Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Gandengan di Wisuda


__ADS_3

Kau tahu di mana aku sekarang berada ? Di rumahku ? Atau di rumah Khalif ? Tidak, untuk apa aku ke sana tanpa di suruh. Salah. Sekarang aku ada di kampus karena hari ini adalah hari wisudaku. Yeay !


Aku sudah berpakaian lengkap dengan memakai toga. Betapa bahagia hatiku saat ini ketika Papa dan Mama kulihat terharu melihatku yang telah resmi lulus.


Nadira juga sekarang sedang bersamaku, dia hari ini juga wisuda sepertiku. Aku masih ingat dulu waktu pertama kali kami masuk ke sini dan di ospek sama-sama. Rasanya baru kemarin.


Aku ingat dulu Nadira yang heboh ketika melihat salah satu senior di sini, Kak Sonny yang jadi panitia ospek kami waktu itu, dia yang dulu sudah semester lima. Aku ingat waktu ada pentas seni yang aku malah disuruh menyanyi di atas panggung untuk pertama kalinya. Ah, malu sekali rasanya karena itu pertama kalinya aku naik panggung. Biasanya kan aku hanya menyanyi di kamar mandi. Haha.


Pokoknya banyak sekali peristiwa yang kualami di kampus ini. Tak lepas ketika Nadira mencoba menjodohkanku dengan Robby. Itu juga karena Mamaku yang turut ikut campur di dalamnya. Saat itu aku sedang duduk di kantin menunggu pesanan dan sedang menunggu kedatangan Nadira. Bukannya Nadira yang datang tapi malah Robby. Sambil membawa nampan pesananku juga. Aku tentu terkejut dengan kedatangannya.


Bukan tidak akrab atau apa dengan pria itu tapi aku hanya memilih tidak terlalu menanggapi hal yang Robby bicarakan. Entah mengapa aku begitu kepadanya. Kasihan juga pikirku. Aku dan Robby juga satu organisasi di BEM, kami pun cukup akrab. Hari itu aku malas sekali bicara dengannya karena kutahu kalau di balik ini semua ada rencana Nadira dan aku tak ingin pria itu merasa dibohongi karena memberikan harapan kosong. Oke, kurasa cukup, sudah ya bicara tentang Robby.


Singkat cerita selesai sudah acara penyerahan sertifikat dan sekarang aku dan keluargaku sedang berfoto bersama. Hal yang tak pernah kubayangkan adalah ketika kedatangan Khalif di sana.


Kedatangannya juga membuat kebisingan. Kupikir karena ada hal lain yang membuat orang-orang di sana tampak sedikit ribut dan berbisik-bisik. Sampai Nadira mencolek-colek tanganku dan berusaha membuatku melihat ke arah yang sama dengannya.


“Tuh lihat Al, itu siapa ?” ucap Nadira. Aku menengok ke arah belakang di mana Nadira menunjukkan seseorang itu.


Khalif datang dengan memakai celana bahan berwarna hitam, dengan kemeja putih yang dibalut dengan jas dengan warna senada dengan celananya. Ditambah lagi yang bikin aku mengernyitkan dahi kebingungan dengan bunga yang ia bawa.


Mawar putih, entahlah dia memang mengetahui aku menyukai bunga itu atau dia memang asal pilih saja. Dia tersenyum ketika sudah berada tepat di depanku yang kini sedang terpaku.


“Hai !” sapanya kepadaku. Oh Tuhan, demi apapun, kini perasaanku jadi tak karuan dibuatnya. Meski hanya dengan sapaan yang ia ucap. Sorot mata dari teman-temanku juga pastilah tertuju kepada kami.


Mama, Papa, Nadira, dan Om Adi serta Tante Widya (Orang tua Nadira) pun juga tampak terkejut dengan kedatangan Khalif. Kupikir awalnya yang mengundang Khalif kemari adalah Mama dan Papa.


Aku masih saja tertegun dan lupa menjawab sapaan Khalif waktu itu.

__ADS_1


“Kenapa melamun ?” tanya Khalif mencoba membuyarkan lamunanku. Dia tersenyum lagi. Oh manisnya.


“Ah, tidak. Maksudku, bagaimana kau bisa kemari ?” tanyaku pada Khalif dengan sedikit berbisik.


“Ini ambillah” ucapnya yang menyerahkan bunga yang iabawa untukku. Sekedar informasi, aku suka bunganya. Jadi dengan senang hati aku menerimanya.


“Jadi, alasan yang kau minta, hem ?” kata Khalif yang balik berbisik di telingaku. “Mama.” Katanya lagi.


Aku sempat terkekeh sebentar ketika dia menyebutkan alasan dia datang adalah karena paksaan Mamanya. Rasakan. Dia juga harus merasakan bagaimana aku yang kemarin disuruh menemui Khalif bahkan sampai disuruh memasak makanan segala untuk dia.


Kulirik lagi ke tempat kedua orang tuaku, mereka tampak bahagia. Syukurlah. Tapi, hatiku kini… masih tak bisa menerima kenyataan ini. Tuhan, andai saja aku bisa mencintainya, mungkin itu akan sedikit lebih baik. Setidaknya hatiku tidak terpaksa melakukan hal semacam ini.


“Baiklah, terima kasih bunganya.”


