
Sewaktu ditanya mengenai apa yang sedang kurasakan sekarang teruntuk Khalif, aku yang tidak memahami isi hatiku sendiri kontan tidak dapat menjawab pertanyaan yang dilayangkan Nadira itu kepadaku. Mungkin inilah yang dinamakan dengan dilema.
Dilema yang kurasakan sekarang kemungkinan besar penyebabnya lantaran seperti yang sudah dikatakan Nadira, keraguan yang bersumber dari aku yang takut cintaku tak berbalas ataukah aku yang cemburu terhadap wanita yang masih bertahta di hati Khalif. Di antara dua opsi itu, aku tidak yakin yang mana yang paling kutakutkan.
“Hei, kenapa melamun ?”
Tanpa sadar, aku ternyata melamun memikirkan dilema yang tadi sudah kukatakan. Bahkan kata Nadira aku melamunnya cukup lama, sampai aku tidak menyadari kalau dia menggoyang-goyangkan tubuhku beberapa kali.
“Maaf. Aku tidak yakin tentang dua hal itu, apa iya aku cemburu ? Apa iya aku ingin menyerah karena takut cintaku tak berbalas atau karena wanita itu. Kalau kamu bertanya di antara keduanya mana yang lebih kukhawatirkan, sepertinya yang lebih berpengaruh adalah tentang Jazy.”
“Aku yakin perasaan Khalif yang tersisa untuk Jazy itu tidak akan bertahan lama lagi dan itu akan hilang. Memang benar cinta Khalif untuk Jazy masih ada bahkan ketika mereka sudah lama putus, tapi kamu harus lihat itu semua karena apa. Khalif yang kamu katakan belum bisa move on dari Jazy itu harusnya kamu tahu itu karena Khalif tidak mengenal perempuan lain lagi setelah semuanya terjadi.”
Kupikirkan lagi apa yang baru saja dikatakan Nadira. Dia benar, Khalif memang tidak mau menjalin hubungan lagi dengan wanita manapun seperti yang dulu dikatakan Kak Yashinta. Walau hanya sekedar hubungan pertemanan, tapi pria itu tidak mau melakukannya. Walaupun aku juga tidak terlalu yakin hubungan pertemanan yang baru saja terjalin di antara kami ini tidak tahu akan jadi apa nanti.
Aku tidak dapat menjamin hubungan kecil ini akan berlangsung selamanya. Juga aku tidak yakin kalau Khalif masih bersedia menjadi temanku jika dia mengetahui bagaimana perasaan yang mulai tumbuh ini sekarang. Takut rasanya jika nanti dia tidak mau menerimanya dan justru pada akhirnya menjauh dariku.
Dan, aku merasa tidak akan bisa membuat Khalif bisa melupakan masa lalunya yang kurasa itu sangat berarti untuk hidupnya. Mana mungkin seorang Khalif Adhitama bisa secepat itu merubah perasaannya yang semula mencintai Jazy yang tersimpan dalam kenangan, lalu berubah mencintai Alyssa Salshabilla yang terjebak bersamanya di perjodohan bodoh ini.
Hanya saja, antara keadaan ini dan itu dan antara perasaan ini dan itu. Akan kucoba untuk bertahan, setidaknya diriku pernah berjuang meski tak pernah ternilai di matamuuu, eh kenapa aku malah menyanyi, ya ?? Hehe, maaf ya semuanya.
“Oh iya, alergi kamu kenapa bisa sampai kambuh begini, Al ?”
Hah, kenapa Nadira masih bertanya tentang ini, apakah dia belum diberitahu oleh Khalif ?
__ADS_1
“Khalif belum kasih tahu kamu kalau aku sakit karena makan kepiting saus tiram ?”
“Bukan begitu, Al. Maksudku kenapa kamu sampai mau makan itu ?? Kamu yang dipaksa memakannya atau kamu yang mau sendiri ? Bodoh Al kalau kamu bilang itu atas kemauan kamu sendiri.”
“Dira, kamu dengar aku dulu, oke ? Hari itu Khalif mau minta maaf karena sudah marah-marah sama aku. Karena tidak ingin masalah kesalahpahaman itu terus berlarut-larut, jadi kuterima ajakannya untuk makan siang bersama. Masalahnya aku tidak tahu kalau alamat yang ia kirim itu adalah restoran yang menyajikan hidangan laut.” Kataku menjelaskan agar Nadira tidak salah paham.
“Kamu harusnya mengecek dulu tempat apa itu. Lalu, kamu mau saja masuk ke sana walau ketika kamu sampai kamu tahu itu adalah restoran seafood ?” Kata Nadira yang memotong perkataanku yang belum selesai kukatakan.
“Aku belum selesai. Aku masuk ke sana karena mau bertemu dengan Khalif, sama sekali aku tidak berniat untuk menyantap apapun itu yang membahayakan nyawaku. Sebelum aku menjelaskan tentang alergiku agar Khalif tidak salah sangka dan sebelum kami membahas mengenai kesalahpahaman yang sudah terjadi, Khalif lebih dulu memulai pembicaraan dengan mengatakan dia sudah ikut turun tangan atas hidangan itu.”
“Jadi, dia yang memasak hidangan itu ?”
“Iya, dia memasak itu karena katanya agar aku mau memaafkannya. Jika aku tidak mencicipi hidangan itu, itu sama artinya aku tidak menghargai usahanya. Aku tahu, seharusnya kujelaskan tentang alergi yang kumiliki, tapi itu akan membuat apa yang ia lakukan sia-sia. Hanya itu yang kupikirkan kemarin. Aku menghargai usahanya dan membuat nyawaku dalam bahaya.”
