Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Pelayan


__ADS_3

"Kamu benar-benar ingin tidur di sini?" tanya Liu Li tak percaya.


Pangeran merenggangkan tangannya dan menguap, "aku sudah lelah. Sudah tak ada tenaga untuk kembali ke kamarku," ucapnya lalu merebahkan diri di ranjang.


"Kamu --"


"Ini juga bukan pertama kalinya kita tidur bersama."


"Itu --"


"Ayo cepat tidur." Pangeran memejamkan matanya.


"Awas kalau macam-macam!" sungut Liu Li, tapi akhirnya dia berbaring juga di sebelah pangeran dan terlelap.


****


"Sssst ... semalam pangeran menghabiskan malam di kediaman Liu Li," bisik selir Miu.


"Benarkah? Sejak kapan mereka mulai berhubungan?" keluh selir Fang.


"Entahlah, sejak desas-desus Liu Li menyelamatkan pangeran waktu itu, sepertinya hubungan mereka jadi dekat. Apa benar Liu Li mengetahui ilmu medis? Desas-desus itu sungguh omong kosong."


"Aku juga tak mempercayainya. Pasti Liu Li menggunakan sihir pada pangeran."


"Ah, iya! Perempuan bodoh itu pasti bermain sihir."


"Pelankan suara kalian," ucap selir Fu Rong yang tiba-tiba lewat dan mengejutkan mereka yang sedang bergosip, "di istana dilarang menggunakan sihir, hukuman mati menanti pelakunya."


"Selir Fu Rong," sapa para selir bersamaan. Fu Rong memiliki kedudukan lebih tinggi dari para selir itu, jadi mereka harus memberi hormat.


"Tapi, putri Liu Li memang mencurigakan. Kita semua tahu bahwa dia adalah orang bodoh, mana mungkin dia mengetahui ilmu medis dan membuat pangeran menjadi dekat dengannya," ucap selir Miu.


"Hmm ..." Selir Fu Rong tak menjawab.


"Hormat para selir," ucap pelayan wanita yang baru saja datang menghampiri mereka, "putri Liu Li meminta para selir menghadap."


Para selir saling berpandangan, sebelumnya Liu Li tidak pernah melakukan hal ini.


"Ayo kita pergi," kata selir Fu Rong.


Ternyata selain selir, beberapa pelayan wanita juga dipanggil. Mereka telah berkumpul di aula utama.


"Aku memanggil kalian karena ada suatu hal yang ingin kusampaikan," ucap Liu Li sambil melihat satu per satu orang yang hadir, "aku akan mengganti struktur kepemimpinan di sini. Aku menunjuk nenek Zao sebagai menjadi kepala pelayan."


Selir Fu Rong merasa tersinggung karena merasa tak dianggap. Semenjak kepala pelayan lama telah pergi, selir Fu Rong menunjuk pelayannya sebagai kepala pelayan. Itu terjadi beberapa hari yang lalu, tepat saat Liu Li ke wilayah selatan.


Para selir saling berbisik, "tapi bagaimana dengan kepala pelayan pilihan selir Fu Rong?"


"Ada yang keberatan? Katakan saja sekarang," kata Liu Li.


"Putri, saya telah memilih Ning sebagai kepala pelayan beberapa hari yang lalu, kerjanya bagus. Kenapa putri mengabaikannya? Ke mana putri waktu itu?" Fu Rong memojokkan Liu Li.


Liu Li tersenyum, "aku bersama pangeran ke wilayah selatan."


Huh, lagi-lagi berlindung di balik punggung pangeran! Sampai kapan kamu bisa bertahan, Liu Li! batin Fu Rong. Jika berkaitan dengan pangeran Jin, Fu Rong tidak dapat berkata-kata lagi.


"Baiklah, urusan para selir sudah selesai. Kalian boleh kembali." Perkataan Liu Li semakin mirip dengan pangeran Jin.

__ADS_1


"Kami pamit, putri." Para selir keluar ruangan dengan hati yang tak tenang. Mereka resah dengan sikap Liu Li yang tegas, ia tak akan mudah ditindas seperti dulu.


"Kamu dan kamu." Liu Li menunjuk dua orang pelayan wanita, "siapa nama kalian?"


"Hamba, Shin."


"Hamba, Meng Meng," jawab kedua pelayan itu.


"Kalian berdua akan menjadi pelayanku, apa kalian keberatan?" Liu Li menunjuk mereka berdua karena mereka adalah pelayan baru yang belum pernah mengabdi pada selir-selir di mansion pangeran Jin sebelumnya. Itu akan memudahkannya memiliki pelayan yang setia ke depannya.


"Kami sangat senang, putri," jawab kedua pelayan.


"Nenek Zao, maaf merepotkanmu," ucap Liu Li pada nenek Zao yang berdiri di sampingnya.


"Putri, aku sangat bangga padamu," ucap nenek Zao dengan tulus. Liu Li pun tersenyum mendengarnya.


***


"Shin, kamu beruntung sekali dipilih menjadi pelayan putri Liu Li," ucap seorang pelayan wanita saat mereka sedang berada di dapur.


