
Syukurlah masa tersulit yang dialami Robby sudah terlewat. Tante Diah juga bisa kembali tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat senyum cantiknya setelah sebelumnya yang kulihat hanya raut sedih. Robby sudah dapat dipindahkan ke ruang rawat, namun dia masih belum dapat bicara kepada orang-orang dan diharuskan istirahat lagi.
Aku masih belum pulang dari tadi siang. Sekarang sudah malam, sekitar jam sembilan malam. Aku masih ingin menemani mereka yang menjaga Robby, toh jika pulang tidak ada siapa-siapa juga di rumah. Ada sesuatu yang ingin kukatakan juga sebenarnya kepada Robby. Mungkin tidak malam ini, Robby harus istirahat.
Tadi aku sempat memeriksa ponselku, aku sama sekali tidak mendapatkan pesan apapun dari Khalif. Jika saja dia punya perasaan sedikit, dia pasti menanyakan kabarku dan kemana perginya aku walau itu hanya basa-basi saja.
Tante Diah dan Nadira sudah terlelap dalam tidurnya di sofa dalam ruang rawat. Mereka pasti sangat lelah. Di ruang rawat itu, hanya aku yang masih terjaga. Aku berjalan mendekati tempat di mana Robby berbaring. Aku melihat sekilas kalau tangannya bergerak. Bukan hanya itu, kelopak matanya juga bergerak.
“Rob…” Panggilku pelan. Dia benar-benar siuman. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga matanya terbuka sempurna. Aku berniat untuk memanggil dokter ataupun suster untuk mengecek keadaannya. Tapi, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu kepadaku dengan cara tangannya yang meraih tanganku.
“Iya, kamu mau bilang apa ?” Kataku. Dia tersenyum. Sudah berapa lama aku tidak melihat senyumnya. Dulu setiap bertemu denganku, dia selalu memberikan senyum termanisnya itu.
“Al, jangan pergi.” Suaranya benar-benar terdengar lemah. Aku rasa dia cukup kesulitan mengatakannya dengan kondisinya yang masih sangat lemah. “Aku dengar apa yang kamu katakan kemarin. Kenapa Al kamu tidak pernah bisa mencintaiku ? Dan siapa pria itu ? Benarkah dia calon suamimu ?”
Pria yang dimaksud Robby sudah jelas itu adalah Khalif. Aku menduga kalau Robby mengetahui tentang Khalif dari teman-temanku yang lain ketika wisuda kemarin. Di sana dengan gamblang Khalif sendiri mengatakan kalau dia adalah calon suamiku.
“Aku sangat bersyukur kamu bisa bangun dari koma. Juga aku tidak terlalu yakin apa aku harus mengatakannya sekarang atau nanti. Aku tidak dapat membohongi perasaanku, aku tidak ingin berpura-pura mencintaimu dan membuat hatimu sakit suatu hari nanti. Iya, kamu benar, dia adalah calon suamiku. Tapi bukan itu masalahnya.” Robby tampak menyimak kata-kataku. Dia mungkin masih tidak mau menerima alasanku yang masih sama seperti yang dulu kuberikan.
“Aku bukan orang yang tepat untuk kamu cintai karena jika selama koma kamu dapat mendengar apa yang telah kukatakan. Kamu pasti juga tahu siapa yang seharusnya kamu cintai. Seseorang yang selama ini menemanimu. Orang yang selama ini hanya kamu anggap tidak lebih dari sekedar sahabat. Dialah orangnya. Orang yang tanpa ragu untuk meminta kesembuhan dan kebahagiaan untukmu.”
Setelah mendengar semua ini, Robby menoleh ke arah tempat Nadira yang terlelap. Lalu dia kembali beralih menatapku. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang ada di pikirannya.
“Kamu paham apa yang kumaksud, ‘kan ? Kamu tahu siapa orangnya ?” Tanyaku untuk meyakinkan apa dia benar-benar mengerti orang yang kumaksud memang benar Nadira.
“Nadira ???” Aku mengangguk pelan. Benar, dari nada bicaranya seolah dia tidak percaya. Aku rasa dia sudah tahu kalau Nadira menemaninya sejak pertama dia dirawat, namun dia hanya tidak mengerti kalau Nadira di sana bukan semata-mata sebagai seorang sahabat. Kalian pasti mengerti.
