
Terlihat menyedihkan ketika waktu yang kau harap akan mempertemukanmu dengan pujaan hati seperti yang kau minta, tetapi yang justru berada di sampingmu adalah orang lain. Seperti halnya diriku yang harus menjalani rute perjalanan yang diberikan kedua orang tuaku dan diharuskan untukku menjalaninya bersama orang yang tidak kuinginkan.
Sejak aku mengetahui tentang seseorang yang telah lama bertahta dalam hati Khalif, kurasa aku sudah mulai aneh. Tidak tahu mengapa juga kenapa sering sekali hal itu terngiang-ngiang di kepalaku dan sangat mengusik pikiran. Dan kenapa juga aku harus peduli dengan apa yang sudah terjadi kepada mereka berdua sebelumnya dan sebab perpisahan mereka.
Beberapa hari yang lalu aku pernah cerita mengenai apa yang kurasakan ini kepada Nadira. Hmmm… ada rasa menyesal juga kenapa aku harus menceritakan tentang itu, tapi kalau bukan dia siapa lagi orang yang mau mendengarkan curahan hatiku di tengah malam saat orang-orang tertidur pulas. Hanya Nadira yang rela mengangkat telepon dan sangat memahami kalau sesuatu itu pasti sangat mengganggu.
Aku menyesal menceritakan tentang kisah Khalif dengan mantan kekasihnya itu kepada Nadira karena sepupuku itu akhirnya justru mengambil kesimpulan kalau aku… cemburu. Hei, itu tidak mungkin ‘kan ? Mana mungkin aku cemburu kepada Khalif yang sama sekali aku tidak memiliki perasaan apapun kepadanya. Tidak masuk akal ‘kan ? Iyakan ?
Ok, entah kalian setuju kepada Nadira mengenai pendapat kalau aku sedang cemburu, aku tidak peduli. Sungguh. Hubunganku dengan Khalif tidak lebih dari hubungan yang terjalin karena orang tua kami yang menginginkan. Itu tidak akan berhasil kalau kami benar-benar bersama ketika di antara kami tidak ada perasaan apapun. Kalaupun aku kadang membuatkan makanan untuknya itu adalah untuk memenuhi permintaannya. Ataupun berusaha mendengarkan kisahnya tentang Papanya, itu hanya sebatas sopan santun dariku.
Suatu hari nanti aku akan meminta balasan atas waktu yang telah kusia-siakan bersamanya, kepada Khalif. Mau atau tidak, terpaksa atau tidak, kupastikan dia akan memenuhi janjinya itu.
Aku benar-benar tidak ingin bertemu Khalif hari ini, meski sekarang aku sedang menuju ke kantor tempatnya bekerja. Rencananya makanan yang telah kumasak ini akan kutitipkan kepada sekretarisnya, Adinda. Suasana hatiku sangat buruk beberapa hari belakangan ini, aku pengen marah-marah saja rasanya, dan jika Khalif berani muncul di hadapanku hari ini dan membuat suasana hatiku semakin buruk, aku akan memberikan dia pelajaran.
Sesampainya di kantor Adithama Group dan membayar ongkos taksi yang kunaiki, aku mulai memasuki kantor dan menanyakan di mana keberadaan Adinda kepada pegawai lain. Aku menunggu Adinda beberapa menit, baru kemudian dia datang dari elevator yang ia naiki untuk turun dari lantai atas tempat kerja bekerja.
Adinda yang sudah mengetahui kalau aku yang mencarinya, ia tersenyum lebar berjalan ke arahku. Dia sangat tahu bagaimana cara memperlakukan seseorang dengan ramah dan sopan.
“Pak Khalifnya masih ada rapat, tapi lima menit lagi dia keluar. Al, kamu bisa menunggunya di ruang kerjanya. Ayo, aku antar.” Katanya. Aku memang meminta Adinda untuk memanggil namaku langsung, lebih baik begitu daripada aku dipanggil “Mbak”.
“Din, aku titip ini sama kamu. Aku nggak bisa ketemu dia hari ini. Bolehkan ?” Pintaku kepada Adinda yang terlihat bingung dengan alasanku.
“Kenapa begitu ? Sebentar lagi rapatnya selesai, siapa tahu ada nanti yang Pak Khalif ingin bicarakan sama kamu.” Kata Adinda. Pasti dia bingung dan mungkin juga berpikir kalau aku dan Khalif sedang bertengkar atau apalah itu namanya.
