
Hari itu setelah pulang dari Rumah Sakit, aku benar-benar tidak bertemu dengan Khalif lagi. Ditambah aku baru mengaktifkan ponselku hari ini. Kemarin aku sungguh masih sangat kesal. Sekarang aku sudah agak mendingan, tapi aku tidak tahu jika hari ini aku bertemu dengannya. Aku tidak tahu apa lagi yang akan terjadi.
Pagi ini setelah aku mengaktifkan ponsel, aku mendapat banyak sekali pesan dan panggilan masuk dari Khalif kemarin. Ada beberapa pesan dan panggilan telepon tak terjawab juga dari kedua orang tuaku dan Tante Ajeng. Karena tidak ingin membuat orang tuaku merasa cemas, aku terpaksa berbohong dengan mengatakan kalau ponselku mati dan aku lupa mengisi dayanya, terus aku ketiduran. Aku juga memberikan alasan itu untuk Tante Ajeng. Tentunya aku meminta maaf sudah membuat mereka khawatir.
Oke, kembali membahas tentang pesan yang dikirimkan Khalif. Ada begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk. Tapi inti dari pesannya adalah dia yang meminta maaf. Kenapa harus menunggu aku marah dulu baru dia sadar dengan sikapnya yang sudah keterlaluan padaku.
Karena merasa semuanya harus diluruskan segera seperti kuinginkan dari kemarin, akhirnya aku bersedia untuk diajaknya makan siang di restoran yang ia pilih. Aku ingin melihat semenyesal apa wajahnya seperti yang terus ia katakan agar aku mau bertemu. Aku hanya berharap masalah yang terlihat kecil namun memusingkan ini bisa selesai.
Siangnya seperti tadi sudah kukatakan, aku akan pergi makan siang bersama Khalif atau lebih tepatnya disebut pertemuan untuk meluruskan kesalahpahaman kami. Awas saja jika ia hari ini akan melakukan hal yang tak kusukai lagi. Dia tidak tahu kalau aku juga memiliki urusan yang harus ku selesaikan dan hidupku tidak hanya terkait tentang dia.
Dia sudah mengirimkan alamat restoran dan sekarang tinggal aku meluncur ke sana sebelum jam makan siangnya berakhir. Bisa saja dia nanti akan mengomel jika sampai aku terlambat datang.
Aku sampai di tempat itu dengan begitu banyak keraguan, akankah aku harus masuk ke dalam sana atau pulang saja. Restoran itu adalah restoran yang khusus menyajikan hidangan laut. Tapi, aku harus ke sana karena Khalif sudah menunggu di dalam. Aku mempunyai alergi parah terhadap makanan laut. Dan bahaya besarnya sekarang sudah berada tepat di hadapanku. Kepiting saus tiram.
“Pemilik restoran ini adalah teman lamaku dan aku membuat ini dibantu juru masaknya, khusus untuk kamu. Aku harap kamu suka.” Kata Khalif menyodorkan kepiting yang tampak menggiurkan namun berakibat fatal untuk kesehatanku.
“Kamu membuat ini ?” Tanyaku lagi seperti orang yang tak percaya. Aku memang tidak percaya kalau dia mau turun ke dapur. Tapi, dia tidak mungkin berbohong sebab dia bukan orang yang suka berbohong untuk hal-hal kecil.
“Iya, sudah kukatakan tadi. Makanlah. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf dariku.” Dia menyuruhku memakan makanan yang tak seharusnya masuk ke dalam perutku. Dia bahkan sudah mengupaskan cangkang dari kepiting itu untukku. Aku jadi tidak tega untuk menolaknya yang sudah sangat bersungguh-sungguh.
Bodoh ! Kenapa aku mau memakannya ?!! Aku berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padaku. Alergiku tidak main-main. Tapi apa mau dikata, makanan itu sudah tertelan olehku. Dia bertanya apa aku suka dan aku hanya tersenyum membalas pertanyaannya tersebut. Anehnya aku, kenapa aku harus berusaha menjaga perasaannya segala.
“Syukurlah kalau kamu suka. Kemarin, seharusnya aku tidak boleh bersikap begitu. Maaf karena kamu jadi begitu terganggu. Aku kesal karena kupikir kamu sengaja membatalkan janji itu. Jugaaku sudah tahu siapa pria itu. Nadira sudah menjelaskannya kemarin.”
