Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Mengintip


__ADS_3

Baru sebentar dirawat di sini aku mulai tidak betah. Kurasa wajar aku tidak betah, mana ada coba orang yang betah di tempat banyak menyimpan kesedihan ini. Tapi ya begitu, aku belum diperkenankan pulang hari ini. Dokter tadi mengatakan kalau aku harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi untuk memastikan alergiku tidak akan kambuh lagi.


Sekarang aku sungguh bosan karena hanya menonton siaran televisi. Nadira baru saja izin keluar karena Mamanya menelepon. Kalau dia tidak datang, Mamanya pasti akan curiga dengan sesuatu yang mungkin sedang disembunyikan Nadira. Jadi aku mendesaknya untuk pergi dan dia bilang tidak akan lama.


Ah, jika saja ada novel pasti tidak akan sebosan ini yang kurasakan. Khalif juga tidak ada di sini, pasti dia benar-benar sibuk. Ini sudah jam dua siang. Huh, apa dia juga sudah makan siang, biasanya aku yang membawakan makan siang untuknya. Awas saja jika dia sampai melupakan makan siangnya itu, dia sudah janji tadi pagi.


Hmm, beberapa jam mendekam di ruang rawat ini membuatku sesak dan ingin menghirup udara di luar yang lebih segar meski kutahu di setiap sudut gedung ini bagiku seperti mencium bau  obat-obatan. Aku kemudian beranjak dari tempat tidur. Aku sudah tidak memakai selang infus, jadi itu tidak menyusahkanku berjalan.


Baru berjalan sampai pintu, aku hampir saja terjatuh karena hampir bertabrakan dengan seseorang yang ingin masuk ke ruang rawatku. Dia Khalif. Aku terkejut dengan kedatangannya yang tak kuduga. Baru saja aku mengira kalau dia sekarang sedang seru-serunya rapat dengan klien. Tapi dia mengagetkanku dengan kehadirannya saat ini.


“Kamu ? Kamu balik lagi ?”


“Memangnya kenapa kalau aku balik lagi ? Bukannya aku sudah bilang tadi pagi kalau aku akan kembali untuk menemui kamu ?” Oh iya, aku ingat dia mengatakan akan kembali kemari. Senang rasanya bisa melihat wajahnya lagi, juga senang ia menepati kata-katanya tadi pagi.


“Aku hanya terkejut, soalnya kupikir kamu tadi sedang rapat dengan klien.” Kataku.


Dia tersenyum. Ah, bagaimana hatiku tidak luluh jika semakin hari dia senyumnya semakin manis. Terlebih itu ia berikan untukku pula.


“Kamu pasti bosan di sini. Lihat apa yang kubawa !” Seru Khalif sembari menunjukkan apa yang ia bawa. Dia memberiku kantong yang ia bawa dan itu berisi permen cokelat kesukaanku.


“Ya ampun, Khal ! Terima kasih permen cokelatnya. Aku suka sekali. Tapi aku mau keluar sebentar. Kamu mau nemenin aku ?”


“Boleh. Tunggu sebentar, aku mau taruh ini dulu ke meja sana.” Khalif lalu berjalan masuk ke ruang rawatku untuk menaruh permen cokelat pemberiannya. Tidak lama aku menunggu, dia sudah keluar.


Kemudian aku dan dia berjalan di lorong sambil menikmati bau obat-obatan yang begitu menyengat hanya di hidungku kurasa, soalnya Khalif seperti biasa-biasa saja di sana, sama seperti Nadira yang tampaknya sangat betah di sini.


“Bagaimana keadaanmu ? Apa kata dokter tadi ?”


“Aku baik-baik saja sekarang, badanku juga tidak selemah tadi pagi. Tapi kata dokter aku jangan pulang dulu untuk memastikan alergiku benar-benar sembuh. Mungkin besok sudah boleh pulang atau paling lambat lusa. Soalnya alergi ini lumayan serius.”

__ADS_1


“Aku minta maaf sekali lagi. Pasti rasanya sakit.” Khalif kembali menampakkan kekhawatiran dan rasa bersalahhnya padaku. Dia tidak sedang berpura-pura, aku yakin.


“Sudahlah, Khal. Semuanya sudah terjadi. Aku baik-baik saja sekarang.” Aku tersenyum selebar mungkin untuk meyakinkan keadaanku sudah pulih. Jadi, dia tidak perlu khawatir.


Aku kemudian kembali dikagetkan oleh dua orang yang jaraknya sekitar enam atau tujuh langkah dari kami. Secara spontan aku langsung menarik lengan Khalif untuk kuajak bersembunyi di balik dinding. Dua orang yang kumaksudkan itu adalah Nadira dan Robby. Ini adalah Rumah Sakit yang sama di mana Robby dirawat selama beberapa minggu ini.


Dari tempatku bersembunyi, Khalif heran dan bertanya kenapa kami harus bersembunyi. Pertanyaannya belum sempat kujawab dan aku mengabaikannya dengan cara mengintip kedua anak manusia itu. Di sana Khalif mengikuti apa yang sedang kulakukan.


