
Sangat bisa kumengerti jika kedatangan Khalif kemari tak lain karena dia merasa harus bertanggung jawab atas kejadian kemarin. Tak ada alasan lain. Seorang Alyssa Salshabilla Prasetya harus bisa memahami semua itu dan tidak boleh berpikiran apalagi bertindak bodoh dengan menyangka semua yang kini terjadi disebabkan adanya perasaan spesial yang dirasakan Khalif.
Tidak peduli bagaimana nanti sakitnya saat jatuh bangun mencintai pria yang kini tak tahu bagaimana perasaannya terhadapku, yang jelas aku sudah bertekad akan bertahan di sisinya tanpa harus menyingkirkan masa lalu yang masih bertengger di lubuk hatinya. Jika dia memang ditakdirkan untukku, pastilah dia akan mampu melihat di mana sekarang aku berdiri.
Lama setelah kami sampai di ruang rawatku. Aku mendapat panggilan telepon dari Papanya Khalif, Om Farhan. Layar ponsel bertuliskan panggilan dari Om Farhan itu kutunjukkan kepada anak bungsunya.
“Angkat saja.” Ucapnya padaku. Aku gugup sekali mendapat panggilan telepon itu, bukankah Khalif sebelumnya mengatakan kalau dia telah membereskan semuanya. Sekarang bagaimana jikalau Om Farhan mengetahui tentang aku yang masuk Rumah Sakit ? Apa yang harus kulakukan ? Jika itu benar terjadi, berarti Khalif sudah membohongiku.
“Halo, Om !” Sapaku dari sini.
“Halo, Alyssa. Bagaimana keadaanmu ?” Sahut Om Farhan dari seberang sana. Beliau menanyakan tentang bagaimana keadaanku. Tuhan, apa beliau tahu jika keadaanku saat ini tidak sedang baik-baik saja. Ayolah, Alyssa. Om Farhan mungkin memang hanya sedang menanyakan bagaimana kabarmu seperti biasanya.
“Baik, Om. Om sendiri bagaimana ?” Maafkan Alyssa karena sudah berbohong kepada Om Farhan. Keadaan ini pasti akan mengkhawatirkan banyak orang jika mereka sampai tahu, aku tidak ingin semua itu terjadi. Orang-orang itu masih banyak pekerjaan yang lebih penting dan harus segera diselesaikan. Lagi pula keadaanku sudah membaik.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Om di sini juga baik.” Untunglah Om Farhan memang benar tidak mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Lega rasanya. “Oh iya, Khalif kemarin bilang kalau kamu kemarin tidak bisa menemui Om karena kamu sedang sibuk.”
“Itu semua benar, maafkan Alyssa. Memangnya ada apa Om, apa sangat penting ?”
“Nanti saja kita bicaranya. Om ingin bicara langsung denganmu. Kalau kamu tidak sibuk, bisakah kita bertemu satu jam lagi di kantor karena sekarang Om akan pergi ke pertemuan penting.” Ya ampun, Om Farhan mengajakku bertemu hari ini. Jika kutolak dengan mengatakan tidak bisa bertemu hari ini, pasti Om Farhan curiga nanti. Sebab dia tahu kalau aku tidak mempunyai pekerjaan yang harus diurus. “Bagaimana, Al ?”
“Baiklah, Om. Alyssa bisa.”
“Ya sudah. Sampai nanti.”
Dan kemudian sambungan telepon pun terputus.
“Apa katanya ?” Khalif penasaran dengan obrolanku dengan Papanya. Bisa jadi juga dia bingung dengan ekspresiku seperti melamun.
“Dia bilang ingin bertemu. Satu jam lagi dari sekarang.”
“Apa ? Bagaimana bisa ? Kamu setuju ?”
“Aku setuju menemuinya.”
“Hei, apa coba kau lakukan ? Kamu sekarang sedang sakit, Alyssa !”
Sejujurnya aku juga tidak memahami jalan pikiranku. Aku begitu penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Om Farhan kepadaku. Pasti ini tentang kedekatanku dengan Khalif. Tapi, aku tidak tahu jelasnya apa sampai Om Farhan tidak bisa menjelaskannya lewat telepon. Apa itu ada hubungannya dengan masa lalu Khalif ? Aku ingin tahu itu. Sungguh.
“Aku baik-baik saja sekarang. Kurasa dokter akan mengizinkanku pergi. Kamu harus menemaniku bertemu dokter Rama.”
