Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Mata Mereka Bertemu


__ADS_3

Aku masih tidak mengerti apa yang harus kulakukan. Di sisi lain ingin sekali aku mengatakan perasaanku yang sejujurnya sekarang, namun itu sangat tidak mungkin. Hatiku pasti sakit jika Khalif tidak menerima bagaimana perasaanku untuknya, ditambah kita berdua sama-sama mengetahui kalau Jazy sudah kembali. Ingin sekali aku mengatakan padanya untuk melupakan perempuan itu, tapi ah sudahlah.


"Ayo kita pergi makan siang. Kamu juga belum makan 'kan ?" Ucap Khalif memecah keheningan yang sempat terjadi.


Tanpa menunggu persetujuanku, ia langsung menarik tanganku dan keluar dari ruang kerjanya. Aku mengikutinya saja tanpa mengatakan apapun. Rasanya masih tersisa perih di hatiku mengingat bagaimana ia membentakku beberapa saat lalu. Meski ia sudah meminta maaf.


Entah kemana ia membawaku sekarang, yang jelas seperti katanya tadi ia takkan membawaku ke restoran yang menyajikan hidangan laut lagi. Khalif juga tadi sempat menelepon Adinda untuk membuang kotak makan siang Jazy yang tertinggal di ruang kerjanya. Sikapnya sekarang bisa dibilang kasar, sebab jika saja itu adalah kotak makan siang dariku, aku pasti kecewa.


Ah, sudahlah. Lagi pula Khalif sudah mengatakan kalau ia tidak ingin menemui perempuan itu, setidaknya aku bisa tenang. Walau aku dapat menebak kalau sikap Khalif begini lantaran ia kecewa pada wanita yang telah meninggalkannya dulu.


"Kamu mau pesan apa ?" Tanyanya kepadaku.


"Apa saja." Jawabku asal sambil memainkan ponsel. Aku masih sangat kesal kepadanya.


Aku kemudian terkejut ketika tangan Khalif merampas ponsel yang sedang asik kumainkan. Cepat sekali dan ini kali pertama dia melakukan ini.


"Cie masih marah, ya ? Aku minta maaf." Dia sekarang bersikap sok manis begitu, bagaimana bisa aku marah lebih lama kepadanya, dia benar-benar manis. Tidak tahu dari mana ia belajar membuat wajah selucu itu, sungguh membuatku ingin tertawa. "Alyssa... Khalif minta maaf sama kamu."


Aku terkekeh juga akhirnya. Khalif ikut tersenyum melihat wajahku yang akhirnya mengukir senyuman. "Ih kamu senyum, berarti aku maafkan ?"


Aku mengangguk. Tuhan, aku tidak ingin kehilangan dia. "Iya, aku sudah maafkan kamu. Tapi, aku tidak mau kamu bentak aku lagi seperti tadi, apalagi karena perempuan itu."


Khalif mengelus rambutku dengan lembut. "Iya, aku janji."


Akhirnya perdebatan kecil kami berakhir, lalu kami makan siang bersama di restoran itu. Sesekali Khalif membicarakan hal-hal lucu yang ia alami sewaktu mengadakan pertemuan dengan kliennya. Aku juga tertawa dengan ceritanya yang aku tak pernah berpikir hal itu bisa terjadi di ruang pertemuan.


Ceritanya menurutku sangat lucu karena aku hanya tidak bisa membayangkan jika presentasi pertama Khalif di kantor membuatnya sangat gugup. Yang lebih parah salah satu pegawainya hampir tersunggur karena terlalu bersemangat kedatangan tamu dari luar negeri.


"Setelah ini kamu mau pergi kemana ?" Tanyanya.


"Pulang, kemana lagi memangnya."

__ADS_1


Dia mengangguk.


"Kenapa memangnya ?" Tanyaku padanya.


"Aku akan mengantarmu pulang." Jawabnya santai kemudian meminum jus mangga yang ia suka.