"Aku juga tak menyangkanya, putri adalah seseorang yang baik." Shin terlihat bahagia.


"Bila putri Liu Li melahirkan seorang putra, maka ia akan makin disayang pangeran. Nasib baik untuk para pelayan yang ikut putri Ling. Aku sangat iri padamu."


"Kamu juga beruntung bisa menjadi pelayan selir Fu Rong."


"Aku selalu berdoa supaya selir Fu Rong segera hamil."


"Aku juga pasti akan melakukannya untuk putri Liu Li," ucap Shin dengan polosnya.


"Benarkah? Kamu baik sekali," Shin menerima beberapa lembar jimat.


"Sembunyikan di kantong baju putri Liu Li. Kata pendeta jangan sampai seorang pun tahu, itu akan mengurangi keampuhannya."


"Itu mudah, aku akan meletakkannya diam-diam."


"Semoga beruntung, Shin. Jangan lupakan aku bila kamu telah menjadi pelayan kesayangan putri."


"Aku tidak akan lupa, kawan."


***


"Salam, pangeran." Selir Fu Rong memberi hormat.


"Ada apa kamu mencariku?" tanya pangeran Jin.


"Fu Rong membuatkan makanan ringan untuk pangeran." Kemudian pelayan Fu Rong membawakan nampan berisikan makanan ke meja pangeran.


"Ah!" Tiba-tiba Fu Rong jatuh ke lantai.


Pangeran berdiri dan menghampirinya, "kamu sakit?"


"Sedikit pusing," jawab Fu Rong.


"Istirahatlah, akan kupanggilkan tabib."


"Pangeran, kudengar putri Liu Li memiliki keahlian medis. Bila pangeran tidak keberatan, biarkan putri yang memeriksaku."

__ADS_1


Pangeran Jin membantu Fu Rong duduk di kursi.


"Panggilkan putri ke mari," perintah pangeran pada pelayan.


"Baik, pangeran."


Beberapa saat kemudian Liu Li diikuti dua orang pelayannya datang ke tempat pangeran.


"Pangeran memanggilku?" tanya Liu Li.


"Fu Rong merasa tidak enak badan, bisakah kamu memeriksanya?" tanya pangeran.


Selir Fu Rong, apa lagi rencanamu, batin Liu Li.


"Tentu," ucap Liu Li sambil berjalan mendekati Fu Rong.


Liu Li menarik tangan Fu Rong untuk memeriksa denyut nadinya, denyut nadinya normal, batin Liu Li.


Tangan kiri Fu Rong menarik lengan baju Liu Li yang terurai dan membuat sesuatu terjatuh dari dalamnya.


"Ah maafkan aku putri, aku tak sengaja," ucap Fu Rong, "aku akan mengambilkan barangmu yang terjatuh." Dengan cepat Fu Rong beranjak dari duduknya dan mengambil benda yang jatuh dari dalam lengan baju Liu Li.


"Ini!" seru Fu Rong terkejut sambil memegang selembar kertas berwarna kuning di tangannya, "putri, kamu!"


Liu Li tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Fu Rong. Tapi ia tahu, sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.


"Ini jimat kematian!" Fu Rong berseru lebih keras.


"Apa?!" Semua yang ada di ruangan terkejut. Dua orang pelayan Liu Li saling berpandangan tak percaya.


"Putri, aku tak menyangka kamu membawa benda terlarang ini ke dalam istana! Untuk siapa jimat ini?" Fu Rong memojokkan Liu Li.


"Itu bukan milikku. Aku tak tahu bagaimana bisa ada di dalam bajuku," jawab Liu Li.


"Kamu tahu peraturan istana, membawa masuk jimat berarti hukuman mati!" Fu Rong terus memberi tekanan pada Liu Li.


Shin sangat terkejut mendengarnya, ia baru menyadari bahwa dirinya telah diperalat hingga membuat putri Liu Li yang begitu baik padanya akan dijatuhi hukuman mati.


"Ampuni, hamba!" Shin bersujud di lantai, "seseorang meminta hamba menyimpannya di dalam baju putri. Ia mengatakan bahwa itu adalah jimat untuk mendapatkan keturunan. Hamba tidak menyangka kalau itu --" Shin berkata sambil menangis.


"Beraninya kamu membawa jimat masuk ke mari! Pangeran, dia harus dihukum!" kata Fu Rong.


"Hukum dia," ucap pangeran Jin dingin.


"Tapi, kita harus mencari tahu kebenarannya lebih dulu, dia pelayanku," protes Liu Li.


"Bawa dia ke penjara," perintah pangeran.


Liu Li menatap Shin dan berkata, "tunggulah, aku akan menyelamatkanmu."


Shin menangis lebih kencang, "putri, aku tak pernah mengkhianatimu. Maafkan kecerobohanku." Dua orang pengawal membawanya keluar dari ruangan pangeran.


"Pangeran, ini tidak adil. Kita harus --"


"Hukuman harus tetap dilakukan," potong pangeran Jin dingin. Matanya menatap Liu Li dengan tajam.


Liu Li merasa takut dengan sikap pangeran. Tapi ia juga merasa kecewa, kenapa pangeran tak membelanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2