
Obrolan kami sudah sepanjang itu di pagi ini. Kukatakan sebelumnya kalau aku mendapati hatiku yang sudah merasa nyaman dan tidak ingin lepas darinya lama-lama. Tapi antara perasaan ini dan itu, antara cinta atau tidak, itulah yang orang sebut dengan keragu-raguan. Bagaimana cara mengatasinya, aku masih berusaha menemukannya.
Khalif, semakin kulihat wajahnya semakin tampan. Sebenarnya dia memang sudah tampan dari dulu, hanya saja aku dulu tidak suka dipaksa untuk melakukan perjodohan itu dengan pria yang saat itu tidak kukenal ini, jadilah setampan apapun dia waktu itu aku jadi tidak tertarik.
Sekarang, di saat aku mengatakan sikapnya hangat, wajahnya tampan, ataupun mengatakan hal-hal baik lainnya, di kala itu pula selalu ada bimbang dan seolah menghendakiku untuk melangkah dengan hati-hati. Di setiap aku bahagia hanya dengan bicara dengannya, di situ juga terselip rasa penasaranku terhadap wanita bernama Jazy yang pernah berfoto bersama Khalif.
Seberapapun besar rasa sayang itu kuakui sudah terlanjur tumbuh, tapi tetap saja aku tidak dapat menghapuskan keraguan dan kebimbangan ini dengan mudah.
“Kamu hari ini libur memangnya ? Ini bukannya sudah waktunya kamu pergi ke kantor ?”
“Aku pergi, tapi nanti. Tunggu Nadira dulu, aku mau pastiin kamu tidak akan sendirian.”
“Memangnya kenapa kalau aku sendirian ?”
“Yaaa, terpaksa aku harus jagain kamu lagi.”
Dengan mendengar ucapannya, aku tertarik untuk menggodanya. “Oh, jadi terpaksa nih ceritanya ?”
Dia tersenyum. Manis sekali. “Bukan begitu juga.”
“Iya, iya, aku paham.” Ingatanku tiba-tiba kembali ke hari itu. Hari di mana aku pingsan di tengah perdebatan dua orang pria. “Ya ampun Khal ! Kemarin itu aku bukankah ada janji bertemu dengan Papamu ?? Bagaimana ini, apa katanya kalau aku tidak datang kemarin ?!!”
Aku begitu panik ketika teringat hal itu. Bagaimana jika Om Farhan curiga kenapa aku tidak jadi datang menemuinya dan dia mengetahui kalau aku tidak ke sana lantaran aku pingsan. Namun, di tengah kepanikan itu aku kesal karena Khalif terlihat tenang sekali.
“Tenanglah. Aku sudah membereskannya.” Ucapnya padaku. Bingung. Aku mengernyitkan dahi. “Setelah membawamu ke Rumah Sakit ini, aku langsung menghubungi Papa dan mengatakan kalau kamu tidak bisa menemuinya karena harus pergi ke suatu tempat. Papa sepertinya terkejut ketika aku menghubunginya kemarin, ini pertama kalinya lagi menghubunginya setelah perselisihan yang terjadi di antara kami. Kamu tenang saja, dia tidak akan tahu kalau kamu pingsan kemarin dan berakhir di sini.”
“Dennis ?! Bagaimana jika dia melaporkan kejadian kemarin kepada Papamu ?” Masuk akal bukan jika aku terpikir ke arah sana. Bukannya aku berburuk sangka kepada Dennis, dia mungkin bisa menyembunyikan pertengkarannya kemarin dengan Khalif. Tapi jika kata-kata yang keluar dari mulutnya walau tanpa sengaja yang mengatakan kalau aku pingsan kemarin, bagaimana ?
“Dia tidak akan berani mengatakan hal itu.” Jawab Khalif begitu yakin.
“Kenapa kamu sangat yakin dia tidak akan mengatakannya ?” Sebenarnya aku sangat penasaran tentang sesuatu di balik pertengkaran Khalif dengan Dennis.
