Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Kejutan Untuk Khalif


__ADS_3

Saat ini tengah bingung memikirkan sesuatu sambil menatap kalender yang tertera lingkaran di salah satu hari di bulan ini. Itu tanggal ulang tahun Khalif. Masalahnya adalah aku bingung harus memberikan kejutan seperti apa untuknya di hari spesialnya itu. Sebab kata Tante Ajeng, Khalif sudah tak merayakan ulang tahunnya lagi semenjak ia putus dari Jazy.


Aku ingin kejutan dariku ini berkesan baginya karena setelah aku tahu bagaimana perasaannya, aku ingin menjadi yang terbaik untuk dia, calon suamiku. Aku lalu berniat meminta pendapat Mama, akhirnya aku turun dari lantai atas mencari Mama. Rupanya Mama sedang menonton televisi.


"Mah, Al boleh tanya sesuatu?" Tanyaku yang duduk di samping Mama.


"Boleh, mau tanya apa sayang?" Mama mengalihkan perhatiannya dari serial televisi kesukaannya tersebut.


"Dua hari lagi Khalif ulang tahun dan sampai sekarang Alyssa tidak punya ide untuk memberikannya kejutan seperti apa. Mama ada saran?"


Mama lalu mulai berpikir. "Kamu benar-benar tidak ada ide?"


Aku menggelengkan kepala. "Alyssa tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, jadi sekarang Al bingung harus bagaimana. Ditambah Khalif pasti tidak suka ulang tahunnya dirayakan dengan banyak orang."


"Kalau begitu kenapa tidak coba ajak dia makan malam berdua, lalu kamu kasih kejutan. Dia tidak suka keramaian bukan? Jadi kalian bisa merayakannya berdua saja. Mama rasa dia akan suka."


Aku memikirkan ide Mama. Ada benarnya juga, sederhana tapi sangat manis. "Tapi, akhir-akhir ini dia sangat sibuk dan katanya dia tidak bisa pergi makan malam di luar sama Alyssa."


Aku dan Mama terdiam setelah itu, sampai menyadari sesuatu. "Ah, apartment-nya Khalif !"


Mama menatapku heran. "Kenapa dengan apartment-nya?"


"Aku akan memberikan kejutan di sana. Kue ulang tahunnya, Al akan buat sendiri di rumah. Lalu Al akan menunggunya pulang. Al rasa Khalif akan menyukainya."


Aku mengatakannya penuh percaya diri. Mama terlihat puas dengan ideku. Ide sesederhana ini justru baru terpikirkan di benakku. Oke, langkah pertama adalah memastikan Khalif tidak akan menyadari kalau aku sedang mempersiapkan kejutan untuknya. Aku juga harus membeli hadiah untuknya.



Siang ini aku dan Tante Ajeng akan pergi bersama ke sebuah pusat perbelanjaan untuk mencari kado ulang tahun untuk Tuan Khalif Adhitama. Aku meminta saran beliau untuk mencari apa yang disukai oleh anaknya. Tadi ketika aku menghubungi beliau dan mengatakan kemauanku, dengan senang hati Tante Ajeng memenuhi permintaanku. Sekarang kami masih di perjalanan menuju ke sana.


"Al, Tante senang hubungan kalian semakin dekat. Tante tidak sabar menunggu hari pernikahan kalian. Kalian pasti sangat serasi ketika bersanding nanti. Dan juga, Tante senang Khalif bisa membuka hatinya untuk kamu Al. Tante sempat takut kalau anak itu akan kembali kepada mantan kekasihnya itu." Kata Tante Ajeng kepadaku yang fokus menyetir.


"Kalau boleh Al tahu, kenapa Tante tidak suka jika mereka kembali bersama? Bukankah yang Tante inginkan adalah kebahagiaan Khalif?"


Aku melirik sebentar ke arah Tante Ajeng yang kelihatan berpikir dan wajahnya menampakkan kesedihan.


"Karena Tante takut kalau wanita itu akan membalaskan dendam keluarganya terhadap Khalif karena bagaimana pun Jazy tetaplah putri Gusti dan adik dari Marcell, orang-orang yang dipenjarakan Papanya Khalif."


Hal ini pasti juga sangat sulit bagi wanita parubaya ini.


"Khalif, dia pasti kecewa memiliki orang tua yang begitu egois seperti kami. Tapi, andai dia berada di posisi Yashinta, dia pasti tahu kenapa kami melakukan hal semacam ini. Kamu pasti sudah mendengarnya bukan dari Om Farhan?"

__ADS_1


Aku mengangguk. "Mungkin Al juga bisa sedikit mengerti mengapa kalian melakukan hal itu. Sama seperti orang tua lainnya yang menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik. Dan juga Tante jangan terus menyalahkan diri sendiri seperti ini lagi, karena Khalif yang kutahu dia tidak pernah membenci kalian. Itu tidak seperti yang terlihat."


