
Aku hanya terdiam duduk di atas tempat tidur. Tubuhku terasa sangat lelah, namun aku tidak dapat tidur untuk siang ini. Sekarang rasanya sangat aneh mengingat beberapa jam yang lalu mengetahui perjodohan ini telah berakhir. Perjodohan yang diumumkan di saat aku tidak menginginkannya dan ketika aku telah menginginkannya justru aku sendiri yang mengakhirinya. Sekarang Khalif bebas untuk melakukan apapun dengan Jazy, dia berhak memilih orang yang ingin ia nikahi. Orang itu bukan aku. Selamat tinggal, Khal.
Mama memasuki kamarku, beliau menyerahkan ponsel miliknya. “Kenapa Mah?”
“Angkatlah.” Pinta Mama. Terlihat kalau itu panggilan telepon dari Tante Ajeng, kupikir semuanya sudah sangat jelas.
“Halo, Tante. Ada apa?”
“Alyssa...” Ucap Tante Ajeng di seberang sana. Suaranya terdengar seperti sedang menangis. Aku lalu khawatir apa yang membuatnya menangis seperti itu dan meneleponku. “Khalif, dia... dia kecelakaan...”
“Dia mengejar kamu setelah kamu pergi dan mobilnya ditabrak mobil lain dari arah samping. Datanglah Al, dia baru saja masuk ke ruang operasi.”
Pikiranku berkecamuk dan Mama memelukku yang hampir kehilangan kesadaran. Khalif kecelakaan?! Itu semua karena aku. Karena aku dia seperti itu dan jika dia sampai kenapa-kenapa, maka aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.
“Al, kuatlah. Jangan lemah, kita harus kesana karena Khalif membutuhkan kamu.” Ucap Mama yang menguatkanku.
Aku menatap Mama dengan berlinangan air mata. “Ini salah Alyssa Mah... Khalif terluka karena Alyssa...”
“Tidak sayang, ini bukan karena kesalahanmu. Semuanya sudah takdir.” Mama tidak setuju dengan ucapanku yang menyalahkan diri sendiri. Tubuhku rasanya terlalu lemah untuk melangkah, apalagi untuk melihat kondisinya yang kutakutkan sangat buruk.
__ADS_1
Mama menggandengku untuk berjalan. Di perjalanan aku hanya memikirkan bagaimana keadaan Khalif yang katanya sedang berada di ruang operasi. Lukanya pasti sangat serius dan yang paling kutakutkan adalah jika operasinya sampai gagal dan dia... tidak ! Semuanya pasti berjalan lancar dan dia akan baik-baik saja. Aku yakin ! Khal, tunggulah sebentar lagi aku pasti datang.
Di lorong itu, kami sudah menemukan keberadaan keluarga Adhitama yang sedang menunggu di depan ruang operasi. Tante Ajeng langsung memelukku erat. Kak Yashinta juga tampak begitu khawatir dan Om Farhan juga tampak begitu gelisah sambil menatap ke pintu, mungkin beliau sedang menunggu dokter yang memberitahukan bagaimana keadaan anaknya.
“Khalif, Al,...” Ucap Tante Ajeng sambil terisak. “Dia masih di dalam sana dan Tante takut ada hal buruk yang terjadi dengannya nanti.”
Beliau pasti jauh lebih terpuruk dibandingkan aku. Beliau pasti jauh lebih mengkhawatirkan kondisi puteranya dibandingkan aku, aku tahu itu. Seperti yang beliau bilang, kami disini masih menunggu entah dokter atau suster yang keluar dari dalam ruang operasi mengabarkan kondisi Khalif di dalam sana.
Aku hanya berharap, waktu bisa berkompromi dengan kami yang menginginkan Khalif kembali pulih. Semoga waktu masih mengizinkan untukku meminta maaf atas kesalahanku yang menyebabkan dirinya menjadi seperti ini. Aku semakin merasa menjadi orang paling jahat karena ini semua karena kesalahanku, tapi orang-orang disini sangat baik dan justru mengatakan hal yang berlawanan dari apa yang kupikirkan. Walau mereka juga terluka, rapuh, tapi mereka justru menguatkanku.
Akhirnya, dokter keluar dari ruang operasi. Om Farhan berada di paling depan untuk mendengar apa yang akan dokter itu katakan.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dokter itu katakan. Operasinya berjalan lancar, tapi dia koma? Entah aku harus bahagia atau sedih, atau keduanya. Entahlah, aku semakin pusing. Kakiku melemah dan aku terduduk di kursi di dekatku berdiri. Jari-jariku memijit bagian kepalaku yang kurasa sangat sakit. Ketakutanku semakin bertambah, aku takut dia akan koma selama yang dialami Robby kemarin. Tidak ! Dia tidak mungkin membiarkan orang-orang di dekatnya menunggu selama itu.
