Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Fitting Baju Pengantin


__ADS_3

Malamnya, aku mengecek pesan masuk yang tadi dikirim Khalif ke ponselku. Sekiranya lebih dari sepuluh pesan dan beberapa panggilan telepon darinya. Aku jadi merasa bersalah karena dia tidak tahu apa-apa mengenai perasaanku.


“Al, kenapa kamu pergi? Seharusnya aku yang mengantarmu pulang.”, “Alyssa kamu marah sama aku? Please, jawab teleponnya dan balas pesannya. Aku khawatir.”, “Aku minta maaf sama kamu. Apa kamu sudah sampai rumah?”.


Itulah pesan yang dikirimkannya kepadaku. Apa dia begitu karena benar-benar mengkhawatirkan perasaanku atau dia ini hanya sopan santun?


“Maaf. Tadi handphone-ku lowbatt. Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku juga tadi ketiduran, jadi aku yang harusnya minta maaf membuatmu khawatir seperti ini.”


Kirim.


Setelah beberapa lama, ada panggilan telepon dari pria itu lagi.


“Hai, Al !” Sapanya di seberang sana. Jantungku kembali berpacu ketika mendengar suaranya itu.


“Hai juga !” Jawabku singkat. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


“Soal tadi siang... Aku minta maaf.”


Hatiku kembali mencelos mengingat saat-saat itu. “Tidak perlu minta maaf. Aku pergi tanpa permisi itu karena kupikir ada hal yang kalian bicarakan.”


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Katanya. Aku heran apa maksudnya tadi dia sama sekali tidak bicara apapun dengan wanita itu?


“Oh ya? Kenapa? Bukankah kamu selama ini menunggunya kembali?” Apa yang sedang kupikirkan dengan pertanyaanku barusan? Ya ampun Alyssa !


Hening. Apa dia marah?


“Oh ya, besok jangan lupa datang ke butik buat fitting baju. Mama sama Tante berkali-kali menyuruhku untuk selalu mengingatkanmu.” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Iya. Aku ingat. Kamu belum mau tidur?” Akhirnya dia menjawab pertanyaanku. Seharusnya pertanyaan yang tadi tidak pernah kutanyakan.


Aku melirik ke arah jam. “Sebentar lagi. Kerjaan kamu sudah selesai?”


“Ini aku sambil cek berkas yang dikirim Adinda.” Tebakanku benar, dia memang biasanya tidur larut malam. Jarang sekali dia tidur cepat.


“Ya sudah, kamu jangan larut malam tidurnya. Besok ingat, ya?”


“Selamat malam, Al.”


“Selamat malam, Khal.”


Malamku sekarang menjadi indah, seperti langit malam. Khalif sudah berubah sekarang. Dia mengatakan tidak ada yang perlu dibicarakan antara dirinya dengan Jazy dan aku ingin mempercayai kata-katanya.


Rasanya akan lebih menenangkan memikirkan kalau hubunganku dengan Khalif akan baik-baik saja dan Khalif akan segera membuka hatinya untukku. Walau itu sebuah harapan, setidaknya aku memilikinya.


Selamat malam Khalif.



Hari ini aku harus mendatangi sebuah butik milik teman Mama dan Tante Ajeng. Aku datang bersama Mama karena Tante Ajeng mengatakan akan datang sedikit terlambat sebab harus ke restoran terlebih dahulu.


Hari ini aku harus bangkit. Seperti kata Dira kemarin, aku harus berani memperjuangkan apa yang kuinginkan. Ini bukan keegoisan, aku begini juga demi kebahagiaan orang tuaku dan orang tua Khalif.


Untuk mengenai perasaan Khalif, aku tahu dia masih menginginkan untuk kembali bersama Jazy. Namun, aku ingin membuktikan padanya kalau cintaku juga tak kalah besar dibandingkan perempuan itu. Aku juga ingin membahagiakannya, menghapuskan sedihnya, dan menemani hari-harinya.

__ADS_1


Kuharap Khalif bisa mendengarkan suara hatiku ini. Kuharap malaikat baik bisa menyampaikan pesanku. Kuharap aku dan dia bisa bahagia bersama. Suatu hari nanti, entah kapan waktunya.


Hari ini juga aku ingin dia melihatku memakai gaun pengantin untuk kupakai nanti. Kemarin Mama mengatakan kalau ada gaun pengantin yang telah dipersiapkan di butik itu dan sangat cantik.



