
Pagi ini kalian tahu tidak apa yang terjadi ? Dapet voucher belanja ? Bukan. Ketemu cogan ? Enggak juga. Yang ada pagi ini rumahku sudah kedatangan tamu, Tante Ajeng. Entah ada angin apa beliau sepagi ini sudah berkunjung, tapi firasatku langsung tidak enak.
Bukannya aku tidak suka jikalau Tante Ajeng bertamu, tapi aku hanya malas saja jika ini semua ada kaitannya dengan Khalif. Ya Allah, bisakah sehari saja aku tak berurusan dengan pria itu, aku masih jengkel mengingat bahwa dia yang akan menjadi suamiku nanti. Memang sih kalau aku dan dia sudah berdamai, tapi tetap saja aku tak ingin bertemu setiap hari dengan dia, aku tak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Dan yang dikatakan Mamaku, kalian tahu tidak apa ?, “Cinta bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu dan seringnya kita bertemu.” Itulah kata beliau. Hatiku dongkol sekali kala hal itu terngiang-ngiang di gendang telingaku.
Mama dan Tante Ajeng ketika melihatku menuruni anak tangga kontan menyuruhkan untuk nimbrung bersama mereka di ruang tamu. Sejujurnya aku juga tak paham dengan apa yang sedang mereka bicarakan, makanya di sana aku hanya duduk manis sambil sesekali ikut tersenyum dan bahkan ikut tertawa ketika mereka tertawa. Aku merasa jadi sedikit aneh sekarang.
Entah dari mana jalur obrolan mereka sampai sekarang yang dibahas justru masalah aku yang harus membawakan makan siang untuk Khalif hari ini ke kantornya. Ini yang kadang membuatku ingin membenturkan saja kepalaku yang pusing ini ke tembok. Memangnya dia anak kecil harus dibawakan makanan segala, sekalian saja aku nanti diperintahkan untuk menyuapinya sampai selesai makan.
Rencanaku untuk berleha-leha di rumah hari ini harus terhambat gara-gara tugas harus menjadi “calon istri yang baik” untuk pria itu. Dipikir-pikir memangnya dia tidak bisa apa jika harus makan sendiri sampai Tante Ajeng bilang kemarin-kemarin kalau bungsunya itu harus selalu diingatkan.
Saat berperang dengan penggorengan di dapur, aku juga bingung harus kubuatkan makan siang apa untuk Khalif, dia pasti tidak mudah untuk disuruh memakan masakanku. Kemarin saja kalau dia tahu aku yang membuat spaghetti itu pasti dia tidak sudi melahapnya dan secara garis besar dia kemarin itu “terpaksa”. Parahnya lagi, kedua perempuan paruhbaya menyuruhku untuk memastikan kalau lelaki itu benar-benar menghabiskan makan siangnya.
Aku pasti sekarang sudah gila, kenapa juga aku harus memasak makanan untuknya yang mungkin saja akan langsung membuang semua ini tanpa ia sentuh sedikitpun. Spaghetti carbonara pula, makanan kesukaannya, yang kubuat.
Huft. Oke, dasar nasib ya mau bagaimana lagi. Masih untung aku tidak langsung dinikahkan dengan dia, kalau seperti itu yang terjadi aku pasti memang benar-benar gila. Dan lagi aku sudah sampai di gedung perusahaan Adhitama Group. Aku tinggal mencari ruang kerjanya saja, karena aku sungguh lupa menanyakan kepada Tante Ajeng di lantai berapa ruang kerja anaknya itu.
Tanpa berlama-lama lagi kuhampiri salah satu pegawai kantor di sana untuk bertanya.
“Mbak, maaf boleh saya tanya sebentar ?”
Perempuan berkacamata minus tapi tetap elegan dengan setelan kantornya itu memandangiku dari atas sampai bawah. Mungkin dia memastikan apakah aku pegawai kantor di sana atau bukan.
“Tanya apa ya ?”
