Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Pelangi di Sore Hari


__ADS_3

Petualanganku dimulai. Hehe, perjalanan singkat maksudnya. Aku menyusuri jalanan kota yang ramai. Udaranya cukup segar jika dibandingkan dengan Indonesia yang terkenal macet dan polusi. Jadi ya aku bisa menikmati perjalanan ini.


Hari ini aku ingin ke Merlion Park, tempat wajib yang dikunjungi selama disini. Merlion Park adalah tempat dimana Patung Singa yang menjadi ikon negara ini. Kemudian pergi ke Gardens By The Bay, disana aku ingin menaiki Supertree Groove. Belanja di Orchard Road. Lalu berakhir di kawasan Clarke Quay untuk melihat senja yang memukau.


Aku turun dari taksi sekitar lima belas menit perjalanan dari rumah. Lalu sekitar lima menit berjalan, aku menemukan kedai es krim yang sering aku kunjungi jika bertandang kemari. Aku sangat suka es krim sama seperti Papa, dan Mama yang selalu mengomel. Dulu waktu aku kecil, aku mau makan es krim terus tapi melarang karena takutnya aku sakit perut, katanya.


Tapi, Papa selalu membelaku dan pernah membelikan es krim secara diam-diam agar aku berhenti merengek. Aku kadang tersenyum sendiri jika mengingat hal itu. Papa memang sangatw pengertian.


Sembari mengingat-ingat kenangan yang semanis es krim itu, pesananku akhirnya datang. Pagi-pagi sudah makan es krim, bagaimana reaksi Mama jika melihat ini ya?? Hehe, maafkan anakmu Mama.


Ah, rasa enak es krim ini seolah membius, aku semakin bersemangat. Es krimnya juga cukup banyak.


Aku memeriksa kembali layar ponsel, berharap ada pesan yang masuk dan dari itu dari Khalif. Tapi nyatanya tak ada satu pun. Kembali ku masukkan ponsel menyedihkan itu ke dalam tas. Ya, aku hanya akan menikmati jalan-jalanku hari ini tanpa memikirkan yang membuat hatiku tak enak.


Berita bahagianya adalah aku mendapat es krim gratis hari ini karena kata pelayan disana hari ini adalah hari jadi kedai itu berdiri. Setelah selesai melahap es krim terenak menurutku di Singapura ini, aku berencana melanjutkan jalan-jalanku. Karena semangatnya aku tadi membuatku menabrak seseorang di dekat pintu masuk.


"Sorry, Sir."


Dia hanya mengangguk ketika aku meminta maaf padanya. Perawakannya tinggi, mengenakan jaket kulit cokelat, dan memakai kacamata hitam. Aku kemudian pergi, untunglah dia tidak marah karena ulahku tadi.


Aku pergi ke Merlion Park dan cukup lama disana. Biarpun sendirian saja, tapi aku tetap menikmatinya. Aku benar-benar bebas. Aku mengabadikan momen ini dalam kamera DSLR yang ku bawa dari Indonesia. Aku juga sempat meminta pengunjung disana untuk memotoku bersama Patung Singa yang menjadi ciri khas negara ini.


Tapi ada satu hal yang sedikit mengganjal. Aku merasa seperti sedang diawasi, entah oleh siapa. Meski disini begitu ramai, aku merasa jika ada seseorang yang sedari tadi mengawasiku dari kejauhan. Aku menyadarinya sejak aku tiba disini. Mungkin hanya perasaanku saja karena ini kali pertamu bepergian sendirian, semoga saja.


Sudahlah, mari lupakan saja. Hari masih cukup panjang, perjalananku belum usai. Langkah selanjutnya membawaku ke Gardens By The Bay. Aku tidak sabar naik ke Supertree Groove yang mana disana kita bisa melihat pemandangan di Singapura dari ketinggian pohon raksasa. Aku kembali memotret. Pemandangan yang luar biasa. Benar-benar menakjubkan.


