Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Hari Pertunangan


__ADS_3

Malamnya, pikiranku kembali melayang kemana-mana sampai aku kesulitan untuk memejamkan mata. Setidaknya aku bisa sedikit lebih tenang hari ini, air mataku mungkin sudah mulai mengering terbukti aku tidak menangis lagi hari ini meski sayatan luka itu masih sangat perih ketika terbayang.


Besok adalah hari pertunanganku dengannya. Aku tidak menyangka waktu itu cepat sekali datang dan aku masih dilanda kebimbangan untuk melanjutkannya atau mundur secepatnya. Keluarga Adhitama ternyata belum mengetahui apapun tentang keadaan ini. Keadaan buruk yang diakibatkan oleh anak bungsu mereka terhadapku.


Jika Tante Ajeng mengetahui hal ini, hanya dengan membayangkannya saja, aku tidak mampu. Aku juga sudah menyayangi beliau sama seperti sayangku terhadap Mama. Jadi jelaslah aku tidak tega jika harus mematahkan hatinya juga, seperti yang telah kulihat dari Mamaku yang juga sangat hancur melihat keadaanku sekarang. Aku yakin, beliau juga tidak bisa tidur dan makan dengan baik karenaku. Maaf, Mam.


Berulang kali kucoba memejamkan mata, yang ada justru wajah Khalif yang penuh penyesalan tadi siang terbayang di pikiranku. Seluruh hidupku sudah didominasi olehnya. Bahkan dia sampai lancang membawa masa lalunya ke hubungan kami.


Malam ini pertanyaan yang menghantuiku adalah haruskah semua ini terus kujalani?



Pagi kembali datang. Sinar mentari juga turut membangunkanku dengan lembut melewati celah tirai kamar. Beberapa detik kemudian, aku kembali teringat dengan apa yang harus dijalani hari ini. Kulirik sebentar ke arah jam. Langsung saja kaki ini beranjak menuju kamar mandi.


Saat aku sedang bersiap-siap, terdengar Mama mengetuk pintu kamar dan sosok tubuhnya telah terlihat di ambang pintu. Ia tersenyum lalu berjalan ke arahku. Mama kembali memelukku dan menatapku lewat pantulan diri di cermin.


“Hari ini kamu mau pergi ‘kan?” Tanya beliau. Aku mengangguk pelan. “Mama senang karena hari pertunangan ini akhirnya tiba. Mama tidak sabar menunggu hari pernikahan kalian.”


Mama benar-benar tampak bahagia dengan hari ini.


“Kalau kamu sudah siap, kita bisa berangkat sekarang. Biar kamu nanti pakai gaun pertunangannya langsung di gedung saja. Tadi Tante Ajeng sudah tanya kamu pagi-pagi, katanya sudah tidak sabar melihat kalian tukar cincin.”


“Baiklah, Alyssa sudah siap.”


Papa sudah menunggu di ruang tengah sambil terus menelepon seseorang. Namun sesibuk apapun beliau menelepon, lelaki tertampan itu masih sempat menyunggingkan senyuman ke arahku dan Mama yang menuruni anak tangga.


“Anak Papa cantik sekali hari ini.” Aku pun tersenyum mendengar pujian itu, kami pun sampai di tempat Papa berdiri. “Kita berangkat sekarang?”


Aku mengangguk pelan, “Iya, Pah. Alyssa sudah siap.” Jawabku.


Mama menggandeng tanganku, gaun pertunangan sudah dipersiapkan dan untuk cincin pertunangan juga sudah dipersiapkan Khalif, hari ini aku tinggal berangkat saja ke gedung pertunangan yang sudah ditentukan keluarga Adhitama.


Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di gedung yang menjadi tujuan kami. Kurang lebih tiga jam lagi acara akan segera di mulai, jadi tentulah belum ada tamu yang datang kecuali keluarga terdekat dan orang-orang yang sedang sibuk mengurus segala keperluan hari ini.


Kak Yashinta menyambut kami yang baru tiba. Dia memelukku dan mengatakan kerinduannya karena kami memang cukup lama tidak bertemu. Tidak hanya itu, Key juga langsung berhambur memelukku, erat sekali, pelukan yang juga kurindukan. Aku mengusap pucuk kepalanya.


“Kata Mama, Tante sama Om hari ini mau tunangan ya?” Tanyanya dengan polos seperti dia tahu saja apa itu pertunangan. Aku berlutut untuk mensejajarkan tubuhku dengan gadis kecil ini.


“Memang kamu tahu sayang apa itu pertunangan?” Tanyaku padanya. Dia menggeleng tanpa ragu, aku terkekeh dan yang lain juga terdengar tertawa kecil melihat sikapnya yang lugu.

