
Beberapa hari yang lalu ketika aku menginap di rumah orang tua Khalif, kalian pasti masih ingat betapa sikapnya begitu aneh kataku kemarin. Sikapnya yang seperti itu ternyata bukan hanya berlaku untuk hari itu sewaktu aku berada di rumah orang tuanya, melainkan sampai hari ini. Dia sungguh merubah sikap dingin dan kaku itu menjadi Khalif yang hangat.
Awalnya kupikir perubahan sikapnya itu disebabkan ia ingin kembali menjadi Khalif yang dulu atau karena ia lelah menjadi Khalif yang bersikap dingin kepada orang-orang. Namun nyatanya sikapnya terhadap Papanya tidak berubah sedikitpun. Aku penasaran dengan tentang apa yang bisa merubahnya sedemikian, terlebih itu hanya berlaku untukku.
Tidak hanya itu, seperti kata Tante Ajeng kemarin sewaktu aku ke rumah beliau mengenai Khalif yang lebih sering pulang ke rumah dan katanya itu berkat aku. Sampai hari ini aku masih tidak memahami kalimat itu, tapi itu ternyata benar kalau akhir-akhir ini Khalif memang lebih sering pulang ke rumah. Walau bukan sepenuhnya pulang dan pindah dari apartment-nya, mendengar hal demikian juga membuatku turut bersyukur melihat keluarga Khalif senang. Setidaknya dengan lebih sering pulang ke rumah, komunikasinya dengan Om Farhan bisa membaik, semoga saja.
Di tempatku kini berada, di sebuah kafe bersama orang yang sangat kusayangi, Nadira. Aku dan dia sedang menghabiskan waktu bersama, aku ingin curhat mengenai apa saja yang telah terjadi beberapa hari ini. Beberapa hari belakangan ini juga dia sibuk sekali, bahkan walau hanya lewat telepon saja aku tidak bisa mengganggunya dengan celotehanku yang ingin menceritakan ini dan itu.
“Kamu sibuk apa sih Dir sampai nggak bisa dihubungin gitu ?” Tanyaku pada Nadira. Dia tersenyum sambil mengunyah makanan yang baru saja ia suap.
“Maaf soalnya aku sibuk di butik. Lagi banyak-banyaknya pelanggan. Tapi seru Al.” Katanya menjelaskan. Oh ya, Nadira setelah lulus kemarin dia mendapat tawaran kerja di sebuah butik milik salah satu rekan Mamanya. “Kamu bagaimana ?”
“Bagaimana apanya ?” Tanyaku balik.
“Hubungan kamu sama Khalif. Ada perkembangan ?” Lihatlah perempuan satu ini mencoba menggodaku. Aku menghela napas beratku. Pertanyaannya tidak langsung kujawab, mendengar pertanyaan itu otakku seolah berpikir keras untuk memahami sendiri terlebih dahulu apa yang sekarang sebenarnya sedang kujalani.
“Tidak ada. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia. Dan juga tidak ada perkembangan apapun.” Tidak tahu mengapa, ketika mengatakan hal itu aku sama sekali tidak berani mengangkat wajahku menatapnya. Persis sekali bagaikan orang yang suka berbohong dan takut kebohongannya akan terbongkar.
“Kalau nggak ada hubungan apa-apa, terus kenapa jawabnya lama ?” Dia masih bersikukuh untuk mengorek-ngorek apa yang sedang dan telah terjadi pada diriku. Tapi bagaimanapun juga, aku pasti akan menceritakan semua itu kepada Nadira.
“Dira !” Aku memekik pelan ketika dia terus saja menggodaku. Tapi, apa boleh buat, aku kemari bertemu dengannya tujuannya tak lain adalah untuk bercerita tentang semuanya, semua. “Sebenarnya… Tapi kamu jangan sampai ketawa ya !”
“Iya, iya. Aku nggak bakalan ketawa. Cepat cerita.” Nadira benar-benar tidak sabar mendengar ceritaku.
