Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Sisi yang Lain


__ADS_3

Hari ini, aku hanya ingin beristirahat. Tubuhku begitu lelah. Aku habis menemani Mama ke Bandung untuk bertemu dengan teman lamanya, seorang desainer baju pengantin. Kalian tahu bukan kalau semenjak rencana perjodohan itu diumumkan, maka segala pembicaraan dan apa yang mereka lakukan itu tak lepas kaitannya dengan itu semua. Termasuk hari ini, jelas sekali kalau Mama ingin memesan gaun pengantin untuk kukenakan nanti di hari pernikahan yang "mereka" nanti-nanti.


Butik Violet adalah butik milik teman Mamaku itu, Tante Anis, begitu akrab kusapa. Sebenarnya Butik Violet milik Tante Anis juga ada cabangnya di Jakarta, namun berhubung Mama ingin bertemu Tante Anis secara langsung yang kebetulan berada di Bandung dan sekalian Mamaku ingin mengunjungi kerabatnya di sana walau sebentar, ya kami pun ke sana.


Siang tadi waktu kami ke sana, butiknya juga sedang didatangi pasangan yang ingin memesan baju pengantin. Aku iri sekali kepada pasangan itu, mereka tampak bahagia walau aku sama sekali tak mengenal mereka. Tapi, cukup dari ekspresi dan perhatian si calon mempelai pria untuk menemani wanitanya pergi ke sana, itu sudah sangat membahagiakan.


Sedangkan aku ? Jangankan bahagia, aku sendiri bingung dengan rute perjalanan yang sedang kujalani. Jangankan bahagia bersama calon suamiku, aku sendiri bingung bagaimana cara melewatinya nanti di saat tidak ada rasa cinta di antara kami berdua. Boro-boro dia mau pergi menemaniku memilih gaun pengantin seperti pria di butik itu, dia saja tidak peduli dengan rencana pernikahan ini.


Mungkin kalian bosan mendengarku mengeluh betapa menyedihkannya hidupku saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, bagaimana lagi caranya aku meluapkan rasa tak mengenakkan ini. Apa aku kabur saja ya dari rumah, seperti di film-film itu ? Ah, tidak. Bagaimana jika nanti Mama dan Papa khawatir dan mereka terluka karena mengkhawatirkanku ? Tidak, itu hal bodoh yang tidak boleh kulakukan. Sudahlah, aku mau tidur dulu. Besok mungkin saja aku akan lebih sibuk daripada hari ini.



Hari ini aku diminta Tante Ajeng datang ke rumahnya untuk menemani Key dan menginap di sana, sebab hari ini Kak Yashinta dan Mas Irfan katanya mau pergi ke luar kota. Aku berangkat setelah kupikir semua keperluanku sudah siap. Juga, kenapa aku bersedia menginap di sana karena kupikir akan menyenangkan bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Key dan juga pagi ini Mama dan Papaku pergi ke Singapura.


Setelah aku mengantar kedua orang tuaku ke Bandara, aku segera mengemudikan mobilku menuju kediaman keluarga Adhitama. Oh, hampir saja aku lupa, aku harus mampir ke Minimarket sebentar untuk membeli cokelat kesukaan Key. Pasti gadis kecilku itu suka. Sangat tidak sabar rasanya untuk memeluk tubuh mungil peri kecil itu. Ok, kita pergi !


Setelah lima belas menit berlalu, kurang lebih, aku sampai di sana. Ada Pak Jaya yang membukakan pintu gerbang, dia adalah penjaga keamanan di rumah Om Farhan. Belum sempat kupencet bell rumah mereka, tapi dari dalam sudah ada seseorang yang membukakan pintu. Si gadis kecil sudah berbaik hati membukakan pintu untukku. Cantik sekali dia hari ini.


"Halo cantik !" Sapaku yang kini mensejajarkan tinggiku dengannya, lalu dia memelukku dengan erat. Aku selalu bahagia dipeluk Key, aku tak dapat menyembunyikannya dan Tante Ajengpun dapat melihatnya. Kepalaku sedikit mendongak ke arah Tante Ajeng berdiri yang menyaksikan "upacara penyambutan dari Key". Haha.


Setelah pelukanku dan Key terlepas, aku kemudian mencium punggung tangan Tante Ajeng dan memeluk beliau. Kalau diperhatikan, sepertinya Tante Ajeng hari ini tampak sangat bahagia, lebih bahagia dari biasanya. Entahlah karena apa.


