Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Setelah Janji Itu


__ADS_3

Dia yang sedang memandangiku dengan tatapan dingin itu, Khalif, masih menungguku untuk masuk ke dalam apartment-nya. Dia masih berdiri di sana, sedang aku masih menunggu jawaban dari permintaan maafku. Aku perlu jawaban itu sekarang juga.


“Masuklah !” Ucapnya sekali lagi. Perkataannya masih terdengar dingin di telingaku. Dan aku masih tetap di tempatku semula, tak beranjak. Aku tahu Khalif semakin kesal jika aku tidak masuk sekarang, namun aku tidak peduli. Aku hanya ingin permohonan maafku diterima, lalu aku bisa lega.


Selang beberapa detik, Khalif menarik tanganku untuk masuk ke dalam sana. Aku tentu kaget. Aku jadi ingat ketika ia dulu menarik tanganku dan membawaku pergi dari hadapan Dennis. Ia saat itu begitu kasar, namun kali ini berbeda. Meskipun aku tahu dia menaruh rasa kesal padaku yang melupakan janji itu, dia tidak kasar padaku seperti kemarin.


Dia membawaku masuk ke ruang tamu dan melepaskan genggamannya. “Maaf, Khal !”


“Mau minum apa ?” Astaga, bukannya menjawab permintaan maafku, dia malah mengalihkan pembicaraan dengan menawarkan aku minum. Aku tidak haus, aku hanya ingin maafku diterima karena rasanya sekarang tidak enak sekali.


“Aku tidak haus. Aku perlu kamu menerima permintaan maafku.” Kataku lagi. Dia kembali membisu. Dia lalu pergi ke dapur, kurasa dia ingin membuatkan minuman yang tak kuinginkan itu.


“Kalau begitu duduklah. Nanti kakimu sakit.” Katanya lagi sembari berjalan ke arah dapurnya. Aku tidak peduli dengan ucapannya itu.


“Khal, jawab !” Seruku lagi. Aku sedikit geram karena merasa diabaikan. Aku sudah memenuhi kewajibanku untuk meminta maaf, seharusnya dia bisa melihat kesungguhanku itu dan memaafkanku. Tapi apa boleh buat, aku memang bersalah dan dia berhak untuk marah.


Dia kembali dengan membawa secangkir teh hangat. Lalu menaruhnya di meja depan sofa. Aku meraih lengannya. Dia masih saja menaruh ekspresi wajah itu. Ekspresi wajah yang tak kusukai. Sangat tak kusukai.


“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk batalin janji itu. Aku hanya lupa memberitahu kamu kalau aku akan terlambat datang. Aku tahu kamu berhak marah padaku. Tapi aku benar-benar tidak tahan kamu mengabaikan permintaan maafku begini.” Dia hanya diam mendengar perkataanku. Tak ada tanggapan sama sekali. Aku kesal juga pada akhirnya. Kuputuskan untuk beranjak dari tempat itu.


Aku tidak peduli jika dia akan semakin marah karena ini. Tapi aku benar-benar tidak peduli, aku juga memiliki perasaanku sendiri yang merasa sangat sakit juga. Aku benar-benar pergi dari apartment itu tanpa dicegah oleh empunya. Dia sama sekali tidak menghentikanku.


“Aaarrgghhh !!!” Aku berteriak sewaktu di elevator. Untunglah di sana hanya ada aku, jadi aku bisa puas menumpahkan air mataku yang tadi berusaha kutahan di depan Khalif. Aku tidak mengerti kenapa aku jadi begitu sensitif. Apa itu karena aku merasa diabaikan atau karena ada hal lain, aku juga tidak memahaminya.


Aku pulang ke rumah. Tak ada siapapun di sana karena memang Mama seminggu lagi baru pulang dari Singapura. Di kamarku, aku kembali menumpahkan kesedihan. Malam ini adalah yang menyedihkan untukku. Malam ini aku mengetahui tentang Robby yang mengalami koma dan mendapati kenyataan Khalif yang marah karena menganggapku mengingkari janji.


Aku ingin menghubungi Nadira, lalu menceritakan semua ini. Tapi, kuurungkan. Kupikir-pikir kembali Nadira saat ini juga sedang sedih, tak seharusnya bebannya bertambah karena ia pasti akan merasa bersalah karena ini. Jadilah saat ini semakin merasa kesepian.


Bahkan aku tidak tahu untuk menghubungi siapa untuk menceritakan perasaanku. Aku juga tidak ingin menghubungi Mama, beliau pasti akan sedih kalau sampai tahu mengenai pertengkaranku dengan Khalif dan itu pasti akan semakin rumit nanti.


__ADS_1


Pagi ini aku bangun sedikit terlambat. Mungkin karena semalam aku tidur larut malam. Sinar matahari juga sudah tak sabar untuk masuk menembus tirai jendela kamarku. Ah, silau sekali setelah kubuka tirainya. Aku sampai menutup mataku saking silaunya dan menggunakan tangan kananku untuk melindungi dari cahaya mentari pagi itu.