Rasanya juga senang dengan hanya melihatnya senang dan tersenyum sehangat itu. Aneh bukan ? Ya, mungkin karena aku sudah menganggapnya sebagai teman sekarang. Dengan pribadinya yang seperti ini aku merasa nyaman dan keadaan itu kuakui membuatku sejenak lupa dengan perkenalan kami karena perjodohan bodoh itu.
“Al, setelah ini kamu ada acara tidak ? Tadi sebelum kemari Papa katanya mau ketemu sama kamu di kantor, ada sesuatu yang mau dibicarakan, sebentar saja.” Kata Khalif Papanya mau bertemu denganku, tumben, aku tidak dapat menebak hal apa yang ingin dibicarakannya denganku.
“Baiklah, aku akan ke sana. Kira-kira ada urusan apa, ya ?” Tanyaku pada Khalif. Dia heran dan mengernyitkan dahi.
“Mana aku tahu. Kan Papa yang punya urusan sama kamu.” Aku tersenyum.
“Ya siapa tahu dia sudah kasih tahu ke kamu.” Kataku lagi sambil memperhatikan Khalif yang terlihat begitu menyukai kepiting saus tiram ini. Sedangkan aku makannya seperti orang yang ogah-ogahan, bisa dikatakan begitu.
Beberapa kali Khalif terus bertanya mengapa aku makannya begitu lambat. Otakku terus berpikir mencari alasan untuk bisa berhenti disuruh memakan makanan mengerikan ini. Cara yang halus agar Khalif tidak curiga dan tidak tersinggung.
“Oh iya, Khal bagaimana kalau kita pergi sekarang saja ke kantor kamu. Soalnya setelah ini aku baru ingat ada janji sama teman satu kampus dulu.” Aku berusaha memasang raut wajah yang meyakinkan untuk Khalif. Dia sempat merasa bingung dengan perkataanku, tadi aku mengatakan tidak mempunyai janji sama siapapun dan sekarang aku mengatakan hal sebaliknya.
__ADS_1
“Oh, ya sudah, kita pergi sekarang saja. Tapi, kamu bagaimana ? Padahal kamu baru makan sedikit.” Katanya seolah khawatir. Meski yang sebenarnya perlu dikhawatirkan adalah makanan yang tidak seharusnya kumakan itu sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuhku. Sekali lagi kuharap aku akan baik-baik saja.
“Ah, itu bukan masalah. Tidak perlu khawatir. Kalau begitu kita pergi sekarang ?” Tanyaku. Dia mengangguk. Yes !! Aku bersorak dalam hati. Bukannya aku tidak menghargai usahanya untuk memasak kepiting ini, tapi dia pasti mengerti jika tahu bagaimana keadaanku.
Aku pergi ke perusahaan Adhitama Group yang terkenal itu bersama si calon pewaris tahta. Jika perempuan-perempuan di sana berada di posisiku saat ini, mungkin mereka akan menjadi perempuan paling bahagia. Tapi itu tidak berlaku denganku. Aku masih bersikukuh menolak perjodohan ini.
Setelah sampai dan memarkirkan mobil, Khalif dan aku keluar dari mobil. Kutebak Om Farhan pasti akan membicarakan perihal hubunganku dengan Khalif, tapi aku tidak dapat menebak lebih tepatnya apa yang akan beliau katakan padaku.
Baru berjalan beberapa langkah setelah Lamborghini itu diparkirkan oleh empunya, Khalif tiba-tiba menahan lenganku. Kulihat wajahnya memerah seperti orang yang sedang menahan amarah. Benar saja, setelah kulihat ke depan, di situ ada Dennis yang berjalan ke arah kami. Mungkin dia tidak bermaksud untuk menghampiri kami, bisa saja dia kemari untuk mengambil mobilnya.
“Halo, Khal ! Alyssa !” Sapa Dennis penuh hangat. Dia sama sekali bukan tipe orang yang patut untuk dimusuhi, itu menurutku. Sama saat ini, aku tidak tahu mengapa Khalif terlihat begitu membenci Dennis.
“Pergilah !!” Bentak Khalif. Ah, dia kasar sekali. Jujur aku tidak tahan melihat dia terus bersikap begini. Jika aku berada di posisi Dennis, mungkin aku sudah menampar wajah mulus Khalif dengan keras sebagai balasan atas sikap kasarnya itu.
