Rainbow and Twilight

Rainbow and Twilight
Buku Harian


__ADS_3

Setelah selesai makan Pancake, aku baru ingat memberikan cokelat yang tadi kubeli di Minimarket. Dia terlihat senang dan berterima kasih. Siangnya, Key memintaku membacakan dongeng kesukaannya. Dia mengajakku pergi ke kamarnya dan lagi-lagi dia tidak sabar sampai tergesa-gesa. Selagi aku duduk di tempat tidurnya, dia mengambil sesuatu. Sebuah buku di meja, itu adalah buku dongeng puteri tidur dan tujuh kurcaci yang ia sukai dan memintaku untuk membacakan untuknya.


Key bergegas naik ke atas tempat tidur sambil menyerahkan buku dongeng itu. Dia, Key, berbaring tepat di sampingku, kurasa dia mempunyai daya tariknya sendiri untuk membuat semua orang terpikat setiap detiknya. Saat ini aku benar-benar sedang bahagia di sini. Tolong, siapapun jangan ganggu aku


Aku memang menyukai anak kecil dan sering bertemu anak kecil yang menggemaskan, tetapi tak ada yang dapat menandingi Keyla. Dia begitu menggemaskan, terlebih ketika sedang tertidur, jujur saja, aku bahkan bermimpi untuk memiliki anak yang tak kalah menggemaskan seperti Key suatu saat nanti.



Siang itu setelah menidurkan Key, tinggallah aku sendiri di rumah besar keluarga Adhitama itu. Khalif sempat pamit untuk pergi ke suatu tempat menemui teman katanya, ah bahkan jika ia bertemu dengan wanita lain atau pacarnya aku juga tidak peduli. Tante Ajeng juga belum pulang dari restoran, mungkin beliau pulang sore nanti.


Sebenarnya aku sedikit bosan, jadi aku berkeliling. Rumah ini benar-benar besar, tapi sayang pemilik rumah ini tidak begitu lama berada di rumah dan sibuk dengan kegiatan di luar rumah mereka masing-masing.


Tak hanya itu, selain Om Farhan yang sering bepergian ke luar kota, ada Kak Yashinta yang sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya mungkin hanya akhir pekan dia datang kemari bersama keluarga kecilnya sekarang, sedangkan Khalif memilih jalannya sendiri untuk pindah ke apartment. Hanya tersisa Tante Ajeng, itu pun kalau beliau tak pergi ke restoran untuk menyibukkan diri dan menghibur hatinya yang sebetulnya kesepian.


Ya, memang semua orang rumah ini sibuk. Padahal aku sangat yakin dulunya di sini begitu banyak momen indah yang berhasil terekam oleh setiap dinding di rumah ini. Terbukti dari foto-foto yang terbingkai manis, semuanya tersenyum manis.


Kulihat ada foto pernikahan Om Farhan dan Tante Ajeng, juga ada foto Kak Yashinta dan Khalif sewaktu kecil, juga ada foto pernikahan Kak Yashinta dan Mas Irfan dan tentu saja foto si peri kecil rumah ini, Keyla, dan masih banyak lagi. Semuanya momen bahagia, kuyakin, dan kuyakin sekali juga kalau semua orang di sini merindukan momen bahagia yang telah menjadi kenangan yang tak mungkin dapat dilupa.


Aku kembali berjalan ke bagian lain dari rumah yang luas ini. Aku masih mencoba mengusir rasa bosanku. Rasanya sangat lama kulalui siang ini, ini pasti karena aku hanya sendirian dan ini bukan rumahku. Langkah kakiku terhenti di sebuah ruangan di bagian belakang rumah ini, sepertinya gudang. Aku juga penasaran mengapa aku harus masuk ke sana.


Pintu gudang berhasil kubuka karena tidak dikunci. Aku masuk ke dalamnya. Perlahan kembali kulangkahkan kakiku sembari memikirkan apa yang sedang kulakukan dan sedang apa aku di sini. Mataku melihat ke kiri dan ke kanan atau kemana saja, begitu banyak barang-barang yang disimpan di gudang ini. Contohnya seperti peralatan elektronik atau perabot rumah yang sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.


Di sana ada sebuah meja yang terdapat kotak besar di atasnya. Di dalamnya berisi buku-buku ternyata. Aku tertarik, di sana aku menemukan buku tentang belajar bermain gitar, aku penasaran kira-kira siapa empu dari buku ini. Sepertinya ini kepunyaan Kak Yashinta atau mungkinkah Khalif ? Ah, tapi bagaimana mungkin pria sekaku dia mau belajar main alat musik. Sedangkan buku lainnya hanyalah tumpukan buku tulis Kak Yashinta dan Khalif semasa sekolah SMA.

