
Tabib begitu senang mendengar bahwa putri mengetahui rumput herbal, "putri pernah melihatnya? Bagus sekali! Di mana tempatnya? Bisakah kita mengambilnya?"
"Aku belum pernah melihat yang asli, hanya dari gambar saja," ucap Liu Li. Dia ingat dosennya pernah menunjukkan foto rumput itu.
"Ah," tabib kecewa, "setidaknya kita tahu bahwa rumput itu ada. Mari kita mencari di buku catatan gunung, di mana tumbuhan ini tumbuh."
"Baik." Para tabib mulai membaca tumpukan buku satu persatu. Setelah empat jam berlalu, akhirnya mereka menemukannya.
"Aku menemukannya! Gunung Tiang Liang, di buku ini tercatat bahwa rumput herbal ini tumbuh di gunung Tiang Liang. Coba putri lihat." Tabib menyerahkan bukunya.
Liu Li membaca bukunya, "gunung Tian Liang kaya dengan tumbuhan obat ramuan. Di sekitarnya ada ular dan binatang buas. Orang-orang yang pergi ke gunung itu sering terkena racun. Belakangan ada seorang pemuda bernama Han Zhu yang menemukan rumput herbal ini yang bisa menyembuhkan berbagai macam racun dan kemudian menyelamatkan banyak nyawa. Untuk mengenang pemuda ini, rumput herbal ini diberi nama rumput Han Zhu." Wajah Liu Li begitu senang, "tidak salah lagi, itu adalah rumput herbal Han Zhu. Aku akan pergi ke gunung Tian Liang."
"Tidak boleh putri!" larang tabib, "di sana banyak ular dan binatang buas. Bukit-bukitnya juga curam, sangat sulit untuk didaki. Orang biasa bahkan tidak bisa sampai di tengah gunung."
"Aku bisa pergi dengan seseorang yang bisa membantu dan melindungiku. Ayo kita menghadap raja."
"Tapi, putri ..."
Liu Li dan tabib menghadap raja yang tengah bersama pangeran Jin dan mengutarakan kemauannya.
"Tidak boleh!" seru raja, "biar orang lain yang mengambilnya."
"Yang mulia, waktu adalah nyawa. Bila semakin menunda, maka kondisi putri Ming akan semakin berbahaya," jelas Liu Li.
"Apa yang dikatakan yang mulia benar. Gunung Tiang Liang sangat berbahaya. Gambarkan petanya, aku akan membawa pulang rumput itu dalam tiga hari," ucap pangeran Jin.
"Aku harus ikut. Pangeran tidak tahu bentuk rumput dan bagaimana cara memetiknya. Jika akar rumput itu rusak, akan sulit mencari rumput Han Zhu yang lain," ucap Liu Li.
"Apa yang dikatakan putri benar," kata tabib, "gunung Tian Liang memang berbahaya. Tapi dengan adanya pangeran Jin, tidak sulit bagi putri untuk ke sana. Dan meskipun ada gambar rumput Han Zhu, tapi pangeran Jin tidak tahu cara memetiknya. Bila akar itu rusak, akan sulit mencari rumput Han Zhu yang kedua."
Kening raja berkerut, "hanya memetik saja harus ada tata caranya?"
"Jika demikian, Liu Li akan pergi bersamaku," ucap pangeran Jin.
"Tabib, tolong jaga keselamatan putri Ming," kata Liu Li.
"Saya akan berusaha semampuku, putri."
Kemudian pangeran Jin dan Liu Li menaiki kereta kuda menuju gunung Tian Liang.
"Berhenti," seru Liu Li di atas kereta kuda.
"Kita akan segera berangkat, apa lagi yang ingin kamu lakukan?" tanya pangeran.
"Aku tahu. Tunggu sebentar. Aku akan membeli sesuatu dan kita akan langsung berangkat," ucap Liu Li sambil keluar dari kereta kuda yang telah berhenti.
Pangeran Jin ditinggal sendiri di dalam kereta kuda, "wanita ini benar-benar menjengkelkan."
Beberapa saat kemudian Liu Li kembali dengan berpakaian seperti seorang laki-laki. Rambutnya yang tadinya digerai indah, kini diikat ekor kuda layaknya pria zaman dahulu, di punggungnya terikat sebuah bungkusan, "ayo berangkat. Apa hanya kita berdua saja?"
"Wei Hong masih ada pekerjaan yang kuperintahkan. Dia akan segera menyusul dengan yang lain."
__ADS_1
Kereta kuda melaju meninggalkan kota.
"Pangeran, kita akan istirahat sebentar. Aku akan pergi memberi makan kuda," ucap pengawal.
Liu Li merasa bosan dan keluar dari kereta kuda. Hari telah malam, "di saat seperti ini masih ada kunang-kunang?" Kerlipan kunang-kunang menghiasi gelapnya malam.
"Apakah putri tidak pernah melihatnya?" tanya pengawal yang tengah memberi makan kuda, "kunang-kunang saat ini tidak begitu banyak. Di saat musim panas, akan banyak kunang-kunang uang berkerlip-kerlip di tepi sungai dan sangat indah sekali."
