Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Mencari Liu Li


__ADS_3

Beberapa jam telah berlalu, tapi pangeran Jin dan para prajuritnya belum menemukan tanda-tanda keberadaan Liu Li. Dengan kesal pangeran Jin mengarahkan kudanya untuk kembali ke jalan bercabang di pinggir hutan. Ia akan mencoba mencari ke cabang jalan yang lain.


Tiba-tiba ia menghentikan kudanya, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Kemudian ia turun dari kudanya dan mengambil benda kecil berwarna putih di tanah, "bawang putih," gumamnya. Ia teringat telah melihat sekeranjang penuh bawang putih di toko herbal tempat Liu Li diculik.


Pangeran Jin berbalik arah lagi, tak jadi menuju jalan bercabang. Ia melangkahkan kakinya menyusuri jalan. Beberapa meter kemudian, ia menemukan lagi satu siung bawang putih.


Melihat pangeran memegang bawang putih, para prajurit yang mengikutinya ikut mencari bawang putih yang mungkin ada di tempat lain, "pangeran, ada bawang putih lagi di sini," seru salah seorang prajurit.


Pangeran berjalan menuju tempat prajuritnya menemukan bawang putih yang lain.


"Bisa jadi ini adalah petunjuk yang ditinggalkan Liu Li. Ayo, cepat ikuti jejak bawang putih ini," perintah pangeran Jin.


Bawang putih itu membawa mereka semakin masuk ke hutan dan keluar jalur jalan setapak. Jejak bawang putih itu semakin sulit ditemukan, atau mungkin memang sudah dekat dari tempat Liu Li berada.


"Jangan membuat suara, sepertinya kita sudah dekat. Cari tempat persembunyian mereka," perintah pangeran.


Pangeran Jin dan para prajurit mengikat kudanya dan mulai berjalan tanpa menimbulkan suara.


"Aaaa ..." Terdengar teriakan seorang laki-laki. Meskipun pangeran Jin tahu bahwa itu bukan suara Liu Li, ia tetap mencari sumber suara itu hingga akhirnya ia melihat pintu gua yang tertutup semak-semak.


"Sssst ..." Pangeran Jin memberi isyarat pada para prajuritnya untuk waspada, "semak-semak ini rusak, menandakan ada orang yang melewatinya. Kalian bersiaplah." Lalu ia masuk ke dalam gua.


"Celaka, kita dikepung!" Teriak salah seorang pria yang menculik Liu Li, pangeran Jin telah menemukan mereka.


Pangeran dan para prajuritnya telah siap dengan pedangnya masing-masing.


"Tunggu," seru Liu Li, "aku sedang mengobati pasienku, tolong kalian tunggu dulu." Liu Li menyelesaikan sayatan pisau terakhirnya.


"Aaaaa ...." jeritan kesakitan keluar dari mulut pria itu nyaring sekali.


"Aku sudah selesai. Tinggal mengolesnya dengan obat dan membalut lukanya," ucap Liu Li pada pangeran dan para pria yang menculiknya, "sekarang kalian mau apa? Berkelahi?"


Perempuan ini, masih sempat bertanya, batin pangeran Jin.


Para penculik itu saling berpandangan. Tak disangka mereka melemparkan pedangnya ke tanah, "kami menyerah," mereka mengangkat kedua tangannya ke atas, "terima kasih telah menyelamatkan adik kami. Kami lima bersaudara dari lembah kematian, membalas budi putri."


"Benarkah?" tanya Liu Li senang, "kalau begitu, aku memaafkan kalian," ucap Liu Li.

__ADS_1


"Tidak semudah itu," kata pangeran Jin.


"Pangeran." Liu Li memandang pangeran dengan penuh harap.


"Siapa yang memerintahkan kalian?" tanya pangeran pada lima bersaudara.


"Kami tidak bisa mengatakannya."


"Kamu pikir, aku tak bisa membunuhmu di sini?" Pangeran Jin mengingatkan lima bersaudara. Seandainya mereka bertarung, pangeran akan dengan mudah mengalahkannya.


"Seorang pelayan pria yang bekerja di rumah menteri, aku pun tak tahu siapa," jawab pria yang kakinya terluka, ia mengatakan yang sebenarnya.


"Pangeran, kamu sudah menemukanku. Lepaskanlah mereka. Kita pergi dari sini," pinta Liu Li.