“Saya mau tanya di mana ruang kerja Khalif Adhitama ?”
Seketika perempuan itu langsung mengerjapkan matanya berkali-kali. Kenapa ya dia ?
“Mbak calon istri Pak Khalif ya ?” bisiknya padaku.
“I, Iya Mbak. Di mana ya ruang kerjanya ?” tanyaku sekali lagi. Heran kenapa juga tebakan perempuan itu langsung benar mengira aku ini adalah calon istri Khalif. Padahal aku hanya menanyakan di mana ruang kerjanya.
“Biar saja antar.” Ucap perempuan dengan papan nama “Adinda Kusuma” yang ia kenakan. Aku mengikut saja yang langkahnya membawaku ke ruangan Khalif.
Ruangan Khalif ternyata berada di lantai paling atas gedung ini. Perempuan yang mengantarku ini ternyata adalah sekretaris pribadi Khalif. Pantas saja dia mempersilakanku untuk langsung masuk saja karena dia telah mendapat perintah dari Tante Ajeng untuk membawaku ke hadapan priaitu. Dia juga yang telah diperintahkan untuk mengosongkan jadwal makan siang Khalif dengan kliennya siang ini,
Ceklek. Seperti itulah kira-kira bunyi pintu ruang kerja Khalif dan langsung menampakkan sosok yang tengah sibuk dengan berkas-berkas yang berserakan di meja. Tidak tahu berkas-berkas apa saja namanya yang jelas itu banyak sekali menurutku.
“Kenapa balik lagi Din ?” ucap Khalif yang masih terfokus pada pekerjaannya. Dia mengira aku adalah Adinda, sekretarisnya barusan yang mengantarku kemari.
“Bukan dia.” Jawabku yang masih berdiri di dekat pintu yang sudah menutup.
Khalif menghentikan aktivitasnya dan baru kemudian dia mengarahkan pandangan ke depan, tepat ke tempat di mana aku berdiri. Ekspresinya masih sama seperti biasa, datar.
“Duduk.”
Kalau membahas tentang sopan santun, Khalif bisa dibilang keterlaluan. Masa iya dia mempersilakan seseorang dengan ketus seperti itu, belum lagi aku ini adalah seorang perempuan. Bukankah dia seharusnya bisa bersikap manis, sedikiiiitt saja untuk menghargaiku.
__ADS_1
Aku langsung duduk di sofayang telah tersedia di sisi meja kerjanya. Sedangkan Khalif kulihat membereskan berkas-berkas yang tadi berantakan ketika aku datang dan setelah rapi barulah dia menghampiriku.
“Ada apa ke sini ?” tanya Khalif dengan nada sedikit hangat daripada tadi. Mungkin dia baru ingat kalau kami kemarin sepakat untuk berdamai. Mungkin juga tadi dia pusing karena pekerjaannya yang menumpuk jadi dia ketus seperti itu. Aku berusaha berpikiran positif saja karena jika aku kesal duluan, yang ada aku sendiri yang akan sakit kepala.
“Ini.” Kataku singkat yang menyodorkan kotak makan siang. Lelaki itu kemudian menatapku.
“Mama yang suruh ?” tanyanya lagi. Aku mengangguk saja.
“Cepat makanlah, lalu aku bisa pulang.” Ucapku tak sabaran.
“Memangnya kenapa ? Kalau mau pulang ya tinggal pulang saja, kau tahu jalan keluarnya bukan ?” Astaga ini orang malah nyolot, bikin aku kesal saja.
“Baiklah, aku makan.” Katanya.
Wow, ternyata semudah itu bahkan aku belum menjawab perkataannya yang mengesalkan hati tadi. Sepertinya dia paham kenapa aku diam saja dengan tatapan mengancam tertuju ke arahnya. Baguslah dia mengerti, jadi aku tak perlu buang-buang energi untuk berdebat dengannya. Bisa heboh nanti kantor kalau mendengar perdebatanku dengan Khalif, terlebih sekretarisnya tadi yang sudah mengetahui identitasku.