“Sudahlah, Khal.” Kataku yang mencoba meredakan emosi Khalif. Dennis hanya tersenyum sendu. Dia pasti tidak enak denganku karena harus menyaksikan pertengkaran mereka.
“Sampai kapan kamu marah denganku ? Bahkan kamu tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap Dennis. Dari bicaranya Dennis seolah mengatakan kalau kemarahan Khalif tidak berdasarkan alasan yang kuat, bahkan itu terdengar seperti sebuah kesalahpahaman.
“Benarkah ? Apa kamu seorang aktor ? Sandiwaramu sangat bagus !” Khalif semakin jengkel mendengar perkataan Dennis yang dianggapnya hanya berpura-pura baik dan menutupi sifat buruknya. Sampai di sini, aku masih tidak mengetahui ini semua tentang apa.
Khalif kemudian melepaskan genggamannya, lalu beralih menarik kerah baju Dennis. Aku panik akan terjadi adu jotos antara mereka.
“Aku bisa membuat wajahmu babak belur, jika kau berani muncul lagi di hadapanku !!!” Ancam Khalif. Dennis tak bergeming. Kurasa bukan karena dia takut, melainkan dia ingin menghindari adu jotos itu sendiri.
“Khal, cukup… lepaskan…” Ya Tuhan, kenapa dengan diriku, sebelum kata-kataku selesai kuucapkan, pandanganku kemudian memburam dan aku tidak tahu lagi yang kemudian terjadi setelahnya.
Aku terbangun dari tidur. Di tempat yang berbeda dari biasanya aku terbangun, yang pasti ini bukan kamarku. Di sana tercium bau obat-obatan yang menyengat., Kemarin seingatku aku berada di parkiran menyaksikan pertengkaran Khalif dan Dennis. Sampai di situ aku menyadari bahwa aku bukan bangun dari tidur, tidak lain bangun pingsan.
Juga ada infus yang terpasang di tanganku. Ini pasti terjadi karena kepiting saus tiram kemarin. Mataku beralih kepada seseorang yang menjagaku di Rumah Sakit ini, dia adalah seseorang yang harus bertanggung jawab. Pasti Khalif yang membawaku kemari. Dia tertidur di kursi yang letaknya di samping tempat tidur pasien. Pasti rasanya lelah menjagaku.
Mataku melihat sebentar ke arah jam dinding, jarum jamnya telah menunjuk ke angka tujuh pagi. Aku bingung akankah kubangunkan dia atau nanti saja. Tapi hari ini dia harus pergi ke kantor. Oke baiklah, aku harus membangunkannya. Walau kutahu ini tidak sopan karena mungkin dia tadi malam larut malam sekali tidurnya.
Aku mengusap pucuk kepalanya dengan lembut. Tidak susah untuk membuatnya bangun. Kini dia sudah sadar sepenuhnya dan tersenyum melihatku yang sudah bangun dari pingsan.
“Kamu sudah sadar ? Kamu baik-baik saja ?” Tanyanya khawatir. Dia menggenggam tanganku. Ya Tuhan, hatiku kembali bergetar. Apakah aku memang benar masuk ke Rumah Sakit ini karena alergiku atau karena jantungku yang bermasalah. “Maafkan aku.”
__ADS_1
“Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.” Jawabku pelan berusaha meredakan kekhawatiran dan rasa bersalahnya. Tangannya yang satunya beralih mengusap pucuk kepalaku. Aku kembali memikirkan apa yang dulu dikatakan Nadira, mungkin hatiku mulai terbuka untuk pria ini.
“Maaf, karena sudah membuatmu seperti ini.” Dia kembali meminta maaf padaku. Dia benar-benar menyesal kulihat.
“Tidak apa-apa. Itu karena kamu tidak tahu.” Kataku lagi agar dia tidak terlalu khawatir.
“Kamu harusnya mengatakan kalau kamu tidak boleh memakannya.” Katanya lagi dan masih penuh penyesalan. Tidak tahu mengapa, wajahnya terlihat manis. Kenapa aku baru menyadari kalau dia mempunyai wajah yang semanis itu.
“Itu karena kamu sudah berusaha membuatnya, jadi aku harus memakannya bagaimanapun.” Aku tidak tahu kenapa bisa bersikap sebaik ini atas perlakuannya padaku. Tapi, itu karena ketidaktahuannya dan aku yang bersikeras memakan kepiting itu.