“Aku rasa akhir-akhir ini aku jadi sedikit aneh. Mulai dari mana ya, aku sendiri juga bingung. Intinya, sekarang kalau dekat sama Khalif bawaannya jantungku berdebar-debar begitu. Aku bahkan sempat berniat untuk mengunjungi dokter spesialis jantung. Dir, aku sejujurnya takut ini akan terjadi. Perasaanku akan meluluh lalu… kau tahu maksudku ‘kan ? Aku belum siap.” Tuturku pada Nadira yang menyimak perkataanku. Sulit untuk menebak ekspresi wajah dari gadis yang duduk di depanku sekarang ini. Sebab Nadira bisa saja bercanda saat aku sedang serius-seriusnya dan dia bisa menjadi begitu bijak ketika menyikapiku yang sedang kekanak-kanakan.
“Aku tahu apa yang kamu takutkan. Dan kadang cinta bisa merubah seseorang menjadi aneh. Tapi yang tak kupahami sampai hari ini adalah sampai kapan kamu akan terus takut apa perasaan yang mungkin saja sekarang sudah mulai tumbuh di hatimu. Kau tahu, hal yang seharusnya kamu atasi bukanlah cinta, melainkan takut itu sendiri.” Kali ini dia serius. Nadira mengatakan itu dengan penuh keyakinan yang mana tak lain itu untuk meyakinkanku saat ini yang tengah ragu.
“Bagaimana caranya ? Setiap kali aku mau membuka hatiku, walau sedikit saja, aku…” Perkataanku terpotong dan tidak bisa kulanjutkan. Maksudku ini bukanlah perkara yang mudah untuk aku atasi. Sangat sulit bagiku untuk membuka hati dan itulah masalahnya. Di saat orang lain dengan mudahnya berganti pasangan atau menemukan tambatan hatinya, di sini ada seorang wanita yang masih belum berani membuka hati kepada siapapun.
Kupikir-pikir kembali apa yang telah dikatakan Nadira. Sudah ribuan kali juga mungkin itu pernah dia katakan padaku, namun aku tidak peduli. Sampai kapan aku harus mengkhawatirkan sesuatu yang bisa saja hal itu membuatku bahagia di suatu hari nanti. Ketika membahas ini tak jarang selalu berujung pada perdebatan di antara kami berdua. Sesuatu yang hanya diketahui oleh diriku sendiri dan sepupuku yang satu ini. Sebuah rahasia yang kami simpan. Tentang sebuah rasa yang dinamakan cinta.
__ADS_1
“Maaf, Al. Aku hanya mau kamu bahagia yang mungkin bisa kamu dapatkan dari Khalif suatu hari nanti.” Kemudian Nadira menggenggam tanganku karena dia melihat mataku yang berkaca-kaca. Ini bukan sesuatu yang mudah untukku, aku tekankan sekali lagi. Jadi, kumohon jangan pintaku untuk menerima Khalif segampang itu.
“Ya, aku paham kalau kamu sangat peduli padaku.” Aku berusaha menenangkan diri sebab aku tak ingin menangis untuk hal ini. Selera makanku juga sudah menghilang. Sama seperti makanan yang bentuknya sudah tak karuan lagi ini di piring, seperti itulah keadaan hati dan perasaanku sekarang, tak karuan dan cenderung kacau.
“Maaf Al sekali lagi, aku tidak bermaksud membuat kamu… Emmm, kamu ada waktu tidak malam ini ?” Ia meminta maaf sekali lagi dan dari pertanyaannya juga kurasa dia ingin mengajakku ke suatu tempat. Mungkin Nadira rindu sekali padaku dan ingin menghabiskan waktu bersamaku karena beberapa waktu belakangan dia terlalu sibuk dengan urusannya. Aku percaya diri sekali ya ? Haha, biarin.