__ADS_1


Namun, mataku tertuju ke arah laci meja itu yang sedikit terbuka. Kutemukan sebuah buku lagi yang menarik perhatianku. Hei, ini bukan buku biasa, ini adalah buku catatan dari seorang Khalif Adhitama. Aku semakin penasaran dengan apa yang sudah ia tulis. Aku bahkan tak percaya kalau dia merupakan seorang yang suka mencurahkan isi hatinya dalam sebuah buku harian.


Aku belum membaca apa yang tertulis dalam buku harian itu, aku hanya membuka halaman awal saja untuk mengetahui siapa pemilik buku ini. Ya ampun, kenapa aku menjadi seorang yang tak sopan begini ?! Ini tidak boleh kulakukan, ini adalah privasi orang lain dan aku tidak seharusnya membuka buku harian ini meski hanya membuka halaman awal saja, tapi tanpa sepengetahuan empunya, ini tidak sopan.


Kembali buku itu berusaha kutaruh ke tempat semula. Namun, sebelum itu terjadi ada lembar putih yang terjatuh dari buku harian itu, tapi bukan lembaran kertas. Aku memungut lembar putih yang ternyata itu merupakan sebuah foto untuk kusisipkan kembali ke buku harian. Itu adalah sebuah foto dua remaja yang sedang memakai seragam SMA dan si pria memegang sebuah piala.


Kalian tahu siapa dua remaja itu ? Pria itu adalah Khalif dan Jazy. Itu tertulis jelas di buku harian itu. Begitu lancang aku membacanya, aku bagai tak terkendali. Di sana tertulis, “Jazy, aku hanya berusaha membuatmu tersenyum, lihatlah hasilnya. Aku berhasil.”


Tidak hanya itu, lembaran demi lembaran lainnya kembali kubuka. Di setiap lembarannya selalu kutemui nama Jazy ataupun hal-hal yang berkaitan tentangnya. Itu adalah mantan kekasih Khalif. Mengapa aku begini, rasanya ada sesuatu yang tajam yang mencoba menyayat hatiku secara pelan, namun itulah yang membuat sangat perih.


Aku keluar dari gudang itu dan meninggalkan buku harian Khalif di tempat semula. Setelahnya, hingga sepanjang sore perasaanku jadi tak karuan dan tak menentu. Aku rasa ini karena buku harian itu, sudah jelas sekali bukan sebabnya ? Biar kuberi tahu, tadinya aku sungguh senang bisa sebahagia itu dapat menikmati waktu bersama Key dan Khalif juga, tapi aku masih tidak yakin dengan perasaanku sendiri yang bisa-bisanya hatiku merasa tergores setelah menemukan buku yang penuh dengan kenangan itu bagi Khalif.


Aku mengerti jika kalian dengan mudahnya mungkin menyimpulkan kalau ini mungkin saja… cinta. Jangan, kumohon jangan menyimpulkan demikian. Bukankah ini terlalu cepat untuk menarik kesimpulan yang bagiku itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dirasakan. Mencintai Khalif, aku bahkan tidak pernah memimpikan hal sekonyol itu. Beberapa hari belakangan memang hubunganku dan dia tidak sekaku dulu, kekesalanku padanya bahkan kuakui luluh sewaktu aku membantunya membuat Pancake siang tadi.


Tidak lama setelah batinku yang terus berkata-kata itu, aku mendengar suara mobil yang memasuki gerbang rumah ini dari tempatku sekarang yang berada di kamar Keyla. Aku mengintip di balik jendela kamar untuk melihat apakah yang datang Khalif ataukah Tante Ajeng.


Ternyata itu adalah Khalif. Sembari aku mengintip dari balik jendela, terdengar suara Key yang memanggilku dengan lemah sehabis bangun tidur. Dia tidur siangnya cukup lama, tiga jam lebih mungkin. Aku pun menghampiri gadis kecil itu untuk kemudian menyuruhnya mandi, lalu bisa turun ke bawah. Dia mengangguk sambil memeluk tubuhku yang hati ini masih terus tak karuan rasa.


Setelah Key selesai mandi, berpakaian, dan cantik lagi, eh dia bahkan selalu cantik setiap saat, kami pun turun ke bawah. Ketika kami baru saja sampai di bawah, baru terdengar ada suara Tante Ajeng yang juga kebetulan baru datang dari restoran. Dia sedang bicara dengan Khalif yang saat itu menyambutnya.


