Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Dilanda Cinta


__ADS_3

Pagiku cerahku, matahari bersinar. Haha. Maafkan aku yang pagi-pagi sudah bernyanyi. Tapi, tidak apa-apa ‘kan? Namanya juga orang lagi jatuh cinta. Bebas. Haha. Hari-hariku sekarang sudah lebih baik, aku tidak lagi menangis atau merasa cemburu dengannya, sebab aku sudah berjanji untuk tidak akan marah-marah tidak jelas atau cemburu buta dengannya. Entah itu Jazy atau perempuan lain.


Hubungannya dengan Om Farhan juga sudah mulai membaik. Walau dia masih agak canggung jika hanya ada dia dan Papanya di satu ruangan. Aku dan Tante Ajeng sering mengatur waktu agar Khalif dan Om Farhan bisa bicara berdua, lalu setelahnya kami mengintip mereka. Tidak hanya itu, Khalif bahkan lebih sering pulang ke rumah dan menginap beberapa hari. Aku senang dia bisa berubah. Walau sedikit.


Sekarang aku dan dia tengah berada di dalam mobil yang melaju cukup kencang ke sebuah galeri foto milik temannya. Kami memiliki kegemaran yang sama.


“Pokoknya kamu pasti suka tempatnya. Nanti aku kenalkan juga sama pemilik galeri fotonya.”


“Cowok?”


Dia langsung mencubit pipiku. Aku menjerit sambil melepaskan cubitannya itu. “Aduh Khaaliiff !”


“Kamu ini, memangnya kenapa kalau cowok?” Dia imut sekali kalau lagi kesal seperti ini. Aku suka sekali menggodanya.


Aku mengusap pipiku yang kena cubit. “Aku ‘kan cuma bercanda kamu tidak perlu cemburu.”


“Aku tidak cemburu.”


“Bohong. Muka kamu jelek kalau lagi cemburu.” Lalu aku tertawa melihat wajahnya yang mulai menekuk. “Mengakulah, Khal.”


Wajahnya tampak pasrah. “Iya. Aku cemburu, puas ?!”


Aku kemudian tertawa dan ia pun ikut tertawa. Obrolan singkat dan sederhana itu berhasil memecah kesunyian yang kerap terjadi pada kami dan tidak terasa kami sampai di galeri foto tersebut. Aku sangat suka pergi ke galeri foto dan tak ku sangka juga pria ini menyukainya.


Foto-foto di sini sungguh luar biasa di mata kami yang menyukai dunia ini. Aku senang Khalif mengajakku kemari. Kami benar-benar sedang berkencan hari ini layaknya pasangan lain. Setelah mengunjungi galeri foto, kami makan siang di restoran langgananku bersama Nadira.


“Tempatnya nyaman, makanannya juga enak. Lain kali kita kemari lagi.” Ucap Khalif yang memuji tempat pilihanku untuk kita kunjungi lagi nanti.


“Baiklah, kamu sudah janji. Jangan sampai lupa.”

__ADS_1


Dia terkekeh. “Kamu menakutkan. Itu terdengar seperti sebuah ancaman.”


“Iya, kau akan mati jika sampai menyakitiku.”


Ia menghentikan makannya. “Aku tidak akan menyakitimu. Pegang kata-kataku. Bagaimana mungkin aku menyakitimu yang sudah membuat keadaanku lebih baik.”


Aku tersenyum. Dia pandai sekali berkata-kata. Seketika aku ingin mengatakan sesuatu yang kuketahui tentang Dennis dari Om Farhan beberapa waktu lalu. Khalif sudah salah paham dan aku harus menjelaskannya juga. Seperti permintaan Om Farhan dulu.


“Khal, aku boleh mengatakan sesuatu? Tapi, kamu jangan marah.”


“Soal apa?” Dia menatapku serius. Dan sebenarnya aku sedikit takut menanyakan ini, takut kalau dia akan marah.


“Soal kamu dan Dennis.”


Dia menatapku dan sedikit terkejut. Tapi tak mengatakan apapun.


“Aku tahu itu. Itu semua karena Papa.” Katanya dengan nada datar seolah tak peduli.