Ketika semuanya terasa menyenangkan, waktu jadi terasa lebih cepat berlalu. Sebentar lagi waktu makan siang tiba. Aku melanjutkan perjalananku ke Orchard Road. Dimana disana di sepanjang jalan berjejer toko dan restauran. Ini merupakan pusat area perbelanjaan.


Sudah ku putuskan, siang ini aku ingin makan di restauran halal makanan Jepang. Aku memesan ramen dan tempura kesukaanku. Tempat ini benar-benar ramai. Ramen yang aku nantikan akhirnya tiba, sepertinya sangat lezat. Benar-benar tidak sabar aku mencicipinya. Benar sekali, rasanya sungguh luar biasa. Pantas saja pengunjungnya banyak.


Tapi tunggu, saat aku menatap sekitar aku tidak sengaja berkontak mata dengan salah satu pengunjung. Seorang pria dengan pakaian casual dengan memakai topi hitam, berwajah indo. Disini juga memang banyak bule yang menetap, namun bukan itu masalahnya. Ketika aku menatapnya, dia terburu-buru membuang muka seperti seseorang yang sedang tertangkap basah. Apa dia tadi memperhatikanku?


Apa dia yang dari tadi mengikuti? Tapi aku rasa aku baru melihatnya disini, seingatku aku tidak melihatnya sebelumnya. Pikiranku melayang kemana-mana jadinya. Tempat ini terlalu ramai untuk menculik seseorang bukan? Ah, benar, aku harus berada di keramaian terus. Aku bukannya menuduh orang itu, hanya saja aku harus waspada.


Setelah dari sini, aku harus tetap di keramaian, sepanjang hari. Aku memberanikan diri untuk kembali menatap ke tempat orang tadi berada, namun tampaknya dia sudah selesai makan lalu pergi dari restauran tanpa melihat ke arahku lagi. Ah, aku mungkin terlalu berlebihan.


Selesai makan aku pergi ke toko jam tangan. Masih di kawasan Orchard Road. Ada satu jam tangan yang menarik perhatianku. Tampilannya juga sangat elegan. Tanpa pikir panjang aku langsung membelinya. Selanjutnya aku pergi ke toko sepatu. Disini benar-benar surga belanja. Sepatu disini benar-benar membuatku galau, rasanya ingin ku bawa semuanya yang ada di toko itu pulang bersamaku. Benar-benar pilihan yang sulit memilih sepatu yang akan ku beli, semuanya bagus-bagus.


Tempat selanjutnya, toko tas. Kali ini bahkan lebih membingungkan. Ditambah aku memiliki dua pesanan tas dari dua wanita di Indonesia. Mama dan Nadira. Mereka begitu kompak meminta oleh-oleh tas dan dari toko yang tak ku sebutkan namanya ini. Tapi, selera mereka memang bagus dan berkelas.



Perasaan itu muncul lagi. Setelah keluar dari mall aku kembali merasa diikuti seseorang. Sesekali aku menengok ke belakang. Tapi masih sama, banyak sekali orang disini untuk dicurigai. Sebelumnya aku mencurigai seseorang di restauran saat makan siang, yang bahkan orang itu pergi dan sampai sekarang tidak mengikuti. Mungkin ini hanya perasaanku saja, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.


Tapi, perasaanku benar-benar kuat mengatakan kalau memang ada yang mengikuti dan mengawasi gerak-gerikku. Pandanganku tertuju kepada seorang pria tinggi yang memakai jaket hitam, topi hitam dan kacamata hitam. Menurutku pakaiannya sedikit aneh, tapi beberapa saat kemudian ketika aku menatap sekitar semuanya buyar. Tidak hanya dia yang memakai pakaian sejenis itu, beberapa orang disini bahkan memiliki gaya berpakaian yang sama, lengkap kacamata dan topi hitam itu. Huh, lagi-lagi kecurigaanku tak terbukti. Benar-benar tak mendasar.


