Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Menghindar


__ADS_3

Selama ini, aku tak pernah membayangkan bagaimana rasanya melihat seseorang yang kita cintai menderita seperti itu. Ketakutan ini tentulah beralasan mengingat dulu aku pernah ditinggalkan seseorang yang berharga untuk selamanya, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal dan maaf. Aku tidak ingin semuanya terulang dan aku tidak mampu menyingkirkan perasaan takut ini. Kembali lagi ia, rasa takut itu, datang setelah aku berhasil menguatkan seseorang beberapa waktu yang lalu.


Melihat kondisinya yang belum juga memberikan perkembangan, aku semakin khawatir. Banyak sekali selang yang membalut tubuhnya, setidaknya jika ia marah dan tidak mau memaafkan kesalahanku yang menyebabkan dirinya terluka, dia harus bangun dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.


Disini, di tempatku yang masih sama, aku tak kuat masuk ke dalam untuk melihatnya dari jarak dekat saat ini. Yang lainnya juga membujukku untuk pergi masuk ke dalam, mungkin Khalif bisa mendengar suaraku, katanya. Iya, aku tahu itu. Tapi, aku takut jika hanya akan membuatnya semakin sedih jika nanti disana aku hanya akan menangis. Bukankah itu bisa memperburuk keadaannya?


Kak Yashinta duduk di sampingku sambil menggenggam tangan kananku. Dia meraih wajahku agar menatap wajahnya. Mataku yang sembab pasti bisa ia lihat dengan jelas.


“Al, kenapa tidak mau ke dalam?” Ucapnya dengan begitu lembut. “Dia pasti menunggumu.”


Aku terdiam sebentar, pertanyaan ini tidak terdengar asing bagiku. “Al masih belum siap, Kak. Rasanya sangat hancur melihatnya terbaring seperti itu.”


Dia mengelus pucuk kepalaku yang kini bersandar di pundaknya. Nyaman sekali. “Adikku itu kadang memang keras kepala, tapi dia punya alasan sendiri mempertahankan pendapatnya. Seperti dia yang bersikeras ingin tinggal di apartment dibandingkan di rumah, aku tahu alasan itu memang kuat. Tapi dia bodoh, tapi juga kasihan. Dia tinggal sendirian, merasa bahwa hidupnya ditakdirkan serumit itu. Tanpa Papa yang ia pikir membencinya dan begitupun Papa menganggap bahwa anaknya yang satu itu membencinya. Mereka hidup dalam situasi yang sangat asing. Sekuat apapun itu, mereka tetaplah dua lelaki yang rapuh menurut Kakak. Kamu bisa melihatnya bukan? Bahkan sekarang Papa sudah begitu lemah melihat kondisi Khalif.”


Aku mencerna setiap kata dan kalimat yang terlontar dari mulut Kak Yashinta, wanita ini terdengar jelas betapa tegarnya ia menjalani hidup. Bahkan dia lebih kuat dibandingkan Papanya yang biasanya sangat tegas.


“Disini, meski kita semua merasa bersedih. Tapi, harus ada salah satu yang menguatkan. Yang harus bisa berdiri tegak untuk membangkitkan yang lain. Dan yang benar-benar membutuhkan untuk dikuatkan adalah orang sedang terbaring lemah di dalam sana. Dia membutuhkan kita untuk ia bisa bangun dari komanya. Juga membutuhkan kamu, Al.”


Dia diam setelah kalimat itu. Aku pun. “Sekarang, Kakak tanya sama kamu, terlepas dari masalah kalian berdua. Apa kamu merindukannya? Suaranya... Tatapan matanya... Cara bicaranya... Cara dia memperlakukanmu... Dan apakah dia berarti untukmu?”


Aku terhenyak. Air mataku jatuh lagi. Aku ingat setiap detik bersamanya, dari awal kami dipertemukan sampai saat aku sendiri mengakhiri kisah ini. “Iya Kak, aku rindu dia...”


Jemari Kak Yashinta menyeka air mataku yang tumpah. Kemudian aku membenarkan posisi dudukku dan berusaha kuat. Aku harus melihatnya. Aku berusaha mengumpulkan keberanian ini, untuknya, untuk semuanya. Setelah Om Farhan dan Tante Ajeng keluar dari dalam sana, aku akan masuk.