Obrolan itu aku tidak tahu apakah hanya kami yang tahu atau apakah Nadira maupun Tante Diah mendengarnya juga. Karena bisa saja Nadira terbangun karena mendengar ada suara di dekatnya, namun dia pura-pura masih tertidur karena penasaran dengan apa yang sedang kami bicarakan. Itu bisa saja terjadi, ‘kan ?
__ADS_1
Hari sudah pagi lagi. Tante Diah sudah siap untuk menunggu anak tunggalnya itu bangun. Aku sudah mengatakn kalau tadi malam sewaktu mereka sudah pulas tertidur, Robby siuman dan kami sedikit bicara. Tampaknya Tante Diah sangat semangat untuk mendengar suara Robby yang memanggilnya. Nadira dan aku sekarang berada di luar. Tepatnya dia ingin mengantarku yang ingin pulang. Aku mencegahnya dan hanya mau diantar sampai halaman Rumah Sakit.
“Kamu tadi malam bicara apa sama dia ?” Aku tersenyum dengan pertanyaan Nadira. Aku yakin dia tadi malam memang terbangun dan mendengarkan percakapan antara aku dan Robby.
“Kamu bukannya sudah tahu ?” Godaku. Dia terlihat salah tingkah. Aku tidak dapat tertipu olehnya.
“Tidak, aku tidak tahu.” Dia masih mengelak. Mungkin dia malu merasa ketahuan sudah menguping pembicaraan kami yang sebenarnya membicarakan tentang perasaannya terhadap pria yang baru saja melewati masa koma itu.
“Kamu ini memang pembohong yang payah.” Kataku kembali menggodanya. Aku lalu pamit pulang dan menyuruhnya untuk segera kembali ke ruang rawat Robby yang bisa saja dia sudah bangun tidur. Nadira pun pergi.
Di depan taksi yang sudah kuhentikan itu, langkahku terhenti karena mendengar dering telepon pertanda ada pesan yang masuk ke ponselku.
“Ada urusan apa kamu di tempat ini ?”
Dia ada di sana. Khalif berdiri di depan mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatku. Sedari tadi kurasa dia mengamati apa yang telah kulakukan kurasa dan aku tidak menyadari itu. Dia menghampiriku. Aku meminta sopir taksi itu untuk pergi saja karena aku harus bicara dengan Khalif.
“Kenapa kamu di sini ?” Tanyaku padanya. Aku rasa dia kesal karena pertanyaannya belum kujawab, tapi aku sudah balik bertanya. Aku heran mengapa dia sampai tahu keberadaanku di sini, padahal aku sama sekali tidak memberitahu siapa-siapa kemari.
“Kamu yang ada urusan apa di sini ? Pasti bukan Nadira yang sakit, iyakan ?” Aku tidak suka dengan nada bicaranya yang seperti sedang menginterogasiku. “Siapa pria itu ?”
Aku tidak dapat mengelak lagi. Dia sudah tahu kalau aku di sana untuk Robby walau aku yakin dia tidak tahu-menahu siapa Robby sebenarnya.
“Dia Robby. Teman kuliahku.” Jawabku.
“Teman kuliah ? Sepertinya dia begitu istimewa sampai kamu rela menginap untuk menjaganya. Kamu yakin dia hanya teman kuliahmu ?” Dia aneh sekali, apa pedulinya dia sampai marah begitu kepadaku. Bahkan seingatku kemarin dia masih mengabaikanku bahkan tidak mengirim satu pesan pun sampai tadi malam. Sekarang dia datang justru seperti sedang menangkap basah kekasihnya yang ketahuan berselingkuh.
__ADS_1
“Apa maksud kamu ? Kenapa kamu harus marah seperti ini ? Tahu dari mana kamu kalau aku di sini ? Apa kamu mengikutiku kemarin ?” Aku sudah kesal dibuatnya pagi ini. Aku baru saja merasa senang karena kurasa keadaan sudah membaik dengan Robby yang bangun dari koma dan melihat Tante Diah dan Nadira yang terlihat bahagia.