“Nggak ada apa-apa. Aku titip sama kamu, ya.” Pintaku sekali lagi. Setelah itu aku pamit. Aku berjalan keluar dari kantor Khalif. Tapi, bukannya pergi ke depan mencari taksi untuk pulang, aku yang tadinya berjalan sambil melamun baru menyadari kalau aku berada di taman kecil yang berada di samping kantor.
__ADS_1
Mungkin karena ini masih jam kerja, jadi taman itu masih sepi. Udara di taman itu juga menyegarkan. Tenang rasanya bisa berjalan di bawah pohon yang menyejukkan. Entah kenapa juga, sebelumnya aku menonaktifkan ponselku agar Khalif tidak dapat menghubungi. Aku benar-benar tidak ingin mendengar suaranya ataupun bertemu dengannya.
Ah, senangnya aku bisa berada di taman itu. Kepalaku sedikit mendongak ke arah pohon yang daunnya lebat dan hijau, seketika aku teringat tentang piknik bersama kedua orang tuaku dan persis di bawah pohon yang seperti sekarang. Kalau tidak salah itu sewaktu aku berumur sembilan tahun. Aku masih mengingatnya, bagaimana tidak, itu merupakan salah satu momen terbaik yang akan terus kukenang.
“Maaf. Kamu Alyssa, bukan ?” Ucap seseorang yang membuyarkan lamunanku. Aku tidak mengenal pria ini, tapi bagaimana bisa dia mengetahui namaku. Apa dia salah satu follower-ku di media sosial ? Ah, aku tidak tahu.
“Iya. Anda siapa, ya ?” Tanyaku kepadanya. Pria itu berpakaian rapi lengkap menggunakan jas, sepertinya dia bekerja di kantor Om Farhan, tapi seingatku aku tidak pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Kalau memang dia bekerja di Adhitama Group, dia pasti hadir di peresmian kantor cabang baru Adhitama Group dulu. Kalau aku boleh menebak-nebak lagi, aku perkirakan dia seumuran dengan Khalif.
Pria itu menyodorkan tangan kanannya untuk mengajak bersalaman. “Aku Dennis. Sepupu Khalif.”
“Ah, jadi kamu sepupu Khalif. Maaf aku tidak mengenalimu.” Kataku sambil menyambut jabat tangannya. Dia tersenyum mendengar pernyataanku.
“Wajar saja kamu begitu, kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya.” Kata Dennis. Aku bingung mendengar perkataannya kali ini, lantas bagaimana caranya dia mengetahui kalau aku Alyssa yang dia maksud.
“Lalu, bagaimana kamu tahu aku adalah orang yang kamu maksud ?” Tanyaku padanya.
Aku sangat kaget setelahnya, setelah Dennis mengatakan hal itu ada tangan yang mencoba menarikku menjauh dari Dennis. Aku terkesiap melihat orang itu. Khalif. Arrgghh !!! Mau apa dia sampai berani menarik tanganku sekasar itu. Dia benar-benar tidak memikirkan apa kalau tanganku akan kesakitan akibat ulahnya. Suasana hatiku yang sedikit membaik setelah mengobrol dengan Dennis, kemudian dihancurkan oleh Khalif yang datang dengan ekspresi seperti sedang marah. Ah, aku tidak peduli dia marah karena apa.
“Jangan ganggu dia. Dia milikku !”
Sumpah, perasaanku bingung untuk sekarang.
“Pergilah !!” Kata Khalif dengan nada membentak Dennis. Aku semakin bingung dan aku bisa mendengar kalau Khalif sungguh marah kepada Dennis. Aku merasa kalau masalah di antara mereka berdua bukanlah meributkan hal yang kecil dengan melihat kemarahan Khalif. Sedang Dennis, dia masih tak berucap di tempatnya.
Pria menyebalkan itu, Khalif, dia kembali menarik tanganku dengan paksa entah kemana yang jelas itu membuatku pergi dari hadapan Dennis. Sama sekali aku tidak mengerti mengenai masalah yang terjadi berkaitan keluarga mereka. Kemarin aku hanya mengetahui kalau hubungan Khalif dengan Om Farhan sedang bermasalah dan hari ini aku di hadapan oleh Khalif yang terlihat sangat membenci sepupunya sendiri, sekarang aku tidak tahu apa yang akan kuketahui lagi esok hari.