“Kenapa kamu sembunyi dari mereka ?” Bisiknya padaku.


“Ceritanya panjang. Kamu diam dulu, aku mau dengar obrolan mereka.” Kataku yang tentunya dengan balik berbisik.


“Ceritanya kamu menguping ?” Aku menatap tajam ke arah Khalif. Astaga apa yang baru saja ia katakan ? Tapi, benar juga katanya, aku memang sedang menguping pembicaraan mereka. Ah, aku tidak peduli.


“Sudahlah, kamu diam dulu.” Pintaku.


Oke, kembali ke dua anak manusia yang di sana. Nadira sedang berdiri berhadapan dengan Robby yang masih memakai baju pasien sepertiku. Sepertinya keadaan Robby sudah semakin membaik, dia bahkan bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda. Senang melihat keadaannya semakin membaik.


“Bagaimana keadaanmu ? Maaf karena aku baru saja datang menemui kamu.”


“Berkat kamu. Terima kasih sudah menemani Bunda untuk menjagaku selama koma.”


Asal kalian tahu saja, aku sekarang sedang senyum-senyum tidak jelas. Khalif terus saja menggangguku yang sedang asik memperhatikan Nadira dan Robby dari sini.


“Bukan apa-apa. Sudah sewajarnya aku melakukan itu, kamu temanku.” Menurutku jawaban ini telah dipersiapkan Nadira dari kemarin, meskipun begitu dia tetaplah terlihat gugup.


“Benarkah ? Haruskah kita terus berteman ?”


Kurasa Nadira lebih terkejut daripada aku yang mengintip di sini. Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataan pria itu. Apa maksud Robby dia akan memutuskan hubungan pertemanan dengan Nadira karena dia sudah mengetahui mengenai perasaan Nadira terhadapnya ? Kalau itu benar, itu semua berarti kesalahanku.

__ADS_1


“Hah ? Apa maksudmu ?”


“Di dunia ini sedikit sekali ada pertemanan yang terjalin di antara pria dan wanita. Sedangkan dalam kamusku semua itu tidak masuk akal. Tidak ada yang namanya pertemanan di antara pria dan wanita tanpa adanya cinta. Kamu pasti sudah jatuh cinta padaku, iyakan ?” Nadira terperangah mendengar perkataan pria itu. “Aku tahu, kamu pasti tidak tahan dengan pesonaku ini. Aku mengerti.”


“Apa ? Hei, apa kamu salah minum obat ? Kenapa percaya dirimu itu sangat tinggi ?”


“Nadira, sudahlah jangan terus kau tutupi. Aku sudah tahu. Kamu pasti sangat mencintaiku, benarkan ?”


“Ya ampun, yang benar saja. Tidak ! Aku tidak begitu. Kamu sebaiknya istirahat, kurasa otakmu sedikit terganggu karena sudah koma selama itu.”


“Nadira, Nadira. Kamu ini benar-benar pembohong yang payah. Seharusnya kamu lihat bagaimana merahnya wajahmu saat ini.”


Rasanya aku ingin tertawa mendengar perdebatan lucu mereka. Segera kutarik kembali lengan Khalif untuk berjalan menjauh dari mereka. Tepatnya, aku memilih kembali ke ruang rawatku.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua ?” Khalif rupanya penasaran mengenai hubungan di antara Nadira dan Robby. Dia mungkin curiga dengan kedekatan dua makhluk tersebut, karena di balik pembicaraan mereka terselip sesuatu yang patut dicurigai.


“Entahlah apa yang sekarang terjadi dengan mereka. Kuharap Nadira bisa mendapatkan kebahagiaannya yang lain mulai sekarang.”


“Hei, kamu bicaralah yang jelas. Aku tidak mengerti.”


Aku terkekeh mendengar ucapan Khalif. Sekarang dia begitu ingin tahu dengan urusan orang lain.


“Nadira, dia mencintai Robby dari dulu dan sayangnya cintanya tak berbalas. Aku hanya senang melihat Robby yang sepertinya sudah mulai menganggap Nadira lebih dari sekedar teman.”


“Oh, jadi begitu. Kalau kulihat tadi, mereka seperti dua orang yang sedang jatuh cinta.”


“Benarkah ?” Pertanyaanku disahut oleh anggukan Khalif.


Kami kemudian sampai di ruang rawatku. Kemudian aku duduk di atas tempat tidur, begitupun Khalif. Dia lalu meraih kantong berisi permen cokelat yang ia berikan untukku. Entah dari siapa dia tahu kalau aku suka sekali dengan permen cokelat yang ia bawa, karena aku sama sekali tidak pernah memberitahukan Tante Ajeng tentang ini. Ya sudahlah, mungkin dia memang tidak tahu dari siapa-siapa dan hanya menebak saja kalau aku akan menyukai hadiah yang ia bawa. Bagaimanapun itu, terima kasih Khal.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2