“Malam ini, ya ? Rencananya sih aku mau pergi sama Khalif. Kenapa ?” Iya, aku memang ada janji dengan Khalif, katanya dia mau mengajakku ke suatu tempat. Kemarin dia mengajakku, ya berhubung aku tidak ada janji dengan siapapun tentu aku mengiyakan saja ajakannya.
“Tidak ada apa-apa.” Katanya. Kok akunya merasa aneh dengan jawaban Nadira sekarang. Kalau memang tidak ada apapun, kenapa juga pertanyaannya seolah ingin mengajakku ke suatu tempat. Kulihat-lihat wajah perempuan yang biasanya bawel ini, kurasa dia menyembunyikan sesuatu dariku.
“Why, Dira ?” Jujur aku khawatir jika saja ada sesuatu yang mengganggu hari Nadira dan membuatnya bersedih atau apapun itu hal yang mengusiknya. “Kamu baik-baik saja, bukan ?”
Dia tersenyum. Tapi begini ya biar aku jelaskan kepada kalian, gadis yang satu ini dan mungkin kalian pun juga sama, sebenarnya begitu juga aku kalau lagi ada sesuatu yang mengganggu atau ada kesedihan yang ditutupi, mata adalah organ tubuh yang tak mampu berbohong. Sekalipun bibir kalian bisa tersenyum manis mencoba menutupi semua pahit, tetaplah mata yang selalu memancarkan kejujuran hatimu.
“Aku baik.” Jawabnya singkat. Mendengar jawabannya itu aku justru hanya diam saja. Sejujurnya aku penasaran, tapi seperti biasa aku ingin menunggu sampai dia siap bercerita. Paling sebentar lagi, maksudku kurang dari dua puluh empat jam pasti dia akan menghubungiku nanti untuk mengatakan semuanya.
Singkat cerita, acara temu kangenku dengan Nadira hari ini berujung dengan rasa penasaran di benakku. Masih tentang Nadira. Entahlah, aku bahkan tidak dapat menebak ini berkaitan mengenai apa. Juga saat pamit pulang, dia masih terlihat seperti orang yang tengah gelisah. Juga sekali lagi kutebak dia berada dalam kebimbangan ingin menceritakan saja saat itu apa yang mengusiknya ataukah nanti saja untuk betah ia simpan sendiri dulu.
Dan saat ini aku berada, aku sedang berada di kamarku. Ini sudah beberapa jam berlalu semenjak kepulanganku dari kafe itu dan berpisah dengan Nadira. Tidak lama setelah itu, malam ini aku mendapat pesan singkat dari Khalif. Pria yang akhir-akhir ini berubah drastis sikapnya kepadaku.
Setelah aku memastikan barang bawaanku tak tertinggal seperti ponsel dan dompet, aku segera keluar dari kamar. Perlu kujelaskan kalau aku buru-buru berangkat bukan dikarenakan ingin segera bertemu Khalif, tapi aku hanya ya aku bukan orang yang suka datang terlambat. Itu saja.
Kunci mobil juga sudah ada di genggaman tanganku, aku berjalan menuju keluar. Dan kalian tahu tidak apa yang membuatku terkejut setelah membuka pintu ? Khalif ? Bukanlah. Tapi Nadira, tidak seperti biasanya dia tidak langsung masuk ke dalam rumahku ketika sampai. Dia terlihat sedang gelisah menunggu aku membuka pintu. Detik ini penasaranku semakin memuncak, apa yang sebenarnya terjadi dengan Nadiraku ini.
Sama sepertiku, dia juga terkejut ketika melihatku sudah berada di ambang pintu melihatnya yang berdiri mondar-mandir. Aku berjalan ke arahnya. “Dir, are you okay ?”
“Al, kamu harus ikut aku malam ini !” Kata Nadira. Herannya aku kepada Nadira adalah jika dia memang ada sesuatu hal yang ingin dikatakannya kepadaku tentang masalahnya, kenapa dia harus membawaku ke suatu tempat segala. Di sini padahal juga bisa dia langsung mengatakannya. Atau ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan padaku ? Ah, aku tidak tahu.
