Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Kematian Shin


__ADS_3

Liu Li pergi ke penjara untuk menemui Shin.


"Putri, di dalam kotor dan gelap," ucap penjaga mencoba mencegah Liu Li masuk.


"Aku hanya sebentar, biarkan aku masuk." Liu Li menatap penjaga pintu.


Penjaga tak bisa menolak, akhirnya ia membukakan pintu besi yang sudah berkarat itu, lalu Liu Li masuk ke dalamnya.


"Shin!" Liu Li begitu terkejut melihat kondisi Shin dengan luka cambuk di seluruh tubuhnya, bajunya robek di beberapa bagian.


"Putri, aku tidak bersalah. Seseorang menjebakku," ucap Shin lirih. Tubuhnya lemah terbaring di lantai penjara yang dingin.


"Shin, aku percaya padamu. Bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu." Liu Li menggenggam erat jeruji besi yang mengurung Shin.


"Putri, maafkan aku ... kecerobohanku bisa membuatmu dalam bahaya." Shin berusaha merangkak mendekati jeruji besi.


"Siapa yang memberikan jimat itu?"


"Dia adalah pelayan yang bekerja untuk selir Fu Rong, namanya Man Ing." Wajah Shin berubah menjadi marah, mengingat bagaimana Man Ing memperdayanya.


"Putri," penjaga memanggil di belakangnya, ia mengingatkan supaya Liu Li tidak terlalu lama.


Liu Li tak tahan menahan air matanya, ia pun menangis, "Shin, kamu harus kuat. Aku akan mencari keadilan untukmu. Bertahanlah!" Liu Li menyeka air matanya, kemudian meninggalkan penjara.


"Putri, bagaimana keadaan Shin?" tanya Meng Meng yang menunggu di luar penjara.


"Dia disiksa," jawab Liu Li dengan sedih.


Meng Meng tak dapat berkata-kata, ia hanya bisa menutup mulutnya karena terkejut.


"Kita ke tempat pangeran."


"Baik, putri."


Liu Li berjalan menuju kediaman pangeran Jin diikuti pelayannya.


"Liu Li, memberi hormat."


"Kamarilah," perintah pangeran yang sedang duduk membaca buku.


"Pangeran, pelayanku tidak bersalah." Tanpa basa basi, Liu Li langsung mengatakan maksud kedatangannya.


Pangeran menatap Liu Li tajam.


"Aku mohon keadilan. Biarkan aku mengungkap kebenarannya," pinta Liu Li.


"Hukuman harus tetap dilaksanakan. Aku sibuk, keluarlah." Pangeran kembali melihat bukunya.


Liu Li merasa pangeran tidak ingin masalah ini terungkap. Dengan kesal , Liu Li meninggalkan ruangan pangeran.


Gadis bodoh, bila pelayanmu tidak segera dihukum, kamu yang akan mendapat hukuman. Jimat kematian ini adalah hal serius di istana. Jangan sampai ibu suri ikut campur dalam masalah ini, aku harus segera mengambil tindakan, batin pangeran.


"Wei Hong," panggil pangeran.


"Pangeran." Wei Hong dengan sigap menghadap.

__ADS_1


"Kamu tahu apa yang harus dilakukan pada pelayan itu," ucap pangeran dengan nada dingin.


"Wei Hong, mengerti."


***


"Selir Fu Rong, aku telah menyiksa pelayan itu di penjara. Tapi dia tetap tidak mau mengatakan bahwa itu salah putri Liu Li, ia bersikeras bahwa itu adalah kesalahannya," lapor seorang pelayan pria.


"Pelayan kurang ajar!" Fu Rong meremas sapu tangannya, "dia hanyalah pelayan baru, kenapa ia melindungi tuannya. Apa dia tak sayang dengan nyawanya sendiri."


"Apa saat ini sudah bisa menyebarkan berita ini sampai ke istana ibu suri?"


"Lakukan sekarang," perintah Fu Rong.


"Baik."


***


Liu Li gelisah mondar mandir di dalam kamarnya, "nenek Zao, cepat panggil pelayan selir Fu Rong yang bernama Man Ing."


"Putri, masalah ini ..."


"Nenek, aku harus menyelamatkan Shin."


"Putri, putri!" Meng Meng masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya sembab karena tangis, "putri ..."


"Meng, ada apa?"


"Shin ... dia ..." Meng Meng tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Katakan!"