Dengan terpaksa Khalif menemani aku pergi menemui dokter Rama. Dokter Rama adalah dokter yang menanganiku selama di sini.
“Dokter, bolehkan kalau saya pergi sekarang ? Seperti yang baru saja saya katakan, saya ada urusan mendadak. Saya juga sudah merasa baikan. Bolehkan ?” Aku mencoba meyakinkan dokter Rama agar dia memberikanku izin pulang dari Rumah Sakit ini sekarang.
__ADS_1
“Tapi, apa kamu yakin kondisimu sekarang sudah lebih baik ? Alergimu ini bukan alergi yang ringan. Kamu tidak tahu bukan bagaimana kemarin kondisimu saat pertama kali tiba di sini ?” Dokter Rama rupanya tidak yakin dengan pernyataanku.
“Saya mohon, dokter. Bolehkan saya pergi sekarang ? Dokter boleh katakan apa saja yang tidak boleh saya makan dan saya lakukan agar alergi saya tidak kambuh lagi. Saya akan melakukannya. Saya mohon…”
Aku memberikan kesempatan dokter Rama untuk berpikir sejenak. Beliau mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di kertas dan setelah selesai ia memberikan dua catatan kecil itu padaku. “Baiklah, kamu boleh pulang sekarang dan ini untukmu. Di sana tertulis tentang apa saja yang tidak boleh kamu makan dan satunya lagi adalah resep obat yang harus kamu tebus nanti di apotik.”
Akhirnya aku diizinkan untuk pulang. Aku mendengar deru napas berat Khalif. Dia sepertinya tidak suka aku pulang sekarang hanya karena takut Papanya akan curiga. Sedari tadi dia terus mengatakan kalau dia akan mengurusnya lagi untukku, tapi aku menolak.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi ruang rawat itu. Juga setelah memastikan tak ada barangku yang tertinggal, aku segera bersiap untuk langsung pergi ke kantor Adhitama Group, pastilah aku ke sana bersama Khalif yang wajah cemberutnya itu belum juga hilang. Aku juga sudah menelepon Nadira kalau aku akan pulang dan dia tidak perlu menemuiku karena ada sesuatu yang mendesak.
“Ya ampun, Khal. Kenapa kamu masih cemberut begitu ? Ayolah, maaf karena aku tidak mau mendengarkan apa kata-katamu.” Kataku sambil melirik ke arah wajahnya yang menurutku lucu. Dia terlihat semakin kesal karena melihatku yang sedang mengatakan itu sambil merias wajahku agar tidak terlihat pucat.
“Aku sudah bilang, kamu tidak perlu menemui Papa sekarang. Kamu sendiri bukan yang minta hal ini disembunyikan ? Lalu yang harus kamu lakukan hanyalah tetaplah dirawat sampai kondisimu benar-benar pulih.”
Benarkan kalau Khalif masih tidak suka kalau aku menemui Papanya untuk membicarakan sesuatu hal. Maaf, Khal. Tapi aku harus ke sana, aku begitu penasaran.
“Ayolah, Khal. Maaf.”
“Aku tidak perlu kamu untuk minta maaf. Kamu hanya perlu istirahat.”
“Oke, aku akan istirahat. Tapi, setelah bertemu Papa kamu. Aku sudah terlanjur janji. Tidak enak rasanya jika aku terus menolak sementara Papa kamu adalah orang yang sangat sibuk saja sudah bisa menyempatkan waktunya.”
Lagi dan lagi kudengar deru napas berat dari pria itu. Aku tak pernah mengira kalau dia akan menjadi seperti ini rewelnya padaku. Tidak mudah untuk membuatnya luluh, setelah beberapa lama kurayu, dia akhirnya sedikit luluh. Aku sudah bersyukur. Pasalnya jika sampai dia marah, takutnya itu akan membuatku pusing nanti.
Satu, dua, tiga menit waktu berlalu. Om Farhan akhirnya masuk ke ruang kerjanya itu dan wajah lelah yang masih mampu tersenyum itu pun segera menghampiriku. Beliau juga meminta maaf karena telah membuatku menunggu.
“Maaf sudah membuat kamu menunggu. Kamu pasti bosan.” Ucapnya.
“Tak apa, Om. Oh iya, saya penasaran dengan hal penting apa yang akan Om katakan.”
“Kamu benar ini memang hal yang cukup penting. Setidaknya ini bagi Om, sebelumnya Om sedikit ragu untuk mengatakan ini atau tidak kepada kamu. Karena Om tahu kalau kamu sama sekali tidak menginginkan perjodohan ini. Kamu marah pada keadaan ini, Om tahu betul itu. Tapi, kamu benar-benar gadis yang baik, bahkan kamu selalu berusaha terlihat baik-baik saja.”