“Tetap saja, kamu harusnya menolak. Aku tidak akan marah jika kamu mengatakan alasannya.” Aku rasa aku sudah tersentuh oleh ucapannya. Terdengar seolah aku tidak boleh sampai terluka dengan tangannya.
“Terima kasih sudah menjagaku di sini. Kamu pasti lelah.” Seperti yang kubilang, ternyata benar dia terlihat lelah. Kantong matanya sedikit menghitam. Dia pasti berjaga, takut kalau aku bangun di tengah malam.
“Ini bukan apa-apa. Aku memang harus bertanggung jawab. Kamu tidak seharusnya terluka. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu seperti ini lagi.” Apa hatiku benar-benar sudah menerima keberadaan pria ini ? Hanya dengar ia mengatakan hal-hal seperti itu membuatku semakin nyaman berada di dekatnya.
“Waktu itu aku lihat kamu bisa makan udang dan terlihat menyukainya. Kupikir meminta maaf dengan cara memasak hidangan kepiting itu akan membuatmu senang. Tidak tahunya, itu semakin membuat keadaanmu memburuk.” Jelas Khalif. Aku ingat kemarin pernah memakan udang sewaktu di restoran Tante Ajeng di hari wisudaku.
Mendengar perkataan Khalif aku juga bingung. Kenapa aku bisa makan udang, sementara kepiting tidak. Padahal keduanya sama-sama berasal dari laut dan sama-sama berjenis kerang-kerangan. Aku juga tidak memahami tentang alergi yang kupunya ini. Kondisiku masih lemah. Aku tidak tahu apa yang terjadi, kuharap aku akan baik-baik saja.
“Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa makan udang, sedangkan kepiting tidak. Oh iya, kamu tidak menghubungi orang tuaku, ‘kan ?” Alergi yang kambuh ini, aku tidak mau Mama dan Papa mengetahui lalu khawatir. Selama tidak parah dan aku baik-baik saja, itu sudah cukup. Kubiarkan aku saja yang menanggungnya.
“Tenang saja. Sewaktu kemarin Nadira menghubungi kamu, aku yang mengangkat teleponnya. Dia tanya kamu di mana, jadi kukira dia harus tahu kalau kamu masuk Rumah Sakit. Dia kemudian datang dan saat itu aku terlalu khawatir karena kamu belum saja siuman. Nadira bilang, kalau aku jangan menghubungi Mama dan Papamu, katanya kamu pasti tidak suka.” Mendengar semua itu aku lega. Aku tahu Mama dan Papa juga sibuk di sana, aku tidak ingin mengganggu mereka. Selama ini bisa ku atasi, aku tidak ingin merepotkan mereka.
“Syukurlah. Oh, lalu Nadira di mana ?” Aku penasaran di mana wanita itu sekarang. Dari tadi dia tidak ada di ruangan ini. Apa dia sudah pulang ?
“Aku menyuruhnya untuk sarapan di luar. Emm, tadi malam dia juga cerita soal kamu ada di Rumah Sakit itu.” Aku dibuat terkejut olehnya. Ya Allah, apa yang telah dikatakan Nadira pada Khalif ? Apa Nadira mengatakan kalau pria itu adalah orang yang pernah dia comblangkan padaku sewaktu kuliah ? Ah, kalau itu benar yang ia katakan, habislah aku ! Sama sekali aku tidak ingin Khalif akan salah paham dengan ini.
“Apa yang dikatakan Nadira ??” Tanyaku hati-hati. Hatiku dag dig dug rasanya menunggu jawaban Khalif.
“Dia mengatakan kalau aku sudah salah mengira kamu sengaja membatalkan janji itu. Dia mengatakan bahwa dia yang mengajakmu ke sana. Juga, pria yang sedang dirawat itu adalah teman dekat kalian berdua di kampuus. Dia terus meminta maaf, walau kutahu itu bukan kesalahannya.”
Ketika itu aku bersyukur akan waktu yang memberikanku kesempatan untuk menatap wajahnya lebih lama dibanding biasanya. Melegakan rasanya aku masih dapat bernapas. Meski kutahu nyawaku dalam bahaya beberapa jam lalu dan itu pun karena ulah pria ini. Kalian bisa memanggilku aneh, bodoh, atau sudah hilang akal, tapi itulah kenyataan. Aku tidak dapat membenci atau marah dengannya sekarang. Kutemukan satu fakta yang aku sendiri masih tidak percaya, mungkin hatiku sudah terpikat olehnya.
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next?
__ADS_1