Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Masa Lalu x Masa Depan


__ADS_3

Di foto yang sedang aku pandangi itu, aku sedang memakai seragam SMA bersama dua orang di sampingku. Nadira dan Nando. Nando, yang kusebut nama itu sebelumnya. Dia sahabat terbaikku yang selama ini kumiliki selain Nadira. Setidaknya sebelum aku kehilangan dirinya. Nando, dia pergi meninggalkanku dengan Nadira, tanpa mengatakan apapun.


Kepergian Nando selama ini menyisakan luka yang begitu mendalam untukku terutama, bahkan Nadira selalu marah jika aku terus memikirkannya yang pergi dengan menyisakan luka yang masih dapat terobati oleh siapapun. Pasalnya karena Nando, aku hampir tidak bisa membuka hati lagi untuk orang lain.


Sudah lama sejak saat itu. Aku masih mengingat hari itu. Bahkan aku masih merasa jika bayangan Nando masih hadir di waktu tertentu, seperti saat aku merasa benar-benar sendiri dan terpuruk. Seperti kemarin saat aku makan mie instan di tengah malam di hari yang sama ketika aku menangis karena Khalif, aku merasa ada Nando yang mengeluh menyuruhku untuk berhenti memakan makanan itu. Dia sangat tidak suka aku memakan makanan seperti itu. Perhatiannya seperti itu membuatku semakin merindu.


Setiap kali Nando kurasa di depanku, aku ingin sekali menggenggam tangannya. Lalu sebelum aku berhasil menggenggam tangan itu, bayangannya menghilang. Aku pun kembali menangis. Inilah mengapa sejak awal aku telah mengatakan bahwa aku tidak boleh jatuh cinta kepada Khalif, karena dia mungkin akan menyakitiku. Meski kepergian Nando juga meninggalkan rasa sakit, namun Nando tidak sebrengsek itu.


Beberapa tahun yang lalu, aku memiliki perasaan terhadap sahabatku sendiri, Nando. Aku mencintainya dan kami sangat bahagia saat itu, walau aku tidak pernah menyatakan perasaanku terhadapnya dan itu berlangsung selama hampir tiga tahun. Hanya Nadira yang mengetahui. Namun, dua bulan sebelum ujian kelulusan, sikap Nando berubah drastis.


Dia mengacuhkanku dan kami sering berdebat tanpa hal yang jelas apa yang sedang kami perdebatkan. Singkatnya waktu itu aku tidak sengaja mengatakan bagaimana perasaanku terhadapnya, dia terdiam lalu pergi. Aku tidak mengerti saat itu apa yang dia rasa. Dia juga mencintaiku ataukah justru tidak menerima hal itu.


Besoknya dia mengajakku ke kafe tempat aku, dia, dan Nadira sering menghabiskan waktu bersama. Aku senang sekali. Ucapannya di telepon juga begitu hangat, tidak seperti beberapa waktu belakangan. Tapi, kenyataan saat itu benar-benar tidak dapat kuterima. Dia justru mengenalkan seorang gadis yang menjadi kekasihnya kepadaku.


Rasanya aku tidak mampu berdiri tegap lagi saat itu, dia melakukan hal seperti itu beberapa hari setelah dia mengetahui perasaanku. Dia jahat sekali. Persahabatanku dengannya hancur. Tapi tidak sampai di situ, seminggu kemudian aku mendapat kabar yang sangat mengejutkan lagi, mengejutkan lebih dari apapun.


Patah hati sebenarnya yang pernah kurasakan. Aku benar-benar kehilangannya. Dia meninggalkanku untuk selamanya. Di hari pemakamannya, aku baru mengetahui satu hal tentang penyakit mematikan yang diidapnya selama ini. Gadis yang dikenalkan Nando waktu itu adalah sepupunya dan dialah yang menjelaskan semua itu kepadaku dan Nadira di pemakaman Nando hari itu.


