
Entah berapa lama aku berada di ruangan itu bersama Robby juga dengan selang-selang yang memenuhi tubuhnya. Rasanya begitu sedih aku saat ini melihatnya yang seperti ini, ditambah dengan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa. Jika saja aku bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk kesembuhannya atau apapun itu, pasti akan kulakukan.
Aku lalu keluar dan mendapati Nadira yang sedang menunggu di luar bersama Tante Diah yang kondisi beliau aku tahu pasti ini sangat sulit baginya sekarang. Pasti sebagai seorang Ibu, Tante Diah begitu mengkhawatirkan anak tunggalnya itu, setiap saat ia berjaga menunggu Robby untuk bangun. Wanita tangguh ini dengan penuh keyakinan percaya kalau Robby pasti bangun karena anaknya itu tidak akan meninggalkan Ibunya itu seorang diri setelah beberapa tahun lalu Ayahnya Robby meninggal dunia.
“Alyssa, terima kasih karena sudah mau datang menjenguk Robby.” Ucap Tante Diah dengan suaranya yang bergetar menahan tangis. Kemudian kurangkul Tante Ajeng dan berharap bebannya sedikit berkurang. Dia benar-benar harus tetap kuat agar dia sendiri bisa memberikan kekuatan kepada anaknya yang terbaring koma.
“Iya, Tante. Maaf karena aku baru bisa datang sekarang. Alyssa baru tahunya sekarang.” Tante Ajeng lalu melonggarkan rangkulan dan menatapku.
“Dia koma sekitar dua minggu yang lalu. Sepulang dari wisuda. Katanya dia mau pergi ke suatu tempat, jadi Tante dan dia pisah mobil dan pulang sama sepupunya. Hari itu Tante begitu terkejut. Hari itu dia untuk pertama kalinya ingkar janji sama Tante. Sebelum pamit dia janji untuk pulang ke rumah secepatnya ketika urusannya sudah selesai, namun bukannya pulang ke rumah, dia… dia justru ke tempat mengerikan ini.” Tante Diah begitu terpukul atas kecelakaan yang dialami anaknya ini.
“Tante yang sabar, ya. Aku yakin dia pasti bangun.” Aku tahu dengan mengatakan sabar saja itu tidak akan cukup, sama sekali tidak akan cukup. Namun, akan sangat lebih tidak cukup lagi jika tidak ada yang orang yang mengatakan itu untuk menguatkan.
“Al, kemarin untuk pertama kalinya dia memberikan respon setelah lamanya dia koma. Dia menyebut nama kamu. Tante tidak tahu siapa kamu, tapi Tante berharap dengan kehadiran kamu, Robby bisa segera bangun. Lalu, Tante bertanya sama Nadira yang selama ini menemani Tante, syukurlah kalau sebenarnya Nadira kenal bahkan dia sahabat sekaligus sepupu kamu. Tante meminta dia untuk membawa kamu kemari.”
“Lalu, apa kata dokter Tante mengenai perkembangan Robby kemarin ?”
Mataku beralih dari Tante Diah kepada Nadira. Gadis itu tampak cemas, aku yakin sesuatu itu sangat berat juga baginya sama seperti Tante Diah. Aku bisa bilang begitu karena sejak tiba di tempat ini, aku merasakan ada yang berbeda dari Nadira yang selama ini kukenal. Tidak pernah aku melihat Nadira yang secemas ini kepada seorang pria yang ia sebut sebagai teman. Jika boleh aku menduga, kuharap kalian setuju kalau aku mengatakan Nadira mencintai Robby.
“Dokter tidak bisa mengatakan apa-apa terkait kapan Robby bisa bangun. Bahkan kemarin pun ketika tubuhnya memberikan reaksi. Dokter hanya mengatakan kalau kehadiran kamu bisa membantunya berjuang melewati masa kritisnya. Dengan cara mendengar suara kamu karena meskipun dia dalam keadaan koma, dia masih bisa mendengar.”
Itu yang dikatakan Tante Diah. Haru biru di sana sangat terasa, aku hampir tidak kuat melihat bagaimana Tante Diah berusaha tegar di tengah masalah berat yang ditimpakan kepadanya. Aku yakin ia tidak dapat makan dan istirahat dengan baik. Ya Allah, kuatkan dia.