"Ternyata kamu telah mengenal Khalif dengan baik dibandingkan siapapun. Tante bersyukur karena pilihan Tante sudah tepat. Sekarang kita hanya perlu menunggu hari itu."



Aku sudah membuat kue ulang tahun untuknya dan mempersiapkan kado yang kemarin ku pilih bersama Tante Ajeng. Semoga saja Khalif menyukai jam tangan yang ku hadiahkan kepadanya ini. Jam tangan kupilih karena pria itu menyukai benda tersebut dibandingkan yang lain, seperti sepatu atau apapun itu.


Aku juga mendapatkan semangat dari Mama dan Papa, serta Tante Ajeng dan Kak Yashinta yang tadi pagi sudah mengirimkanku pesan singkat. Aku semakin tidak sabar melihat bagaimana reaksi Khalif melihatku yang menyambutnya di apartmentnya nanti.


Dan dengan menjadikan apartment sebagai tempat untuk memberikan kejutan bukan tanpa alasan. Meski akhir-akhir ini Khalif lebih sering pulang ke rumah, tapi ia masih pulang ke apartment-nya di akhir pekan. Berhubung ulang tahunnya tepat di hari ia pulang ke apartment, jadi aku bisa melancarkan rencanaku untuk merayakan ulang tahunnya bersamaku sekaligus makan malam bersama.


Aku sudah berada di depan pintu apartment-nya. Jemari tanganku langsung memencet kode pin pintu apartment-nya. Khalif tidak tahu kalau aku mengetahui nomor pin kamarnya sejak dulu ia mengajakku kemari, itu adalah angka yang menunjukkan hari ulang tahun Key.


Setelah pintu terbuka, aku pun masuk dengan kue dan bingkisan hadiahku. Tapi baru saja aku masuk, aku mendengar suara orang di dalam sana. Bukankah Khalif jam segini harusnya masih di kantor? Ini bahkan belum waktunya orang-orang pulang dari kantor. Kupikir rencanaku sudah berantakan jika hal itu benar terjadi.


Kue dan bingkisan hadiah ku taruh di atas meja dekat di samping vas bunga. Aku mencoba mengintip dan berjalan sepelan mungkin. Mataku membulat sempurna ketika suara yang ku dengar bukan hanya berasal dari satu orang. Bukan hanya suara laki-laki, tetapi juga suara perempuan.


Khalif sedang bersama Jazy.


"Aku pikir kamu sudah tidak ingin bicara denganku lagi."


"Bukan begitu, kau hanya salah mengerti. Bukankah sudah ku jelaskan tadi?"


Apa? Seperti ini lagi? Maksudnya apa? Perempuan itu bahkan berani sekali memeluk calon suamiku itu. Ironisnya bahkan Khalif membalas pelukannya. Sampai di sini aku masih berusaha untuk percaya dengan Khalif dan perasaannya untukku.


Khalif melihatku yang memperhatikan adegan mesra mereka berdua. Akhirnya dia menyadari keberadaanku dan ku ingin melepaskan pelukan itu. Dan reaksi yang tak terduga datang darinya yang membuat kepercayaanku hilang terhadapnya, dia mengabaikan kehadiranku.


Apa aku sudah dicampakkan? Apa benar begitu, Khal?


Aku benci berhadapan dengan situasi yang tidak tepat. Seperti melihat bagaimana kenyataan pahit yang sebenarnya. Seperti sekarang, aku telah dikhianati. Jika Khali peduli terhadap perasaanku, dia pasti menepis pelukan itu dan berlari ke arahku untuk menjelaskan semuanya.


Rencanaku untuk memberikan kejutan untuk Khalif juga sudah gagal dan berbalik justru aku yang diberikan kejutan darinya.


Air mata ini terus mengucur deras dari mataku. Sekalipun aku telah keluar dari apartment-nya. Khalif sungguh tidak peduli dengan perasaanku dan itu adalah fakta yang sejak awal telah kuketahui. Dia tidak mencintaiku. Bodohnya aku telah berpikir bahwa aku sudah berhasil menggantikan wanita masa lalunya itu dengan begitu cepat.


Seharusnya aku tidak pernah memberikannya celah untuk menyakitiku sesakit ini. Sehancur ini. Perasaanku sangat sakit karena harapan yang telah ia katakan beberapa waktu lalu. Sekarang aku sudah jatuh dengan sisa-sisa kata-katanya yang manis itu.


Sepanjang jalan aku merutuki diri ini. Betapa menyesalnya aku telah terbuai dengan perkataannya waktu itu yang menginginkan diriku bersanding dengannya. Sial, di otakku terus saja terbayang ketika mereka saling berpelukan. Bodoh, mana mungkin Khalif bisa lepas dari Jazy yang selama ini ia tunggu. Itulah alasannya mengapa Khalif masih menaruh dendam terhadap Papa dan Dennis yang dianggapnya telah memisahkan mereka berdua.


