Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Wabah Penyakit


__ADS_3

Liu Li berjalan keluar rumah sakit.


"Saya diperintahkan pangeran untuk mengawal," ucap seorang prajurit.


"Apa kamu tahu jalan? Aku ingin mencari toko obat di dekat pasar."


"Iya, saya tahu."


***


"Apa saja kerja kalian? Bagaimana bisa membiarkan wabah menyebar di sini sampai tiga bulan?" Pangeran Jin merasa ada yang tidak beres dengan kerja para pejabat.


Para pejabat saling pandang, lalu salah satunya menjawab, "ampuni kami yang mulia. Awalnya banyak yang sembuh dari penyakit, tapi tidak disangka ... makin hari korban makin banyak hingga kehabisan obat."


"Semuanya bantu pasok bahan makanan untuk rakyat yang terjangkit wabah, gunakan uang pribadi kalian! Bila wabah ini berakhir, aku akan memikirkan lagi apakah kalian masih pantas menduduki posisi pejabat atau tidak."


Para pejabat merasa khawatir. Selama ini mereka tidak pernah melakukan pekerjaannya membantu rakyat. Mereka hanya memperkaya diri masing-masing.


***


"Apakah kamu pemilik toko obat ini?" tanya Liu Li ketika sampai di satu-satunya toko obat yang ada di sana.


"Bukan, saya penjaga di sini. Pemiliknya tidak pernah datang."


"Kamu tahu siapa pemiliknya?"


"Tidak, bahkan gaji kami tiap bulan sudah dikirim seseorang."


Apakah wabah ini berkaitan dengan pemilik toko obat misterius ini? batin Liu Li.


"Ayo kita pergi," ajak Liu Li pada pengawal, "kita cari sumber mata air desa ini."


Setelah bertanya pada beberapa warga, Liu Li menemukan sumber mata air utama. Sumber mata air itu dipakai seluruh rakyat untuk memenuhi kebutuhan air minum mereka.


Liu Li mencium air yang ia ambil dengan telapak tangannya, "air ini baik-baik saja," gumamnya, "tidak ada masalah. Apa kau melewatkan sesuatu?"


"Putri," bisik pengawal, "hari akan gelap, sebaiknya kita segera kembali."


"Ayo, kita kembali." Liu Li berjalan pulang, ia melewati rumah sakit yang ia kunjungi tadi, "kita ke rumah sakit sebentar."


Liu Li merasa harus memeriksa lagi kondisi pasien yang terjangkit wabah. Liu Li memeriksa kulit pasien yang terbaring lemah, bila diteliti lebih saksama, ada bintik-bintik kecil di permukaan kulit, "sudah kuduga."


Tabib yang berjaga di rumah sakit mendekati Liu Li dan bertanya, "ada apa?"


"Ada sesuatu yang hidup di tubuh mereka. Mengobatinya saja tak akan cukup, kita harus mengeluarkan sesuatu itu," jawab Liu Li.


"Benarkah?!" Tabib begitu terkejut.

__ADS_1


"Aku pernah membaca kitab kuno, bila yang ada di tubuh mereka adalah sejenis serangga, cara mengobatinya mudah saja. Cukup campurkan telur dan cuka, lalu diminum."


"Segala cara sudah kami lakukan. Tidak ada salahnya untuk mencoba cara ini. Tapi, persediaan makanan ..."


"Aku akan kembali ke kediaman pangeran, aku pasti bisa mendapatkannya. Tabib, tetaplah berada di sini."


"Baik, aku mengandalkanmu."


Liu Li dan pengawal segera kembali dan menemui pangeran yang masih memeriksa laporan para pejabat di ruang kerja.


"Ini sudah larut, dari mana saja kamu?" tanya pangeran Jin.


"Pangeran, sepertinya aku telah menemukan penyebab wabah. Sekarang aku membutuhkan banyak telur dan cuka," ucap Liu Li.


"Istirahatlah, besok pagi-pagi apa yang kamu butuhkan sudah siap."


"Baik. Ehem ... di mana kamarku?"


"Rumah ini tidak cukup besar, tidurlah denganku."


"Jangan macam-macam padaku."


"Hahaha ..." Pangeran tertawa, "kondisikan kaki dan tanganmu."


Liu Li mengingat kejadian semalam, dia lah yang memeluk pangeran, "aku mau tidur." Liu Li pergi meninggalkan pangeran yang masih tertawa kecil.


"Wei Hong," panggil pangeran, "kamu sudah dengar. Siapkan apa yang diperlukan Liu Li."


