Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Menyusul Pangeran


__ADS_3

"Kamu tidak berguna!" Fu Rong melempar piring yang ada di meja dan membuatnya pecah berkeping-keping di lantai.


Pelayan bersujud di lantai memohon ampunan, "saat saya sampai di penjara, pelayan itu sudah mati."


"Gagal sudah rencanaku! Sekarang masalah jimat kematian sudah tidak berguna lagi karena pelayan itu telah mengakuinya dan sekarang dia sudah mati!" seru Fu Rong, "hukum pelayan ini! Cambuk dia!" perintah Fu Rong keji.


"Ampuni, saya!" Pelayan memohon ampun, tapi percuma. Dua orang pelayan laki-laki menyeretnya keluar.


***


Pangeran Jin dan Liu Li telah berada di istana raja.


"Liu Li, kamu telah berjasa mengatasi wabah di wilayah selatan. Selain itu, kamu telah menyelamatkan cucuku. Aku akan memberimu hadiah, apa yang kamu inginkan?" tanya raja.


"Yang mulia terlalu berbaik hati, ini sudah menjadi tugas Liu Li untuk membantu. Liu Li tidak mengharapkan hadiah apa pun dari yang mulia," jawab Liu Li.


"Aku memaksamu menerima hadiah."


"Yang mulia, bila tidak keberatan, Liu Li akan lain waktu." Saat ini ia belum membutuhkan apa pun, Liu Li berencana meminta sesuatu pada raja saat dia memerlukannya.


"Baiklah, aku akan mengabulkan semua permintaanmu."


"Terima kasih, yang mulia."


"Yang mulia, kami pamit dulu," ucap pangeran Jin yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Liu Li.


"Jin, buru-buru sekali. Apa kalian tidak mau menikmati makan siang di sini?" tanya raja.


"Masih ada urusan yang harus kuselesaikan, yang mulia," jawab pangeran Jin.


"Baiklah, pergilah."


Pangeran dan Liu Li kembali ke mansionnya menaiki kereta kuda. Selama di perjalanan, Liu Li tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Kenapa tak ada kucing yang lewat lagi?" gumam pangeran.


Tidak lucu!!! batin Liu Li.


"Dalam waktu dekat ini, aku akan pergi berperang melawan bangsa barbar," ucap pangeran.


Liu Li hanya menatap pangeran sejenak, lalu kembali memalingkan wajahnya tanpa berkata-kata sepatah pun. Apa urusannya denganku, batin Liu Li.


***


"Putri, kenapa terlihat murung terus?" tanya nenek Zao.


"Rasa simpatiku pada pangeran Jin telah hilang. Kupikir dia adalah orang yang baik, ternyata dia tak lebih dari seorang pangeran yang licik, tak punya hati."


Nenek Zao tak percaya mendengarnya, ia tak mengira bila Liu Li mendendam pada pangeran Jin. Tiba-tiba saja nenek Zao bersujud di lantai, "pelayan ini patut mati!"


"Nenek! Apa yang kamu lakukan? Berdirilah!" Liu Li membungkuk dan meraih pundak nenek Zao.


"Putri ... sebenarnya ..." nenek Zao menatap Liu Li, "sebenarnya, aku lah yang memaksa Shin untuk bunuh diri."


Liu Li terkejut setengah mati, "bagaimana mungkin? Nenek hanya ingin membela pangeran?"


"Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan pangeran," jawab nenek Zao, "tepat setelah putri mengunjungi Shin, aku masuk dan mengatakan bahwa kematiannya akan membuat semua terselesaikan."


Nenek Zao sudah lama tinggal di istana, ia tahu betul apa yang terjadi selanjutnya bila Shin tidak melakukan bunuh diri. Akan ada banyak pihak yang mengambil keuntungan dari kemalangan putri, terutama selir Fu Rong.

__ADS_1


"Nenek ..." Liu Li sungguh sedih mendengar hal itu. Justru orang terdekatnya yang membuat Shin bunuh diri.


"Hukumlah aku, putri!"


"Aku tahu yang nenek lakukan adalah untukku, tapi ... menghilangkan nyawa seseorang ..." Liu Li tak dapat melanjutkan perkataannya. Ya, inilah kehidupan istana, yang lemah akan tertindas.


"Makamkan jasad Shin dengan layak. Berikan emas dan perak untuk keluarganya," perintah Liu Li, "untuk hukuman nenek, aku belum memikirkannya. Kita bicarakan lain waktu."


Nenek Zao mengangguk, "baik, putri."


Jadi selama ini aku telah salah paham pada pangeran, batin Liu Li. Ah, biar saja! Dia juga menyebalkan.


Beberapa hari telah berlalu. Liu Li tak pernah bertemu pangeran lagi sejak mereka pergi bersama ke istana.


"Meng, ayo kita pergi," ajak putri.


"Baik, putri," jawab Meng Meng, ia mengikuti Liu Li dari belakang, "putri kita mau ke mana?"


"Aku mau ke toko bahan obat."


Liu Li menuju toko herbal terbesar di kota.


"Menyenangkan sekali bisa mencium aroma herbal," gumam Liu Li. Kini ia sedang asyik memilih herbal yang akan ia bawa pulang.


Terdengar dua orang tabib sedang berbincang, "bahkan bahan obat yang dikirim ke istana ikut dirampok kaum barbar. Mereka sungguh serakah."


"Semoga pangeran Jin berhasil mengalahkan bangsa barbar dan pulang membawa kemenangan."


Liu Li menjatuhkan herbal dari tangannya lalu pergi berlari ke luar dari toko. Meng Meng yang melihatnya kebingungan dan ikut berlari mengejarnya.