Kepergian Nando tanpa memberikan kesempatanku untuk bahagia bersamanya di hari-hari terakhirnya itulah yang membuat Nadira sangat marah dan selalu mengatakan Nando pria yang brengsek. Aku dan Nadira selalu beradu mulut jika dia terus mengatakan Nando pria yang buruk karena membuatku terluka.


Tapi bagiku, seperti yang dikatakan sepupunya Nando, pria itu justru tidak ingin aku terluka dengan kepergiannya. Nando berpikir akan sangat sulit meninggalkanku dengan kenyataan bahwa aku mencintainya dan dengan cara membuatku membencinya, dia bisa meninggalkanku tanpa penyesalan karena menurutnya aku tidak akan sakit oleh kematiannya.


Namun anggapan Nando salah besar, aku tidak akan pernah membencinya sampai kapanpun. Sekalipun ia pergi tanpa pamit dan membuatku selalu merindukannya sampai hari ini.


Sampai hari ini, aku masih mengingatnya. Dia bukan pria jahat seperti yang Nadira tuduhkan. Dan seperti Khalif yang begitu mencintai masa lalunya, aku juga memiliki pria di masa lalu yang tidak menyakitiku.  Tidak seperti Khalif yang baru saja masuk ke dalam hidupku, namun sudah membuat kekacauan.


Sekarang, aku tidak peduli bagaimana orang-orang yang menginginkan pernikahanku dengan Khalif. Semua impian itu sudah lenyap bersamaan dengan hancurnya hati ini.


Itu bukan kesalahanku, bukan karena aku masih mencintai Nando yang sudah di surga, namun karena Khalif yang masih belum bisa menerima orang lain selain Jazy di hatinya. Aku tidak dapat menerima itu.



Masih sama, perasaan ini belum juga mereda untuknya sekalipun ia telah menghancurkannya. Yang ada sekarang aku merasa seperti orang yang sangat menyedihkan dan bodoh. Aku takut jika perasaan ini masih ada untuknya, maka aku akan menjadi orang yang menyedihkan selamanya. Aku dan dia, karena itu akan tetap menjadi aku dan dia. Tidak akan ada kata kita.


“Alyssa. Keluarlah sebentar, aku bawakan makanan kesukaanmu.”


Dia datang lagi dan kali ini dia mengubah strateginya dengan mengiming-imingiku dengan makanan, coba tebak jika aku saja belum menerima permintaan maafnya, apakah aku akan menerima makanan darinya?


Dia masih kuat dengan pendiriannya untuk membujukku bicara atau pun makan. Tapi aku masih tidak bicara apapun. Sudah dua hari ini aku tidak ingin bicara dengan siapapun di rumah ini, tidak bisa tidur nyenyak, dan aku hanya keluar untuk mengambil beberapa buah di kulkas tengah malam. Selain itu tak ada lagi yang mau kumakan.

__ADS_1


“Kau pikir untuk apa aku kemari? Meski kamu mengabaikan semua perkataanku,  aku harap kamu masih bisa mendengarnya, aku menyayangimu.”


Aku keluar dari kamarku pada akhirnya, dia tersentak ketika aku muncul di depannya dengan kondisi acak-acakan.


“Alyssa...”


Aku masih belum mengatakan sesuatu. Langkah ini membawaku turun dari lantai atas menuju pintu rumah dan dia terus mengikutiku. Di lantai bawah sudah ada Mama dan Papa yang memandangi kami berdua.


“Aku senang kamu mau keluar kamar.”


“Pulanglah.” Kataku padanya.


Keningnya mengernyit. “Al, kumohon. Beri aku kesempatan.”


“Pulanglah.” Kataku lagi dengan nada sangat dingin.


Dia meraih tanganku, aku menepisnya dengan tenagaku yang cukup lemah.


“Hentikan. Aku sudah tidak bertenaga berdebat denganmu. Lebih baik kamu pulang saja.”


“Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun untuknya.”


“Pergi...”