Hari ini, untuk pertama kalinya aku bergandeng tangan dengannya. Tuan Sok Cuek itu juga sekarang bisa bersikap sedikit lebih manusiawi dengan caranya tersenyum.


Khalif juga berkenalan dengan Nadira dan kedua orang tuanya yang mana mereka adalah bagian dari keluargaku, saudara dari orang tuaku. Menurut Mama Papaku dan Mama Papa Nadira, juga teman-temanku yang tatapannya masih tertuju kepada kami, pasti ada cinta di antara kami. Juga, pasti menurut mereka aku dan Khalif adalah pasangan yang cocok.


“Nggak.” Kalau bukan di sini, aku pasti sudah membekap mulut Nadira karena kesal.


“Tante sama Om senang kamu datang ke sini, Nak. Tante pikir kamu tidak bisa datang.” Ucap Mamaku. Ya ampun, ternyata benar ini semua juga perbuatan Mamaku, selain Tante Ajeng yang memaksa anaknya untuk kesini.


“Iya, Tante. Mana mungkin saya tidak datang, ini harinya Alyssa.”


Astaga bisa sekali dia berlakon seolah dia orang yang perhatian kepadaku. Biarlah. Sekarang giliran Khalif yang pura-pura berlakon, kemarin-kemarin aku yang melakukan hal itu di hadapan keluarganya, sampai memanggilnya “Sayang” pula kemarin di meja makan.


Rencananya aku ingin sedikit berbincang-bincang dengan Nadira dan menjauh sedikit dari mereka, eh malah Khalif menarik tanganku dan ia rangkul bahuku kemudian. Nadira yang melihat kejadian itu langsung terbuka lebar mulutnya karena tidak menyangka dengan apa yang pria itu lakukan padaku.

__ADS_1


“Kalian sepertinya sudah sangat cocok, jadi kapan diresmikannya ?” tanya Tante Widya kepadaku dan Khalif. Khalif menatapku seolah memberi isyarat kalau dia saja yang menangani hari ini.


“Doakan yang terbaik ya Tante, semoga saya dan Al segera meresmikannya.”


Aku hampir tak percaya Khalif bisa mengatakan hal itu. Selama ini Khalif yang bersamaku adalah Khalif yang jarang sekali bicara. Apa itu benar Khalif ? Biasanya dia cuma bersikap manis di hadapan Key, keponakannya. Walau hanya berpura-pura, dia kemarin bahkan biasa-biasa saja tidak seperti ini. Dia banyak tersenyum hari ini, aku sempat meragukan kesehatannya. Ataukah dia sedang tertekan ?


“Kita semua pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua.” Balas Tante Widya. Entah percakapan apalagi yang mereka lakukan, aku kurang menyimaknya. Yang jelas aku hanya tersenyum sambil tanganku menggandeng tangan Khalif.


Beberapa temanku yang lain juga memberikan selamat kepadaku yang telah lulus dengan nilai yang cukup bagus. Biarkan aku yang memuji diriku sendiri, maklumi aku yang sedang pusing karena keadaan ini. Mereka yang menyalamiku sebenarnya juga kukira hanya sekedar untuk lebih dekat memandang wajah Khalif.


Kusuruh Khalif yang memegang bunga pemberiannya ketika sedang bersalaman dan sedikit bercengkrama dengan Mila, Dini dan Mayang.


“Jadi sekarang statusnya apa nih ? Pacaran ?” tanya Mayang kepadaku. Mayang ini adalah teman yang satu jurusan denganku.


Sebenarnya aku bingung harus menjawabnya dengan bagaimana. Jika kubilang dia bukan siapa-siapaku pasti mereka takkan percaya apalagi sekarang tanganku masih melingkar di tangan Khalif, tapi jika kuakui kalau Khalif adalah calon suamiku pasti mereka akan terkejut.


“Calon suami Alyssa.”


Belum sempat aku menjawabnya, sudah keduluan Khalif yang mencoba memperkenalkan siapa dia. Ah, padahal dia hanya cukup menyebutkan namanya saja jika mengajak mereka berkenalan.


Mata ketiganya terbelalak ketika mendengar pernyataan Khalif. Mereka pasti sangat kaget mendengarnya yang dari status kami seolah mengatakan sebentar lagi pernikahan kami akan segera dilangsungkan. Kalian tahu ‘kan kalau aku jomblo dari dulu, wajar saja mereka menunjukkan ekspresi yang berlebihan seperti itu. Apalagi si Mila yang sudah berpacaran dengan Adit sekitar tiga tahun, pasti merasa iri karena justru aku yang akan segera menikah.


“Bagaimana bisa Al kamu bertemu dengan pria setampan dia ?” tanya Dini dengan sisa rasa terkejutnya dia.


“Bisa aja kalian.” Maksudku adalah mereka cuma menilai pria itu dari sisi ketampanannya saja, coba saja mereka dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sama denganku, dengan menghadapi sikap asli Khalif. Pasti jika itu mereka, akan lebih menderita dibandingkan aku.


Tapi mendengar Khalif mengatakan kalau dia itu adalah calon suamiku, hatiku tak karuan kembali. Entahlah, rasanya aneh. Itu saja. Sekalipun itu kebenaran bahwa dia memang calon suami yang orang tuaku pilihkan, tapi tetap saja aneh jika dia yang mengakuinya secara langsung dan ditangkap oleh telingaku. Terlalu cepat jika menurut kalian ini adalah cinta.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2