__ADS_1
“Awww !” Rintihku ketika rasanya genggaman Khalif semakin erat dan membuat tanganku kesakitan. Khalif membawaku masuk ke dalam kantor dan lebih tepatnya menyeret tanganku di hadapan puluhan pasang mata pegawainya. Khalif menghentikan langkahnya ketika mendengar suaraku. Perlahan-lahan genggaman Khalif mulai melonggar. Perasaanku juga seperti sedang diaduk-aduk, aku tidak memahaminya, tidak memahami apa yang terjadi kepada hatiku.
Di sini, tepat di hadapan elevator yang akan membawa kami ke lantai di mana ruang kerja Khalif berada, genggaman tangan yang melonggar itu masih tetap Khalif genggam. Tadinya sempat terpikir kalau genggaman itu akan kutepiskan, namun entah kenapa tak kulakukan. Masih tetap kubiarkan tanganku dan tangannya dalam genggaman.
Pintu elevator terbuka dan dengan bodohnya kenapa aku tidak lari saja darinya, namun aku justru masuk ke sana kemudian diiringi Khalif. Di sana hanya ada kami berdua. Tidak ada rasa canggung untuk waktu sekarang, aku lebih memilih untuk menyimpan amarah lalu akan kuledakkan di depannya nanti. Di sana, Khalif tidak mengatakan hal apapun, mungkin dia merasa bersalah dan takut akan kumarahi walau sekedar untuk mengatakan maaf.
Pintu elevator terbuka, genggaman itu terlepas dan aku langsung ke luar dan masuk ke ruangan kerjanya tanpa permisi. Ah, kenapa aku menjadi orang yang tidak tahu sopan santun begini. Tapi, ya sudahlah. Toh Khalif maklum kalau aku sedang marah padanya dan ini juga adalah kesalahan darinya.
Kalau aku harus meminta maaf karena kelancanganku yang masuk ruang kerjanya tanpa permisi, dia adalah yang pertama dulu untuk meminta maaf padaku atas sikap kasarnya tadi. Di meja kerjanya aku melihat kontak makan siang yang kutitipkan pada Adinda tadi.
“Aku minta maaf…” Belum sempat aku menghadap ke arah belakang tempat pria itu berdiri, dia sudah mengatakan permohonan maafnya. Sebenarnya aku sedikit tersentuh, sebab permohonan maafnya itu terdengar sangat tulus dan menyesal. “Pasti sakit, tanganmu itu. Maaf, Alyssa.”
Kalau boleh jujur, jantungku sekarang berdebar dan aku tidak berani menatap wajahnya yang berada di hadapanku. Berdebar setelah mendengar permohonannya ? Iya, tapi bukan hanya itu. Tapi, juga tadi kurasakan ketika Khalif mengatakan bahwa aku adalah miliknya. Aneh bukan ? Kurasa aku harus mengecek kesehatan jantungku ke dokter ahli, mungkin saja jantungku sedang bermasalah.
“Aku mau pulang.” Lirihku pelan. Juga, terdengar lemah. Kemarahanku mereda.
“Aku antar.” Katanya. Dia juga sudah tidak marah lagi terdengar dari suaranya yang terdengar lembut. Mungkin rasa penuh penyesalan.
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Aku menolak tawarannya dengan baik-baik. Sejujurnya aku sangat ingin bertanya kenapa dia sangat marah terhadap Dennis, seolah Dennis adalah orang yang pantas untuk mendapatkan itu. Tapi jika kutanya sekarang, mungkin saja pertanyaanku takkan mendapat jawaban. “Makanlah dengan baik.”
Aku berlalu untuk pergi dari ruangannya, pria menyebalkan ini tidak dapat mencegahku. Lebih baik begini, setidaknya pikiranku bisa beristirahat dan sedikit demi sedikit mencoba mencerna apa yang telah kualami hari ini. Tentang pertengkaran dua pria itu dan tentang hatiku yang berdebar karena Khalif.
“Apa maksudnya aku adalah milikmu ? Terasa berbeda terdengar saat ini di telingaku. Kenapa aku harus menjadi milikmu ?” Pertanyaan ini jauh tersimpan di dalam relung hatiku. Tempat tersembunyi yang terdalam dari hatiku. Aku tidak berani mempertanyakannya secara langsung kepadanya, kepada Khalif. Biarlah saja.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?