“Kamu mau masuk sekarang, Al? Dia pasti menunggumu, Nak.” Ucap Tante Ajeng yang baru saja keluar dari dalam ruang rawat itu bersama Om Farhan yang menggandengnya. Aku mengangguk.


“Untuk apa kamu kemari?” Tanya Om Farhan tiba-tiba. Aku tersentak mendengar ucapannya kali ini. Aku mengikuti kemana sorot pandang mata beliau. Seseorang yang tak kusangka kedatangannya kini sudah berdiri di sampingku. Entah kapan dia muncul, aku bahkan tidak menyadarinya.


“Maaf, tapi saya ingin menemuinya. Saya mohon.” Terdengar suara parau Jazy yang seperti habis menangis, dia pasti juga sangat terkejut. “Saya mohon Om, Tante. Saya ingin menemuinya.”


Dia pasti sangat sulit mengumpulkan keberanian untuk muncul di hadapan keluarga Adhitama lagi setelah bertahun-tahun lamanya ia menghilang karena keluarga ini. Keluarga yang menginginkannya menjauhi putera mereka, Khalif. Aku menahan tangan Tante Ajeng sewaktu ia ingin bergerak ke arah Jazy. Aku khawatir beliau akan mengusir wanita yang terlihat menyedihkan ini begitu saja.


“Kenapa Al?” Tante Ajeng kebingungan dengan tindakanku. Aku memejamkan mata , lalu menunduk. “Al...”


Kudongakkan kembali kepalaku dan mengatakan sesuatu kepada Jazy, “Masuklah.”


Dia mungkin bingung, tapi dia akhirnya masuk juga ke dalam sana. Dan aku harus menahan rindu ini lebih lama lagi, tidak mungkin rasanya aku ikut masuk ke dalam sana.

__ADS_1


Tante Ajeng menyeretku sedikit ke samping. Om Farhan juga masih terlihat tak terima dengan apa yang kulakukan meski dia juga tak menahan langkah Jazy. “Aku ingin kalian tahu satu hal. Alyssa rasa Jazy tidak seperti yang kalian sangkakan selama ini. Dia bukan wanita yang seburuk itu, dia hanya wanita yang mencintai kekasihnya.”


Tante Ajeng semakin gusar, dia mengguncangkan tubuhku beberapa kali. Seolah sedang menyadarkanku akan sesuatu. “Alyssa, apa yang kamu lakukan? Dia adalah wanita yang menyebabkan Khalif...”


“Tidak, Tante. Bukan dia yang meninggalkan Khalif, Tante tahu sendiri. Bukan dia yang menyakiti Khalif. Maaf Om, tapi Alyssa harus mengatakannya. Dia pergi karena Om Farhan melakukan sesuatu terhadap hubungan mereka dan membuat Jazy tidak mampu lagi menampakkan wajah di hadapan Khalif. Bukankah itu yang membuat Khalif berubah, dia menjauh dari kehidupan kalian, dan tidak ada yang tahu kemana perginya Jazy, lalu Khalif, dia hanya menunggu wanita itu kembali.”


Aku bukannya sedang membela wanita itu, tapi aku hanya mengatakan apa yang harus diluruskan. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan wanita itu, setidaknya aku bisa membuktikan aku bukanlah seorang wanita yang egois dan memanfaatkan keadaan untuk diriku sendiri. Meski aku dan dia mencintai pria yang sama.


“Maaf jika Alyssa terlalu ikut campur, tapi ini harus dikatakan agar semuanya jelas.” Semuanya terdiam mendengar penuturanku. Entah Om Farhan akan terima atau tidak. Entah Tante Ajeng akan memaafkan atau tidak. “Alyssa mau pergi keluar sebentar.”


Sekarang tak ada yang menahanku. Aku pergi ke taman rumah sakit. Menenangkan sedikit pikiranku yang dipenuhi hal menyesakkan. Udara segar di taman ini membuatku sedikit lebih baik. Tidak hanya ada aku disini, banyak anak kecil yang dirawat disini dan mereka sedang ditemani orang tuanya.


