Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Bukan Misi Melarikan Diri


__ADS_3

“Kamu benar-benar akan pergi, Al?” Berulang kali kata-kata itu terus dilayang Mama untukku. Keputusanku untuk terbang ke Singapura berusaha dihalangi Mama. “Setidaknya kamu harus kasih tahu Khalif kalau kamu akan pergi.”


“Memberi tahu Khalif? Tidak, Ma. Dia masih sakit, aku tidak ingin dia khawatir. Khalif bisa melakukan apa saja jika dia tahu aku pergi.”


Mama sangat cemas. Terutama karena Papa sedang tidak ada disana.


“Al, kenapa kamu tiba-tiba ingin pergi ke Singapura saat Papa sedang pergi ke Jerman? Apa tidak sebaiknya kamu menunda sampai Papa pulang dari sana untuk menjaga kamu atau setelah Khalif pulang dari Rumah Sakit? Mama tidak enak dengan keluarga mereka.” Tanya Mama lagi.


Aku meraih tangan Mama. Aku ingin beliau percaya bahwa aku akan baik-baik saja. “Mah, Alyssa hanya pergi untuk sebentar. Al sudah lama merencanakannya jauh sebelum bertemu dengan Khalif. Lagi pula itu hanya Singapura, bukan Eropa. Alyssa janji bisa jaga diri. Dan lagi, pertunangan juga sudah dibatalkan, ini kesempatan Al untuk menenangkan diri setelah semua ini.”


Namun tampaknya Mama masih belum rela aku pergi. “Lalu bagaimana dengan Khalif? Bagaimana jika dia mencarimu?”


Iya, aku juga tahu itu. Tapi, aku ingin pergi. “Mah, izinkan Al pergi, ya? Alyssa mohon.”


Mama mengangguk pasrah. Sambil membantuku membereskan baju untuk dimasukkan ke koper, beliau akhirnya hanya bisa mendoakanku agar baik-baik saja disana berhubung tidak ada Papa disana yang akan menjagaku. Mama juga tidak bisa ikut kesana karena beliau sedang sibuk mempersiapkan pembukaan toko kue.


“Tapi, kamu yakin tidak akan memberitahu Khalif kalau kamu berangkat hari ini? Kalau dia tahu kamu pergi, Mama harus jawab apa?”


“Nanti setelah sampai disana, Al akan langsung hubungi Khalif. Mama tenang saja.”



Aku telah sampai di Bandara, ponselku dari tadi juga belum diaktifkan. Rencananya aku akan mengaktifkannya setelah sampai di rumah. Ya, karena Papaku memiliki perusahaan di Singapura, beliau juga membeli sebuah rumah disini, namun aku lebih suka tinggal di Indonesia. Papa tadi sangat terkejut sebelum berangkat aku menelepon kalau aku ingin pergi ke Singapura. Bahkan aku kesana saat dia sedang berada di Jerman untuk perjalan bisnis.


Mama dan Papa, mereka mengatakan tidak mengerti bagaimana jalan pikiranku, walau sebenarnya aku pun begitu. Aku ingin menyegarkan pikiranku yang sebelumnya sempat terpuruk.



Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan diri dan beristirahat. Ini sudah malam, aku baru mengaktifkan ponsel, aku benar-benar lupa. Ah, pasti Khalif mencariku seharian ini karena tidak datang ke Rumah Sakit.


Benar saja, setelah ponselku dihidupkan, banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari pria itu. Dari 38 kali panggilan tak terjawab itu, ada juga beberapa pesan teks.


“Al, kamu kemana? Kenapa belum datang kesini? Kata dokter hari ini kondisiku sudah jauh lebih baik, aku bisa pulang secepatnya.”


“Are you okay? Kenapa kamu tidak menjawab panggilan teleponku? Sayang, kamu masih marah? Aku minta maaf.”


“Kamu benar-benar ke Singapura??? Untuk apa dan kenapa, Al? Kamu lagi di pesawat? Al, cepat hubungi aku. Aku sungguh khawatir.”


“Alyssa, maafkan aku jika kamu masih marah sampai pergi ke Singapura. Tapi, harusnya kamu kasih kabar kepadaku jika kamu mau pergi. Alyssa, kamu tidak berencana ingin menetap disana ‘kan?”


Ah, Khalif benar-benar khawatir karena aku tidak memberi kabar setelah sampai disini. Dia sangat gelisah ku pikir saat tahu dari Mama tentang kepergianku kemari. Beberapa lama kemudian sambungan telepon akhirnya tersambung kepadanya yang di Indonesia.