Aku baru saja beranjak dari kursi setelah Khalif selesai membayar makan siang kami di kasir, tubuhku rasanya kaku. Hening. Tatapan aku dan Khalif tertuju pada seseorang yang kini berdiri di depan kami entah sejak kapan kedatangannya.


Orang itu adalah Jazy, si mantan kekasih Khalif. Entah perasaan tidak mengenakkan apa saja sekarang singgah di lubuk hatiku. Cemburu menjadi salah satu yang pasti. Khalif bukan hanya mematung melihat wanita itu, namun mata mereka yang saling bertemu berusaha mengisyaratkan kerinduan yang tertahan lama. Aku tidak tahan dengan pemandangan seperti ini.


Aku sangat kesal dengan pria bernama Khalif yang beberapa waktu lalu masih kuingat jelas kalau dia sangat marah sewaktu aku membicarakan tentang Jazy. Namun, sekarang ia sendiri bahkan tak mampu berkata apa-apa di hadapan orang itu, apalagi untuk marah seperti ia membentakku tadi dengan keras.


Kuputuskan saja untuk pergi dari mereka berdua. Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan mereka. Tidak bisa kupungkiri kalau mataku menitikkan air mata karena perasaan sakit yang teramat ini. Saat itulah aku pergi meninggalkan dua orang yang pernah tersenyum dalam cinta di masa lalu mereka.


Aku berhasil mendapatkan taksi ketika baru saja keluar dari restoran. Dan Khalif bahkan belum mengejar kepergianku. Mungkin saja sekarang ia sedang bernostalgia dengan wanita itu, TERSERAH !!!


Air mata ini terus saja mengalir dengan deras tanpa permisi, sangat lancang. Jika saja perasaanku tidak berubah dan belum menaruh harapan apapun untuk Khalif, semua ini pasti tidaklah sulit. Tidaklah juga air mataku harus jatuh berguguran seperti sekarang.


Aku tidak peduli jika sopir taksi yang duduk di depanku mengintip dari kaca depan ke arahku yang sedang menangis. Aku tahu keadaan ini pasti membingungkan bagi Khalif, sebab ia sama sekali tidak mengetahui perasaanku sudah berubah kepadanya dan aku adalah seorang wanita yang mencintai dirinya.


"Alyssa kamu di mana ? Seharusnya kamu biarkan aku mengantarmu pulang hari ini."


Setidaknya itulah pesan yang dikirimkannya kepadaku. Aku tak memberikan balasan untuk pesan tersebut dan memilih menenggelamkan ponselku itu ke dalam tas. Kenapa harus serumit ini untuk bersama dengan seseorang yang kita sayang ? Aku tahu hal semacam ini bukan hanya aku saja yang mengalami, tapi kenapa di antara orang-orang yang merasakan lebih banyak sakit ketika mencintai, aku termasuk satu di dalamnya ?


Setelah sampai di rumah, aku segera masuk ke dalam kamar sebelum Mama menemukan mataku sembab habis menangis. Sekarang, aku benar-benar tidak ingin menceritakan apapun tentang yang kualami ini kepada Mama dan Papa, karena aku tahu mereka sangat menginginkan pernikahanku dan Khalif terjadi. Juga, jika kuceritakan semuanya kepada mereka yang ada ujung-ujungnya aku sendiri yang harus meminta maaf ke Khalif.


"Dira, kamu sibuk nggak ? Aku mau curhat sama kamu, kamu ke sini, ya ? Tapi jangan cerita apapun sama Mama." Pintaku padanya untuk segera ke rumah. Dia harus diingatkan seperti itu karena ia bisa saja tanpa berdosa menceritakan kedatangannya ke rumah untuk apa. Dia memang sangat akrab dengan Mama.


"Kamu habis menangis, ya?" Tanyanya padaku. Mungkin karena mendengar suaraku yang sedikit parau dan lemah membuat Nadira bisa menebak keadaanku. "Jangan menangis lagi, aku akan segera datang."