“Siapa yang membuatnya ?” tanyanya setelah selesai memasukkan sesuap pasta itu ke mulutnya. Sepertinya mukanya memang datar, aku tidak bisa menebak apakah dia suka atau tidak.
“Ku jawab jika kau komentar dulu, suka atau tidak ?” ucapku yang membalikkan pertanyaan kepadanya. Cih, diamalah tersenyum tidak jelas sama sekali. Bisa dikatakan senyumnya mengejek.
“Jadi ini buatanmu.” Duga Khalif.
“Ya, memang aku membuatnya. Kau suka atau tidak ?” tandasku.
Khalif kembali melanjutkan makannya. Susah sekali mungkin baginya walau hanya sekedar sedikit memuji atau menghargai apa yang telah kulakukan. Tanpa malu sedikitpun, dia terus saja makan tanpa memberikan komentar. Memangnya itu makanan dari siapa, hem ? Jatuh dari langit ? Hellooow !
“Sayang, kamu menyukainya atau tidak ?” godaku pada Khalif. Kontan dia langsung tersedak dan batuk mendengar pertanyaanku yang terduga terselip kata “sayang” yang bisa dibilang sangat gamblang kukatakan. Syukurin, siapa suruh cuek.
Selesai minum, Khalif menatapku tajam. Aku malah tersenyum puas melihatnya yang berhasil terkejut karena ulahku. Terbilang sudah dua kali dia tersedak saat makan karenaku, kemarin itu dia tersedak karena mengetahui jika spaghetti carbonara kesukaannya ini adalah buatanku waktu makan siang bareng di rumah Mama Papanya.
“Kau puas membuatku tersedak ?” terlihat raut kekesalan di wajahnya.
“Memangnya kenapa ? Salah sendiri kenapa pertanyaanku tidak kau jawab.” Ucapku yang tak mau kalah.
“Kau tak melihat jika makanan ini hampir habis ku santap ?”
“Kalau memang enak ya apa susahnya buat bilang.” Tegasku sekali lagi. Kekeh sekali aku ingin mendengar pujian darinya.
“Oke, oke, ENAK !” akhirnya jawaban itu kudapat, tawaku hampir saja meledak ketika mendengar Khalif memberikan penekanan sekalian.
“Sesibuk apapun pekerjaanmu, harusnya kau tak melupakan makan siangmu. Kenapa juga di umurmu yang sudah segini masih saja harus diingatkan untuk makan.”
“Jadi Mama menceritakannya.”
“Aku hanya kasihan sama Tante yang selalu mengkhawatirkan kesehatanmu kalau-kalau terganggu.”
Khalif tertegun sejenak. “Katakan pada Mama, aku telah memakan makan siang darimu.” Pesan Khalif. Kemudian priaitu melanjutkan makannya.
__ADS_1
Aku baru pertama kali memperhatikan Khalif makan. Aku tak bisa mengungkapkannya, entah apa yang membuatku terdiam melihatnya yang terus menyuap pasta itu ke mulut. Kalau dia diam seperti ini aku baru menyadari kalau dia itu… meng… ge… mas… kan.
“Terpesona ?” aku kaget waktu Khalif mengatakan hal itu. Apa dia tahu kalau aku tadi memperhatikannya yang makan ? Bagaimana dia bisa tahu, padahal matanya dari tadi tetap fokus ke arah makanan tanpa menoleh kepadaku. Aku berusaha mengendalikan diri senormal mungkin.
“Percaya diri sekali. Cepatlah habiskan makananmu, aku ingin segera pulang.” Desakku.
“Kenapa ? Takut jatuh cinta kalau kelamaan berduaan denganku ?” goda Khalif. Astaga kenapa diajadi lebay begini sih. Jangan-jangan karena makan makanan yang buat ini.