__ADS_1


“Halo, Khal !” Sapaku yang disini. Di negeri Singa Putih dan sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton siaran televisi.


“Alyssa...” Terdengar suara lemahnya saat dia memanggil namaku. Ah, apa aku telah membuat kondisinya memburuk? Padahal dia tadi mengatakan keadaannya sudah membaik dari sebelumnya. “Kamu baik-baik saja? Kenapa baru sekarang kamu menghubungiku?”


Aku sungguh menyesal. Suaranya membuatku ingin menitikkan air mata. Dia masih sempat menanyakan kabarku padahal kondisinya mungkin saja melemah karena aku.


“Maaf, aku membuatmu khawatir. Aku sengaja tidak ingin memberitahumu akan kemari, karena ku pikir kamu tidak akan membiarkanku pergi. Aku rasa aku benar-benar memerlukan ini, aku ingin menenangkan pikiran.”


“Menenangkan pikiran untuk apa lagi? Kau bilang kemarin tidak akan memikirkan yang telah berlalu. Kau ingat, kau berjanji akan memenuhi permintaanku jika aku sembuh dan keluar dari Rumah Sakit. Apa kau ingin mengingkarinya, Al?”


Ya, apa yang dikatakannya sekarang lewat sambungan telepon memanglah benar kalau aku tidak mengatakan takkan menengok ke belakang. Tapi, aku tidak pernah berencana ingin mengingkari janji itu.


Aku hanya sedang berpikir tentang masa depan yang akan ku jalani tanpa Khalif. Sebab kini aku sudah tidak terikat hubungan apapun lagi dengannya, aku sudah memutuskan perjodohan sekaligus mempermalukan keluarga Adhitama dan keluargaku sendiri. Aku tidak berani memikirkan ingin memilikinya kembali, meskipun perasaan ini sudah terlanjur tumbuh subur.


“Aku tidak akan mengingkari janjiku, Khal. Kau tunggulah disana, aku tidak berniat menetap disini.”


Sambungan telepon terputus sampai disitu. Mungkin dia marah sampai mengakhiri pembicaraan ini. Ya sudahlah. Lebih baik begini daripada aku dan dia berdebat lama-lama.


Karena ini sudah malam, aku hanya ingin berada di rumah untuk beristirahat. Jujur saja aku sangat lelah sebab akhir-akhir ini tidak bisa beristirahat dengan baik, jadi inilah kesempatanku untuk bisa tidur dengan nyenyak. Besok pagi baru aku akan mulai berjalan-jalan. Aku akan mulai dengan sarapan di rumah dan akan pulang setelah menikmati pemandangan malam di luar dengan menyaksikan kembang api kesukaanku seperti waktu kecil.



Letak kebisingannya bukan disebabkan oleh caraku memasak, melainkan dari mulutku yang terus bicara kepada seseorang lewat sambungan telepon yang sengaja ku gunakan earphone untuk memudahkanku bicara sambil memasak. Dia terus bicara dan bisa digaris bawahi “mengoceh” saat dia mengetahui aku sekarang berada di Singapura.


Nadira. Dialah yang pagi ini sibuk menggangguku yang tengah menyiapkan sarapan. Sama seperti yang dipermasalahkan Khalif kemarin, dia juga protes kalau aku tidak memberitahunya perihal kepergianku kemari.


“Harusnya aku ikut !” Katanya di telepon. Aku terkekeh.


“Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan itu. Kau pasti akan sangat mengganggu.” Ledekku. Dia pasti disana memasang ekspresi kesal yang sangat lucu.


Benar saja, karena aku mengatakan itu, dia mulai mengoceng sambil volume suara yang meningkat. Aku sedikit menyesal, karena itu bisa saja membuat gendang telingaku bermasalah.


“Berisik, Dir.” Dia terus bicara, entah untuk berapa menit. Aku menaruh roti lapis di piring sembari mendengarkan uneg-unegnya.


Dia berhenti bicara. “Al, kenapa kamu diam? Halooo !”


“Bagaimana aku bisa bicara, kalau kamu terus mengoceh begitu.” Aku berjalan menuju meja makan dengan membawa sarapanku pagi ini. “Aku kesini karena ingin liburan sendirian. Hanya beberapa hari saja. Kenapa orang-orang reaksinya seolah aku pergi ke tempat yang sangat jauh dalam waktu yang sangat lama?”


