
"Tidak disangka, bahwa bibi memiliki kemampuan medis yang begitu hebat. Bibi benar-benar membuatku terkejut," ucap pangeran Zheo, "aku Zheo, ingin bersulang untuk bibi."
Zheo adalah keturunan raja, satu-satunya pangeran yang memiliki kekuasaan. Kabarnya, pangeran Zheo itu terlihat ramah dan baik pada semua orang, tapi sebenarnya dia melakukan banyak trik di belakangnya.
"Anda terlalu berlebihan, kemampuanku tidaklah seberapa." Liu Li ikut mengangkat gelasnya.
"Teknik penanganan bibi tampak misterius jika dibandingkan dengan tabib kerajaan. Kemampuan bibi tidaklah sedangkal yang bibi ucapkan. Saya penasaran, di manakan bibi mempelajarinya? Dalam penglihatan saya, tabib istana tidaklah sebanding dengan kemampuan bibi."
Di balik pertanyaan pangeran Zheo, terdapat suatu trik licik dan langsung ke sasaran. Liu Li menyadarinya.
"Ada ribuan buku di perpustakaanku," jawab pangeran Jin, "bibimu tidak pernah keluar selama dua tahun dan menghabiskan semu waktunya di perpustakaan. Sekarang setelah dia mempraktikkan apa yang ia pelajari, ini menunjukkan dia tidak mempermalukan diriku."
"Tidak disangka, bibi sangat berbakat. Hanya dengan membaca buku saja, lalu berubah menjadi jenius. Ini benar-benar membuat saya kagum. Saya mengagumi bibi!"
Semua yang mendengar pernyataan pangeran Zheo dibuat iri olehnya. Tidak menyangka bahwa Liu Li adalah begitu berbakat. Namun Xiao Wu tidak bisa menerimanya dengan mudah, apalagi setelah ia diusir dari mansion pangeran.
"Yang mulia, hamba tidak puas akan satu hal," ucap Xiao Wu pada raja.
"Apa itu?" tanya raja.
"Hamba telah diusir dari mansion pangeran Jin secara tidak pantas oleh Liu Li. Saya adalah selir pangeran Jin, bagaimana bisa Liu Li melakukannya saat pangeran tidak ada di tempat."
"Ini adalah urusan mansion Jin. Kuserahkan sepenuhnya pada Jin," jawab raja.
Pangeran Jin menatap Xiao Wu dengan tajam, ia tak suka masalah keluarganya diungkit di depan umum seperti sekarang, "seperti yang Liu Li inginkan. Kamu keluar selamanya dari mansionku."
"Pangeran!" Xiao Wu memohon.
Tiba-tiba Xiao Wu menarik pedang penjaga di sebelahnya dan mencoba menghunuskannya pada Liu Li. Wei Hong dengan cepat melindungi Liu Li dan membuat pedang terjatuh dari tangan Xiao Wu.
"Aaah!" teriak Xiao Wu.
"Secara terbuka berani mencoba membunuh tuan putri!" Pangeran Jin marah.
"Pangeran, tolong!" bibi memohon pada pangeran, "Xiao Wu hanya gegabah dalam sesaat saja, ia tak bermaksud melukai tuan putri. Tolong pangeran mengerti!"
"Pangeran, aku hanya merasa perempuan itu bukan Liu Li. Aku ingin membuka topengnya," ucap Xiao Wu ketakutan.
"Liu Li adalah istriku. Aku yang paling tahu siapa dia," ucap pangeran dingin.
"Liu Li, tolong ampuni saudaramu. Dia melakukannya dengan tidak sengaja." Bibi berlutut memohon pada Liu Li, "darah lebih kental dari pada air."
Bibi sengaja mengucapkan kalimat itu dengan tujuan Liu Li akan membantunya, karena Liu Li akan tampak tidak memiliki perasaan di hadapan orang lain bila menolak permohonannya.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Liu Li, "tapi untuk masalah kakak yang telah memfitnahku telah berselingkuh dan mengkhianati suamiku sebelumnya, kamu harus memberikan keluarga kerajaan sebuah jawaban. Karena aku telah membuktikan bahwa aku tidak bersalah, kalau begitu masalah yang kamu tuduhkan padaku sebelumnya adalah sebuah fitnah pada keluarga kerajaan. Aku tidak tahu bagaimana masalah ini diselesaikan."
Wei Hong maju selangkah ke depan, "siapa pun yang memfitnah anggota kerajaan, berdasarkan hukum akan menerima hukuman dicambuk sebanyak 200 cambukan."
"200 cambukan?" kata bibi dengan air mata yang mulai menetes, "itu sama saja dengan menginginkan kematian. Bagaimana anakku bisa menanggung itu!"
"Untuk menghindari orang yang akan berbicara buruk tentang kami kakak adik yang tak memiliki perasaan," ucap Liu Li, "maka 80 atau 70 cambukan saja sudah cukup."
"Tidak, aku tidak mau!" teriak Xiao Wu, "ayah, aku mohon bantulah aku!"