Sekitar tiga puluh menit setelah obrolan itu, aku pamit pulang. Nadira kembali mengantarku. Dia hanya diam saja ketika kami berjalan berdua di lorong Rumah Sakit. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya, tapi nanti saja. Aku menatap wajahnya yang begitu sendu, matanya juga kelihatan sembab.
Aku menghentikan langkahku, namun Nadira masih belum menyadarinya. Ia baru sadar kalau aku tidak ada lagi di sampingnya ketika ia sudah berjalan sekitar empat atau lima langkah di depanku. Dia berbalik.
“Loh Al, kenapa kamu berhenti ?” Tanyanya padaku. Aku berjalan ke arahnya kemudian sembari wajahku memerhatikan wajahnya.
__ADS_1
“Pasti ada sesuatu, benarkan ?” Tanyaku. Dia pasti bingung dengan pertanyaanku ini. “Kamu begitu mengkhawatirkannya.”
“Apa maksudmu ?” Dia mencoba menutupi perasaannya. Tentu aku tidak percaya begitu saja, sebab firasatku begitu kuat mengatakan kalau dia sudah jatuh hati pada Robby.
“Kamu bukan orang yang pandai berbohong, Dir. Kamu mencintainya, bukan ?” Ia terkejut dengan pertanyaanku kali ini. Aku tahu dia bukannya ingin menyembunyikan hal ini dariku, hanya saja dia bingung apa yang harus dikatakannya dan harus dari mana menjelaskan tentang perasaannya yang sudah mencintai lelaki yang ia tahu dari dulu lelaki itu mencintai sepupu sekaligus sahabatnya ini. Bukannya aku percaya diri, tapi itu memang benar adanya kalau Robby mencintaiku dari dulu. Itulah alasan utama mengapa Nadira menyembunyikan isi hatinya.
“Al, kamu… Aku bisa jelaskan, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun sama Robby !” Ia mencoba membohongiku. Pernyataannya ia ucapkan dengan begitu tegas, namun aku merasakan hal sebaliknya. Seolah ia mengatakan, “Sorry Al, aku sudah mencintainya.” Itu menurutku.
“Aku sudah bilang kamu bukan orang yang pandai berbohong. Jadi berhenti untuk terus membohongi perasaan kamu sendiri. Hei, di sini kamu tidak menyakiti siapapun, jadi kenapa kamu harus menghindar ? Kamu di sini juga tidak sedang mengkhianati siapapun, jadi kamu seharusnya tidak perlu takut. Aku yakin kamu tidak jatuh cinta sendirian. Nanti pasti dia bangun dan dia akan tahu siapa wanita yang sebenarnya layak untuk mendapat cintanya.” Aku berharap Nadira menyadari kalau aku menginginkan kebahagiaannya juga. Terlebih aku tidak ingin Nadira menganggap kalau dia sudah mengkhianati aku yang bahkan tidak pernah bisa membalas cinta pria bernama Robby itu.
“Al…” Lirihnya. Aku memeluknya erat. Dia akhirnya menangis setelah tadi air mata itu ia tahan. Aku ingin melepas pelukanku, lalu mengusap air mata yang sudha membasahi pipi cantiknya. Namun, aku lebih suka ia menumpahkan semua air mata itu dulu dan membuatnya bisa sedikit lebih tenang.
“Kamu pasti sangat sedih sekarang. Tapi kamu harus tetap kuat.” Dia masih terisak di pelukanku. Di lorong itu hanya ada kami berdua, juga ada beberapa orang yang berlalu melewati kami.
“Aku takut, Al. Bukan takut karena dia nanti tidak bisa melihat hatiku, tapi takut sesuatu yang buruk akan terjadi sama dia.” Pasti sangat berat menjadi Nadira saat ini. Ini adalah masa di mana pertama kalinya aku melihat seorang Nadira serapuh ini.
“Jadi, tadi aku jelek, ya ?” Dia mulai menampakkan wajah polosnya padaku. Dia bahkan sekarang sudah bisa mengajakku bercanda.
“Ah, jadi kamu baru sadar ? Makanya jangan sedih-sedih lagi.” Kataku.
“Maaf ya Al karena aku, kamu jadi harus batalin janji sama Khalif malam ini.” Seketika aku langsung terkejut mendengar perkataan Nadira tentang janjiku itu.
“Astaga, aku lupa ! Aku benar-benar lupa kasih kabar ke Khalif kalau aku tidak bisa datang !” Aku panik. “Ya ampun, aku pergi sekarang ya Dir.”
