
Aku tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan perasaanku. Ketakutanku selama ini yang selalu dibayang-bayangi masa lalu pria itu, akhirnya terjadi saat dia kembali. Apa dia akan kembali untuk Khalif? Apa wanita itu masih mencintai Khalif? Lalu, apa Khalif bersedia menerimanya kembali semudah itu? Apa mereka berencana untuk menjalin hubungan lagi? Setelah bagaimana dia meninggalkan luka untuk Khalif bertahun-tahun ini.
Mama berulang kali mengetuk pintu kamar untuk menyuruhku makan. Bagaimana mungkin dengan suasana hatiku seperti ini, aku benar-benar tidak bernafsu. Ditambah aku tidak ingin Mama menanyakan masalah ini padaku nanti, aku yakin Mama pasti sudah tahu tentang hal ini dari Tante Ajeng.
Apa aku sudah mengambil langkah yang salah? Mengapa jalannya begitu sulit? Aku hanya ini merasa bahagia saat mencintai seseorang. Seperti saat... dulu.
Mungkin karena lelah, aku yang di dalam kamar sedang menangis sambil berbaring entah kapan tepatnya aku tertidur dan kini terbangun di tengah malam. Sunyi sekali. Satu, dua, tiga, perutku kemudian menimbulkan suara karena sejak tadi siang aku belum makan sesuatu.
Kuputuskan turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah dapur. Mama pasti sudah tidur, semoga beliau tidur nyenyak, dan maaf Mam sudah membuatmu khawatir hari ini.
Aku mengambil mie instan kesukaanku, untunglah masih ada. Mama kadang melarangku memakannya, tapi kadang aku nekat membelinya sembunyi-sembunyi dan saat ketahuan membelinya, Mama tidak dapat melakukan apa-apa lagi, hanya berpesan agar jangan terlalu sering saja memakannya.
Perutku yang tadinya keroncongan sekarang sudah tak bersuara lagi. Aku benar-benar menikmati makanan “mewah”ku sekarang. Tidak tahu mengapa, telingaku seolah mendengar suara seseorang dengan sangat jelas tidak hanya itu, bahkan aku seperti melihat sosok orang itu di depanku. Dia memperhatikanku yang sedang makan.
“Sampai kapan kamu akan memakan makanan itu? Itu tidak baik untukmu.”
Seperti itu yang ia katakan. Aku tersenyum nanar melihat sosok yang bicara yang kusadari dengan sepenuhnya kalau itu hanya ilusi. Otomatis aktivitas makanku terhenti. Mataku berkaca-kaca.
“Aku merinduknnya.”
Air mataku kemudian terjatuh, lagi. Dadaku sangat sesak. Kubereskan sisa makanku, lalu kembali ke kamar. Lagi dan lagi aku menyembunyikan wajahku di bantal. Sambil kedua tangan ini terus menutup telinga agar suara itu tak kudengar. Suara yang sangat kurindukan.
Malam ini terasa sangat panjang. Sampai dua jam kemudian, mataku masih terjaga. Pikiranku melayang kesana kemari. Apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa aku harus sesakit ini?
Aku tahu ini bukan tindakan yang tepat karena aku terus saja mengeluh pada keadaan. Mungkin di luar sana ada yang lebih menderitanya daripada aku untuk masalah asmara. Harusnya aku bersyukur karena masih melihat orang yang kucintai dan lebih dekat dari sebelumnya.
Kami yang dulu sangat tidak akrab dan sekarang menjadi teman. Bahkan sampai waktu menyaksikan bagaimana perasaanku sudah berubah dan mencintainya. Kuingat-ingat lagi saat-saat itu, aku menangis di hadapannya, entah apa yang dipikirkannya. Apa dia tahu kalau aku menangis karena aku terluka melihat kebersamaan mereka? Apa Khalif tahu itu? Apa dia mengerti?
Bagaimana dengannya sekarang? Dia bahkan tak mengirimkan pesan seperti kemarin malam yang menampakkan kekhawatirannya saat aku pergi begitu saja. Apa dia marah karena aku merusak pertemuan mereka?
Menyebalkan ! Kenapa hanya aku yang mencintainya?!
Baru tidur beberapa jam, aku sudah terbangun lagi. Bahkan Mama masih belum keluar kamar. Aku ingin pergi ke halaman depan untuk meregangkan otot sambil menyiram tanaman. Sebelumnya aku ingin mengambil air di kulkas, pagi-pagi aku sudah haus. Baru saja membuka pintu kulkas, tapi sudah ada suara bel berbunyi. Siapa yang bertamu pagi-pagi?
