuatu yang sangat ia benci. Aku rasa Adinda juga bisa merasakan ada ketegangan di antara kami berdua. Bahkan dia hanya menuruti perkataan Khalif agar bisa langsung pergi.
"Aku minta maaf."
Dia mendekatiku yang masih tidak mengatakan apapun setelah ia bentak. Pernyataan maafnya begitu tulus dan ia terlihat menyesal karena telah melakukannya. Aku semakin tidak rela jika melepaskan pria seperti Khalif. Walau tak ada jaminan kalau Khalif akan lebih memilih diriku dibanding masa lalu yang selama ini terus ia kenang.
"Al... Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu. Kamu harus tahu kalau selama ini aku begitu terluka setelah kepergiannya. Jadi, mendengar kedatangannya seolah aku tidak bisa berpikir jernih." Jelas Khalif sambil menggenggam tanganku erat sekali. "Kamu mengerti, bukan ?"
"Memangnya kenapa jika perempuan itu kembali ? Bukankah selama ini kamu selalu mengingatnya ?" Aku sungguh tidak mengerti mengapa aku harus menyakiti diriku sendiri dengan terus membahas perihal wanita itu. Di saat aku sendiri belum siap dan mungkin tidak siap jika jawaban yang akan kuterima adalah jawaban yang tak kuinginkan.
"Aku tidak ingin menemuinya lagi."
Apa maksudnya itu ? Apa dia berbohong ? Kalau ia maka aku berhasil menebaknya. Dia bahkan mengatakan itu tanpa menatap mataku. Sepertinya dia takut kalau kebohongan itu akan terlihat dari binar matanya.
__ADS_1
Andai saja, dia mengatakan bahwa alasannya untuk tidak ingin menemui wanita itu adalah karena adanya diriku. Tapi, aku menyadari kalau hidup bukan untuk berandai-andai.
Semoga suka. Salam manis, Bie.