"Nona Xiao Wu, mohon kerja samanya," ucap Wei Hong, "jika bukan karena kebaikan tuan putri yang mengurangi hukuman cambuk, tentu kami akan menghukum sesuai aturan sebanyak 200 cambukan."
"Xiao Wu, itu hanya 80 cambukan, tahan saja dan itu akan segera berakhir." Ayah Xiao Wu tak bisa berbuat apa-apa. Jika ia tak membiarkan putrinya menanggung hukuman, maka semuanya akan jadi lebih berat untuknya.
"Nona Xiao Wu, tolong ikut saya," kata Wei Hong.
Karena tak ada yang bisa membantunya lagi, Xiao Wu mengikuti Wei Hong keluar ruangan untuk menerima hukuman cambuk.
"Aaaaaaah!" Jeritan pilu Xiao Wu membuat yang lain akan berpikir ulang untuk mempunyai masalah dengan Liu Li.
Setelah makan besar, pangeran Jin dan Liu Li kembali ke mansionnya. Mereka menaiki kereta kuda yang sama.
"Pangeran, bagaimana lukamu?" tanya Liu Li.
"Dalam proses penyembuhan, diharuskan untuk memeriksanya kembali untuk memastikan apakah ada potensi terjadi masalah," jelas Liu Li, "jadi pangeran, aku akan memeriksamu lagi."
"Liu Li ..." Pangeran menatap Liu Li tajam, "siapa kamu sebenarnya?"
"Pangeran, aku sudah bilang bahwa aku Liu Li, bukannya saat di istana pangeran mengatakan bahwa pangeran mengenalku dengan baik," jawab Liu Li.
"Benarkah?" Pangeran mendekati Liu Li, sangat dekat, "putriku tidak mengerti ilmu medis, terlebih lagi ... dia tak mungkin bertindak dengan berani seperti ini."
"Bagaimana kalau aku hanya berpura-pura sebelumnya hanya untuk menunggu hari ini? Pangeran, kamu inj seperti memungut berlian, kamu seharusnya senang dan puas," ucap Liu Li percaya diri, "lihatlah aku tidak hanya sangat cantik, bentuk badan bagus, dan aku seorang dokter. Selain itu aku juga bersikap sangat baik, di mana kamu bisa menemukan putri yang lebih baik dari aku?"
"Kamu ini sangat narsis."
"Apanya yang narsis? Jelas-jelas ini disebut percaya diri."
"Jangan banyak omong kosong, memeriksa luka lebih penting," ucap Liu Li mengalihkan perhatian.
Liu Li membuka pakaian pangeran tanpa ijin darinya.
"Liu Li kamu--" Pangeran merasa tidak nyaman dengan tingkah Liu Li.
__ADS_1
"Pangeran malu? Aku ini dokter, ini hal biasa untukku."
Liu Li mengamati luka pangeran yang telah mengering dan hampir sembuh sepenuhnya. Liu Li merasa heran, orang biasa tak akan sembuh secepat ini. Lalu ia meraba dada bidang pangeran untuk mengamatinya lebih dekat.
"Menyenangkan kah?" tanya pangeran.
"Ehem," Liu Li terkejut, "aku hanya mengamati lukamu yang sembuh dengan cepat."
"Mulai sekarang, jika kamu membutuhkan apa pun, kamu bisa memberi tahu Wei Hong."
"Pangeran, apakah ini memberikan hak istimewa pada putri?" tanya Liu Li senang.
Tiba-tiba saja pangeran menarik tangan Liu Li, "jangan bergerak." Kini mereka berdiri begitu dekat.
Pangeran membuka baju yang menutup pundak Liu Li.
"Pangeran!" Liu Li mencoba menghindar.
"Lancang." Pangeran menarik Liu Li kembali dalam dekapannya, lalu pangeran menatap tanda lahir di bahu Liu Li.
"Pangeran, bagaimana kamu bisa tahu tanda lahir di tubuhku?"
"Kamu adalah istriku."
"Pangeran, kita sudah sampai."
Pangeran dan Liu Li turun dari kereta kuda lalu memasuki mansion. Para pelayan berbaris menyambut kedatangan mereka, "hormat yang mulia."
Pangeran Jin menghentikan langkahnya, "apakah kalian hanya melihatku seorang diri saja?"
Para pelayan begitu terkejut mendengarnya lalu kembali membungkuk, "hormat, tuan putri."
Liu Li pun tak kalah terkejut mendengarnya.
"Lain kali jika kalian tidak memahami peraturan mansion, maka kalian semua akan diusir dari mansion ini," ucap pangeran.
Para pelayan gemetar mendengarnya, mengingat bagaimana mereka telah memperlakukan putri dengan tiak hormat. Kini mereka harus menghormati Liu Li sebagai putri pangeran.
"Cepatlah," ucap pangeran sambil berjalan.
"Baik." Liu Li nampak senang dengan apa yang telah pangeran lakukan. Kemudian ia mengikuti pangeran di belakangnya.
"Aku masih memiliki sesuatu yang harus dikerjakan. Kamu bisa kembali ke kamarmu untuk istirahat."
__ADS_1
"Baiklah."