"Tante ayo masuk. Ayo !" Ajak Key yang kelihatan sudah tak sabar seperti ingin menunjukkan sesuatu. Dia menarikku ke dalam. Tingkahnya yang seperti ini membuatnya sangat menggemaskan. Lucu sekali. Kukira dia ingin mengajakku ke kamarnya, tapi kok ke dapur. "Tante, itu lihat !"

__ADS_1


Keyla berucap kepadaku sambil menunjuk ke arah dapur dan di sana ada seseorang yang Key ingin beritahukan keberadaannya kepadaku. Khalif ?! Tante Ajeng sama sekali tidak memberitahukan kalau Khalif juga ada di sini. Tadinya aku berpikir kenapa dia tidak pergi bekerja, sampai aku baru ingat kalau ini akhir pekan dan kantor libur.


Tante Ajeng memegang tanganku dan sedikit berbisik. "Makasih sayang, berkat kamu Khalif lebih sering pulang ke rumah."


Aku tersenyum untuk Tante Ajeng, sebenarnya aku juga tidak mengerti apa yang telah kulakukan sampai membuat Khalif sering pulang ke rumah layaknya yang dikatakan Mamanya. Kalau kataku, mungkin itu karena Papanya sedang berada di luar kota, makanya dia mau pulang. Di sana Khalif tampak sedang membuat sesuatu.


"Khalif lagi buat Pancake. Soalnya Key sangat suka sama Pancake buatan dia." Aku mengangguk.


"Ayo Tante kita ke sana !" Key kembali menarik tanganku untuk ke dapur menemui pamannya itu. Namun sebelumnya aku menaruh tasku dulu ke sofa yang letaknya tak jauh dari kami berdiri.


Khalif menatap ke arah kami ketika kami menghampirinya yang tengah membuat Pancake. Ini pertama kalinya aku melihat Khalif yang biasanya kulihat dia berkutat dengan berkas-berkas di kantor, tapi sekarang aku melihatnya berkutat di dapur untuk membuatkan sesuatu yang spesial untuk keponakannya.


Tidak tahu bekas kesambet jin atau makhluk halus apa dia sampai tersenyum seperti itu kepadaku juga, seperti pada saat ia memberikan senyum termanisnya untuk Keyla. Ya ampun, kenapa aku jadi serba salah begini ya rasanya. Aku masih ingat bagaimana kemarin dia memperlakukanku dengan kasar dengan menarik tanganku dengan paksa. Terlebih ketika kata-kata itu mulai terngiang-ngiang lagi, kata-kata bahwa dia mengatakan kalau aku adalah miliknya.


Pria menyebalkan itu lalu menghentikan aktivitasnya dan menghampiri tempatku dan Key berdiri. Khalif kemudian mengangkat Key dan membiarkan gadis kecil itu duduk di kursi di depan meja dengan gaya bar itu untuk menunggu.


Oh Tuhan ! Sumpah, Khalif kesambet apa pakai acara membantuku segala untuk memakainya, dia bahkan sekarang tidak perlu berpura-pura karena tidak ada Tante Ajeng atau siapapun selain Key. Tentu saja aku terkejut dengan tindakannya yang spontan ini. Jika saja dia adalah pria yang kucintai, pasti ini merupakan momen romantis. Tapi, itu hanya "jika".


"Ah, kayaknya Pancake-nya kurang." Kata Khalif setelah ia melihat sisa adonan. "Tadi aku nggak tahu kalau kamu bakal kemari, jadi aku hanya membuat untuk Key."


"Nggak usah. Nggak apa-apa kok." Astaga, kenapa juga dia mengatakan hal itu. Itu tidak seperti Khalif yang biasanya. Tapi walau sudah kuberitahu untuk tidak usah membuatkan, eh dia malah mengambil bahan-bahannya lagi. "Ya sudah, kali ini biar aku yang buat adonan Pancake-nya." Tawarku padanya dan ia setuju.


Aku membantunya untuk membuat adonan Pancake, sesekali kutanya apakah adonannya sudah seperti yang tadi ia buat. Takutnya aku salah dan membuat adonannya jadi rusak. Aku tidak jago membuat Pancake sebetulnya, hanya saja aku pernah membuatnya satu atau dua kali karena aku lebih sering membelinya.