“Karena… dia bukan orang seperti itu.” Entah mengapa aku merasa itu terdengar berbeda dari sebelumnya. Mengingat Khalif begitu membenci Dennis. Saat ini aku rasa kalimat itu seolah Khalif begitu mengenal sosok Dennis, namun ia tidak mengerti mengapa waktu memberikannya kesempatan untuk membenci pria itu. Ingin sekali rasanya aku menanyakan penyebab pertengkaran mereka berdua. Tapi, kuurungkan.
Aku masih di tempat semula. Tengah berbaring sambil berbicara dengan Khalif dan otakku sedang berkata-kata pada embun pagi yang tidak peduli. Sesaat kuakui aku lupa dengan perasaan sebelumnya yang pernah kusematkan pada seorang Khalif Adhitama ini. Aku lupa bagaimana dulu begitu tidak menyukainya.
Lalu aku teringat pada kata-kata entah dari siapa, “Jangan terlalu mencintai dan jangan terlalu membenci.” Kalian paham maksudnya, bukan ? Maksudnya jika kalian terlalu mencintai seseorang, jangan terlalu memujanya karena hal itu juga bisa membuatmu terluka dan menangis. Begitupun sebaliknya, rasa benci itu juga bisa menghilang secara tiba-tiba, lalu terganti dengan rasa yang lebih indah.
__ADS_1
Aku mengalihkan pembicaraan, sangat tidak lucu jika pagi-pagi suasana hatiku nanti sudah kacau ditambah sekarang aku terbaring sakit pula. Aku hanya akan membahas hal-hal yang menyenangkan saja hari ini. Di tengah serunya obrolan kami, ada ketukan pintu bersambung dengan bunyi pintu yang terbuka. Ternyata Nadira sudah kembali. Dia tersenyum melihatku yang sudah siuman. Terbukti dia langsung memelukku.
“Syukurlah kamu sudah sadar, Al.”
Aku menepuk-nepuk tanganku di bahunya. Dia lama sekali memelukku dan erat pula.
“Ih, kenapa sih Al ?”
“Sesak kali Dir. Kamu meluknya erat banget.”
“Ah, masa ? Ya sudah kalau begitu, maaf. Sekarang bagaimana keadaan kamu ? Apa yang sakit ? Kepala kamu sakit ? Atau napas kamu sesak ? Jawab kali, Al !”
Terdengar dari pertanyaan-pertanyaannya, dia pasti begitu khawatir. Aku tidak kesal sama sekali jika dia bersikap demikian padaku. Karena itu artinya dia menyayangiku. Senang rasanya dimiliki olehnya.
“Aku pusing.”
“Hah kamu pusing ? Aku panggilin dokter, ya ?”
Aku segera menahan tangan Nadira. Sempat aku melirik ke tempat Khalif, dia hanya tersenyum melihat tingkah kami berdua. “Ih, pusingnya itu karena dengar semua pertanyaan kamu itu, Dira.”
“Ya ampun, aku kirain apa. Maaf ya sekali lagi. Itu karena aku khawatir.”
“Kamu senang sekali sepertinya melihatku yang akan pergi ?”
“Bukan begitu. Kamu ‘kan harus ke kantor hari ini. Aku tahu sekarang kamu lagi sibuk-sibuknya kerja.”
“Baiklah. Aku paham. Kalau begitu aku pergi. Cepatlah sembuh, nanti aku balik lagi kemari. Istirahat yang banyak dan jangan lupa makan.”
Ya Allah, jantungku berdebar kembali mendengar ia mengatakan hal semanis itu. Apalagi dia mengatakan itu sambil dia mengelus keningku dengan lembut. Selain Papaku, ini pertama kalinya ada pria yang bersikap sebegitu perhatiannya dengan sakitku. Jangan salahkan aku jika aku mulai “baper” karena ulahnya.
“Ciee…” Kata Nadira yang menggoda kami berdua. Inginnya aku tidak peduli dengan kata “cie” yang penuh makna itu, namun tetap saja aku tersipu. Ah, ada apa denganku ini, aku harusnya bisa menyembunyikan perasaanku yang mulai luluh ini untuk Khalif. Apalagi Khalif juga menatapku.
“Iya, aku akan istirahat dan makan. Kamu juga, jangan sampai lupa sarapan.” Khalif mengangguk.