“Kamu sudah hubungi Khalif? Takutnya nanti dia lupa atau ada pertemuan dengan kliennya.” Tanya Mama kepadaku. Sekarang kami akan segera berangkat ke butik yang Mama maksud.


“Sudah, Mam. Tapi waktu Al hubungin tadi tidak diangkat. Jadi Al kirim beberapa pesan ke dia. Tadi malam Al juga bilang ke dia buat datang ke butik. Dia bilang ingat, kok.”


“Syukurlah. Takutnya dia ada rencana hari ini. Mama senang kamu dan dia sudah mulai ada kemajuan. Setelah kamu mengenalnya lebih jauh, dia tidak sedingin yang kamu pikir, iyakan?”


Mama benar. Khalif tidak sedingin seperti pertama bertemu. “Iya, Mam.”


Dan juga, aku bukan hanya mengenal sifat asli pria itu, tapi Mama tidak tahu kalau perasaanku juga sudah berubah. Secepat itu. Tapi, Mama jangan sampai mengetahui hal ini.


Untungnya kami tidak terjebak kemacetan. Jadi bisa sampai kesana tepat waktu. Butiknya terkenal di kawasan sini dan gaun-gaun rancangan di sini juga begitu indah. Tidak lama setelah kami datang, Tante Ajeng juga datang karena katanya dia tidak jadi pergi ke restoran berhubung dia sangat penasaran dengan gaun yang akan kupakai.


“Halo ! Selamat datang. Ini pasti Alyssa, benarkan?” Tanya Tante pemilik butik dan langsung memelukku.


“Halo, Tante. Iya, saya Alyssa.” Jawabku. Tante yang kuketahui bernama Tante Vina itu kemudian beralih memeluk Mamaku dan Tante Ajeng.


“Tante mau memperlihatkan gaun yang baru saja selesai Tante rancang. Ini atas pesanan Mama kamu dan calon Mama mertua kamu yang beberapa bulan lalu datang kemari.”


Kami kemudian berjalan menuju tempat gaun itu berada. Aku tercengang melihat betapa indahnya gaun itu.


“Kalau suka, kamu bisa coba sekarang. Ukurannya semoga pas, Mama kamu yang kasih tahu ukuran badan kamu. Tapi, kalau tidak suka, Tante bisa rancang lagi sesuai keinginan kamu.”


“Suka, Tante. Ini sangat bagus. Aku menyukainya. Terima kasih Tante.”


“Syukurlah kalau kamu suka. Mereka berdua ini loh yang minta begini rancangannya.” Ucap Tante Vina sambil melirik ke arah Mama dan Tante Ajeng.


“Terima kasih, Alyssa suka gaunnya.” Aku memeluk Mama dan Tante Ajeng.


“Apapun akan Tante kasih untuk membuatmu terlihat semakin mempesona di hari pernikahan kalian.” Ucap Tante Ajeng. Aku tersentak. Entah perasaan apa, yang jelas aku juga sedikit malu membayangkan jika hari itu tiba.


“Mama benarkan? Gaunnya sangat cantik. Mama senang kamu suka.” Kata Mama.


“Kamu bisa coba gaunnya sekarang.” Tante Vina menawarkan. Aku hanya mengangguk mengikuti permintaan mereka, tapi juga senang sebenarnya.


Singkatnya aku telah selesai mengganti pakaianku dengan gaun pengantin. Kemudian keluar dari ruang ganti itu ke tempat mereka yang telah menunggu.


Baru beberapa langkah keluar dari sana aku sudah mendapat pujian.


“Gaunnya sangat cocok kamu pakai.”


Sekiranya itulah yang keluar dari mulut mereka. Aku menatap pantulan diriku di cermin besar. Ada Mama dan Tante Ajeng yang berdiri di samping kanan dan kiriku.


“Khalif pasti juga terpesona melihat kecantikanmu sekarang.” Ucap Tante Ajeng. “Oh ya, kamu sudah hubungi dia? Sudah jam segini dia belum datang.”


Aku mengambil ponselku di tas. “Tadi malam dia bilang ingat kalau kita ada janji. Tapi sampai sekarang pesan yang Al kirim tadi pagi belum dia baca. Coba sebentar Al telepon dulu.”


Semoga saja diangkat. Di jam segini dia harusnya sudah datang. Atau jangan-jangan dia masih ada rapat ya?

__ADS_1


“Tidak aktif nomornya, Tante.” Beberapa kali kucoba untuk menghubungi, tapi tetap saja nomornya tidak aktif.