Aku berjalan ke arah pintu karena takutnya itu tamu penting melihat ia bertamu sepagi ini. Setelah pintu terbuka, aku tidak melihat wajahnya, hanya dari kaki sampai lehernya saja yang terlihat. Ia mengenakan pakaian sporty, seperti orang yang sedang jogging. Dan wajahnya ia tutupi dengan karangan bunga mawar putih yang sangat indah.
Ia kemudian menurunkan karangan bunga dari wajahnya. Ternyata dia Khalif. Aku menyesal sudah membuka pintu untuknya sepagi ini, hanya malas membahas masalah kemarin. Dia sudah membuatku susah tidur dan menangis semalaman, dan bunga itu pasti untukku agar bisa memaafkannya bukan?
“Untukmu.” Katanya.
“Buat apa? Tidak ada orang tua kita di sini yang melihat, kamu tidak perlu berpura-pura baik.” Astaga aku kasar sekali. Tapi biarlah. Orang sakit hati mah bebas.
__ADS_1
“Jangan bilang seperti itu. Aku tidak sedang berpura-pura.” Katanya lagi membela diri.
“Lalu untuk apa? Menebus kesalahanmu kemarin? Kamu tidak memahami situasinya.” Mataku mulai panas karena menahan air mata. Tiba-tiba Khalif meraih tanganku dan kali ini aku tidak menepiskannya. Aku terlalu lemah.
“Aku paham.”
“Apa yang kamu pahami? Apa kamu akan mengatakan maaf lagi seperti kemarin? Hanya itu ‘kan yang ingin kamu katakan?”
Tangannya menggenggem tanganku sangat erat. Matanya yang teduh dan kulihat penuh penyesalan, ah aku tidak tahan melihatnya. Kenapa dia sebaik ini jika pada akhirnya beberapa waktu kemudian ia menghancurkan hatiku.
“Aku tidak akan mengatakan hal itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu !”
“.........................................”
Apa yang dia sadar dengan yang telah dikatakannya?!
“Alyssa, aku mencintaimu.” Katanya sekali lagi memperjelas. Dia pasti melihat raut ketidakpercayaanku. “Semalaman aku tidak bisa makan dan tidur. Aku terus memikirkanmu, mengingat kemarin kamu yang menangis, hatiku juga sakit. Kamu bahkan tidak mengizinkanku menghapus air mata itu. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sebelumnya terhadapmu, tapi sejak kemarin aku menyadari satu hal. Aku tidak ingin kehilanganmu.”
Aku menelan saliva dengan sangat susah. Setelah mendengar perkataannya, aku masih sulit mempercayai hal ini, apa dia sungguh mencintaiku hanya dengan semalam?
“Apa kamu sedang mempermainkanku?” Tanyaku padanya. Dia memejamkan mata beberapa detik dan membukanya kembali.
“Apa menurutmu aku sedang bercanda? Kamu tidak tahu bagaimana jantungku rasanya ingin meledak saat ini dan kakiku sangat lemah. Untuk menemuimu dan berdiri di hadapanmu, aku harus menyiapkan seluruh keberanianku. Kamu tidak mempercayainya? Atau apa karena kamu tidak mencintaiku?”
“Aku hanya takut, ini bagian dari ilusiku atau apalah itu, dan saat tersadar hatiku kembali remuk. Kamu yang tidak mengerti bagaimana perasaanku. Sangat sulit berjalan bersamamu saat kutahu kamu masih mengingat masa lalumu itu. Kamu pikir bagaimana perasaanku sekarang untukmu? Apa kamu tahu itu? Aku mencintai kamu !” Aku menunduk kemudian.
Genggaman tangannya terlepas dan beralih memegang pundakku. Aku mendongak ke arahnnya.
“Maaf sudah membuatmu menunggu. Seharusnya aku sejak dulu membuka hatiku untukmu. Bahkan sebelum kita menjadi teman, aku sudah nyaman berada di dekatmu. Kamu adalah orang yang ingin ku ajak berbagi. Aku tak ingin siapapun selain kamu. Jadi, jangan pikirkan orang lain. Tersenyumlah bersamaku mulai hari ini.” Katanya dengan tegas dan sungguh-sungguh.
