Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Obrolan Kecil


__ADS_3

Sampai satu jam berlalu. Aku masih duduk di tempat semula. Di tempat tadi Dennis menghampiri. Walau sudah tak menangis, itu semua hanya karena aku berusaha menahannya. Aku masih belum bisa melihat keadaan Khalif yang baru saja melewati masa kritis dan belum juga sadarkan diri.


Sudah begitu banyak orang yang melewatiku disini, tapi hanya ada satu orang yang berhenti di depanku. Aku mendongak.


“Alyssa.” Panggil seseorang itu.


“Jazy?” Aku sedikit tersentak. Setiap kali dia datang, rasa sakit dan semacamnya terus menjalar dalam diriku dan karena itulah aku selalu menghindarinya. Aku bangkit dari duduk. “Ada apa?”


Aku tahu pembicaraan ini takkan jauh-jauh dari pria yang sedang koma itu.


“Boleh bicara sebentar?” Pintanya. Aku mengangguk. “Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu.”


Aku tak memberikan tanggapan atau ekspresi apapun, hanya membiarkan ia mengatakan semua yang ingin ia utarakan.


“Awalnya aku kembali kemari tujuannya hanya untuk melihat apa Khalif baik-baik saja atau tidak dan hanya untuk minta maaf. Sama sekali tak ada niat untuk memilikinya lagi. Tapi saat aku bertemu teman-temanku, mereka mengatakan mendengar kabar kalau Khalif akan segera menikah.”


Dia menghentikan kalimatnya sebentar dan ku lihat di sudut wajahnya memancarkan kesedihan, ya, dia adalah wanita yang juga mencintai Khalif begitu besar.


“Aku selalu gagal bertemu dengannya saat sampai disini. Dia juga tak bisa dihubungi. Dan pertemuan kita di restauran waktu itu benar-benar tidak pernah direncanakan. Aku melihat dengan jelas bagaimana Khalif bisa sebahagia itu saat bersamamu. Tapi, aku kemudian mengetahui ternyata kalian itu dijodohkan. Itu artinya kamu bukan pilihannya. Ia hanya menjalani apa yang diinginkan orang tua kalian.”


Kata-kata tertancap tepat di hatiku. Itu semua benar. Khalif tidak pernah mencintaiku, kalau pun ia bisa bersikap manis, aku rasa itu hanya dia menganggap itu hubungan pertemanan.


“Aku menjadi serakah. Aku ingin memilikinya kembali ketika ku pikir aku masih memiliki kesempatan. Di hari ulang tahunnya itu, aku sengaja menunggunya di depan kamar apartment-nya. Entah ada makhluk apa yang memasuki jiwaku, aku mengatakan ingin melukai diriku sendiri jika ia tidak mau kembali padaku. Aku bahkan mengancam ingin lompat dari balkon.”


Bola mataku membulat mendengar pengakuan Jazy. Aku sungguh tak percaya dengan tindakan ceroboh itu. Sangat ceroboh. “Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu?”


“Itu karena aku masih sangat mencintai Khalif. Saat aku benar-benar ingin melompat, dia menarikku ke dalam pelukannya. Awalnya ku pikir dia begitu karena dia takut kehilanganku. Tapi sekarang aku menyadari satu hal, hatinya sudah ia berikan kepada orang lain.”


Aku mengerutkan dahi. “Kamu pikir untuk apa setiap hari aku kemari? Aku disini hanya untuk mendengar dalam komanya ia menyebut namaku, barang sekali. Tapi lagi dan lagi nama yang keluar dari mulutnya adalah namamu, Alyssa. Pelan sekali, dia sangat mencintaimu. Kau tahu itu sekarang.”


Aku terhenyak. Hatiku mencelos. Apa aku telah salah menilai Khalif selama ini? Apa perempuan ini berkata jujur? Bukankah dia juga mencintai Khalif, dia bisa saja tak perlu menceritakan hal ini. “Apa kamu berkata jujur?”


Dia tersenyum. “Aku sudah tak punya banyak waktu untuk bicara omong kosong. Kamu orang yang baik, bahkan kamu berhasil mengatakan hal yang bisa ku katakan pada keluarga Adhitama. Terima kasih. Aku tidak bisa membencimu. Jadi, tolong jaga dia. Biarkan dia tetap di sisimu, karena aku hanya percaya dia akan baik-baik saja denganmu. Dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, aku benar-benar akan pergi. Pergilah, Al. Dia menunggumu disana.”


Dia mulai melangkah pergi. Aku mencegat tangannya. Dia berbalik dan memberiku ekspresi bingung. “Jika kamu masih punya sedikit waktu, ada seseorang yang tidak berani menemuimu untuk minta maaf. Dia juga terlihat menyedihkan karena merindukanmu.”


Orang yang ku maksudkan adalah Dennis. Tidak tahu Jazy akan bersedia atau tidak, setidaknya aku telah melakukan apa yang harus dilakukan.


“Baiklah. Aku akan menemuinya.”