Aku paham sekarang, aku baru menyadarinya. Aku sudah berjalan terlalu jauh sampai aku telah dibutakan oleh keadaan ini. Jika ia memiliki perasaan, setidaknya ia mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi. Nyatanya Khalif tidak menghubungi ponselku seperti dulu saat aku meninggalkannya di restoran tempo hari. Ah, apa aku kembali membuat harapanku sendiri? Cukup Al !!

__ADS_1


"Al kamu kenapa?"


Mama memergokiku yang baru saja masuk ke rumah dengan menangis. Aku tidak mampu menceritakannya sekarang dan memilih berlari masuk ke kamar, lalu mengunci pintu. Pasti beliau khawatir. Maafkan Alyssa.


Kenapa harus semenyakitkan ini ketika mencintai seseorang? Kenapa harus serumit ini perjalananku? Dari banyaknya masalah yang harus terjadi, kenapa harus berhubungan dengan masa lalunya yang tak pernah bisa tergantikan? Kenapa kisah cintaku tak pernah berhasil?


"Alyssa ! Buka pintunya sayang !"


Mama dan Papa terus mengetuk pintu dan membujukku keluar kamar. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan keadaanku dan tengah bertanya-tanya. Air mataku terus saja keluar ditambah dengan kepalaku yang semakin pusing.


Sejak tadi bahkan aku hanya duduk bersandar di pintu sambil mendengarkan panggilan mereka yang di luar. Beberapa lama kemudian tidak hanya suara mereka yang terdengar. Nadira bahkan datang dan topiknya masih sama, dia juga terus menelepon ke ponselku dan membujukku keluar kamar. Begitupun dengan Khalif. Dia datang paling terakhir, mungkin dia terlalu sibuk dengan Jazy.


"Al, kumohon keluarlah. Ayo kita bicarakan semuanya."


Seperti itu lagi, dia mencoba membujukku lagi seperti waktu itu, dia pandai sekali berpura-pura baik dan berharap hatiku luluh lalu memaafkannya. Seperti hari itu, dengan mudahnya ia meluluhkan hatiku yang sangat hancur hari itu dibuatnya.


"Alyssa. Aku minta maaf. Ini tidak seperti yang kamu lihat."


Aku berdecih mendengar perkataannya, lalu apa yang sudah kulihat? Apa aku sudah buta pikirnya? Kenapa ini semua terdengar seolah aku sudah salah paham terhadapnya yang bahkan sudah mengabaikan kehadiranku ketika aku memergoki mereka berdua? Lalu apa yang harus dijelaskan? Bagiku itu sudah cukup dengan melihat reaksinya seperti itu bahwa dia tidak peduli dengan perasaanku yang terluka.


Entah sudah berapa jam Khalif di luar sana menungguku keluar, tapi aku benar-benar tidak peduli. Itu tidak sebanding dengan sakit ini. Tidak ada lagi suara orang tuaku dan Nadira di luar sana, hanya ada suara Khalif. Mungkin memang hanya dia yang berada di luar.


"Al... kasih aku kesempatan untuk menjelaskannya."


Suara itu tampak melemah dari tadi, namun terdengar begitu dekat. Ini seperti dia duduk di belakangku. Mungkin dia memang duduk bersandar di pintu seperti yang kulakukan kini. Lalu aku masih belum memberikan jawaban apapun terhadap panggilan mereka.


Aku kini sedang memandangi sebuah bingkai foto. Aku tersenyum tipis dan kesedihan kembali menyeruak.


"Seandainya kamu tidak pergi. Mungkin kamu bisa memastikan kalau aku baik-baik saja. Mungkin aku tidak akan jatuh cinta terhadapnya dan merasakan sakit seperti ini." Kataku dalam hati.


"Nando..."


Hanya nama itu yang ku sebut. Aku benar-benar merindukannya. Tangis ini terus saja mengalir dengan deras dan tak tahu kapan mereda. Sedang di luar sana masih ada orang yang membuat kebisingan di telingaku dengan suaranya yang terdengar lemah, dia terus saja memanggilku dengan mengatakan berbagai alasan agar aku mau keluar.


"Alyssa... Aku tahu sudah membuat kesalahan besar. Tapi setidaknya kamu beri aku waktu sebentar saja untuk meluruskan semuanya. Ini hanya kesalahpahaman. Salah paham, Alyssa."


"Atau setidaknya kamu beri aku kesempatan untuk melihat keadaanmu."


Salah paham kau bilang, Khal?! Lalu kenapa kau baru datang sekarang? Semuanya akan berubah jika kau langsung meluruskannya tadi. Kamu sangat menyedihkan Khal dengan menjadikanku sebagai pelampiasan, lalu kau pergi dengannya. Hebat ! Dan aku berhasil kau tipu.


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next?


__ADS_2