“Hei, rasa percaya dirimu yang berlebihan sepertinya kambuh. Cepatlah minum obatmu setelah makanmu selesai.” Ledekku padanya.
“Terima kasih buat makan siangnya. Spaghetti buatanmu enak. Sering-seringlah membuatnya.” Canda Khalif lagi. Aku tak menanggapinya serius, karena mana mungkin juga dia serius dengan ucapannya yang dengan nada bercanda seperti ini.
Kubereskan tempat makan siang itu karena dia telah selesai makan dan akhirnya tugas hari ini selesai juga. Setelah ini aku tinggal laporan saja dengan dua ibu negara, Mama dan Tante Ajeng tentunya, bahwa misi telah selesai dilaksanakan.
“Biar kuantar ke bawah.” Kata Khalif yang melihatku telah di ambang pintu.
“Tak perlu, aku juga tahu jalan keluarnya.” Aku ketus lagi padanya.
Aku keluar dari ruangannya kini. Khalif ternyata benar-benar menyusulku ke luar. Direbutnya tas yang berisi kotak makan siang yang kubawa. Huh ya sudahlah, biar saja dia mengantarku sampai ke bawah.
Rasanya elevator yang kami naiki begitu lambat sampai ke lantai bawah dibanding pertama tadi aku menuju ke atas bersama dengan sekretaris Khalif yang namanya Adinda tadi.
Hening awalnya, sampai Khalif memanggilku.
“Al…” panggil Khalif, aku sama sekali tak berniat untuk berpaling untuk memandangi Khalif.
“Apa ?” jawabku singkat.
“Tak apa.” Lah kenapa pula dia ini, untuk apa dia memanggilku jika tidak ingin mengatakan apapun. Huh, dasar.
Akhirnya tibalah pintu elevator terbuka. Rasanya sedikit gerah karena aku canggung dengan keheningan yang terjadi beberapa saat yang lalu di dalam. Aku berusaha sekuat tenaga agar rasa canggung itu tak bisa ditangkap oleh Khalif.
Sesampainya di lantai bawah, aku melihat di sekeliling kami berjalan, sorot mata para pegawai di kantor ini tertuju ke arah kami yang baru saja keluar dari elevator. Kudengar sedikit bisikan-bisikan mereka yang sekiranya penasaran siapanya Khalif aku ini sebenarnya. Dan aku sempat menangkap ekspresi “patah hati” dari beberapa pegawai Khalif yang mungkin mengidolakannya.
“Kau pulang bagaimana ? Bawa mobil ?” tanya Khalif ketika kami telah sampai di luar gedung dan masih dengan sorotan yang sama.
“Aku naik taksi tadi.” Jawabku. Tak berapa lama kemudian, untunglah di halaman kantor Khalif ada taksi yang baru saja menurunkan penumpang, jadi aku perlu repot menelepon taksi online sekarang.
“Ini.” Khalif menyerahkan tas kotak makan siang padaku yang sudah berada di samping pintu taksi.
Tok tok tok. Suara ketukan di kaca mobil terdengar. Aku yang sudah masuk ke dalam mobil pun meminta sopir untuk jangan jalan dulu, lalu ku turunkan kaca mobilnya.
“Kenapa lagi ?”
“Sekali lagi terima kasih buat makan siangnya.” Kali ini ucapan Khalif benar-benar terdengar hangat. Aku hanya bisa tersenyum. Barulah kemudian taksi yang ku naiki beranjak dari tempat.
Tidak tahu kenapa, ada seutas senyumku yang mengembang ketika melihat Khalif bicaranya menurutku manis. Untung saja saat ini aku sudah berada jauh darinya, jauh di mobil taksi yang sudah melaju meninggalkan tempatnya berdiri kini. Jika dia melihatnya, aku berani bertaruh pasti tingkat kepercayaan diri Khalif melambung ke awan.
__ADS_1
Semoga suka. Salam manis, Bie.
Next ?