Ah, sudahlah. Lupakan itu. Aku kembali berujar pada diri sendiri. Di perjalanan aku bertemu seorang anak kecil laki-laki yang kira-kira seumuran dengan Key, dia tiba-tiba saja menghampiriku. Dia menyerahkan setangkai mawar putih tanpa mengatakan apapun dan langsung berlari sebelum aku menanyakan sesuatu. Aneh sekali. Apa hari ini hari kasih sayang? Tidak, hari itu sudah lewat. Baiklah, ku simpan saja. Semoga ini pertanda hari-hariku akan semakin indah disini.


Baru beberapa langkah lagi aku kembali dihampiri seseorang, kali ini bukan anak kecil. Dia seorang gadis remaja. Dia juga memberiku setangkai mawar putih seperti anak kecil tadi. Kali ini aku rasa ini bukan tanpa alasan mereka memberikan ini. Pasti ada seseorang di balik semua ini. Tapi siapa? Khalif? Huh, aku justru mengharapkan sesuatu yang tak mungkin.


"Who gave this?" Tanyaku pada gadis manis itu. Namun, lagi-lagi orang itu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku. Aku sedikit kesusahan membawa barang belajaanku bersama bunga mawar ini yang entah dari siapa.


"From me, My Girl !" Kata seseorang yang berasal dari belakang. "Itu permintaan maafku yang kemarin malam memutuskan telepon begitu saja."


"Khalif?" Aku tercengang. "Kenapa kamu ada disini? Sejak kapan?"


Dia benar-benar di hadapanku dengan membawa sebuket mawar putih kesukaanku. Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia sudah cukup baik untuk menyusulku kemari?

__ADS_1


"Aku berangkat tadi pagi. Tapi aku sudah mengawasimu sejak kamu keluar dari rumah."


Aku lebih kaget lagi mendengar pernyataan itu. "What?? Bagaimana bisa?"


Dia tersenyum jail dan mencubit pipiku. "Jelas bisa. Kamu lupa kalau Papamu punya anak buah disini? Aku meminta mereka bekerja hari ini untukku. Aku ingin mereka menjaga kamu seharian ini sebelum aku sampai."


Aku memutar otak mengingat apa yang ku khawatirkan sepanjang hari. Jadi aku sungguh sedang diawasi seharian ini? Ah, menyebalkan. Pantas saja aku merasa tidak bisa bebas seperti yang ku harapkan. Aku memberikan tatapan tajam, kemudian ketika dia menyerahkan sebuket mawar putih itu padaku, aku justru menyerahkan barang belajaanku kepadanya.


Dia mengambilnya sambil tersenyum. "Tujuan selanjutnya, Clarke Quay."


Dia berjalan meninggalkanku yang masih bertanya-tanya, bagaimana bisa dia mengetahui tujuanku? Aku bahkan tidak mengatakannya pada siapapun akan kesana. Dia berbalik saat menyadari aku masih terdiam.


"Alyssa, ayo !" Panggilnya.


Aku mengikuti kakinya melangkah. Seperti biasanya jantungku berdegup kencang tiap kali diperlakukan semanis ini olehnya. Lama-lama aku berhenti memikirkan bagaimana dia bisa datang kemari dalam kondisinya yang seperti ini. Aku hanya menikmati momen ini tiap detiknya. Bunganya juga sangat indah.


Dia mengajakku pergi Clarke Quay. Aku bahkan terkejut karena dia telah memesan tempat untuk kami berdua. Entah dari mana dia mengetahui tempat ini yang akan ku kunjungi hari ini, yang jelas aku tak pernah menduganya. Dia memesan tempat bagus untuk menyaksikan matahari terbenam sekaligus untuk makan malam walau ini terlalu awal.


"Kenapa melamun? Duduklah." Ucapnya yang mempersilakanku duduk ketika aku melamun dan dia menahan kursi untukku.


Aku tak menjawab dan langsung duduk seperti perintahnya.