“Apa penting sekarang tentang aku tahu dari mana ?” Sumpah ! Aku benar-benar muak berdebat dengannya saat ini.
“Apa kamu sedang menangkap pencuri ? Kenapa kamu begitu marah sekarang ?!” Aku tidak peduli dengan jawabannya. Kemudian aku yang sudah terlanjur emosi memutuskan pergi dari hadapannya dan langsung masuk ke dalam taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan Rumah Sakit. Khalif berusaha mengejarku karena pasti masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan, aku tidak peduli itu. Sekarang aku sudah pergi.
Ternyata dia masih sangat menyebalkan. Kemarin dia katakan sudah memaafkanku, tapi nyatanya dia masih marah bahkan semakin marah. Apa dia sengaja mengikutiku karena tidak percaya dengan alasan yang kemarin kuberikan kalau aku bertemu dengan Nadira ? Arrghh !! Kamu menyebalkan, Khalif !!!
Aku pulang ke rumah. Langsung saja kukunci pintu setelah aku sampai. Khalif tidak dapat mengejar taksi yang kutumpangi karena jalanan saat itu lumayan macet. Aku tidak percaya kalau perdebatanku dan Khalif jadi seserius ini. Aku dan Khalif sudah seperti dua orang manusia yang mempunyai permasalahan dalam suatu hubungan yang dinamakan cinta. Al, tidak boleh. Hal ini tidak boleh lagi terjadi. Kamu bahkan tidak boleh berpikir untuk membuat persamaan konyol seperti itu.
Sekarang aku tidak menonaktifkan ponselku karena sedari tadi Khalif terus saja menggangguku dengan panggilan telepon darinya. Mungkin saja ada telepon dari Mama atau Papa atau bahkan Tante Ajeng yang setiap hari biasanya menghubungiku, jika mereka bertanya mengapa ponselku tidak aktif, aku hanya tinggal menjawab kalau daya baterainya habis.
Untunglah hal ini hanya terjadi antara aku dan Khalif, tidak melibatkan orang tua kami. Jika sampai salah satu dari keluarga kami yang mengetahuinya, pasti akan semakin rumit. Kenapa aku terus saja mengatakan kalau keluarga kami tahu tentang pertengkaran kami itu akan jadi semakin rumit keadaannya padahal memang itu rencananya agar membuat perjodohan itu batal ? Itu karena belum saatnya rencana itu dilaksanakan.
Maksudku, jika mereka sampai tahu kalau kami bertengkar, maka mereka pasti mempunyai seribu satu cara atau bahkan berjuta-juta cara untuk membuat kami berbaikan dan lebih ekstrim lagi, bisa saja mereka semakin mempercepat pernikahan itu karena mereka sangat menginginkan hal itu terjadi. Jadi, kupikir akan bagus jika kami terus terlihat baik-baik saja hingga saatnya tiba mereka tidak punya kesempatan untuk mempersatukan kami lagi.
Aku juga teringat mengenai bagaimana sisi lain yang diperlihatkan Khalif beberapa waktu lalu. Sisinya yang paling hangat dan sangat berbeda dengannya yang tadi marah-marah padaku. Jujur saja aku menyukai itu sampai-sampai kupikir aku takut jika aku nanti sampai luluh dibuatnya. Kemarin aku memang sempat ragu dengan perubahan sikapnya yang drastis itu dan menduga dia pasti kembali ke pribadinya yang dingin lambat laun.
Sekarang, kalian lihatkan bagaimana dia bersikap ? Dia kembali bersikap dingin dan ditambah suka marah-marah padaku karena kesalahan yang sungguh tidak kusengaja. Aku juga sudah meminta maaf berulang kali. Tapi dia mengabaikanku. Harusnya dia bisa sedikit berbesar hati untuk memaafkanku. Aku sudah memenuhi kewajibanku untuk memohon maaf, kini tinggal dia mau memaafkanku atau tidak.
Aku sudah sangat pusing sekarang. Ingin rasanya sekarang aku tidur lama-lama sampai bangunnya aku sudah lupa kalau memiliki masalah ini. Apa permintaanku berlebihan ? Jawab aku ! Aku benar-benar lelah. Rasanya hari ini benar-benar panjang untuk dilalui.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?
__ADS_1