__ADS_1


Kurasa pria itu kadar menyebalkannya sudah berkurang satu senti, dia ternyata orang yang cukup seru diajak mengobrol. Sepanjang kami bicara selagi membuat Pancake itu, dia juga bercanda. Aku bahkan tertawa oleh candaannya. Sama sekali tidak menyangka. Kami juga mengobrol banyak mengenai bagaimana kuliahku dan juga kuliahnya ketika di luar negeri.


Dia juga menjailiku dengan mencolek pipiku menggunakan tangannya yang penuh dengan tepung. Alhasil, jadilah pipiku penuh tepung. Key tertawa melihat wajahku yang seperti itu, tak terima dengan tindakan Khalif, kubalas dia dengan melakukan hal yang sama terhadapnya. Tawa Key semakin pecah ketika wajah pamannya itu juga penuh dengan tepung dan sepertinya Key lebih suka dengan wajah Khalif yang seperti itu.


Tidak lama, Pancake pun siap. Key sudah tidak sabar untuk memakan Pancake kesukaannya itu. Tante Ajeng dia baru saja pergi ke restoran. Jadi hanya ada aku, Key, dan Khalif. Kata Khalif, Key sangat suka Pancake dan bisa memakannya dalam jumlah banyak. Aku sampai heran, tapi itu memang benar.


"Tante suapin Key, ya ?!" Pinta gadis kecil itu, tentu saja aku setuju. Memang aku dan Key sudah begitu dekat, dia bahkan tidak sungkan memintaku membuatkan makanan ketika di sini dan meminta untuk disuapi. "Enak 'kan ?"


Aku bertanya kepada Key, tapi malah Khalif yang menyamber untuk menjawab yang baru saja datang dari dapur. "Enaklah, pasti !"


Aku mencicipi Pancake yang katanya enak itu dan benar saja. Pancake dengan sirup blueberry buatan Khalif memang seenak itu. Pantas saja Key sangat menyukainya. Aku hanya tidak menyangka jika pria sekaku Khalif bisa begitu lihai untuk urusan di dapur. Mungkin dia sudah terbiasa karena dia bertahun-tahun tinggal di luar negeri.


"Key memangnya sering minta dibuatin ?" Aku bertanya sama Khalif. Dia kini juga mengambil Pancake untuk dimakan. "Iya, sering. Dan dia selalu minta dibuatin sama sirup blueberry kayak begini. Ini sekaligus bakal jadi makan siangnya juga."


"Serius kamu bisa makan Pancake banyak sayang ?" Kutanya Key yang tengah mengunyah. Dia hanya mengangguk beberapa kali. Setelah Pancake itu ia telan, barulah Key bisa bicara. "Om kenapa Pancake-nya belum dimakan-makan ? Atau Om juga mau disuapin sama Tante Al kayak Key, ya ?"


Ya Tuhan ! Darimana gadis kecil ini belajar bicara seperti ini. Kenapa dia mengatakan kalau Khalif juga mau disuapin. "Emangnya Om boleh disuapin ?"


Sekarang apa lagi coba yang dikatakan Khalif. Dia hari ini terlalu aneh. Bahkan jika dia berpura-pura manis, itu sungguh tidak ada gunanya, toh tidak ada siapa-siapa selain Key. Atau jangan-jangan dia sedang mabuk ? Kenapa dia bersikap seperti ini ? Stop Khal !!! Stop !!! Lama-lama aku bisa terkena serangan jantung, soalnya dari tadi jantungku sepertinya bermasalah karena terus-menerus berdetak dengan sangat kencang.


"Boleh, kalau Tante Al mau." Jawab Key dengan kepolosannya. Parahnya lagi, kenapa juga aku sampai mau menyuapi Khalif yang duduk di hadapanku ?! Khalif justru tersenyum geli setelah berhasil membuatku mau menuruti kehendaknya. Kurasa pendapatku benar kalau mungkin hari ini pada pria itu sudah terjadi sesuatu. Entah itu kepalanya yang sudah terbentur sangat keras atau karena dia salah minum obat.


Oh ya, aku tidak tahu mengapa ketika bercanda dengan Khalif hari ini, perasaanku yang tadinya sempat tidak enak mengingat kejadian kemarin ketika pria itu bertengkar dengan Dennis dan sikap Khalif yang memperlakukanku dengan kasar lama-kelamaan menghilang. Aku bahkan tertawa dengan candaan Khalif. Ini pertama kalinya aku merasa sebahagia ini sewaktu bersama seorang Khalif Adhitama yang biasanya sangat menyebalkan.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next ?


__ADS_2