“Al, biar aku antar kamu. Nanti biar aku yang jelasin semuanya ke Khalif.” Kata Nadira yang merasa bertanggung jawab.
“Tidak, biar aku pergi sendiri. Oke ? Bye, Nadira !” Aku mencegahnya untuk mengantarku. Ini sama sekali bukan salahnya, ini adalah kesalahanku sendiri yang lupa untuk mengabari Khalif. Jika ada orang yang harus disalahkan, itu aku. Lalu aku pergi.
__ADS_1
Aku keluar dari Rumah Sakit itu dan segera menunggu taksi yang lewat. Di tepi jalan itu aku resah. Pasti Khalif kesal dan marah karenaku, jujur aku takut hal itu terjadi. Entah mengapa. Beberapa taksi lewat begitu saja yang menandakan sudah ada penumpang di dalamnya. Dengan resah itu aku menunggu, hingga akhirnya ada taksi yang berhenti untukku. Aku segera naik dan menunjukkan lokasi tujuanku.
Di taksi itu aku sangat, sangat, sangat berharap Khalif masih ada di tempat itu menunggu. Aku juga terus mencoba menghubungi ponselnya yang masih tidak dapat tersambung. Astaga, apa dia sengaja melakukan ini padaku karena ia marah, kumohon angkatlah teleponnya, Khal !.
Aku beberapa kali juga meminta sopir taksi itu untuk mengemudi lebih cepat. Sopir taksi itu hanya terus mengiyakan permintaanku. Aku cerewet sekali. Beberapa menit kemudian aku sampai di tempat yang dikatakan Khalif lewat pesannya beberapa jam lalu. Taksi itu kemudian kembali melaju.
Dari tempatku sekarang berdiri aku baru tahu kalau Khalif mengajakku ke pertunjukkan teather. Pertunjukkannya tentulah telah selesai dan hanya ada beberapa orang yang sedang membereskan panggung. Aku melirik ke jam tangan yang melingkar di tangan kiriku yang mengatakan kalau telah sangat terlambat. Seharusnya aku datang ke tempat ini dua jam yang lalu. Di sana Khalif tak bisa kutemukan.
Aku keluar dari gedung itu dan berpikir untuk pergi ke apartment Khalif. Dia pasti di sana. Tidak seperti tadi, begitu keluar dari gedung itu aku langsung mendapatkan taksi. Ponselnya Khalif masih saja tidak dapat dihubungi. Perlu waktu sekitar dua puluh menit dari tempat itu menuju apartment Khalif.
Kepalaku kembali dipenuhi kata-kata ketika sedang berada di elevator. Antara takut dan khawatir. Takut kalau dia marah dan khawatir ia tidak bisa memaafkanku. Kini aku sudah berdiri tepat di depan pintu apartment-nya.
Sedikit ada keraguan juga yang menggangguku ketika hendak mengetuk pintu. Keraguan itu pula yang membuatku sempat berpikir untuk pergi saja dari sana. Aku merasa belum siap untuk meminta maaf sekarang. Tapi jika kubiarkan hal ini berlarut-larut pasti akan menjadi lebih rumit.
Di tengahku yang sedang ragu untuk mengetuk pintunya atau tidak, aku kemudian dikagetkan oleh suara seseorang yang berdiri di belakang.
“Apa yang kamu lakukan di sini ?” Katanya. Aku lantas menengok ke sumber suara itu dan ternyata dia Khalif. Aku bahkan sampai tidak menyadari kapan dia datang saking aku sibuk sendiri dengan rasa bersalahku. Khalif kemudian berjalan dan berhenti di sampingku. Aku begitu gugup saat ini. Rasanya lidahku juga kelu.
Setelah pintunya terbuka, dia masuk ke dalam. Sedang aku masih saja berdiri mematung di ambang pintu. Melihat sikapnya yang kurasa kembali dingin membuatku semakin kuat untuk pulang daripada menghadapi Khalif yang kemungkinan akan melimpahkan kekesalannya padaku. Aku bahkan tidak tahu tentang sejak kapan aku peduli dengan bagaimana perasaannya.
“Masuklah !” Katanya. Aku yang tadinya menunduk mencoba berani mengangkat wajahku. Ternyata dia masih berdiri di dekat pintu itu sambil tangannya menahan pintu agar tidak menutup.
“Maaf !” Kataku akhirnya.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?
__ADS_1