Liu Li mundur beberapa langkah dan limbung di kursi, ia tak pernah mengira bila Shin yang baru saja diangkat menjadi pelayan pribadinya telah tiada.


"Putri, apa kamu baik-baik saja?" Nenek Zao tampak khawatir.


Shin bunuh diri? Tidak mungkin! Dia pasti dibunuh! Siapa yang melakukannya? Kenapa? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk di otak Liu Li.


"Nenek tunggu saja di sini. Aku mau ke tempat pangeran." Dengan cepat Liu Li melangkahkan kakinya untuk menemui pangeran.


Pangeran masih sibuk dengan catatan-catatan di meja kerjanya.


"Pangeran, mengapa kamu melakukannya? Kamu begitu bersikeras menghukum Shin. Tak kusangka kamu --" Liu Li tidak dapat menahan emosinya. Ini adalah pertama kalinya ia kehilangan orang dekatnya dengan cara yang tidak biasa, itu terlalu kejam bagi Liu Li.


Pangeran menatap Liu Li, "apa yang terjadi?"


Liu Li tersenyum sinis, "masih bertanya!"


Wei Hong masuk ke ruangan dan memberi salam, "hormat pangeran, putri."


Liu Li mengabaikannya dan pergi begitu saja meninggalkan pangeran yang masih tak mengerti apa yang terjadi.


"Pangeran, saat saya sampai di penjara, pelayan Shin sudah meninggal. Ia bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke dinding penjara," lapor Wei Hong.


"Hmm ... jadi dia mengira aku yang melakukannya," gumam pangeran.

__ADS_1


"Wei Hong, sampaikan pada Liu Li. Aku akan mengajaknya ke istana raja. Raja ingin bertemu dengannya," ucap pangeran.


"Baik, pangeran."


***


Liu Li kembali ke kediamannya dengan kesal. Nenek Zao menantinya dengan gelisah.


"Aku tak pernah menyangka, pangeran akan berbuat hal seperti itu. Kenapa harus membunuh Shin!" Liu Li masih belum bisa menerima kenyataan ini.


"Putri, pelankan suaramu. Jangan sembarangan bicara." Nenek Zao memperingatkan.


Liu Li menarik nafas panjang.


"Seandainya aku yang berada di posisi Shin, aku pasti juga akan melakukannya," ucap nenek Zao.


"Kenapa?" tanya Liu Li tak mengerti.


"Aku akan melindungimu, putri."


"Nenek ..."


"Aku rela mati untukmu."


"Tidak, tidak. Jangan katakan itu." Liu Li memeluk nenek Zao dengan erat.


"Putri, ada pesan dari pangeran." Meng Meng masuk ke kamar.


Liu Li melepaskan pelukannya, "katakan."


"Pangeran mengajak putri mengunjungi istana raja. Raja ingin bertemu putri."


"Baik, aku akan pergi."


Nenek Zao menggenggam tangan Liu Li, "putri, jangan ungkit masalah ini di depan raja. Semua masalah akan lebih sulit jika istana ikut campur."


"Aku tahu."


***


Pangeran Jin dan Liu Li menaiki kereta kuda. Liu Li terus saja menghindar bertatapan mata dengan pangeran. Suasana menjadi canggung.


"Apa kamu marah?" tanya pangeran.


"Aku sedang tak ingin bicara," jawab Liu Li ketus.


"Bruk!" Tiba-tiba kereta kuda berhenti dengan mendadak, membuat guncangan di dalam. Tubuh Liu Li secara tak sengaja menabrak tubuh pangeran, dengan sigap pangeran memeluk pinggang Liu Li supaya tak terjatuh. Dan posisi ini sangat ... dekat, bahkan mereka bisa saling mendengar nafas masing-masing.


"Apakah ini nyaman?" tanya pangeran menggoda.


Liu Li terkejut, ia cepat-cepat melepaskan pelukan pangeran dan duduk menjauh.


"Pangeran, putri, maaf. Ada kucing lewat, kuda berhenti mendadak," seru pengawal dari luar kereta kuda.


"Carilah jalan yang punya banyak kucing," ucap pangeran.

__ADS_1


Tentu saja pengawal di luar tak mengerti maksud perkataan pangeran Jin, ia hanya garuk-garuk kepala.


"Dasar kucing garong!" Liu Li berkata dengan kesal.


__ADS_2