
"Putri, kudengar semalam pangeran demam dan menghabiskan malam di kediaman selir Fu Rong," cerita nenek Zao.
Jadi dia meminta obat untuk mendapatkan perhatian dari selir Fu Rong? Dasar laki-laki buaya! Bagaimana bisa dia meminta tolong istrinya untuk merayu selirnya, gerutu Liu Li dalam hati.
"Apa putri tidak ingin melihat kondisi pangeran sekarang?" tanya nenek Zao lagi.
"Aku tak peduli," jawab Liu Li ketus.
"Nenek, aku mau pergi jalan-jalan ke luar," ucap Liu Li, "Meng Meng ayo ikut."
"Baik, putri." Meng Meng mengikuti Liu Li di belakangnya.
Nenek Zao heran kenapa Liu Li tiba-tiba menjadi marah, "sepertinya putri sedang cemburu," gumamnya.
***
Saat ini Liu Li berada di sebuah toko yang menjual bahan herbal. Dari pada nanti hanya diam di mansion, lalu ia berencana untuk membuat ramuan obat.
"Meng, pergilah ke pasar untuk membeli manisan. Aku masih membutuhkan waktu yang lama untuk memilih bahan-bahan," perintah Liu Li. Sudah lama sekali Liu Li ingin mencoba makan permen jaman dahulu, di abad 21 sudah sangat sulit ditemukan. Lagi pula makan makanan manis bisa menghilangkan rasa kesalnya saat ini.
"Tapi, nanti putri sendirian."
"Aku bukan anak kecil lagi. Lagi pula tidak akan ada orang yang mau menculikku," ucap Liu Li asal.
"Putri tetaplah berada di sini, aku tidak akan lama."
Meng Meng bergegas menuju pasar dan Liu Li melanjutkan kesibukannya memilih bahan herbal.
Beberapa menit kemudian, beberapa orang berpakaian serba hitam dan menggunakan penutup wajah mendekati Liu Li.
"Mau apa kalian?" tanya Liu Li merasa terancam.
Tanpa banyak kata, mereka memegang tangan Liu Li dan menutup mulutnya supaya tak dapat berteriak.
Apa aku diculik? Lain kali aku tak boleh sembarangan bicara, batin Liu Li menyesali perkataannya tadi.
Liu Li mencoba melawan tapi percuma, tenaganya tak cukup kuat melawan. Mata dan mulut Liu Li ditutup dengan kain. Kemudian seorang dari mereka membopong Liu Li di bahunya, seperti membawa karung beras.
Para penculik itu membawa senjata tajam, tidak ada yang berani menolong Liu Li. Pemilik dan pengunjung toko bersembunyi, mereka hanya berani mengintip dari celah-celah saat Liu Li dibawa pergi.
Beberapa saat kemudian Meng Meng datang dengan sebungkus manisan di tangannya, ia merasa heran melihat orang-orang berkumpul di depan toko herbal, "ada apa ini?" tanya Meng Meng pada salah seorang yang berdiri di sana.
"Seorang wanita telah diculik," jawabnya.
Mendengar hal itu, Meng Meng segera mencari Liu Li di antara kerumunan orang-orang. Lalu ia bertanya pada pemilik toko, "di mana wanita yang bersamaku tadi?"
"Dia ..." Pemilik toko menjawab dengan ragu.
"Ke mana?"
__ADS_1
"Dia diculik."
Bungkusan manisan di tangan Meng Meng jatuh berserakan di lantai, "putri, tidak mungkin!" Meng Meng menarik kerah baju pemilik toko, "ke mana mereka membawanya pergi?"
"Ke arah hutan," jawabnya ketakutan.
Meng Meng menghempaskan tubuh pemilik toko, lalu ia berusaha mencari Liu Li, "putri! Putri!" Semua orang menatap Meng Meng.
"Aku harus segera memberi tahu pangeran." Meng Meng berlari sekuat tenaga menunu mansion dengan air mata yang terus mengucur membasahi pipinya.
"Pangeran, pangeran!" Meng Meng berdiri di depan ruangan pangeran Jin.
"Ada apa?" tanya Wei Hong setelah membuka pintu.
"Putri, putri telah diculik," jawab Meng Meng dengan nafas tersengal.
"Apa? Kapan? Di mana?" cerca Wei Hong.
"Di toko obat herbal dekat hutan. Putri menyuruhku membeli manisan untuknya, saat aku datang ... putri sudah tidak ada," Meng Meng menjawab dengan ketakutan.
Pangeran Jin yang berada di dalam dapat mendengarnya, ia beranjak dari duduknya dan mengambil pedangnya, "tunjukkan jalannya," perintah pangeran Jin dingin.