Dia pasti bangun sebentar lagi, kuyakin !
Kami yang ada disini semuanya saling menguatkan satu sama lain. Begitupun aku, aku berniat mengikuti kepergian Om Farhan. Dia sempat pamit kepada Tante Ajeng untuk pergi sebentar, tapi aku ingin mengatakan sesuatu untuknya. Dia berjalan gontai sambil tangannya memegang dahinya selama ia berjalan.
__ADS_1
Keinginanku untuk mengejarnya memudar. Aku penasaran kemana beliau akan pergi setelah mengetahui anaknya sedang koma. Anak yang hubungannya dengan dirinya tidak terlalu bagus beberapa tahun belakangan. Mungkinkah dia pergi begitu saja tanpa melihat kondisi Khalif yang akan dipindahkan ke ruang rawat? Setidakpeduli itukah dia terhadap Khalif?
Pria yang seumuran dengan Papaku itu kemudian terhenti langkahnya dan duduk di salah satu kursi di samping lorong rumah sakit yang sepi. Dia berhenti setelah cukup jauh ia berjalan dari ruang operasi. Reaksi yang kulihat sangat mengejutkan bagiku, ini pertama kalinya aku melihat seorang Om Farhan menangis tersedu-sedu. Aku mencoba mendekati beliau. Duduk tepat di sampingnya.
“Alyssa bagaimana rasanya melihat orang yang kita sayangi terluka seperti itu. Ditambah hubungan kita dengannya sekarang tidak baik, itu semakin membuat kita ketakutan, takut kalau tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengannya.”
Om Farhan mengusap air matanya yang keluar begitu deras. Air mata yang mungkin dia tahan selama operasi berlangsung dan mungkin ditahannya selama hubungannya dengan sang anak memburuk. Ada raut kerinduan, penyesalan, dan kekhawatiran di wajah beliau.
“Ini semua karena kesalahan Om. Sebagai seorang Ayah, Om merasa gagal. Bukannya memberikan kasih sayang, Om justru terus saja memberikan luka untuknya. Dia pasti sangat kecewa karena memiliki Ayah seperti Om.”
Aku menghela napas. Entah kenapa aku teringat sewaktu Khalif menceritakan tentang Papanya, yang katanya selalu memaksakan kehendak dan tidak pernah memikirkan perasaannya. “Tidak, Om. Yang Alyssa lihat, dia tidak pernah jujur terhadap perasaannya tentang hubungan kalian sekarang. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan sesuatu dari kita. Dia mengatakan hal yang berlawanan dengan hatinya. Setiap kali dia mengatakan tentang Om, hanya satu ekspresi yang bisa Alyssa lihat dari wajahnya. Kerinduan, bukan kebencian.”
Om Farhan menatapku. Ia tampak tak percaya. Namun, tak mengatakan apapun. “Dia hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap, dia bingung. Dia pikir, Om benar-benar tidak menyayanginya. Berulang kali Alyssa katakan kalau Om tidak mungkin seperti itu, tapi tetap dia tidak percaya. Seperti yang Om rasa sekarang ini mungkin, tidak percaya dengan apa yang Al katakan.”
Aku berhenti sebentar kembali menatap wajahnya yang kembali termangu. “Yang jelas, sejak awal Al hanya bisa melihat raut wajah itu, kerinduan terhadap seseorang dan itu adalah Om Farhan. Aku sangat yakin itu, dia tidak membenci Papanya sedikitpun.” Aku tersenyum simpul. “Khalif pasti sangat bahagia jika tahu Papanya sangat mengkhawatirkan dirinya sekarang.”
Kulihat kembali ke arah Om Farhan, dia juga tersenyum sepertiku. “Mendengar apa yang kamu bilang. Om yakin, dia pasti bangun. Dia anak yang kuat. Dia tidak mungkin membuat orang-orang di sekelilingnya merasa khawatir. Terima kasih, Al. Om bersyukur ada kamu disini. Pikiran Om bisa jauh lebih tenang sekarang.”
Akhirnya Om Farhan bisa tersenyum. Dan anehnya, kenapa aku yang tadi begitu lemah walau hanya untuk berdiri, sekarang justru berhasil menguatkan seseorang. Seperti yang dilakukan orang-orang tadi kepadaku, apa semua itu menular atau entahlah, sangat sulit dipahami. Iya, seperti kata Om Farhan tadi, aku juga yakin Khalif akan segera bangun dari komanya. Aku akan memperbaiki kekacauan yang telah kubuat. Aku janji.
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?