“Sampai nanti, Al. Nadira, aku titip Alyssa sama kamu.” Meleleh rasanya mendengar kalimat itu keluar dari mulut seorang Khalif Adhitama yang dulu sikapnya sangat berbeda.
Setelah Khalif benar-benar meninggalkan ruang rawatku. Nadira seperti sudah mencium ada sesuatu yang mencurigakan dariku.
__ADS_1
“Al, jujur sama aku, apa yang sudah terjadi di antara kalian berdua ? Kamu berbeda sekali hari ini, kalian seperti orang yang sedang berkencan sekarang.”
“Hei, yang benar saja ? Aku tidak sedang berkencan dengannya !”
“Siapa yang mengatakan kalau kamu dengan dia sedang berkencan, aku hanya bilang kalian ‘seperti orang yang sedang berkencan’.”
“Apa bedanya itu ? Kamu jangan meledekku dengan hal seperti itu.”
Entah tahu dari mana, aku bingung kenapa Nadira selalu berhasil menebak apa yang sedang kurasakan. Maksud dari perkataannya yang mengatakan aku dan Khalif seperti orang yang sedang berkencan itu aku tahu kalau dia berniat mencari tahu apakah aku sekarang sudah mulai mencintai Khalif atau belum.
“Kamu sudah mencintainya ?”
Bingo ! Apa kubilang, dia pasti penasaran akan hal itu. Rasanya percuma untuk menyembunyikan sesuatu dari Nadira, dia selalu berhasil menguak perasaan yang berusaha kusembunyikan.
“Sebenarnya aku bingung, ini cinta ataukah bukan. Aku takut salah menafsirkan rasa nyaman kepada rasa cinta. Menurut kamu, apa masuk akal jika perasaan itu tumbuh secepat ini ? Aku benar-benar belum siap. Juga, aku belum siap menerima konsekuensi jika cintaku ini tidak berbalas nantinya dan belum lagi hatinya masih ada perempuan masa lalunya itu.”
“Kamu bicara apa, Al ? Perempuan masa lalu apa maksud kamu ? Kamu belum cerita tentang itu sama aku.”
“Maaf aku baru cerita sekarang. Baru-baru ini aku menemukan foto lama Khalif dengan gadis bernama Jazy yang saat itu mereka masih mengenakan seragam SMA. Aku rasa perempuan itu ialah mantan Khalif yang sampai hari ini masih ada di hatinya. Kamu boleh sebut aku pengecut karena ingin menyerah sekarang dengan perasaanku sendiri. Menurutku lebih baik mundur dan menyerah sekarang daripada nanti setelah semuanya sudah mulai rumit.”
Nadira sepertinya tidak setuju dengan pemikiranku ini. Raut wajahnya, aku tidak suka. Dia seperti akan memarahiku karena dia mungkin kecewa aku begini. “Kenapa kamu harus menyerah ? Benar, kamu memang akan jadi pengecut jika kamu tidak memperjuangkannya. Atau setidaknya kamu bertahan sebentar lagi.”
“Untuk apa aku bertahan ? Aku hanya akan mencintainya sendirian. Katakanlah cintanya untuk hanya sedikit tersisa, itu artinya hatinya masih menyimpan rasa untuk perempuan itu dan sama artinya pula dia tidak bisa untuk mencintai orang lain sampai cinta itu benar-benar hilang.”
“Sebenarnya yang kamu khawatirkan itu cintamu yang tak berbalas nantinya ataukah karena perempuan itu ? Kamu cemburu ?”
“Cemburu ?! Jangan bicara yang tidak-tidak. Untuk apa aku cemburu ? Aku bahkan tidak yakin aku sudah mencintainya atau belum.”
“Bukankah kamu tidak suka mendapati kenyataan kalau Khalif masih memikirkan mantan kekasihnya ? Itu artinya kamu sedang cemburu.”
“Aku tidak cemburu !”
Kesal sekali aku mendengar Nadira terus saja mengatakan kalau aku cemburu. Dia mengatakan itu seolah dia tahu betul bagaimana perasaanku. Tapi, memang benar kalau dia tahu bagaimana perasaanku, tapi aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri.
“Lalu apa ?” Pertanyaannya membuatmu bingung untuk menjawab apa.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
__ADS_1
Next?