Mereka berkuda menuju toko obat herbal. Nampaknya kerumunan orang telah berkurang.
Wei Hong segera turun dari kudanya dan menanyai pemilik toko, "bagaimana ciri-ciri mereka?"
"Mereka berjumlah lima orang, masing-masing membawa pedang. Pakaiannya serba hitam dan memakai penutup wajah," jawab pemilik toko dengan takut, ia tak menyangka bahwa perempuan yang diculik adalah istri pangeran Jin.
"Mereka pergi ke arah hutan." Hutan yang dimaksud sangatlah luas.
"Pangeran, hutan di depan sangatlah luas."
Pangeran Jin tak memedulikan perkataan Wei Hong, ia memacu kudanya menuju hutan. Sebelum masuk hutan, pangeran menghentikan kudanya, ada tiga cabang jalan setapak.
"Wei Hong, kita berpencar. Kerahkan lebih banyak prajurit untuk menemukan putri," perintah pangeran Jin. Kemudian ia mengambil jalan lurus yang ada di depannya.
"Kalian berpencar, berikan tanda bila kalian menemukan putri lebih dahulu." Lalu Wei Hong mengambil jalan ke kanan. Sisa prajurit mengambil jalan ke kiri.
***
Sementara itu di sebuah gua, Liu Li duduk dalam kondisi tangan terikat.
"Apa yang kalian inginkan? Uang? Emas?" tanya Liu Li.
"Kami hanya ingin membunuhmu," jawab salah seorang di antara mereka.
"Siapa yang menyuruh kalian?"
"Kamu tak perlu tahu,” jawabnya dingin.
__ADS_1
Liu Li merasa para penculik ini sulit untuk diajak bicara. Ia tak memperoleh informasi apa pun dari mereka.
"Hei, kakimu terluka," ucap Liu Li, ia melihat darah merembes di celananya.
Pria yang terluka itu hanya diam saja.
"Itu bukan luka baru, wajahmu juga pucat sekali," ucap Liu Li, "aku seorang dokter, aku bisa mengobatimu. Biarkan aku memeriksanya."
Kelima orang itu saling berpandangan.
"Adik, biarkan dia memeriksamu. Lukamu sudah cukup lama," kata pria yang paling besar.
"Jangan coba-coba untuk kabur," seru pria yang melepaskan ikatan tangan Liu Li.
"Ke mana aku bisa pergi," jawab Liu Li. Ia mendekati pria yang terluka, "biarkan aku melihat kakimu"
Pria itu melepas sepatunya dan menggulung celananya hingga luka itu terlihat.
"Luka ini sudah terinfeksi parah," jelas Liu Li, "aku harus segera membersihkan lalu mengobatinya. Bila tidak segera ditangani, kamu bisa mati karena tetanus."
"Kamu bisa mengobatinya?" tanya pria yang bertubuh besar.
"Kebetulan aku berbelanja banyak bahan obat di tasku, aku tak akan keberatan membagikannya untuk adikmu."
"Selamatkan dia."
"Lukanya cukup parah. Apa kamu punya semacam pisau kecil?"
"Seperti ini?" Pria itu mengeluarkan pisau dari dalam bajunya.
"Ya. Bakar pisau itu," perintah Liu Li, "ada arak?"
"Ya, kami punya arak."
"Bagus, berikan padaku." Liu Li memandang pria yang terluka, wajahnya masih tertutup, "bukalah penutup wajahmu, itu akan menyulitkanmu untuk bernafas. Tenang saja, aku tak tertarik melihat wajahmu."
Pria itu mendengus kesal, lalu ia membuka penutup wajahnya.
"Minumlah." Liu Li menyodorkan botol arak padanya, "ini akan terasa sakit. Aku harus membuang kulit luar yang telah terinfeksi," ucapnya sambil mengacungkan pisau di tangannya.
Pria itu menelan ludahnya, lalu meneguk arak yang ada di tangannya.
"Kalian pegangi ke dua tangan dan kakinya, jangan sampai terlepas. Aku tidak mau salah mengiris bagian yang lain," ucap Liu Li.
Ia sengaja tidak memberikan obat pengurang rasa sakit pada pria itu, Liu Li yakin rasanya akan sangat sakit nantinya.
Siapa suruh kalian menculikku, batin Liu Li.
"Bertahanlah," ucap Liu Li sambil mulai menancapkan ujung pisau ke kulit kaki pria itu.
__ADS_1
"Aaaaa!!!" Teriakan kesakitan menggema di dalam gua.