
Keesokan harinya, Liu Li dan pangeran Jin kembali ke negeri Fang. Mereka sampai setelah matahari terbenam.
Para selir telah menyambut kedatangan pangeran di pintu gerbang mansion, mereka membungkuk dan memberi salam. Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Liu Li berada di samping pangeran. Para selir mengira Liu Li melarikan diri untuk bersenang-senang selama pangeran Jin tidak berada di mansion.
"Selamat atas kemenangannya, pangeran," ucap selir Fu Rong, "putri tidak nampak di mansion selama beberapa hari, bagaimana putri bisa bersama pangeran?" tanya selir Fu Rong pada Liu Li.
"Aku bersama pangeran beberapa hari ini," jawab Liu Li santai.
"Apa? Pangeran di medan perang, tidak mungkin --"
"Pangeran, aku lelah," ucap Liu Li tak menghiraukan Fu Rong yang sedang berbicara, "aku mau istirahat dulu."
"Pergilah," jawab pangeran. Kemudian Liu Li pergi menuju kediamannya.
"Pangeran, aku akan menyiapkan air hangat untukmu," ucap selir Fu Rong lembut.
"Ini sudah larut malam, tidurlah. Biar pelayan yang menyiapkannya," jawab pangeran Jin kemudian berjalan meninggalkan para selir.
Fu Rong meremas ujung sapu tangannya dengan geram, "ini pasti karena Liu Li. Lihat saja besok."
***
Keesokan paginya, para selir berkumpul di aula utama. Mereka mengundang pangeran Jin dan juga Liu Li untuk membicarakan suatu hal.
"Aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan ada apa," ucap pangeran Jin.
"Maafkan kami pangeran ... ada sedikit hal mendesak yang perlu Fu Rong sampaikan," Fu Rong mengambil nafas dalam-dalam, "selama pangeran ke medan perang, putri Liu Li juga meninggalkan mansion. Seperti yang pangeran ketahui, putri telah mengambil alih tanggung jawab tapi sangat sulit untuk ditemui di mansion. Meskipun putri bersama dengan pangeran, putri tidak bisa mengabaikan kewajibannya. Fu Rong minta kebijakan yang mulia pangeran."
Pangeran Jin berpikir sejenak, ia tahu yang dikatakan selir Fu Rong memang benar. Liu Li tidak melakukan kewajibannya dengan baik, "baiklah, selir Fu Rong tanggung jawab mansion kuberikan padamu selama Liu Li tidak ada," ucap pangeran.
__ADS_1
"Tapi, pangeran ... Fu Rong tidak bermaksud begitu." Fu Rong berkata dengan wajah lembut, "Fu Rong takut menyinggung putri Liu Li."
"Aku tak apa," jawab Liu Li, "memang benar aku sering berada di luar mansion. Seperti kata pangeran, selir Fu Rong bisa bertanggung jawab menggantikanku selama aku tidak ada. Selir Fu Rong bisa melaporkan apa yang terjadi di mansion setelah aku kembali. Mungkin ke depannya aku akan sering keluar bersama pangeran, benar kan pangeran?" Liu Li menatap pangeran.
"Ya," jawab pangeran. Pangeran berpikir daripada Liu Li menyusulnya lagi dengan diam-diam, lebih baik ia mengajaknya ikut serta ke mana pun ia pergi.
Fu Rong meremas gaunnya, bukan ini yang ia harapkan. Ini sama saja menjatuhkan dirinya di bawah kaki Liu Li. Fu Rong mau mengambil alih semuanya, bukan menggantikan selama Liu Li pergi.
"Ada lagi yang ingin kalian sampaikan?" tanya pangeran, "aku harus ke istana raja."
"Terima kasih atas kemurahan hati pangeran," ucap Fu Rong.
"Baiklah, kalian bisa melanjutkan. Aku pergi," pangeran Jin meninggalkan aula.
Sepeninggal pangeran Jin, wajah selir Fu Rong yang tadinya nampak lemah lembut seketika berubah menjadi penuh kemarahan.
Fu Rong pasti mendapat nominasi aktris terbaik di abad 21, dia juga lumayan cantik tapi masih lebih cantik dan manis wajahku, batin Liu Li.