Pagi-pagi sekali Liu Li sudah bangun, ia tak mendapati pangeran di ranjang. Sepertinya pangeran tidak tidur semalam.


Liu Li melihat telur dan cuka telah disiapkan di depan kamar. Dengan segera Liu Li memecahkan telur-telur itu dan mengaduknya di sebuah baskom yang besar.


"Apa kamu membutuhkan pelayan untuk membantumu?" tanya pangeran yang datang mendekati Liu Li.


"Aku perlu bantuan untuk membawanya ke rumah sakit."


"Aku akan menemanimu."


"Aku sudah selesai. Kita bisa ke rumah sakit sekarang."


***


Liu Li menyuapkan obat yang dibuatnya pada seorang pasien, "minumlah," ucapnya.


Para tabib yang berjaga juga membantu menyuapkan obat pada pasien satu per satu. Beberapa menit kemudian tiba-tiba tubuh orang-orang yang sakit itu terasa terbakar dan mengeluh perutnya sakit.


"Apakah ini reaksi obat?" tanya seorang tabib dengan gelisah.

__ADS_1


Lalu mata orang-orang itu terbelalak, mulutnya terbuka dengan lebar.


"Ada sesuatu keluar dari mulutnya!" pekik seorang prajurit.


Seekor serangga sebesar kelereng dsn memiliki sayap kecil keluar dari mulut orang yang sakit. Lalu serangga itu terbang di langit-langit rumah sakit. Serangga-serangga yang lain menyusul keluar dari semua pasien, dan mereka terbang bergerombol.


Pangeran mengambil jarum-jarum milik tabib yang tergeletak di meja, lalu membidiknya ke arah serangga-serangga itu, "tap tap!" Dengan cepat serangga-serangga jatuh mati tergeletak di lantai. Kemudian disusul tebasan pedang dari pangeran berhasil membunuh sisa serangga yang masih beterbangan.


"Pangeran keren sekali," gumam Liu Li.


"Terima kasih, yang mulia," ucap tabib dan para pasien bersamaan, mereka membungkuk dan memberi hormat.


***


"Rakyat sudah terbebas dari wabah, tapi kita belum tahu siapa dalang dari semua ini. Aku harus segera kembali ke ibu kota. Penyelidikan selanjutnya kuserahkan padamu," ucap Pangeran Jin di ruang kerjanya.


"Baik, pangeran. Hamba akan menyelidiki dan melaporkannya," jawab pejabat Xi.


Esok paginya, pangeran Jin beserta prajuritnya meninggalkan wilayah selatan. Kali ini pangeran Jin tidak menunggang kudanya, ia duduk di dalam kereta kuda ditemani Liu Li yang masih berpakaian layaknya pria.


Liu Li yang terlalu lelah, tertidur bersender di pundak pangeran. Pangeran memandangi wajahnya yang cantik, tangannya bergerak merapikan rambut Liu Li yang menutupi sebagian matanya yang terpejam.


"Gludak!" Roda kereta melewati batu membuat kereta berguncang dan Liu Li terbangun dari tidurnya - tepat ketika tangan pangeran menyentuh rambutnya.


Liu Li menjauhkan kepalanya, "apa yang kamu lakukan?"


Seolah pangeran adalah seseorang yang tertangkap basah karena melakukan kesalahan, Liu Li memandanginya dengan penuh selidik.


"Kamu tertidur di pundakku. Lihat air liurmu menetes."


"Hah?!" Liu Li mengusap kasar bibirnya.


"Hahaha ..."


"Huh." Liu Li kesal karena merasa dipermainkan.


"Kita sudah dekat. Kamu pulanglah ke mansion. Aku akan menghadap raja di istana," ucap pangeran.


"Baik."


Kemudian mereka berpisah, Liu Li tetap mengendarai kereta kuda dan pangeran Jin menunggang kudanya.


***


Mansion pangeran Jin.


"Pangeran mendapat tugas penting dari raja. Kakak pintar sekali memanfaatkan waktu. Sudah tiga hari tak kelihatan di mansion, jangan-jangan kakak tidak pulang selama tiga hari," sindir selir Fu Rong ketika berpapasan dengan Liu Li.

__ADS_1


Sebelum masuk mansion, Liu Li telah mengganti bajunya dengan pakaian yang biasa ia kenakan.


"Sejak kapan aku jadi kakakmu. Panggil aku putri," kata Liu Li.


__ADS_2