Tante Ajeng semakin resah karena ulah puteranya itu. Sebab ini sudah lewat sejam. Tidak biasanya Khalif bersikap seperti itu sekalipun dia memang benar-benar sibuk.


Bahkan sampai dua jam berlalu, kami masih menunggu kedatangannya. Bahkan gaun itu juga sudah kuganti lagi dengan bajuku sendiri dan Mama sudah pulang duluan karena ada tamu di rumah kami. Jadi Tante Ajeng memutuskan akan mengantarku pulang nanti atau bersama Khalif jika dia datang.


Tapi kurasa dia tidak akan datang. Sudah lewat dua jam dan dia belum datang juga, dia pasti lupa atau ada rapat yang tidak bisa diwakilkan ke siapapun. Inilah alasan mengapa Tante Ajeng terus memintaku untuk selalu mengingatkannya akan hari ini.


“Tante, apa sebaiknya kita pulang saja? Soalnya kasian Tante juga, pasti lelah menunggu di sini. Khalif pasti benar-benar sibuk.”


“Harusnya dia bisa lihat kamu pakai gaun pengantin itu.”


“Sudahlah, Tante. Tidak apa-apa. Dia bisa lihat gaunnya nanti.”


Kami kemudian memutuskan pulang. Di mobil kami juga banyak cerita tentang Khalif. Tante Ajeng tiba-tiba meminta sopirnya untuk berhenti. Wajahku yang tadinya berseri-seri kemudian mematung melihat objek yang ditunjuk oleh Tante Ajeng.


“Khalif?”


Wajah Tante Ajeng memerah melihat seseorang yang bersama Khalif. Seseorang yang keluar dari kafe bersama Khalif. Itu Jazy. Tante bahkan ingin segera keluar dan terlihat sangat marah. Tapi, untunglah aku sempat menahan lengan beliau.


“Jangan, Tante. Biar Alyssa saja.”


Tante Ajeng hanya mampu memberikan anggukan. Aku tidak tega melihat matanya yang sudah berkaca-kaca. Aku pun turun dari mobil.


Khalif tersentak melihat keberadaanku.


“Alyssa?!”


“Jadi kamu di sini? Aku pikir kamu benar-benar sibuk sampai tidak datang ke butik !” Aku sangat kecewa dengan sikapnya sekarang.


“Al, aku bisa jelaskan.” Katanya menyela ucapanku yang belum selesai.


“Kamu dengar dulu, aku belum selesai. Kamu, kamu harusnya bilang kalau tidak bisa datang. Kasih kabar. Aku sudah menghubungimu berkali-kali tapi handphone kamu tidak aktif. Apa yang kamu lakukan sebenarnya? Mama kamu sudah lama menunggu kamu di sana. Dua jam beliau resah menunggu kamu, kamu harusnya lihat bagaimana wajah kecewa Mama kamu.”


Khalif berusaha meraih tanganku dan terus kutepis.


“Alyssa, aku minta maaf.”


“Hanya maaf? Lalu bagaimana kamu mengembalikan air mata Mama kamu yang sedang menangis di dalam mobil itu? Bagaimana, Khal?!”


Aku hilang kendali. Air mataku juga terjatuh. Hatiku benar sakit sekarang dan aku tak mampu menahannya lagi. Ia mengusap pipiku yang basah karena tangis dengan jemarinya.


“Jangan menangis. Aku minta maaf. Aku minta maaf untuk kalian semua. Aku tahu aku salah. Al, hentikan tangisanmu. Aku mohon, aku bisa jelaskan.” Dia berulang kali memohon. Aku kemudian menatap wanita itu. Dia masih terdiam mungkin sedang menafsirkan apa yang kini kami perdebatkan.


Aku mengalihkan pandanganku lagi ke Khalif. “Kamu bilang sudah tidak ada yang perlu kamu bicarakan dengan dia, tapi kenapa kamu justru mengingkari janjimu hari ini dan datang kepadanya?”


“Aku minta maaf.”


“Apa hanya itu yang bisa keluar dari mulutmu? Baiklah, sepertinya kamu masih ingin bicara dengannya. Kalau begitu aku pergi dulu.”


Kedua kalinya aku pergi meninggalkan mereka berdua. Aku kembali ke mobil dan langsung memeluk Tante Ajeng. Sampai di situ, aku mendengar suara ketukan dari luar mobil kalau Khalif terus memintaku bicara dengannya.


Tante Ajeng pun meminta sopir untuk segera melanjutkan perjalanan. Dan sepanjang jalan, selama itu, aku masih memeluk Tante Ajeng.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2