Tak luput dari perhatianku adalah sepasang suami istri yang usia mereka tak lagi muda. Si suami, kakek itu, yang sedang duduk di kursi roda yang didorong sang isteri terlihat tersenyum bahagia. Mereka sepertinya tengah membicarakan sesuatu yang indah, mungkin kenangan mereka. Dari wajah keduanya, aku hanya bisa melihat raut kebahagiaan, meski salah satunya sedang sakit. Si istri sama sekali tidak menampakkan kesedihan di hadapan suaminya.


Aku iri sekali. Akankah aku bisa seperti mereka suatu hari nanti, menua bersama orang yang ku kasihi. Masa tua yang indah, walau anak-anak sudah membina rumah tangga sendiri-sendiri dan hanya meninggalkan kita. Setidaknya kita masih bersama dalam cinta.


Sekarang bayangan itu buyar. Kembali lagi pikiranku melayang ke Khalif. Akankah dia orang itu? Orang yang akan berdiri di sampingku untuk menua bersama, yang bahkan kini aku tidak tahu hatinya untuk siapa. Walau aku sangat menginginkan pernikahan itu, namun aku tidak bisa mengatakan itu kepadanya. Juga, kini ia tengah bersama dengan wanita itu. Jazy, cinta masa SMA-nya.



Hanya saat jingga dijemput oleh malam aku bisa menemuinya. Menjaganya seakan ia hanya sedang tertidur. Disitulah aku berada, duduk tepat di sampingnya terbaring lemah. Tak ada seorang pun di ruang itu kecuali kami. Aku bersyukur dia masih bisa kulihat, walau dia belum bisa menatapku balik.


“Khal... cepatlah bangun. Aku merindukanmu. Aku ingin minta maaf secara langsung kepadamu. Apa kamu sangat membenciku hingga kamu enggan bangun dan menerima maafku?”


Nihil. Matanya masih saja terpejam. Ku beranikan diri memegang tangan kanannya. Dingin. Tapi, ada seutas kehangatan yang menjalar. Mereka menyebutnya kenangan. Seutas senyumku terukir, bayangan itu kembali hadir. Saat kami menghabiskan waktu bersama. Waktu yang sempurna.


“Seperti itu, aku suka senyummu.”


Air mataku jatuh. Kata-kata itu terngiang-ngiang berulang kali. “Khal... aku minta maaf. Karena sudah memutuskan hubungan ini, karena tidak mau menerima penjelasanmu. Aku sangat hancur saat itu, karena aku mencintaimu.”



Khalif sudah koma selama tiga hari dan selama itu pula Jazy terus ke Rumah Sakit untuk menjenguk. Lalu aku masih tetap tidak dapat melakukan apapun, karena bagaimana bisa aku menjadi egois untuk melarangnya datang untuk Khalif, sedangkan aku sendiri juga pernah menyakiti dan meninggalkan pria itu. Parahnya karena apa yang telah kulakukan itulah yang membuat Khalif terbaring disana.


Karena Jazy berada di ruang rawat Khalif, aku berencana pergi ke taman seperti biasa. Aku ingin menemui Anggi, dia adalah pasien pengidap kanker hati stadium akhir. Kami bertemu di taman ketika aku sedang “melarikan diri” dari Jazy. Aku salut dengan keinginannya untuk sembuh karena ia tak ingin membuat ibunya sedih lagi. Gadis sepuluh tahun itu bahkan selalu saja tersenyum manis di masa-masa tersulitnya.


Sebelum aku sampai ke taman, aku berpapasan dengan dokter dan dua orang suster yang berlari terburu-buru. “Khalif?” Pikirku dalam hati. Segera ku urungkan niat untuk menemui Anggi dan kembali ke ruang rawat Khalif dengan berlari secepat mungkin. Aku berharap mereka tidak pergi ke ruangan Khalif.

__ADS_1


Benar saja. Dokter dan suster tadi memang masuk ke dalam. Ketakutanku menjadi kenyataan. Keluarga Adhitama, Mamaku, dan Jazy sedang menunggu di luar ruangan. Kakiku rasanya sudah sangat lemas. Menit-menit yang menegangkan. Aku hanya berharap Khalif bisa melewati masa kritisnya.