"Kenapa kamu hanya diam?" Tanyanya. Aku menggeleng.


"Tidak apa-apa. Hanya saja kenapa kamu tiba-tiba muncul disini?" Dia pasti bisa melihat raut di wajahku yang bertanya-tanya ini sejak tadi.


Dia tersenyum. Lagi dan lagi. Dia sedikit memajukan tubuhnya ke arahku untuk memecah sedikit jarak yang terhalang oleh meja diantara kami. "Karena kamu ada disini."


Jantungku kian berkecamuk. Aku menunduk. Tidak ! Dia terus saja membuatku berharap untuk sesuatu yang mustahil.


"Alyssa, beri aku waktu lima menit tanpa jeda."


Dia menyela perkataanku dan membuatku semakin penasaran apa yang ingin dia katakan. Wajahnya berubah serius, senyuman itu juga memudar. Aku mengangguk pertanda mengizinkannya mulai bicara.


Dia menunjukkan kotak kecil putih dan isinya adalah sebuah cincin. Itu cincin yang harusnya dia pasangkan ke jari manisku ketika hari pertunangan.


"Maukah kamu menikah denganku?"


Air mataku jatuh sendirinya. Bahkan hampir saja aku tak menyadari seandainya Khalif tak menghapusnya.


"Kali ini kita bertemu disini bukan karena dipertemukan seperti enam bulan lalu, tapi karena kini aku yang mengejarmu. Kamu hanya perlu katakan 'ya' atau 'tidak' dan kamu hanya perlu memikirkannya dalam waktu kurang lebih tiga menit lagi. Kau ingat akan memenuhi keinginanku jika aku sudah sembuh? Aku ingin menggunakannya sekarang, terlepas kau setuju atau tidak." Ucapnya sambil melirik ke angka yang terus berjalan di arlojinya.


"Tiga menit yang akan menentukan hubungan kita akan terus berlanjut ataukah harus berakhir saat ini juga. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun sekarang, karena kekhawatiran kamu itu tidak mendasar. Kamu hanya perlu menyingkirkannya dan tanyakan pada hatimu sendiri. Sekarang jawablah !"


"Sekarang, Al !" Pintanya sekali lagi ketika aku masih belum memberikan tanggapan. Tangannya erat sekali menggenggam tanganku.


"Aku sudah membuat semuanya malu dan menyakiti banyak orang terutama kamu. Sekarang aku tidak ingin menjadi egois jika aku hanya memikirkan perasaanku."


"Jawablah, Al ! Ya atau tidak?"


Itu terdengar seperti perintah.


"Bagaimana jika aku menyakitimu lagi atau justru kita berdua yang akan terluka suatu hari nanti?"


"Ya atau tidak?!" Dia memaksa. Dia sungguh tak peduli dengan argumenku. Aku menghela napas berat dan menghembuskannya.


"Baiklah. Ya, kita menikah saja. Tapi bukan semata ingin menepati janjiku."

__ADS_1


Ketegangan kami beberapa menit lalu akhirnya pecah. Dia mencium tanganku yang dari tadi erat ia genggam. Dia kemudian melepas genggaman itu dan memasangkan cincin itu di jari manisku.


"Akhirnya aku berhasil menyematkannya." Katanya. Khalif kemudian menatap langit senja, aku mengikutinya. "Senja, kenapa kamu menyukainya?"


"Karena orang kadang berpikir kalau itu tanda berakhirnya hari, tapi aku menganggap itu merupakan sebuah awal. Awal untuk memulai semuanya, meski gelap yang menjemput. Tapi, hanya gelap yang mampu mempertemukan kita dengan bintang-bintang yang berkelip indah."


Mata kita bertabrakan. Matanya yang tak pernah bosan untuk ku tatap. Begitu indah.


"Berarti aku sudah memilih waktu yang tepat. Aku hanya ingin bersamamu sampai akhir waktuku. Aku akan menyimpanmu di sisiku selamanya.