Wajah yang pertama kali kulihat di ruangan ini hanya wajah Khalif, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang tuaku di ruang ini.


“Om dan Tante sedang mengurus administrasi.” Katanya.


Aku rasa orang tuaku sengaja meninggalkanku dengan Khalif hanya agar kami bisa bicara berdua. Aku hanya memandangi tanganku yang terpasang jarum infus di sana. Aku menghembuskan napas berat.


“Kondisimu sangat lemah, aku sangat khawatir sewaktu kamu pingsan.”


“Benarkah? Lalu kamu yang membawaku kemari?”


Dia mengangguk dan terlihat menyunggingkan senyuman. Senyum yang sudah lama tak kulihat.


“Kamu mau sesuatu?” Tawarnya padaku. Aku berpikir sejenak.


“Aku mau makan sesuatu.”

__ADS_1


Dia terlihat antusias mendengar permintaanku. Dia beranjak dari kursinya.


“Baiklah, aku akan membelikan makanan untukmu. Kamu bisa tunggu sebentar sendiri di sini?”


Aku mengangguk.


Dia keluar dari ruang rawatku bergegas untuk membelikan makanan, aku tidak tahu dia melakukannya karena rasa bersalah atau dia memang peduli. Setelah beberapa waktu dia keluar ruangan, aku pun mencabut jarum infus yang melekat di tanganku dan berjalan keluar.


Sebelumnya aku menengok ke kiri dan ke kanan berharap tidak ada orang tuaku yang memergokiku yang ingin pulang ke rumah sekarang.


Mungkin mereka akan khawatir ketika tidak menemukanku di ruangan tadi, tapi aku akan memberitahukan mereka keberadaanku jika aku sudah sampai di rumah. Aku masih belum siap menghadapi kenyataan kemarin dan menghadapi mereka yang menginginkan pernikahan ini.


Aku pun dengan mudah mendapatkan taksi untuk pulang. Aku kembali menghembuskan napas berat. Tubuhku masih lemah, tapi aku terpaksa harus pergi. Setidaknya Khalif bisa menyadari kalau aku benar-benar marah dengannya.



Taksi itu berhasil membawaku pulang ke rumah. Sesaat aku selesai membuka pintu dengan kunci darurat yang sering ditaruh Mama di salah satu pot bunga, ada mobil yang memasuki halaman rumah. Itu jelas mobil Khalif. Aku menatapnya malas. Dia bergegas keluar dari mobil, aku cukup terkejut dia bisa mengejarku secepat ini.


“Kenapa kamu pergi? Tubuhmu masih lemah Al !”


Dia sedikit berteriak pasti karena dia marah aku pergi tiba-tiba pergi.


“Aku hanya ingin istirahat di rumah.” Kataku. Aku merasa sangat malas berteriak-teriak sekarang.


“Seharusnya kamu katakan kalau kamu mau pulang, untunglah ada salah satu perawat yang melihatmu pergi. Mama Papamu sangat khawatir dan sekarang menuju kemari.” Katanya lagi menegaskan kalau aku sudah melakukan kesalahan. Iya, aku sangat paham maksud kata-katanya.


Aku memilih tidak menjawab perkataannya. Sepertinya dia masih belum mengerti aku pergi dari Rumah Sakit justru untuk menghindarinya, tapi dia justru menyusul kemari.


“Orang tuaku belum mengetahui apapun tentang pertengkaran kita. Kamu ingat ‘kan kalau besok adalah hari pertunangan kita?”


Aku mengangguk. “Aku ingat.”


“Kamu akan datang ‘kan?” Tanyanya penuh harap.


“Iya, aku akan datang.” Kataku. Dia tampak tersenyum lega. “Sekarang biarkan aku istirahat. Kamu pulanglah.”


“Baiklah, aku akan pulang. Aku tidak sabar menunggu hari esok. Kamu pasti sangat cantik memakai gaun itu.”


Aku tersenyum tipis. Dia kemudian pamit pulang setelah mengusap pucuk kepalaku.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2