"Sayang sekali, serangga yang cantik seperti ini hanya bisa hidup lima hari."
"Dari mana kamu mengetahuinya?" tanya pangeran yang tiba-tiba berada di belakangnya.
"Aku pernah membacanya," jawab Liu Li, "kehidupan mereka sangat singkat. Tidak tahu apa yang terjadi setelah mereka mati. Dan apa jadinya setelah manusia kematian?"
Sama seperti aku yang berasal dari abad 21. Setelah kematian, aku melintasi ruang dan waktu, berubah menjadi orang lain.
"Pangeran, putri ... kita sudah bisa melanjutkan perjalanan. Sepertinya kita akan sampai di gunung Tiang Liang di pagi hari," kata pengawal.
"Ayo berangkat sekarang."
***
Setelah sampai di kaki gunung Tiang Liang,
"kamu tunggu di sini. Prajurit istana akan segera datang pada siang hari. Jika dalam dua haru aku belum kembali, bawalah peta ini untuk mencari rumput itu." Pangeran menyerahkan gulungan peta pada pengawal.
"Baik, pangeran."
"Baik pangeran, aku akan berhati-hati."
Pangeran dan Liu Li berjalan mendaki gunung Tiang Liang. Satu jam telah berlalu dan Liu Li sudah nampak kelelahan.
"Kamu kenapa? Kita akan berjalan sebentar lagi, baru istirahat."
Kamu tidak membawa barang bawaan, tentu jauh lebih mudah. Kalau kamu mampu, kenapa tidak membantuku untuk membawa tas ini, gerutu Liu Li dalam hati.
"Srak srak." Sesuatu menimbulkan bunyi di semak-semak.
"Apa pangeran tidak mendengar sesuatu yang aneh?" tanya Liu Li.
Pangeran menajamkan pendengarannya, "kemari!" Pangeran menarik tangan Liu Li, lalu membawanya bersembunyi di balik pepohonan.
"Mengapa kita berjongkok di sini?"
"Ssssst!"
Sekelompok anjing keluar dari semak-semak.
Liu Li berbisik di balik tempat persembunyiannya, "mengapa ada anjing tibetan mastif di sini?"
"Hidung anjing ini sangat sensitif, sepertinya mereka sudah mengetahui keberadaan kita." Pangeran memegang pedangnya, "jika nanti terjadi sesuatu, kamu jangan keluar. Tetaplah sembunyi di sini."
__ADS_1
"Aku mengerti," jawab Liu Li.
Pangeran melompat dari persembunyiannya. Sekumpulan anjing itu mengepung pangeran dari berbagai arah, siap untuk menyerang.
"Ada baiknya menyerang bersamaan," kata pangeran, "agar aku tak perlu membuang waktu membunuh kalian satu per satu."
"Swoosh swoosh swooosh!" Dalam beberapa tebasan pedang, anjing-anjing itu mati tak berdaya.
"Ayo cepat pergi dari sini. Anjing-anjing ini peliharaan seseorang. Jika pemiliknya mengetahui, kita akan dapat masalah."
"Di hutan belantara ini, kenapa ada yang memelihara anjing?" tanya Liu Li.
Pangeran menarik tangan Liu Li, "di sekitar sini pasti ada perampok."
"Ukh ..."
"Apa kamu terluka?" tanya pangeran.
"Tidak apa-apa. Kita bisa melanjutkan perjalanan kita."
Pangeran mengambil bungkusan di punggung Liu Li, "mengapa kamu membawa banyak barang ke sini?"
"Barang-barang itu akan berguna nanti."
Mereka melanjutkan perjalanan.
"Kamu beristirahatlah sebentar di sini. Aku akan mencari buah-buahan untuk dimakan," ucap pangeran.
"Tunggu, di sini aku punya makanan. Minum air dulu, aku sudah bertanya pada pengawal, sumber air di gunung ini tidak banyak." Liu Li mengeluarkan botol air dari dalam tasnya. Selain itu, ia juga mengeluarkan obat untuk luka di kakinya yang nyeri.
Pangeran mengambil obat dari tangan Liu Li kemudian mengoleskannya pada kaki Liu Li yang terluka, "aku tidak bermaksud menolongmu. Aku hanya khawatir kamu nanti tidak bisa berjalan dan memintaku untuk menggendongmu."
"Terima kasih ..."
"Aku tidak ingin terbebani olehmu. Cobalah berjalan, apakah masih sakit? Jika tidak, kita akan melanjutkan perjalanan lagi."
"Sudah tidak apa-apa," Liu Li telah berdiri dengan baik, "ayo kita jalan. Semakin cepat kita menemukan rumput itu, semakin cepat kita kembali."
"Baguslah jika kamu tahu itu."
Siang telah berganti malam.
"Sekarang sudah larut, kita cari gua untuk beristirahat dulu. Besok baru kita lanjutkan perjalanan kita," kata pangeran.
"Baiklah."
Mereka menemukan gua, kemudian membuat api unggun untuk menghangatkan udara yang dingin.
"Mengapa kamu melihatku seperti itu?" tanya pangeran yang tengah duduk di dekat perapian.
"Plak!" Tangan Liu Li mendarat di pipi pangeran.
__ADS_1