__ADS_1


“Pokoknya kata Mama, Tante sama Om akan terus sama-sama.” Jantungku berdegup mendengar kalimatnya tersebut. Aku melempar pandang ke arah Kak Yashinta dan kembali berdiri. Kak Yashinta memegang pundakku dan terus saja tersenyum.


“Kakak senang hari ini akhirnya tiba.” Ucapnya pelan.


Aku mengangguk sambil menahan haru. Suasana seperti ini selalu saja melemahkanku dan membuatku ingin menangis. Banyak sekali yang menginginkan aku dan Khalif bersatu. Aku dan Khalif yang notabenenya tidak mengenal satu sama lain awalnya dan mereka bersikukuh untuk menyatukan kami yang membuat kami frustasi untuk mencari cara menggagalkan rencana mereka dulu.


Kami pun memasuki gedung tersebut dan sampai kini aku belum menemukan sosok pria itu, Khalif. Entah dimanakah dia sekarang berada, mataku terus mencari keberadaannya. Sampai disini aku belum menemukannya, sampai aku kini sudah berada di ruangan untuk merias diri.


Aku duduk di depan meja rias dan sudah ada perias wajah kenalan Tante Ajeng bersamaku. Panggilannya Mbak Ayu. Aku mencoba menghubungi Khalif lewat ponselku, tapi tidak bisa tersambung. Aku akhirnya permisi sebentar ke Mbak Ayu karena ingin mencari Khalif.


“Mbak, saya mau keluar sebentar boleh? Soalnya saya ingin menemui seseorang dulu.” Pintaku.


Mbak Ayu yang sedang memeriksa alat make up pun memberiku izin. Dia mengangguk dan tersenyum ramah. “Iya, bisa. Silakan.”


Aku pun keluar setelah mendapat izin. Kembali kucari Khalif dan aku masih belum menemukannya setelah lima menit aku menyusuri tempat itu. Aku harus menemukannya sebelum kembali ke ruang rias tadi.


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku dengan tangannya. Aku langsung berbalik. Ternyata dia Khalif, aku lega akhirnya menemukan orang ini.


“Mencariku?” Tanyanya. Dia sudah berpakaian rapi, walau dia memang selalu berpakaian rapi dengan gayanya yang seperti biasa memakai setelan jas, jadi sama sekali tidak ada yang berbeda darinya.


“Iya.” Jawabku singkat. “Ikut aku.”


Aku menarik tangannya ke tempat yang sedikit tenang untuk membicarakan sesuatu. Dia pasti bertanya-tanya apa yang ingin kubicarakan.


“Akhirnya Khal, kita menemukannya.” Aku kemudian tersenyum tipis.


Dia tampak bingung dengan ucapanku. “Menemukan apa maksudmu?”


“Rencana untuk menggagalkan perjodohan ini.” Jawabku. Aku sedikit tersentak ketika dia mencengkram kedua lenganku tiba-tiba.


“Tidak ! Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak.” Katanya. Tapi aku benar-benar tidak peduli dengan apa yang dia katakan.


Dia benar-benar tampak frustasi sekarang. Jelas sekali. “Kamu ingat hari itu, di Starlight Resto, sehari setelah rencana perjodohan diumumkan. Kamu ingin bertemu disana. Kita membicarakan tentang rencana untuk menggagalkan perjodohan ini bukan?”


Dia menghembuskan napas berat. “Al, apa maksudmu? Itu dulu, sekarang bukankah kita ingin bersama? Aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku ‘kan? Aku tidak ingin menggagalkan perjodohan ini !”


“Aku belum selesai, Khal.” Kataku. Dia mengusap wajahnya yang sangat gusar. “Aku bisa menerima apapun kekurangan atau sikap kasarmu padaku, tapi tidak dengan masa lalumu yang masih kau genggam. Sangat menyakitkan mengingat kau masih menyimpannya di sudut hatimu. Seharusnya aku tidak boleh membuka hati kepada orang yang jelas-jelas tidak pernah melupakan mantan kekasihnya, tapi nyatanya dulu aku terlalu lemah.”


“Alyssa... Aku minta maaf, tapi ku mohon jangan melakukan hal ini.” Lirihnya.

__ADS_1


“Dan disini dengan hanya aku yang mencintaimu sepenuhnya, itu tidak cukup. Tidak pernah cukup dan tidak pernah bisa. Sekarang dia sudah kembali, Khal. Kamu bisa bersamanya lagi, seperti kemauanmu. Dan aku tidak akan melarang. Disinilah akhirnya. Pertunangan hari ini dibatalkan.”


“Apa?!” Teriak seseorang yang menyaksikan obrolan kami berdua. Aku melemparkan pandangan ke arah sumber suara itu. Ternyata di sana ada Om Farhan. Dia menghampiri kami berdua.