Tepat saat berjalan melewati selir Fu Rong, Liu Li berhenti sejenak dan berkata dengan suara pelan, "Fu Rong, aku belum membuat perhitungan penyebab kematian pelayanku, Shin. Jimat kematian itu tak seharusnya kamu berikan padanya."
Fu Rong terkejut mendengarnya, tubuhnya bergetar mendapat serangan langsung dari Liu Li. Ia tak pernah mengira Liu Li akan melakukannya. Dia bukan Liu Li yang dulu, pikir Fu Rong.
Liu Li meninggalkan Fu Rong yang masih berdiri terpaku.
***
"Jin, bagaimana bisa kamu bekerja sama dengan pangeran Han dari negeri Dong?" tanya raja.
Adanya kerja sama negeri Dong dan pangeran Jin membuat isu politik semakin memanas. Beberapa pihak memanfaatkan situasi ini untuk menghasut raja, mereka mengatakan bahwa pangeran Jin sedang membentuk sekutu untuk menggulingkan pemerintahan raja yang sekarang.
__ADS_1
"Itu terjadi tanpa disengaja. Aku bertemu pangeran Han di perkemahan, kemudian dia menawarkan kerja sama. Yang mulia tahu sendiri seberapa kuat bangsa barbar, penambahan lima ribu prajurit dari negeri Dong akan membantu prajuritku mengalahkan bangsa barbar dengan mudah," jawab pangeran Jin.
"Harusnya kamu membicarakan denganku lebih dahulu," ucap raja.
Mendengar perkataan raja, pangeran Jin tahu bahwa raja tidak menyukai kerja sama itu, "yang mulia, aku tidak punya banyak waktu untuk mengabarkan hal itu padamu. Aku hanya ingin mengurangi korban perang, tak ada maksud lain dalam kerja sama ini," jelas pangeran.
Raja kecewa dengan pangeran Jin, "pergilah," perintahnya.
Pangeran Jin meninggalkan raja sendirian. Saat keluar dari ruangan, seorang pelayan menyampaikan pada pangeran untuk menemui ibu suri di istananya.
"Baiklah, aku akan ke sana," jawab pangeran. Diikuti Wei Hong, pangeran Jin menuju istana ibu suri.
"Jin memberi hormat pada ibunda." Pangeran Jin memberi salam.
"Jin, aku sangat bangga padamu," ucap ibu suri dengan senyum di bibirnya, "apakah hubunganmu dengan negeri Dong cukup dekat?" tanyanya.
"Ada apa ibunda menanyakannya?"
"Aku sedang berfikir, kenapa kamu tak menikahi putri dari kerajaan Dong."
"Ibu suri," dengan sengaja pangeran menyebut kata ibu suri, "selir-selirku sudah terlalu banyak di mansion." Semua selir-selir itu adalah pilihan dari ibu suri.
"Tapi kamu belum memiliki satu pun keturunan dari mereka."
Bagaimana bisa memiliki keturunan? Pangeran hanya bermalam di kamar para selir tanpa menyentuh mereka. Namun para selir tidak pernah membicarakannya satu sama lain karena untuk menjaga harga dirinya masing-masing, jadi hal ini tidak ada yang mengetahuinya kecuali pangeran sendiri.
"Ibu suri jangan khawatir. Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, aku kembali."
"Jadi, kamu setuju untuk menikahi putri negeri Dong?"
__ADS_1
"Tidak," jawab pangeran Jin tegas. Pangeran Jin berjalan menuju pintu, kemudian berhenti sejenak dan berkata, “ibu, jangan menyiram api dengan minyak.” Lalu pangeran berlalu pergi.
Ibu suri memandang pangeran Jin yang meninggalkan ruangannya, "kedudukan raja sekarang sangat lemah, aku mau kamu menggantikannya. Aku tidak bisa membiarkan orang lain menggantikan posisiku sebagai di sinu," gumamnya pelan. Bila putra raja sekarang menggantikannya, secara otomatis kedudukannya akan digantikan permaisuri sekarang. Satu-satunya cara mempertahankan posisinya adalah dengan menaikkan pangeran Jin di takhta kerajaan.