Aku bisa mendengar helaan napas Nadira. “Karena kamu itu sangat malas bepergian. Jangankan ke luar negeri, ke luar kota saja sangat malas untuk menghadiri acara keluargamu sendiri. Wajar saja jika aku terkejut. Aku kira kamu ingin melarikan diri. Tapi, kamu benar-benar tidak akan menetap disana bukan untuk melanjutkan kuliah?”


Aku terdiam, aku hampir lupa akan hal itu. Dulu aku ingin mengejar gelar magisterku di luar negeri setelah lulus kuliah di Indonesia. Namun, aku tidak memikirkannya lagi sejak aku dijodohkan dengan Khalif.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak melakukan itu. Kamu tenang saja, oh ya bagaimana dengan hubungan kamu sama Robby?”


“Ya begitulah.” Jawabnya kemudian tertawa kecil. Aku yakin wajahnya sekarang sedang memerah karena malu, dia selalu begitu jika aku menyinggung tentang Robby.


“Begitu bagaimana?” Tanyaku sengaja untuk menggodanya. “Jangan-jangan kamu sudah dilamar Robby?”


Dia memekik dan aku hampir saja tersedak karena terkejut.


“Tidak mungkin secepat itu. Setelah keluar dari Rumah Sakit kemarin, dia baru mulai untuk bekerja di perusahaan. Aku ingin dia fokus dulu dengan pekerjaannya, aku rasa masih terlalu dini membicarakan pernikahan.”


Aku mengangguk saja seolah Nadira melihat hal itu. “Benar juga, pernikahan bukan sesuatu yang main-main.”


“Al, aku tidak bermaksud.” Katanya lagi dengan nada hati-hati, mungkin karena dia tidak enak membahas tentang perjodohanku yang gagal kemarin dengan Khalif.


Aku tersenyum. “Tidak apa-apa.”


“Hmm, Al, kamu tidak merindukan Khalif? Biasanya ‘kan sering bertemu.”


“Baru sehari tidak bertemu dengannya, aku belum terbiasa. Dia juga marah karena aku tidak memberitahunya kalau aku pergi. Sampai sekarang dia tidak menghubungiku lagi. Huh, tapi mau bagaimana lagi. Hubungan kami hanya sebatas teman sekarang. Aku tidak berani berharap banyak.”


Setelah diam mendengar penuturanku, dia kembali berkicau. “Tidak berani berharap bagaimana?”


“Hubungan kami mungkin tak pernah bisa kembali lagi, dia pasti juga bisa lelah meladeni sikapku yang kadang bertindak semaunya. Dia sama sekali tidak menyinggung tentang pertunangan yang batal kemarin, dia pasti sudah melupakannya. Tapi aku hanya berharap semua yang akan menanti di depan, itu adalah hal yang terbaik yang harus aku terima.”


“Al, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Entah itu Khalif atau bukan, hanya pria terbaik yang akan menjadi pendampingmu nanti.”


Aku tersenyum lebar. Andai dia disini pasti aku sudah memeluknya gemas dan dia berpura-pura jual mahal tak ingin ku peluk. “Terima kasih yaaa.”


“Jangan lam-lama ya disana. Awas kalau kamu sampai tinggal disana !” Itu terdengar seperti ancaman yang mengerikan darinya, tapi juga membuatku geli membayangkan bagaimana wajah lucu Nadira.


“Iya, iya. Sekali lagi ya aku tegaskan, aku tidak akan menetap disini. Aku hanya ingin liburan, menenangkan diri. Tapi, kamu, Mama, dan Khalif justru tidak percaya dan menyangka aku kabur kesini.”


Dia tertawa mendengar pernyataanku. Berisik. “Iya maaf. Itu karena aku, Tante, dan Khalif sayang sama kamu. Makanya kita takut jauh dari kamu. Aku itu sayang kamu, Al.”


Jujur, aku berharap yang mengatakan itu adalah Khalif. Senyumnya, suaranya, matanya. Huh, cukup. Di perjalanan pertamaku ke negeri seberang ini, aku yang ingin menenangkan pikiran justru tersiksa rindu padanya yang tertinggal disana. Pria yang lima bulan ini masuk ke dalam hidupku dan mengukir warnanya tersendiri.


Satu kalimat untuknya, aku rindu dia.


Semoga suka. Salam manis, Bie.


Next?

__ADS_1


__ADS_2