Jazy bisa memahami siapa yang aku maksud. Dia juga mengatakannya sambil tersenyum. Dari situ aku bisa menyimpulkan, kalau Dennis juga telah salah menebak, tampaknya Jazy sudah memaafkan Dennis jauh sebelum hari ini.


Aku segera pergi ke ruang rawat Khalif. Tidak ada seorang pun disana yang menjaga Khalif. Tampaknya mereka pergi karena tadi ada Jazy, tapi sekarang wanita itu juga pergi. Selangkah demi selangkah aku mendekatinya. Duduk di kursi di samping ia terbaring.


Menggenggam tangannya yang masih saja dingin, walau tak sedingin kemarin. “Aku minta maaf karena telah salah paham dan bersikap picik tidak mau memberikan kesempatan untuk kamu bicara. Sekarang aku tahu semua yang terjadi. Aku ingin kamu segera bangun.”


“Aku sudah bangun.”


Aku terkejut. Suara itu tiba-tiba saja terdengar. Lemah, namun begitu jelas.


“Khalif?! Kamu sudah sadar?” Aku sangat bahagia sambil tersenyum lebar. Sampai-sampai aku ingin menitikkan air mata.


“Apa kamu serindu itu padaku?”


Kapan tepatnya dia telah bangun dari koma. Dia bahkan bisa mengejekku. Jazy juga tidak memberitahu kalau Khalif sudah bangun. “Katakan, kapan kamu bangun dari koma?”


“Apa itu penting?”

__ADS_1


“Khalif !!”


Dia membuat wajahnya meringis ketika aku mulai kesal.


“Kamu tidak boleh berteriak seperti itu kepada pasien. Jangan diulangi !”


Protesnya padaku. Ya, dia tampaknya baik-baik saja sekarang. Syukurlah.


“Kira-kira setengah jam yang lalu aku bangun. Maaf membuatmu khawatir. Aku mencarimu saat semua orang disini ada termasuk Jazy. Aku pikir kamu masih marah sampai tidak mau menemuimu. Tapi, Mama bilang kalau kamu tidak kuat melihatku disini belum sadarkan diri.”


Aku tertunduk. “Maaf.”


Dia mengelus pucuk kepalaku. “Untuk apa?”


“Untuk semua hal buruk yang terjadi kemarin. Salahku.”


“Tak apa, sayang.”


Jantungku langsung berpacu sangat cepat. Bunyinya rasanya terdengar begitu kencang di gendang telinga. Jangan sampai Khalif mendengarnya. Aku seperti orang yang pertama kali jatuh cinta. Tapi memang begitu, aku selalu begini jika ia bersikap sangat manis.


“Kenapa kamu diam?” Tanyanya.


Aku berusaha menutupi kegugupan ini. “Yang lain dimana?”


“Aku meminta mereka untuk pulang.”


Ah, pasti mereka lewat jalan yang berlawanan dari tempat aku duduk tadi. Karena untuk pergi ke ruang rawat Khalif ada dua jalan, bisa ke kiri dan lewat sisi kanan.


“Alyssa, aku ingin minta maaf. Aku tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap Jazy.” Sekarang giliran dia yang meminta maaf.


“Aku sudah tahu dari Jazy. Semuanya. Sekarang kamu tidak perlu khawatir, kamu harus cepat sembuh dan keluar dari sini.”


Aku tidak mengerti apa maksud perkataannya. Dia mengacungkan jari kelingking. Dia bahkan tidak mengatakan apa keinginannya itu. “Baiklah. Aku bersedia.”


Aku menautkan kelingkingku. Aku harus menepatinya nanti.



Pagi ini aku sudah dibuat susah Khalif. Dia tidak mau memakan sarapan yang disediakan pihak Rumah Sakit. Berulang kali ia mengatakan tak suka makan bubur. Aku tetap memaksanya. Lalu dia bertingkah seperti anak kecil.


“Khal, ayolah !”


“Tidak ! Aku tidak suka.” Dia kemudian menutup rapat-rapat mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


“Kalau kamu tidak makan, lalu bagaimana kamu bisa sembuh dengan cepat?” Tanganku mulai meraih kedua tangannya untuk membuka bungkaman di mulutnya.


“Aku akan segera sembuh, tapi tidak dengan makan bubur itu.” Katanya setelah aku berhasil melepaskan tangan yang membungkam di mulutnya tersebut.


Aku berdecak sebal. “Lalu kamu mau makan apa? Jangan bilang kamu mau makan spaghetty, kamu masih belum boleh makan itu.”


Dia tersenyum lebar. Sepertinya tebakanku benar. Kenapa dia suka sekali makan pasta? Bahkan di saat dia sedang sakit seperti ini.


“Boleh ya sayang? Daripada aku tidak makan apapun.” Dia mencoba merayu. Tapi aku tidak akan menuruti kemauannya itu.


Dennis tiba-tiba datang di tengah perdebatan kecil kami ini. Kontan aku dan Khalif langsung terdiam.


“Apa kabar Khal?” Tanya Dennis dengan sedikit canggung. Ia pasti khawatir Khalif akan mengusirnya seperti biasa. Aku pun mengkhawatirkan hal itu dan aku pun berharap Khalif bisa memegang janjinya dulu untuk memperbaiki hubungan dengan Dennis, sepupunya. Namun, Khalif terlihat lebih tenang dibanding biasanya ketika bertemu pria ini.