“Dok, bagaimana keadaan anak saya?” Tanya Om Farhan yang langsung melempar pertanyaan ketika pintu ruangan terbuka.


“Syukurlah kondisinya sudah stabil, tapi dia masih belum bangun. Kita hanya bisa menunggu.” Setelah itu dokter Andy dan kedua susternya pergi.


Jazy langsung masuk ke ruangan. Sekali lagi dia membuat langkah jauh di depanku. Aku masih saja terpaku, terutama ketika dari luar aku bisa melihat bagaimana ia menggenggam tangan Khalif dengan sangat erat. Dia pasti masih sangat mencintai Khalif dan begitupun pria itu.


Air mataku jatuh lagi. Bukan melangkah maju, tapi mungkin mundur adalah pilihan tepat. Setidaknya keadaannya sudah stabil. Kembali aku pergi memberi ruang untuk Jazy menjaga Khalif. Meski itu begitu menyakitkan juga. Setelah belokan pertama di lorong, kakiku terhenti, tak mampu melangkah lebih jauh lagi. Aku pun duduk bersandar di dinding.


Jari-jemariku terus saja menyeka sesuatu yang membasahi pipi ini. Tak terbendung. Tubuhku yang awalnya tertunduk sambil menangis terisak kemudian mendongak ke atas tepat di mana ku lihat wajah Dennis. Ia berjongkok untuk menyetarakan dengan posisiku.


“Kenapa kamu disini dan bukannya di ruang rawat Khalif?” Tanyanya.


Aku membuang napas berat. “Sudah ada orang lain disana.”


Tanpa ku duga dia justru memberikan senyuman seperti sedang mengejek. “Memangnya siapa yang memberikan dia kesempatan melakukan itu? Bukankah kamu sendiri? Harusnya kamu yang ada disana, karena kamu mencintai Khalif. Bukannya melakukan hal yang berlawanan dengan hatimu.”


Aku terperangah. Dia tahu dari mana hal itu? Bukankah dia tidak ada disana ketika aku memberikan izin Jazy menemui Khalif waktu itu?


“Lalu bagaimana dengan kamu? Bukankah orang yang menemani Khalif disana adalah orang yang kamu cintai?” Aku tidak tahu kenapa aku bisa mengatakan ini. Aku tidak mengerti. “Kenapa kamu tidak memperjuangkannya?”


Hening. Sepertinya dia sedang menafsirkan apa yang telah aku katakan. “Keadaan yang terjadi diantara kami itu berbeda dengan apa yang kamu dan Khalif alami. Walaupun kamu sudah memutuskan pertunangan kemarin, aku sangat yakin kalian masih bisa memperbaikinya. Khalif juga mencintaimu, Alyssa. Tapi aku, meski aku sangat mencintainya, aku tidak dapat melakukan apa-apa. Aku sudah melakukan kesalahan fatal dan dia pasti sangat membenciku. Karena aku sudah merusak kebahagiaannya dulu.”


Ternyata kalimat yang ku ucapkan berdampak besar dan merubah arah topik pembicaraan kami. “Lalu apa yang kamu lakukan?”


Ia bangkit dari posisinya. “Melepaskannya dan membiarkannya hidup tanpa aku. Karena di dunia ini ada hal yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya kata maaf. Tapi jangan lakukan itu. Kamu harus tetap berada di sisi Khalif karena pria itu akan semakin menyedihkan tanpa orang seperti kamu.”


Sebelum pergi ia melempar sapu tangan kepadaku. “Berhentilah menangis dan pergilah ke Khalif.”


Dia memang benar. Ada sesuatu di dunia ini yang tak dapat diselesaikan dengan mudah dengan hanya kata maaf. Dibutuhkan keberanian yang kuat untuk merelakan seseorang yang begitu dicintai, bersikap seolah baik-baik saja, seperti yang dilakukan Dennis yang aku rasa dia sangat mengharapkan maafnya diterima Jazy. Dia mungkin sampai hari ini belum pernah bertatap muka lagi dengan wanita itu sejak kejadian beberapa tahun yang lalu.


Dari itu semua, bukankah kita bisa melakukan apa saja demi orang yang kita cintai? Ada yang rela mengejar, namun tak sedikit juga ada yang harus melepaskan.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2