Aku mengangguk dan bulir air mataku jatuh lagi. Ia menyeka air mata itu dengan jemarinya.
“Jangan diseka, ini air mata bahagiaku.” Ucapku yang menangis sambil tersenyum bahagia.
Khalif kemudian mengerti dan mengangguk. Ia juga tersenyum.
“Bunganya diterima, ya?” Pintanya lagi. Dengan senang hati aku menerimanya.
“Iya, terima kasih bunganya. Oh ya, kita masuk yuk. Kita sarapan bersama.” Ajakku.
“Baiklah, tapi kamu yang bikin sarapannya. Jangan Mama kamu.” Ah, ini seperti mimpi. Menyaksikan langsung Khalif mengatakan itu dengan senyuman memikat dan penuh kasih sayang.
“Iya, kamu mau sarapan apa?”
“Nasi goreng.”
__ADS_1
“Oke. Kamu tunggu saja, nasi gorengnya pasti siap.”
Bukannya sambil menunggu ia duduk di sofa, dia malah ikut melihatku masak di dapur.
“Cie yang masak untuk calon suaminya.” Alih-alih membantu, kehadirannya justru menggodaku. Kalau aku seperti ini, kapan coba jadinya nasi goreng permintaannya? Aku kemudian melempar apel ke arahnya dan dengan sigap dia menangkap dan tersenyum penuh kemenangan.
“Kamu sebaiknya makan apelnya daripada mulutku terus menggodaku.”
Dia terkekeh ketika akan menggigit apel tersebut. Mama yang baru saja turun dari tangga begitu terkejut dengan kehadiran makhluk yang satu ini. Pakai acara makan apel di dapur pula sambil melihatku masak. Pasti sebuah keajaiban juga pikir Mama.
“Khalif??”
“Halo, Tante. Selamat pagi !”
Aku berusaha mengendalikan diri karena bisa saja Mama mengatakan hal yang tidak-tidak untuk calon menantu yang didambanya kini.
“Tumben sekali kesini pagi sekali. Sudah lama?” Mama terlihat begitu senang dan sambil menatapku dengan tatapan ingin meledek.
“Baru saja, Tante. Tante apa kabar?”
“Alhamdulillah sehat. Wah ini bunga siapa, cantiknya.”
Mataku membulat ketika Mama melihat bunga tersebut. Bisa-bisa Mama benar-benar meledekku di depan Khalif. Aku bisa malu nanti.
“Ah, sebaiknya kalian mengobrolnya di ruang tamu saja. Al lagi masak ini.”
Mereka berdua malah tertawa. Benar-benar menyebalkan. Mama kemudian pergi dengan wajah sangat puas berhasil membuatku malu. Dan Khalif juga beranjak dari tempatnya.
“Masak yang enak, ya.” Ucapnya ketika melewatiku. Aku menatap tajam ke arahnya. Dia juga tersenyum dan tidak memedulikan tatapanku.
Akhirnya sarapan sudah siap. Ini pertama kalinya Khalif sarapan bersama kami. Aku tentu saja canggung di hadapan Mama. Tapi walau bagaimana pun, ini hari yang membahagiakan. Aku dan Khalif, perasaanku padanya tidak sia-sia. Dia juga memiliki perasaan yang sama. Aku sangat bahagia.
Aku tidak menyangka hari ini akan datang. Khalif terus saja mengatakan kalau aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun terhadap hubungan kami. Sikapnya juga sangat manis. Mungkin inilah Khalif yang sebenarnya, jauh dari kata dingin, kaku, dan angkuh. Meski aku tidak bisa membantah kalau dia bisa berubah menjadi orang yang sangat mengerikan di hadapan orang yang dibencinya, seperti Dennis.
“Al, sekali lagi aku minta maaf. Semalaman kamu pasti menangis, sampai membuat matamu sedikit bengkak. Aku menyesal.” Dia terus saja meminta maaf. Dengan ketulusan penuh, bagaimana aku tidak bisa memaafkannya, sekalipun itu memang kesalahan darinya.
“Tidak apa-apa. Kamu jangan terus merasa bersalah begini. Sudah, lupakan saja. Sekarang aku sudah sangat bahagia bisa bersamamu.”
Dia meraih tanganku. “Jangan pergi, apapun yang terjadi.”
Aku pun tersenyum. “Iya, aku berjanji.”
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?
__ADS_1