“Nenek !” Teriak Key yang antusias lalu berlari ke arah Tante Ajeng.


“Wah, cantiknya cucu Nenek sudah mandi. Kamu katanya tidur siangnya lama ya hari ini ?” Tanya Tante Ajeng. Dan Key mengangguk.

__ADS_1


“Oh ya Khal, tolong kamu bawain belanjaan Mama ini.” Ucap Tante Ajeng kepada anak bungsunya itu sambil menunjuk barang belanjaan yang tadinya ia pegang. “Taruh di dapur, malam ini Mama mau masak makanan spesial sama Alyssa.”


Dengan segera Khalif mengambil belanjaan Mamanya itu dan berjalan melewatiku sambil melempar senyum padaku. Ah, apa dia sungguh berubah mulai hari ini, dari yang awalnya pria sangat cuek dan kaku lalu berubah menjadi pria yang hangat. Maksudku, apa yang membuatnya berubah hari ini. Senyum itu, sikapnya kepadaku, candaannya yang sampai membuatku tertawa, dan hatiku kembali bergetar olehnya, saat ini. Sungguh.


“Kamu samperin Khalif di dapur, nanti Tante nyusul. Tante mau mandi dulu.” Kata Tante Ajeng yang kemudian berlalu ke kamarnya bersama Key. Aku menghela napas berat, aku harus apa sekarang. Aku tahu Tante Ajeng pasti akan membuatku berlama-lama berduaan dengan Khalif, entah itu Tante Ajeng atau Mamaku, hal ini pasti mereka lakukan.


Dengan lesu aku pergi menemui Khalif yang terlihat sedang mengeluarkan sayuran yang Mamanya itu beli dan menaruhnya di atas meja di dapur. Khalif beralih menatapku. “Kamu sakit ?”


“Hah ?” Jelas saja aku bingung dengan pertanyaannya. Dia menghampiriku.


“Wajah kamu sedikit pucat.” Katanya padaku. Aku langsung merogoh saku celanaku untuk mengambil ponselku guna bercermin di kamera ponselku itu memastikan apa yang dikatakan Khalif benar tidaknya. Ternyata memang benar, anehnya aku merasa kurang enak badan sekarang setelah tadinya aku benar-benar baik-baik saja.


“Aku baik-baik saja.” Jawabku singkat. Khalif menatapku cukup lama dan itu sangat menggangguku. Aku tidak biasa ditatap selama ini olehnya dan terlebih dia bersikap sangat aneh sekarang. Asal kalian tahu saja, saat ini jantungku berdebar dengan begitu kencang. Kemudian aku memilih untuk meninggalkan Khalif dengan membersihkan sayuran yang tadi sudah dibeli Tante Ajeng.


“Benar ?” Tanya Khalif lagi memastikan bagaimana keadaanku. Aneh, sejak kapan dia peduli denganku ? Ah, aku kembali teringat mengenai buku harian itu dan Jazy yang menjadi kenangan di dalamnya, menyebalkan. Aku hanya berdehem untuk menjawab pertanyaannya kali ini.



Sekarang sudah waktunya untuk Key tidur. Kalau diingat-ingat suasana makan malam tadi sangat biasa, berbeda dengan siang tadi ketika kami bertiga makan Pancake bersama Key. Entah itu Khalif ataupun aku, kami sama-sama diam malam ini. Hening, sampai Tante Ajeng menegur kami yang diam-diaman. Suasana yang kupikir akan hangat nyatanya tak ada bedanya dengan makan malam kami sebelumnya yang berbalut keterpaksaan seperti dulu.


Awalnya hanya sepanjang sore aku memikirkan hal tidak mengenakkan hati itu, namun juga dengan sepanjang malam hal itu masih teringat. Benar-benar sesuatu yang sangat mengusik. Aku tidak tahan. Ingin rasanya aku memaki-maki Khalif yang kemungkinan kini sudah terlelap. Entah untuk apa dan alasan apa yang mendasari aku ingin memaki dirinya mala mini, aku sama sekali tidak memahami isi otakku. Pada detik ini, kumohon jangan buatku terus begini. Ini sungguh menyiksaku. Hatiku yang berdebar berubah dengan luka yang perih. Tidak, ini sungguh tidak boleh terjadi.


Semoga suka. Salam manis, Bie.

__ADS_1


Next ?


__ADS_2