“Apa yang sedang kalian perdebatkan? Apa Om salah dengar Alyssa?” Tanya Om Farhan. Aku menunduk dan perlahan air mataku mengalir.


“Katakan Alyssa !” Om Farhan mendesakku menjelaskan semuanya dan mengguncang-guncangkan bahuku.


Aku berusaha menguasai diri dan menegakkan kepalaku. Kuusap juga air mata di pipi dan ternyata di sana sudah ada orang tuaku, Tante Ajeng, Kak Yashinta, dan Nadira. Kupandangi mereka satu persatu yang juga menampakkan raut kekhawatiran. Jujur saja aku tidak ingin mengatakan hal menyakitkan ini terutama kepada Mama dan Tante Ajeng yang terlihat begitu menginginkan pertunangan hari ini.


“Pertunangan... dibatalkan.” Seperti dugaanku, Tante Ajeng langsung menghampiriku dengan rasa tidak percaya aku mengatakan hal seperti ini.


“Alyssa, apa ada yang salah dengan hubungan kalian? Katakan ke Tante sayang.” Betigupun Tante Ajeng, beliau terlihat sangat khawatir. “Bukankah kalian sudah semakin dekat? Lalu kenapa kamu ingin membatalkan pertunangan?”


Aku kemudian memberanikan diri menatap mata Tante Ajeng yang sudah berkaca-kaca. “Seperti yang dulu pernah dikatakan Om Farhan bahwa kami berhak membatalkan perjodohan ini jika salah satu diantara kami tidak merasa ada kecocokan.”


“Tapi bukankah kalian saling mencintai, Al?” Tanya Mama kemudian. Aku menghela napas berat dan memejamkan mataku beberapa detik.


“Karena Alyssa tidak bisa hidup bersama dengan pria yang masih mengharapkan masa lalunya. Disini hanya dengan Alyssa yang mencintai Khalif sepenuh hati, itu tidaklah cukup. Alyssa tidak ingin egois dengan ingin memiliki hanya karena mencintainya. Karena Alyssa tahu bahwa nanti Alyssa akan jauh lebih sakit karena memaksakan seseorang untuk hidup dengan Al.”


Semuanya terdiam mendengar penjelaskanku, tak luput pria bernama Khalif itu. “Maafkan kalau Alyssa harus pergi.”


Dengan sangat berat kakiku harus meninggalkan tempat ini, tempat yang dipersiapkan untuk mengikat hubunganku dengan Khalif, tapi semua itu harus ku akhiri dengan kata perpisahan. Meninggalkan mereka yang masih terpaku.


Baru beberapa langkah aku beranjak, terdengar suara pukulan dan rintihan dari seseorang. Semua yang disana juga tampak sangat terkejut ketika aku melihat ke sumber keributan.


Papaku tampak mencoba menghentikan Om Farhan yang kembali ingin memukul Khalif. Lantas aku berlari ke arah Khalif yang terjatuh. Anehnya Khalif terlihat sangat lemah, karena sangat tidak mungkin dia selemah itu hanya karena dipukul Papanya. Tante Ajeng dan Kak Yashinta juga berkali-kali memohon agar Om Farhan melepaskan cengkraman di kerah baju Khalif.


“Cukup Om !!” Teriakku setelah Om Farhan kembali berhasil menghantam perut Khalif dengan keras. Khalif masih tidak melawan.


“Kenapa kamu masih membelanya? Bukankah dia sudah menyakitimu?” Tanya Om Farhan yang masih terlihat amat marah terhadap anak bungsunya itu.


“Benar, dia sudah menyakiti Alyssa. Tapi sekeras apapun Om memukul Khalif, rasa sakitnya tidak pernah sebanding dengan sakit yang aku rasa Om. Jadi hentikanlah.”


Khalif bangkit sambil tangannya memegang bagian perutnya yang kena pukul. Dengan wajahnya yang meringis kesakitan, dia justru mengatakan sesuatu yang bodoh. “Pukul Khalif lagi Pah sampai Khalif merasakan sakit yang sebanding dengan yang Alyssa rasa. Khalif pantas dihukum. Kalau perlu bunuh Khalif Pah.”


Aku tidak percaya bahwa kata-katanya tersebut berhasil membuatku mendaratkan satu tamparan ke wajahnya. Dia akhirnya terdiam. “Hentikan omong kosong itu !”


Kemudian aku benar-benar pergi dari tempat itu meninggalkan semua sumber rasa sakit dan kecewa di hatiku. Melihat Khalif yang menyedihkan dan kesakitan seperti itu, aku takut akan menjadi lemah. Hatiku sudah sangat sakit karena ulahnya kemarin dan sekarang bertambah dengan melihat kondisinya setelah dipukul Papanya sendiri.

__ADS_1


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?


__ADS_2