Singkatnya, sekarang aku sudah berada dalam pelukan Dira. Dengan air mata yang terus bercucuran ini, yang selalu diseka Dira dari pipiku. Berulang kali dia memintaku menghentikan tangis ini.

__ADS_1


"Sudahlah, Al. Jangan menangis lagi. Kamu mau memangnya Mama kamu dengar dan melihat kamu yang menangis seperti ini ?" Katanya lagi entah untuk kali yang ke berapa.


"Tidak. Aku tidak ingin Mama melihatku seperti sekarang. Jadi kumohon kamu jangan menceritakan apapun tentang perasaanku kepada Khalif. Aku tidak ingin mengambil risiko kalau Mama akan semakin berharap tentang hubungan kami hanya karena mendengarku yang sekarang mencintainya."


Setelah mengatakan itu, aku menyadari satu hal kalau kami sudah melangkah semakin jauh. Sekarang bahkan kami sudah semakin dekat dengan pernikahan yang sejak dulu digadang-gadangkan orang tua kami. Lalu perasaan Khalif kepadaku? Masih tetap sama.


Lalu, apa yang bisa kulakukan jika nanti Khalif mengatakan ingin membatalkan pernikahan ini? Apa yang terjadi dengan orang tua kami? Dan bagaimana dengan hatiku nanti?


"Kamu tahu tidak mengapa mereka sangat menginginkan kamu menikah dengan Khalif?" Tanya Dira padaku. Pertama kalinya ia menanyakan sesuatu seperti ini. Entah itu sebuah pertanyaan atau ia justru ingin mengatakan sesuatu.


"Menurut mereka kami cocok." Jawabku spontan, tapi memang itu yang dikatakan Mama setiap kali kutanya hal ini.


"Lebih dari itu, Al." Jawab Dira dengan penuh keyakinan. Aku penasaran apa maksudnya. Aku menatapnya seolah ingin ia mengatakan langsung apa maksudnya. "Kamu sudah melihat sisi lain dari seorang Khalif, 'kan?"


Menyebalkannya Dira, ia justru kembali melontarkan pertanyaan. Membuatku semakin penasaran. "Iya. Lalu apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?"


"Tante bilang kalau Khalif adalah sosok pria sempurna untuk dijadikan pendamping untukmu. Sebelum kamu bertemu dengan Tante Ajeng, Mama kamu sudah terlebih dahulu bertemu dengan Khalif. Tanpa mereka saling mengenal satu sama lain. Khalif sudah menyelamatkan Mamamu sewaktu beliau mengalami kecelakaan. Saat Mama kamu membutuhkan donor darah dan pasokan darah untuknya kosong, sebelum Papamu dan kamu datang. Khalif yang mendonorkannya dan dokter sendiri mengatakan jika saja Khalif tidak menolongnya, mungkin kondisi Mamamu semakin buruk."


Aku terhenyak mendengar fakta ini. Aku tidak menyangka jika malaikat baik yang selama ini ingin kuketahui jati dirinya adalah pria yang akan dinikahkan denganku.


"Tapi, pernikahan ini bukan karena balas budi. Aku yakin itu. Tampaknya orang tuamu sudah mempercayakan anaknya untuk dijaga seorang malaikat baik seperti Khalif yang tanpa pikir panjang menolong seorang ibu yang mengalami kecelakaan sampai ia mau mendonorkan darahnya juga."


Hatiku yang tadinya bergemuruh akibat cemburu yang timbul melihat Khalif kembali bertemu dengan mantan kekasihnya itu, kini hatiku sedikit lebih tenang. Tenang setelah mendengar bahwa Khalif adalah malaikat baik itu dan juga sangat bersyukur bahwa itu dia.


"Aku berharap kamu bisa memperjuangkan apa yang kamu inginkan. Jika kamu menginginkan pernikahan itu, perjuangkanlah. Lakukan itu."


"Aku... memperjuangkannya?"


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2