Ah, karena menangis semalaman akibatnya wajahku jadi bengkak begini. Aku baru tahu wajahku begini ketika melihat pantulan wajahku di cermin kamar mandi sewaktu akan menyikat gigi dan mencuci muka. Ingin rasanya aku lupa, tapi mana mungkin aku lupa secepat itu.


Sudahlah, ayo Al coba lupakan sebentar soal tadi malam. Ini masih pagi, jangan sampai suasana hatimu hancur. Walau aku mengatakan kata-kata semangat itu untuk diriku sendiri, itu sama sekali tidak berpengaruh apapun. Aku bahkan jadi malas sekali hari ini untuk melakukan apa-apa.


Sudah kukatakan tadi aku sedang malas melakukan apa-apa dan malas pergi ke mana-mana. Tapi, aku tidak memasak untuk sarapan bukan karena sedang malas, itu karena aku hanya ingin makan apel. Perutku sama sekali tidak lapar, hanya karena aku tidak ingin perutku kosong dan sakit nanti, aku menyantap buah apel itu sebagai sarapanku pagi ini.


Aku hanya akan bersantai hari ini sambil menonton televisi. Kuharap tidak ada yang mengganggu. Namun, selesai aku mengatakan ini aku justru mendapatkan panggilan telepon dari Tante Ajeng yang ingin aku ke restorannya siang ini. Ditambah katanya Khalif akan datang, tanpa beliau katakan sebelumnya pun aku sudah menduga pria itu pasti juga akan ada di sana. Sebab sejak adanya perjodohan itu, orang tua kami begitu getol membuat kami terus bersama.


Aku mana mungkin menolak undangan Tante Ajeng. Tanpa sadar aku mengiyakannya dengan lesu sampai-sampai Tante Ajeng mengira kalau aku sedang sakit. Setelah meyakinkan kalau aku baik-baik saja, sambungan telepon itu kemudian terputus dan aku bersiap untuk membersihkan diri.


Sekitar tiga puluh menit kemudian aku telah siap dan pergi ke restoran milik Tante Ajeng. Ketika sampai di sana aku langsung disambut Tante Ajeng. Tampaknya Khalif belum datang, toh jika dia sudah ada di sana tentulah dia disuruh Tante Ajeng untuk menyambutku.


“Halo sayang, apa kabar ?” Tanya Tante Ajeng yang selalu ramah dan hangat padaku. Tanpa sadar, aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri. Aku harap aku akan selalu dapat sedekat ini dengannya dan selalu disayang olehnya.


Rasanya akan aneh jika aku suatu hari nanti akan jauh darinya, mengingat apa yang telah kurencanakan mengenai pembatalan perjodohan ini. Sebab jikalau rencanaku berhasil dan perjodohan ini gagal, itu artinya juga akan berdampak buruk bagi hubungan keluargaku dengan keluarga Adhitama.


“Baik, sayang. Oh iya, Khalif belum datang. Mungkin sebentar lagi, tadi dia bilang sudah jalan.” Kata Tante Ajeng. Huh, aku bingung nanti bagaimana harus bersikap di hadapan Khalif mengingat kejadian kemarin. “Dia ada hubungin kamu ?”


Aku hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaannya kali ini. Aku yakin Tante Ajeng pasti akan bertanya apa aku ada masalah dengan anak bungsunya itu atau tidak jika saja Khalif belum datang. Maksudku, Khalif sudah datang dan kini ia duduk di sampingku.


Aku rasa ini hanyalah taktik Tante Ajeng untuk mempertemukanku dengan Khalif. Sekarang hanya tinggal aku dan Khalif duduk di meja nomor tujuh dan Tante Ajeng pergi entah kemana. Keadaan ini benar-benar terlihat seperti aku sedang berkencan dengannya. Aku rasa ini juga ada campur tangan Mamaku, tentu saja.


Sebenarnya aku berpikir untuk kembali meminta maaf padanya sampai ia memaafkanku dengan tulus. Rasanya sangat mengganggu jika ada orang yang hidupnya terusik karena kesalahanku. Aku sungguh tidak suka itu. Aku harus lebih dewasa karena ini, aku harus meminta maaf sekali lagi dan berharap penuh masalah ini selesai.


“Aku minta maaf, atas semuanya. Untuk janji itu dan untuk kemarin juga. Ada sesuatu yang mendesak dan aku lupa mengabarimu terlebih dahulu. Aku tidak bermaksud untuk mengingkari janji itu dan membuatmu menunggu. Aku benar-benar lupa waktu dan setelah aku sadar, aku sudah sangat terlambat. Tapi kamu harus tahu kalau aku benar-benar pergi ke tempat itu, meskipun aku tahu kamu pasti sudah tidak berada di sana lagi.”


Aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiranku sekarang. Kenapa aku harus repot-repot menjelaskan padanya dan mengharapkan maafku diterima. Harusnya aku tidak perlu sepeduli itu apa dia marah atau bahkan membenciku. Karena dia adalah alasan tentang hidupku yang menjadi memusingkan beberapa bulan terakhir.


Lihatlah, dia masih kuat dengan pendiriannya yang mengabaikan perkataanku yang terkesan memohon belas kasihan untuk dimaafkan. Bodohnya aku, sudah tahu diperlakukan seperti ini aku masih betah duduk di sana untuk menunggu jawaban dari mulutnya. Aku memang bodoh, mengapa aku tidak dapat marah padanya di saat aku benar-benar ingin marah sekarang.

__ADS_1


“Khal, jawab…” Lirihku.


“Iya, aku sudah memaafkanmu.” Dia bilang sudah memaafkanku, tapi nyatanya dia berkata begitu dengan wajah datarnya. Dia jelas sekali terpaksa karena dia bosan mendengar pemohonan maafku. Hatiku justru tercabik rasanya mendengar dia terpaksa seperti itu.


“Kamu terpaksa, bukan ?” Tanyaku. Seharusnya aku tidak boleh terlalu sensitif begini. Jika aku begini terus, pasti akan berakhir seperti kemarin dan aku pulang dengan berderai air mata. Aku tidak ingin lagi. Tidak boleh.


“Kamu kemana kemarin ? Ada hal mendesak apa ?” Jujur, aku bingung bagaimana menjawabnya. Padahal jawabannya sangat mudah dengan mengatakan yang sebenarnya kalau aku pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk temanku yang sedang koma. Tapi itu sangat sulit untuk kukatakan.


“Bertemu Nadira. Dia sedang ada masalah dan aku harus membantunya.” Pertanyaan yang sebenarnya yang harus kujawab adalah mengapa aku harus mulai berbohong pada Khalif. Aku jadi semakin aneh akhir-akhir ini. Sepertinya aku harus pergi ke Rumah Sakit lagi, tapi kali ini untuk memeriksa tentang keadaanku sendiri.


“Benarkah ?” Khalif bertanya seolah dia tidak percaya dan punya alasan kuat mengapa ia tidak mempercayai jawabanku. Tidak, dia tidak mungkin tahu tentang yang sebenarnya.


“Kamu tidak percaya ?” Tanyaku balik. Dia tersenyum seperti sedang mengejekku. “Aku harus pergi sekarang. Ada urusan.”


Aku mendapat pesan dari Nadira kalau Robby kembali kritis dan aku harus ke sana. Rasa panik itu berusaha kusembunyikan. Bukan karena takut sampai Khalif salah paham terhadap siapa itu Robby, tapi karena aku tidak punya waktu untuk menjelaskan. Aku juga pasti akan menceritakan siapa Robby kepada Khalif nanti, tidak hari ini. Bahkan aku tidak sempat pamit dengan Tante Ajeng.


Dalam waktu yang tidak sempat kuhitung, aku sampai di Rumah Sakit itu dan langsung pergi ke ruang ICU di mana Robby terbaring. Dari kejauhan kulihat Tante Diah terlihat begitu khawatir, begitupun Nadira, yang menunggu di luar ruangan ketika dokter sedang berusaha menangani Robby di dalam.


“Al, Robby kritis !” Ucap Nadira yang segera memelukku. Dia terlihat begitu rapuh sekarang. Aku kemudian beralih untuk memeluk Tante Diah. Aku tidak dapat mendeskripsikan lagi bagaimana keadaan Tante Diah saat ini. Beliau pasti sangatlah hancur melihat anaknya yang boleh dikatakan sedang di ambang maut.


“Tante, Robby kenapa jadi seperti itu ? Bagaimana dia bisa kritis ?” Rasanya juga sangat sedih dan hancur melihat dua wanita ini menangis.


“Tante juga tidak mengerti. Dia tiba-tiba seperti itu.” Ucap Tante Diah yang begitu susah payah menjawabnya yang kini sedang berurai air mata.


Ya Allah, tolong beri kesempatan agar Robby sembuh dan kembali menjadi penguat untuk Tante Diah bertahan hidup. Jangan hilangkan dia. Dokter kemudian keluar dari ruangan tersebut. Tante Diah langsung menghampirinya dan menanyakan bagaimana keadaannya anak semata wayangnya itu. Sebagai seorang ibu, sangat wajar dengan sikapnya itu.


“Ibu tenang, Robby berhasil melewati masa kritisnya dan berhasil bangun dari koma.” Kata dokter itu. Pada akhirnya kecemasan yang tadi begitu mengusik kami bertiga di sini sirna. Aku begitu bersyukur Robby bisa bangun dari koma, itu artinya akan segera sembuh dan Tante Diah tidak perlu lagi bersedih. Wanita paruhbaya itu begitu terpuruk. Sama seperti Tante Diah, Nadira juga tidak dapat menyembunyikan bahagia dalam tangisnya.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2