Sampai di situ, aku masih tidak mengerti. Dari bicaranya, apa Om Farhan akan membatalkan perjodohan ini ? Ya Allah, aku takut jika itu semua terjadi. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik, aku tidak berniat untuk memotong pembicaraan beliau.
“Beberapa waktu lalu Om mendengar kalau karyawan kantor ini membicarakan mengenai Khalif yang sempat berkelahi dengan Dennis di hadapan kamu. Lalu, Khalif menarik tanganmu dengan kasar, apa itu benar ?” Aku sempat terkejut sewaktu Om Farhan mengatakan tentang perkelahian Khalif dengan Dennis, tapi untunglah itu bukanlah perkelahian yang kemarin, tetapi perkelahian pertama mereka di hadapanku.
“Benar, Om.”
“Tapi, apa kamu tahu apa penyebab Khalif terlihat sebenci itu kepada Dennis ?”
Itulah yang masih menjadi pertanyaan besar di kepalaku. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sudah terjadi dengan mereka di masa lalu. Aku menggelengkan kepalaku.
“Itu semua karena ulah Om. Dulu Om mempunyai teman namanya Gusti yang sangat Om percaya, sampai-sampai Om tak ragu mengangkatnya menjadi Direktur Keuangan. Keluarga kami juga sangat dekat, bahkan Yashinta menjalin hubungan dengan anak sulung dari teman Om itu. Namanya Marcell. Tidak hanya mereka berdua, Khalif juga begitu dekat dengan anak bungsu mereka. Jazy.”
__ADS_1
Ketika sampai di bagian itu, hatiku rasanya sakit. Seolah tak terima jika kenyataan mengatakan ada seseorang yang pernah begitu dekat dengan Khalif di masa lalu.
“Waktu terus saja berlalu. Perusahaan yang semula baik-baik saja kemudian mengalami masalah keuangan. Singkatnya bisa dikatakan hampir mengalami kebangkrutan. Kamu tahu siapa penyebabnya ? Itu adalah karena Gusti. Untunglah semua itu berhasil Om tangani dengan cepat sebelum semuanya benar-benar terlambat. Gusti akhirnya berhasil dipenjarakan karena terbukti korupsi.”
Om Farhan berhenti bicara. Dari raut wajahnya ia tak dapat menyembunyikan kekecewaan yang masih ia rasa. Aku tahu, tidak mudah baginya menerima pengkhianatan dari seorang teman yang sudah sangat ia percaya.
“Kemudian kondisi perusahaan Om membaik. Om pikir masalah itu sudah selesai, namun ternyata tidak. Di malam itu, kami semua begitu mengkhawatirkan Yashinta yang belum juga pulang. Dia tidak biasanya pergi sampai jam segitu. Kekhawatiran itu ternyata bukan semata kekhawatiran. Om mendapat telepon dari Marcell yang berencana membalaskan dendamnya kepada Om melalui Yashinta jika Papanya tidak dibebaskan.”
“Lalu apa yang terjadi dengan Kak Yashinta saat itu ?”
“Dengan cepat, polisi berhasil melacak di mana keberadaan Marcell. Tepat sebelum Yashinta dicelakai dan dihancurkan masa depannya oleh pria kurang ajar itu, kami berhasil menerobos ke dalam rumah persembunyian Marcell. Saya tahu, Marcell juga seorang anak yang sedang memperjuangkan kebebasan Papanya. Tapi anak muda itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan justru membuatnya masuk ke dalam lubang besar. Yashinta sangat terluka. Tidak ada orang tua yang tahan menyaksikan kesedihan anak-anaknya. Mulai saat itu, saya begitu membenci keluarga Gusti.”
Om Farhan, aku tahu kalau Om adalah seorang Ayah yang penyayang. Seperti yang dikatakannya baru saja, aku bisa melihat bagaimana pria yang seumuran dengan Papaku itu sangat terluka jika anaknya terluka.
“Tak luput juga kebencian itu mengarah kepada Jazy yang semakin hari semakin dekat dengan Khalif. Anak itu, Om khawatirnya dia akan melakukan hal yang sama untuk membalaskan dendam atas Ayah dan Kakaknya melalui Khalif. Meskipun kecil kemungkinan dia akan bisa sejahat itu, Om hanya berpikir harus menyingkirkan kemungkinan itu secepat dan sejauh mungkin dari keluarga Om. Kamu pasti bingung mengapa Om menceritakan ini, bukan ?”