Beberapa waktu lalu pangeran mengatakan akan pergi memerangi bangsa bar-bar, semoga saja dia belum berangkat, batin Liu Li. Ia terus berlari pulang menuju mansion.


"Pangeran!" Liu Li membuka pintu kediaman pangeran, kosong.


"Putri, ada apa?" tanya Meng Meng yang juga kelelahan, ia bingung melihat tingkah Liu Li.


"Cepat cari tahu, ke mana pangeran," pinta Liu Li.


"Baik." Meng Meng mencari pelayan yang berada di kediaman pangeran.


"Ke mana pangeran?" tanya Meng Meng saat melihat seorang pelayan laki-laki melintas.


"Pangeran telah pergi, kudengar ia akan berperang melawan bangsa barbar," jawab pelayan itu.


"Kenapa tidak diumumkan keberangkatannya?" tanya Meng Meng ingin tahu.


"Aku sendiri juga tidak tahu. Pangeran berangkat saat tengah malam tadi."


Liu Li yang mendengarnya, lalu ia berpikir bahwa masih ada waktu untuk menyusul perjalanan pangeran. Ia baru berangkat semalam, saat ini pasti posisinya belum terlalu jauh. Dengan menunggang kuda, ia bisa menyusulnya.


Liu Li segera menuju kamarnya. Ia mengemasi apa yang perlu ia bawa selama perjalanan.


"Putri mau ke mana?" tanya nenek Zao.


"Nenek, aku ada urusan. Nenek uruslah mansion seperti biasa," pinta Liu Li.


"Aku bisa mengurus mansion. Tapi, putri mau ke mana? Berapa lama?" tanya nenek khawatir.


"Aku akan menyusul pangeran," jawab Liu Li.

__ADS_1


"Baiklah, putri harus hati-hati di jalan." Nenek Zao tidak tahu kalau pangeran pergi berperang. Kalau tahu Liu Li akan menyusul ke medan perang, pasti nenek Zao akan melarangnya.


"Tenang saja, nek."


Kemudian Liu Li meninggalkan mansion dan berkuda ke arah barat, ia membawa peta sebagai pedoman.


"Pangeran, bagaimana bisa kamu tidak mengajakku melakukan hal mengasyikkan itu? Di mansion sungguh membosankan, hanya ada para selir dengan senyum palsunya," gumam Liu Li di atas kudanya yang sedang berlari.


Setelah setengah hari kudanya berpacu, Liu Li berhenti untuk memberi makan kudanya, "makanlah yang banyak," ucap Liu Li sambil mengelus kepala kudanya.


"Ukh ..." Suara seorang laki-laki yang sedang mengeluh kesakitan.


Liu Li berputar mencari sumber suara, ia tak melihat ada siapa pun di sekitar tempat ia sedang berdiri. Kemudian ia menyingkap semak-semak dan melihat seorang laki-laki terbaring di sana.


"Hai, nona cantik," sapa laki-laki berwajah tampan itu. Ia mengenakan pakaian indah layaknya seorang bangsawan, kakinya sedang terluka.


"Siapa kamu? Kakimu terluka?" tanya Liu Li waspada, tapi sesungguhnya dia sedang terpesona melihat ketampanan pria di hadapannya.


"Namaku Han Yu," jawabnya, "bisakah kamu membantuku?"


Liu Li membantunya untuk berdiri dan duduk di bawah pohon. Ia merasa Han Yu bukanlah orang jahat, tidak ada ruginya juga membantu pria tampan.


"Kenapa kakimu? Lukanya cukup dalam." Liu Li mengamati kaki Han Yu yang berlumur darah.


"Kudaku terkejut karena ada ular yang jatuh dari pohon. Lalu aku terlempar ke tanah."


"Sesuatu menancap di kakimu. Kamu telah menariknya?" Liu Li mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Bagaimana kamu tahu? Ada ranting tajam yang menusuk-- ah!"


Liu Li membersihkan luka Han Yu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Han Yu.


"Aku akan mengobatinya, kamu tidak akan bisa berjalan bila luka ini dibiarkan seperti ini." Liu Li membawa cukup banyak obat-obatan di dalam tasnya, ia menyiapkannya untuk mengobati prajurit pangeran yang terluka di medan perang.


"Apa kamu seorang tabib?"


"Ya, bisa dikatakan seperti itu. Apa kamu bisa menahan sakit? Luka ini perlu sedikit jahitan," ucap Liu Li.


Han Yu menatap Liu Li, seolah mencari sesuatu di dalam bola matanya, "aku bisa."


"Baiklah. Ini hanya sebentar." Liu Li menjahit luka di kaki Han Yu, "sudah selesai, tapi akan sedikit sakit untuk berjalan."


"Terima kasih, Nona Liu Li. Apa yang membawamu sendirian di tengah hutan ini?"


"Kamu sendiri?"


"Hahaha ... aku suka jalan-jalan. Bahkan aku tahu segala sudut hutan ini."


"Benarkah? Kamu bisa memberitahuku jalan tercepat menuju bangsa barbar?"


Han Yu mengerutkan alisnya, "kenapa perempuan cantik sepertimu mau ke tempat itu?"


"Hahaha ... tidak, aku ada sedikit urusan."


"Sebagai rasa terima kasihku karena kamu telah mengobati lukaku, aku akan menunjukkan jalan untukmu. Tapi masalahnya, kudaku telah pergi."


"Kudaku cukup besar, kita bisa naik berdua," ucap Liu Li.

__ADS_1


Liu Li dan Han Yu naik kuda berdua, begitu dekat. Meskipun dalam keadaan terluka, Han Yu masih cukup kuat untuk menopang tubuh Liu Li di depannya.


Bahkan Liu Li belum pernah berkuda berduaan seperti ini dengan pangeran Jin.


__ADS_2