__ADS_1


“Lumayan membaik.”


Reaksi yang cukup mengejutkan. Nada bicaranya juga tidak seperti dulu yang berapi-api ketika bertemu Dennis. Syukurlah, dia masih ingat janji itu.


“Dennis, maaf. Aku sudah bersikap kasar beberapa tahun ini. Aku salah karena terus saja menyalahkanmu, padahal aku sendiri tahu kalau ini bukan rencanamu. Saat itu, aku benar-benar cemburu.”


Sampai disitu, ya, aku baik-baik saja. Itu dulu.


“Aku tahu kau mencintainya, lalu tak ada yang bisa aku lakukan selain terus melimpahkan kesalahan kepadamu dan Papa. Tapi, itu dulu. Aku bersyukur atas kejadian itu. Dari itu semua aku akhirnya bisa menemukan dia.”


Khalif menatap ke arahku. Begitu pun Dennis. Membuatku sedikit malu karena ditatap beberapa detik oleh mereka. Keduanya kemudian terkekeh. Aku pun ikut. Sekarang mereka sudah baikan.


“Aku ikut bahagia. Kalian pasangan yang cocok. Kali ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu. Aku tidak akan mencintai wanita yang kau cintai lagi.”


Kami semua tertawa. Ah, aku baru ingat sesuatu. Entah ada angin apa, aku ingin sekali menggoda Dennis.


“Ah, kau mengatakan itu bukankah karena di hatimu masih ada wanita itu? Apa ada yang istimewa mengenai wanita itu?”


Dennis mulai salah tingkah. Tangannya mulai menyentuh telinga. “Sebenarnya, dia menemuiku kemarin.”


Ternyata Jazy benar-benar menemui Dennis. Melihat raut wajah Dennis, sepertinya dia sangat bahagia.


“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Khalif. Sepertinya dia juga tertarik menggoda Dennis, sama sepertiku.


“Tidak banyak. Kami hanya bicara. Sedikit tentang masa lalu, dia bilang sudah memaafkanku jauh sebelumnya. Juga tentang apa yang akan dia lakukan di masa depan. Kemana dia akan pergi, apa kesibukannya, dan aku minta satu hal darinya. Jika nanti dia kembali, dia tidak lagi terjebak masa lalunya lagi.”


Khalif berdecih. “Pria macam apa yang menunggu? Harusnya kau katakan akan mengejarnya kemana pun dia pergi. Kau akan melakukan apapun demi mendapatkannya.”


Lihatlah seorang master sedang memberikan tips tentang cinta. “Jadi kamu seorang ahli?”


Dia mengangguk dengan bangga. “Tentu.”


“Apa kamu juga akan melakukan apa saja untukku?” Aku membuat wajah serius.


“Tentu saja. Aku akan melakukan apapun.” Katanya.


“Apapun?” Dia mengangguk lagi. Sepertinya dia penasaran apa yang ku inginkan. “Kalau begitu makan bubur ini.”


Wajahnya yang serius tadi kemudian berubah meringis. Bertingkah kekanak-kanakan seperti tadi saat Dennis belum datang.


“Tidak mau ! Lagi pula apa hubungannya dengan bubur?” Protesnya. Dennis tertawa kecil.


“Dia tidak akan memakannya. Dia benar-benar tidak suka bubur buatan Rumah Sakit.” Ucap Dennis. Apa dia sedang membela Khalif?


“Dulu waktu kecil, Khalif sakit dan dirawat beberapa hari. Dia mengatakan bubur buatan Rumah Sakit waktu itu rasanya benar-benar mengerikan. Sejak saat itu dia tidak suka makan bubur Rumah Sakit.” Lanjut Dennis.


“Apa sangat tidak enak? Tapi itu saat kamu masih kecil. Sekarang kamu sudah cukup dewasa, mana mungkin bubur yang ini sama rasanya seperti waktu itu?”


Khalif menyilang tangannya. “Tetap saja aku tidak mau. Rasanya itu aku masih mengingatnya.”


“Sudahlah, Al. Kita cari makanan lain saja. Tidak ada gunanya memaksa dia. Dia keras kepala.”


Khalif memberikan tatapan tajam ke Dennis. Aku pun menyerah dan menaruh mangkok bubur itu di meja.


Baru kali ini aku melihat mereka mengobrol dan bercanda seperti tadi. Walau aku tak pernah melihat bagaimana kedekatan mereka dulu, tapi kini aku tahu betapa dekatnya hubungan persaudaraan mereka.


Selama ini mereka saling merindukan, terutama Khalif, dia pasti sangat tersiksa harus bersikap sekasar itu terhadap Dennis. Karena mencintai orang yang sama, mereka bertengkar hebat. Tapi, waktu telah menyembuhkan luka dan melunakkan kerasnya ego, serta memberikan kesempatan untuk mereka untuk saling bicara. Seperti Dennis dan Jazy. Seperti Dennis dan Khalif.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2