“Tapi…” Aku teringat janjiku kepada Khalif dan ingin mengatakannya ke Nadira, tapi tiba-tiba dengan sendirinya aku tidak melanjutkan kata-kataku. “Tapi ke mana Dira ? Kamu harus jelasin dulu.”
“Nanti aku jelasin.” Dia semakin membuatku penasaran. Ya sudahlah, aku turuti saja apa kemauannya. Aku menyuruhnya lebih dulu masuk ke dalam mobil selagi aku mengunci pintu rumah. Aku berharap apapun itu yang akan dikatakan Nadira, itu bukan sesuatu yang buruk. Semoga.
Kami menuju ke tempat yang Nadira maksud dengan naik mobil Nadira. Selama perjalanan dia sama sekali tidak mengatakan apapun, aku juga ikut diam. Sebenarnya bisa saja aku menanyakan mengenai hal apa yang sudah terjadi, tapi melihat ekspresi wajahnya yang masih begitu gelisah aku khawatir itu akan mengganggu konsentrasinya yang sekarang sedang menyetir.
__ADS_1
Alasan mengapa aku begitu khawatir mengenai Nadira adalah karena dia sangat berharga untuk hidupku. Dia lebih dari sekedar saudara, dia pun pasti akan merasakan hal yang sama jika saat ini aku berada di posisi seperti dirinya. Selama beberapa waktu aku dihantui dengan rasa penasaran, puncaknya ketika kami sudah sampai di tempat itu.
Ah, kuharap kami salah tempat. Sejak melihat tempat apa yang kami datangi itu, tentu saja ini membuat kekhawatiranku semakin menjadi. Nadira berjalan keluar dari mobil. Aku yang masih kebingungan sampai tidak beranjak dari dalam mobil. Nadira kembali mendatangiku yang pasti terlihat terkejut. Dia pasti paham kenapa aku begitu. Aku turun dari mobil, tapi kami masih belum masuk ke dalam dan masih berjalan di halaman gedung itu.
“Tunggu. Siapa yang sakit, Dir ?” Jelas saja itu pertanyaan yang terlontar dari mulutku. Kalian harus tahu kalau Nadira membawaku ke Rumah Sakit. Langkah Nadira terhenti, aku berhadapan dengan dia sekarang. Raut wajah Nadira yang tadi terlihat gelisah, kini berubah muram. “Dira !”
“Robby, Al. Dia koma.” Kata Nadira. Dia mengatakan seseorang yang sedang sakit di Rumah Sakit itu adalah Robby. Sekedar mengingatkan, Robby adalah seseorang yang pernah coba dicomblangkan Nadira untukku. Dia orang yang baik, namun aku hanya bisa menganggapnya sebagai teman.
“Hah ? Rob… Robby ?” Jelas saja aku terkejut mendengar kabar buruk yang datang tentang Robby yang ternyata dia koma. Aku begitu terkejut bercampur sedih mendengarnya.
“Dia kecelakaan, sepulang dari wisuda waktu itu. Beberapa hari setelah kecelakaannya itu aku dapat telepon dari orang tuanya Robby. Mereka menghubungiku karena melihat nomor terakhir yang dihubungi Robby adalah nomor teleponku.” Jelas Nadira. Dia terlihat cemas. Begitu cemas. Aku belum pernah melihat Nadira sepeduli itu terhadap seorang pria.
“Sepulang wisuda ? Berarti sudah… dua minggu lalu, bukan ? Kenapa kamu baru cerita sekarang ?” Heran, kenapa juga aku tidak terima karena Nadira sempat menyembunyikan hal sebesar ini dariku.
“Al, aku benar-benar minta maaf. Seharusnya aku cerita ini dari dulu. Tapi…” Kata Nadira lagi. Kata-katanya terpotong olehku.
“Tapi apa ?” Aku menyela Nadira. Aku sungguh tidak mengerti kenapa aku bersikap demikian. Harusnya aku tidak perlu kesal begini karena Nadira menyembunyikan berita tentang kecelakaan yang dialami Robby yang mana pria itu adalah temanku juga.