“Benar bukan apa yang kubilang ? Hatimu yang dulu pernah kamu tutup, saat ini tanpa kamu sadari ia sudah mulai terbuka dengan sendirinya dan itu entah dari kapan. Entah memang baru kemarin ataukah kemarin lusa, kamu paham bukan ?”
“Lihatlah dirimu yang kemarin itu. Kamu begitu bodoh hingga membuat nyawamu dalam bahaya, Al. Di dunia ini banyak sekali definisi cinta, ada yang mengatakan cinta itu akan membuatmu gila, atau cinta itu adalah perasaan terindah yang diberikan Tuhan untuk makhluknya, atau juga cinta itu adalah penyebab seseorang merasakan bagaimana sakitnya jika hatinya telah patah, dan masih banyak lagi. Kesimpulannya adalah semua itu berbeda tergantung dari mana dan bagaimana kamu melihatnya.”
Aku menyimak di setiap kata yang diucapkan Nadira untukku. Dia nampak serius mengatakannya, dia menjelaskan itu seperti seorang pakar cinta. Padahal kutahu bagaimana nasib cintanya ke Robby, tapi sejujurnya aku pun akan mengatakan sesuatu yang demikian juga untuk menguatkan sahabatku.
Seperti kemarin aku menguatkan Nadira di saat aku baru mengetahui kalau dia memiliki perasaan untuk Robby dan di situ kalian juga tahu bagaimana nasib cintaku yang berani sekali mengatakan hal-hal seperti seorang yang ahli dalam cinta. Itulah namanya persahabatan, seorang sahabat harusnya memang saling menguatkan dan aku bersyukur memiliki Nadira di dunia ini.
“Dan kulihat, cinta yang kamu rasakan membuat Alyssa Salshabilla yang jenius ini menjadi seorang yang bodoh. Kamu memang bodoh, walau itu terkait dengan nyawamu.” Lanjut Nadira untuk menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
“Aku rasa kamu benar. Maaf, itu pasti membuatmu begitu khawatir. Maaf atas kebodohan kemarin. Aku akan lebih berhati-hati.”
“Kumohon jangan lakukan hal itu lagi. Jika saja kamu menghubungiku kemarin kalau kamu diajak ke restoran itu pasti aku akan datang dan memakan apa saja yang tidak boleh kau makan. Juga, jika sampai Khalif terlambat sedikit saja itu pasti akan sangat berbahaya untukmu. Aku tidak sanggup.”
“Ya ampun Nadiraaa… Kamu kenapa begitu manis. Aku selalu merasa istimewa saat bersama kamu. Aku janji tidak akan memakan kepiting itu lagi. Jangan khawatir, aku akan lebih menjaga diri.”
Aku meraih tangan Nadira dan menggenggamnya erat. Seakan tangannya itu takkan pernah kulepaskan, lalu membuatnya tersenyum. Itulah maksudku. Wajahnya yang tadi kesal membahas kebodohanku yang membahayakan nyawaku itu lama-lama berubah cantik lagi dan tersenyum. Benar-benar senyumnya itu meneduhkanku. Nadira memang sumber kebahagiaanku.
“Itu harus, kamu memang harus jaga kesehatan. Ya ampun, aku sampai lupa menawarimu makan. Aku tadi sudah beli bubur ayam kesukaan kamu, kamu sarapan dulu, oke ? Kamu pasti sudah lapar.”
Aku melirik ke tempat kantong plastik berisi bubur ayam yang ia katakan. Dia memang belahan jiwaku, bahkan tanpa kuberitahu dia sudah melarang Khalif untuk memberitahu orang tuaku tentang kambuhnya alergiku ini dan sekarang dia sudah membelikanku bubur ayam karena tahu kalau aku tidak akan menyentuh makanan Rumah Sakit yang disediakan nanti.
“Suapin.”
“Iya, bawel. Pasti aku suapin.” Dia memang selalu memanggilku bawel kalau aku sudah memintanya menyuapiku makan. Tidak peduli jika aku panjang lebar menasihatinya dulu-dulu, dia tidak pernah memanggilku bawel, itu hanya berlaku saat meminta disuapi makan. Aku juga tidak mengerti.
Saat ini aku sangat bahagia bisa menghabiskan banyak waktu bersama Nadira, ini seperti sedang menebus hari-hari yang kemarin kami sibuk satu sama lain. Meskipun dengan keadaanku yang masih lemah ini, tapi taka pa. Aku tak boleh menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mana juga itu juga karenaku.
Saat ini, di saat aku mulai menyembunyikan cinta baru saja tumbuh di hati ini, di saat aku tidak ingin ada seorang pun tahu selain Nadira. Terutama Khalif, aku ingin terus menyembunyikan semuanya sampai dia betul-betul dapat melupakan mantan kekasih yang kini entah di mana ia berada.
Sampai di sini aku ingin meluruskan satu hal lagi. Aku memutuskan untuk dekat dengannya kini bukan karena aku ingin memilikinya dan mulai serakah. Hanya saja aku ingin tetap bersamanya sesakit apapun mencintainya nanti. Bisa bersama dengannya bukan karena ingin menyingkirkan Jazy di hatinya, hanya saja aku ingin menemani pria kesepian itu agar dia tahu bahwa dia tidak benar-benar sendiri. Setidaknya dia harus memiliki seseorang untuk berbagi.
Kuharap perasaan ini bisa kukendalikan dan tidak menyebabkan masalah. Sekecil apapun nanti rahasia ini terkuak, itu akan menjadi awal terkuak sepenuhnya perasaanku. Aku tidak ingin jika lagi-lagi cinta itu harus berakhir lantaran karena dua orang bertemu di waktu yang tidak tepat atau bahkan salah. Karena kebanyakan hal itu yang menjadi penyebabnya, aku tidak ingin menjadi bagian dari “kebanyakan” orang itu.
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?