"Ayo kita pergi," jawab pangeran.


"Putri, lembah kematian berterima kasih pada putri. Kami akan membalas kebaikanmu," ucap lima bersaudara. Meskipun mereka adalah pembunuh bayaran, tapi mereka menjunjung tinggi balas budi.


Liu Li tersenyum, "oleskan obat ini untuk adikmu, dia akan segera pulih," ucap Liu Li sambil memberikan bungkusan obat pada pria bertubuh paling besar. Kemudian Liu Li keluar dari gua bersama pangeran.


"Kenapa pangeran lama sekali. Bila kaki pria itu tidak terluka, entah apa yang terjadi padaku.” Sesungguhnya Liu Li masih merasa ketakutan.


Pangeran berhenti sejenak lalu menggandeng tangan Liu Li, "lain kali jangan pergi sendirian. Ayo kita segera pulang."


Pangeran Jin dan Liu Li menaiki kuda berdua. Selama di perjalanan, pangeran terus menggenggam tangan kanan Liu Li, seolah takut kehilangan.


"Apa pangeran menemukan bawang putih yang kutinggalkan?" tanya Liu Li, suaranya sayup-sayup terbawa angin.


Pangeran mendekatkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh tengkuk Liu Li, "ya. Kalau tidak melihatnya, aku tak akan bisa menemukan gua itu."


Liu Li tak menolak kedekatannya dengan pangeran. Ia bersyukur pangeran menemukannya dan membawanya pulang dengan selamat. Sesungguhnya ia sangat ketakutan saat kejadian penculikan tadi, tapi para penculik itu tak menyadarinya.


Kuda terus berlari menuju mansion.


Meng Meng menangis bahagia saat melihat pangeran Jin membawa Liu Li pulang, "putri, syukurlah kamu selamat. Putri tidak terluka kan?" tanya Meng Meng khawatir.


"Aku tidak apa-apa," jawab Liu Li.

__ADS_1


Pangeran Jin mengantarkan Liu Li sampai ke kamarnya, "apa kamu mau kutemani malam ini?" tanya pangeran.


"Terserah pangeran. Tapi pangeran tak perlu berpura-pura demam untuk bisa bermalam di sini," jawab Liu Li yang tiba-tiba mengingat bahwa semalam pangeran menghabiskan malam di kediaman selir Fu Rong.


"Hahaha ... kalau aku demam, aku tak akan bisa bermesraan denganmu."


Pipi Liu Li memerah karena malu, ia membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Sekarang aku harus pergi. Aku akan menyelidiki siapa yang menculikmu. Nanti malam aku akan kembali," ucap pangeran, kemudian meninggalkan Liu Li yang pipinya masih memerah.


Setelah pangeran pergi, Meng Meng bersujud di bawah kaki Liu Li, "putri maafkan pelayanmu ini yang tak bisa menjaga putri. Meng Meng patut mati."


Liu Li terkejut melihat tingkah Meng Meng, ia memegang pundaknya, "Meng, bangunlah. Ini bukan salahmu," ucap Liu Li.


"Seharusnya aku tak meninggalkan putri sendiri."


"Hmmm ... kamu sudah membelikanku manisan?" Liu Li teringat akan permen yang diinginkannya.


"Ah itu ... aku sudah membelinya, tapi terjatuh di toko herbal," jawab Meng Meng.


"Baiklah, aku akan menghukummu," kata Liu Li serius. Meng Meng begitu tegang mendengarnya.


"Sekarang pergi dan belikan aku manisan," ucap Liu Li sambil tersenyum.


Meng Meng begitu gembira mendengarnya. Ia pikir, ia akan mendapatkan hukuman cambuk, "putri, terima kasih atas kebaikanmu. Meng Meng akan setia melayanimu."


"Kemarilah." Liu Li memberikan Meng Meng sebuah pelukan hangat.


***


"Wei Hong, kirim seseorang untuk menyelidiki menteri pertahanan. Aku curiga dia adalah dalang di balik penculikan Liu Li," kata pangeran Jin.


"Baik, pangeran."


"Aku mau seorang pengawal untuk Liu Li. Dia bisa dalam bahaya kapan pun," ucap pangeran, "pengawal wanita," jelasnya.


"Wei Hong, mengerti."

__ADS_1


__ADS_2