“Karena kamu selalu sibuk sama Khalif, Al. Aku nggak mau ganggu kalian. Lagipula kalau kamu aku kasih tahu waktu itu juga, apa perasaanmu bisa berubah untuknya ? Apa bisa, Al ?” Perkataan Nadira kali ini berhasil membuatku bungkam. Robby dan Nadira berteman cukup dekat dan dari pertemanan itu jualah Nadira dulu pernah mau mencomblangkan aku dengan pria itu yang dianggapnya baik untukku. Namun, aku hanya bisa menganggap Robby sebagai teman biasa, tidak pernah lebih dari itu. Dan, Nadira pun tahu kalau perasaanku akan tetap sama.
Di sana aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Di antara banyaknya orang-orang yang berkeliaran di halaman luas Rumah Sakit itu, suasana ramai itu seolah hening untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Nadira memecah keheningan itu dengan mengajakku masuk ke dalam sembari tangannya menggenggam tanganku.
Aku dan Nadira sampai di tempat itu, tepat di depan ruang ICU yang di dalamnya terlihat ada Robby yang terbaring. Di sana ada Ibu dari Robby, Tante Diah, yang menjaga Robby. Seperti yang dikatakan Nadira, Robby saat ini koma. Aku terkejut melihat keadaannya yang sekarang, aku tidak pernah menduga hal ini bisa terjadi. Bahkan ini pertama kalinya pula aku melihat Nadira sekhawatir itu kepada seorang pria. Nadira terlihat sangat sedih dan cemas.
“Kamu masuk ke sana ya Al, aku mohon. Kata dokter, dia mungkin koma tapi telinganya masih bisa mendengarmu. Siapa tahu dengan mendengar suara kamu, dia akan memiliki kekuatannya untuk bangun.” Setuju ataupun tidak, aku merasa kalau Nadira seolah sedang memohon kepadaku. Iya, dia memang memohon, tapi bukan itu yang kumaksud. Nadira seolah menaruh harapan besar agar Robby bisa bangun lagi dan menghilangkan kekhawatiran yang sedang ia rasakan kini.
Aku mengangguk dan setuju masuk ke dalam ruang ICU setelah aku memasang baju steril khusus untuk masuk ke ruang tersebut. Sungguh, aku sedih sekali melihat keadaan Robby. Aku duduk di samping dia yang sedang terbaring lemah. Aku merasa sangat menyesal di sana mengingat hal buruk yang telah kulakukan kepadanya. Robby tentu sakit hati dengan penolakanku hari itu. Semenjak hari itu juga hubungan pertemanan kami tidak lagi sama.
“Hai, Rob. Ini aku, Alyssa.” Jujur suaraku bergetar dan aku ingin sekali rasanya menangis saat itu juga. Aku tak kuat melihat keadaannya yang penuh dengan selang atau apapun itu namanya. “Maaf karena aku baru datang sekarang. Aku juga minta maaf atas kesalahanku dulu padamu, tapi itu adalah keputusan terbaik yang harus kuberikan. Kamu sangat tulus mencintaiku, sedangkan aku tidak akan pernah bisa untuk membalasnya.”
Sampai di situ, aku sungguh berharap Robby bisa mendengar apa yang kukatakan. Aku ingin dia bisa membuka mata dan sembuh segera. Aku sangat khawatir jika sampai Robby tidak dapat bangun dari komanya. Sekalipun perasaanku tidak akan bisa berubah dan membalas ketulusan dari pria yang tengah koma ini, tapi aku tetaplah temannya yang menginginkan kesembuhan baginya juga, sama seperti apa yang orang tuanya inginkan. Rob, sekali lagi, tolong buka matamu dan lihatlah orang-orang yang menginginkan kesembuhanmu, orang-orang yang tak lelah menjaga kamu sampai hari ini.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?