Aku hanya mengangguk. Beliau tersenyum datar.
“Om menyingkirkan Jazy yang saat itu sedang menjalin hubungan dengan Khalif. Melalui tangan Dennis. Om menyuruh Dennis untuk mendekati Jazy sampai akhirnya Khalif menyangka kalau Jazy sudah berkhianat dengan menjalin hubungan juga dengan sepupunya sendiri, Dennis. Lalu hubungan mereka berakhir.”
Sakit sekali mendengar kenyataan itu. Oke, aku cemburu !!! Cukup sudah aku tidak tahan, aku seperti seseorang yang sedang patah hati kini.
“Tidak ada kebohongan yang abadi. Khalif kemudian mengetahui kalau penyebab hancurnya hubungan dia dengan Jazy adalah karena campur tangan Om dan Dennis. Khalif berusaha mengajak Jazy kembali kepadanya setelah apa yang telah terjadi. Namun terlambat, Jazy pergi entah kemana. Khalif begitu frustasi dan justru Om melakukan kesalahan lagi dengan mengirimnya pergi ke luar negeri.” Om Farhan terlihat sangat menyesal atas langkah yang dulu ia ambil.
“Kamu harus tahu kalau itu sama sekali bukan keinginan Dennis, dia melakukan itu karena desakan Om. Sampai sekarang Khalif begitu membenci Dennis. Dia juga tidak tahan jika berlama-lama satu ruangan dengan Dennis dan Om.”
Ah, pasti itu sebabnya mengapa Khalif sering absen rapat dan justru datang menemuiku. Bahkan dia menjadikanku sebagai alasan mengapa dia tidak ikut rapat. Jadi, semua itu karena ada Dennis ?
“Om mengatakan semua ini karena beberapa waktu belakangan, kita semua bisa melihat kalau kalian sudah semakin dekat. Meskipun kamu peduli ataupun tidak mengenai Khalif, tapi Om rasa kamu harus tahu ini sebagai teman yang sedang dekat dengannya.”
“Jujur, saya tidak tahu apa yang seharusnya saya katakan. Tapi kalau boleh saya katakan, Om adalah seorang Ayah yang begitu penyayang dan semua tindakan yang Om lakukan tak lain karena ingin melindungi mereka. Lambat laun, Alyssa yakin kalau Khalif pasti mengerti mengapa Om lakukan itu. Saya juga harus katakan ini, dari apa yang saya lihat selama bersamanya dan ketika berbicara mengenai Om. Di mata saya dia sangat merindukan Om sebagai Ayah baginya. Tapi, dia terlalu gengsi untuk mengakui kerinduannya itu dan memilih untuk terus menyalahkann Om atas kesedihannya.”
“Itulah sebabnya mengapa Om memilihmu untuk menjadi teman hidup untuk anak itu. Tante Ajeng dulu cerita ketika baru saja bertemu denganmu pertama kali dan dia sudah jatuh hati. Terlepas kamu adalah anak dari sahabat kami. Tidak hanya Tante Ajeng yang jatuh hati ke kamu, Om dan Yashinta pun sama. Kami berkeyakinan kalau kamu adalah wanita yang bisa meluluhkan perasaan Khalif. Hal itu sudah terbukti sedikit demi sedikit, dia bahkan sudah lebih sering pulang ke rumah. Berkat kamu. Terima kasih Om ucapkan.”
Aku terkekeh.
“Lucu rasanya mendengar kalian yang berterima kasih kepada saya, bahkan saya tidak tahu apa yang telah saya lakukan. Saya tidak yakin itu karena saya. Menurut saya, Khalif yang pulang ke rumah itu bukan karena siapapun, terutama saya. Itu semua adalah karena dirinya sendiri yang sudah sangat merindukan rumahnya.”
Di hari ini aku tahu sebuah fakta kalau perpisahan itu tidak pernah diinginkan oleh Khalif ataupun Jazy. Di saat mereka masih sangat mencintai, keadaan memisahkan mereka. Aku yakin perasaan di hati Khalif untuk Jazy tidak tersisa sedikit, melainkan masih banyak cinta untuk wanita itu darinya. Entah di mana Jazy kini bersembunyi, aku tahu dia akan kembali nanti untuk menemui cintanya yang tertinggal. Cepat atau lambat.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?
__ADS_1