Aku terkekeh.


"Lalu kenapa kamu menerimaku? Padahal kamu tadi mengatakan kata-kata yang ku pikir kamu akan menolakku." Tanyanya lagi.


"Itu karena kamu mengatakan aku harus bertanya pada hatiku. Meski aku takut menjadi egois, meski takut akan kembali menyakitimu, kekhawatiran itu jika dibandingkan rindu dan cintaku untukmu, aku lebih mencintaimu. Khalif Adhitama."


"Kamu sangat puitis. Siapa yang mengajarimu?" Dia justru meledek.


"Kamu mengajari, kamu selalu saja berkata manis, bagaimana mungkin aku tidak tertular. Kamu tidak suka?"


"Suka, tapi jangan melakukan itu ke orang lain." Kami tertawa. "Oh ya, aku hampir lupa. Aku harus menghubungi seseorang."


Selagi dia menelepon seseorang, aku hanya menyesap Orange Juice yang tadi ku pesan.


"Assalamu'alaikum, Mama."


Ternyata dia melakukan panggilan video dengan Tante Ajeng, Mamanya. Tapi bukan hanya itu, disana juga ada Om Farhan, Kak Yashinta dan Mas Irfan, serta si kecil menggemaskan Key. Aku rindu mereka, rindu sekali.


"Aku berhasil." Khalif terlihat sangat bahagia dan memamerkan jari manisku yang berhiaskan cincin lamaran darinya. "Khalif akan membawanya pulang."


Aku sedikit malu dibuatnya, tapi juga terharu. Ternyata dia kemari bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya yang mereka juga sama sangat merindukanku.


Semuanya meminta aku untuk cepat kembali ke Indonesia untuk merayakan semua ini, begitu pun Key yang merengek dan mengancam akan menyusul kemari jika sampai aku terlalu lama disini.


"Iya, Key, Tante Al bakal pulang cepat. Tante juga rindu sama Key, sama kalian semua yang disana. Sabar, ya." Kataku yang menatap orang-orang tersayang itu di layar ponsel Khalif.


Kini Khalif mengambil alih obrolan. "Mama, Papa, Khalif minta tolong secepatnya persiapkan acara pernikahan kita. Aku tidak ingin dia sampai kabur dan menetap disini."


Aduh, kenapa dia mengatakan hal konyol itu. Aku tambah malu. Pipiku pasti bersemu merah. Aku memberikan tatapan mengancam, dia hanya tersenyum geli.


"Baiklah, kami akan menyiapkannya sesegera mungkin. Kalian cepatlah pulang."


Setelah sambungan itu terputus. Kami melanjutkan kencan romantis ini, yang tak terbayang sebelumnya.


"Al, aku mencintaimu." Katanya dengan lembut.


"Mau berapa kali lagi kamu mau mengucapkannya? Kamu tahu pasti jawabanku, aku juga mencintaimu. Sangat."


"Aku bersyukur karena hari itu kita bertemu. Bukan, bukan kita, tapi kamu dan Mama. Mama memang sangat menyayangiku sampai dia mencarikanku perempuan seperti kamu."


Kami makan di restauran, lalu menyaksikan matahari terbenam yang sangat indah. Bahkan ada pelangi akibat tadi sempat hujan singkat, meski warnanya tak terlalu nampak namun tetaplah indah. Benar-benar waktu dan suasana yang romantis. Bagiku. Baginya yang ku cintai. Genggaman ini seakan tak ingin kami lepaskan barang sedetik pun, entah karena kami begitu merindukan satu sama lain atau sedang menebus hari-hari menyedihkan itu, atau bahkan keduanya. Ya, aku yakin itu. Hari ini dan seterusnya aku hanya ingin terus bersamanya.


~ Selesai ~


Terima kasih kepada kalian yang sudah berkenan menyempatkan waktu membaca karyaku ini.


Salam manis, Bie.

__ADS_1


__ADS_2