Kulanjutkan kembali kata-kataku. “Lalu kenapa kamu membencinya sampai sekarang?”


“Karena Dennis juga mencintai Jazy. Dia ingin memilikinya.”


Aku menatap dalam matanya. “Jika begitu menurutmu, lalu kenapa Dennis tidak mencari Jazy dan menjadikannya kekasih? Bukankah jika dia benar-benar seperti yang kamu duga, dia akan lebih mudah mendapatkan wanita itu karena kalian sudah tidak bersama.”


Khalif tampak memikirkan sesuatu. Mungkin ingatan ketika dia mendapati Jazy yang tengah bersama Dennis, pikirku.


“Apa kamu benar-benar mencintaiku?” Tanyaku padanya. Ia semakin terkejut dengan pertanyaan dariku. “Kalau kamu sudah tidak mencintai wanita itu, kenapa kamu masih menyimpan benci terhadap Dennis? Bukankah itu sudah tak ada gunanya?”


“Apa maksudmu? Aku sudah bilang kalau aku mencintaimu, bukan? Jangan kaitkan semua ini dengan masalah di masa lalu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalahku dengan Dennis.”

__ADS_1


Tanpa kuduga, dia benar-benar bisa mengontrol dirinya. “Karena takut, bencinya kamu terhadap Dennis karena kamu masih tidak rela kalau itulah penyebab hancurnya hubungan kamu dengan Jazy.”


“Al, jangan khawatirkan apapun. Kita sudah bersama. Aku tidak suka kamu membahas ini lagi.” Dia meyakinkanku.


“Bagaimana bisa aku tidak khawatir. Seperti yang tadi aku bilang, aku takut kamu membenci Dennis karena kamu masih tidak terima dia membuat Jazy pergi darimu. Justru karena aku sayang sama kamu, jadi mengatakan hal ini. Apa kamu mengerti?”


Khalif memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya. “Aku hanya kecewa dengan sikap Papa yang mengatakan Jazy seperti Papa dan Kakaknya, gadis itu tidak seperti mereka. Tapi Papa tidak mempercayainya. Dennis, dia mencintai Jazy, untuk itu aku tidak bisa memaafkannya. Saat itu kupikir dia benar-benar memanfaatkan keadaan. Baiklah. Aku akan menuruti apa yang kamu mau.”


Aku tersenyum tipis. Karena aku tidak bisa sepenuhnya tersenyum, sebab pembahasan ini cukup mengiris hatiku.


“Terima kasih karena kamu sudah mengerti.”


“Setelah ini, kita ke pertunjukan teater yang dulu gagal kita datangi. Kamu mau?”


Aku ingat itu adalah tempat yang seharusnya kami datangi dulu dan aku membatalkannya tanpa sengaja karena ke Rumah Sakit ketika mengetahui Robby koma. Dia sekarang ingin mengajakku ke sana lagi.


“Baiklah. Aku mau. Aku juga tidak sabar.”


“Seperti itu, aku suka senyumanmu.”


Aku tersipu. Iya, aku tidak perlu khawatir lagi. Karena Khalif sudah berjanji dan dia bilang akan menepatinya dan aku mempercayainya. Wanita itu juga tak muncul lagi sejak hari itu. Dan kuharap dia tidak akan muncul lagi jika niatnya hanya untuk merebut Khalif.


Hari itu benar-benar membahagiakan bisa menghabiskan waktu bersamanya. Dari ke galeri foto, makan siang bersama, setelah itu jalan-jalan sebentar di pusat perbelanjaan, lalu melihat pertunjukan teater, malamnya aku mengajaknya makan malam di rumah bersama Mama dan Papa.


Hari yang sempurna. Aku tidak sabar menanti hari pernikahan kami. Pasti akan jauh lebih membahagiakan dari ini semua. Lalu aku akan selalu bersama Khalif. Setiap kali aku membayangkan ini, aku selalu tersenyum sendiri. Untunglah tidak ada yang melihatnya, pasti aku disangka sudah tidak waras karena tersenyum sendirian.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2