Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Kebun Opium


__ADS_3

"Tempat ini jadi tak menarik lagi," gumam Liu Li.


"Kenapa? Apa karena tak ada pangeran Han yang menemanimu?" tanya pangeran Jin dengan kesal.


"Pangeran ... aku tak pernah mengatakannya seperti itu. Emm ... apakah kamu sedang cemburu?"


"Tidak."


"Pangeran sangat imut saat cemburu," ucap Liu Li gemas.


Pangeran menatap Liu Li, "jangan perlihatkan wajah gemasmu ini pada orang lain, mengerti? Hanya aku yang boleh melihatnya," ucap pangeran yang sukses membuat Liu Li malu. Padahal dia yang ingin menggoda pangeran, tapi kini justru Liu Li sendiri yang wajahnya memerah.


"Ayo kita berjalan-jalan, siapa tahu kita bisa menemukan kebun opium," ucap Liu Li mengalihkan perhatian.


"Apa yang akan kamu lakukan bila menemukannya?" tanya pangeran.


"Opium bisa membinasakan negeri ini, bahkan seluruh negeri. Menurut pangeran, apa yang harus dilakukan?"


"Kalau begitu, mari kita cari sekarang."


Liu Li begitu bersemangat saat mendengarnya, "ayo."


Kemudian mereka berjalan menuju istana permaisuri, "istananya sangat luas. Kebun itu pasti berada di tempat yang tersembunyi," ucap Liu Li.


"Berpeganglah padaku," kata pangeran Jin, "jangan sampai kamu terjatuh."


Liu Li tahu bahwa pangeran akan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, ia pun memeluk pinggang pangeran.


Pangeran Jin tersenyum puas saat Liu Li memeluknya, "peluk yang kuat."


"Pangeran pintar sekali mengambil kesempatan," jawab Liu Li.


Kemudian dengan ilmu meringankan tubuhnya, pangeran membawa Liu Li melompat ke atas. Kini mereka berada di atas genting istana, mereka merunduk supaya tak ada yang melihat.


"Istana Dong benar-benar luas," gumam Liu Li, "dari sini semua nampak jelas, tapi tidak ada kebun bunga berwarna merah."


"Pasti tempatnya tersembunyi," ucap pangeran Jin. Ia melihat lima pohon besar yang tersebar di lima penjuru, "lihat lima pohon besar itu, mereka membentuk formasi bintang. Kebun itu pasti dilindungi formasi bintang sehingga tidak terlihat oleh orang biasa. Ayo kita turun."


Liu Li memeluk pangeran Jin dengan erat, kemudian pangeran terbang melompat ke arah salah satu pohon besar.


"Tak ada orang di sini," ucap Liu Li.


"Di sini masuk wilayah terlarang. Tak ada orang yang diperbolehkan masuk."

__ADS_1


Kemudian pangeran Jin duduk bersila di bawah pohon. Ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk merusak formasi bintang. Rupanya formasi itu cukup kuat sehingga menyebabkan pangeran Jin terluka.


"Uhuk." Pangeran terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Liu Li terkejut melihatnya, "pangeran!"


Lalu tiba-tiba kabut tebal menyelimuti tempat mereka berdiri, kemudian secara perlahan kabut itu makin lama memudar dengan sendirinya dan mulai terlihat kebun luas terbentang.


"Siapa yang tahu kalau kebun yang indah ini bisa membinasakan umat manusia," ucap Liu Li.


"Pangeran." Wei Hong yang sedari tadi mengikuti mereka akhirnya menampakkan diri.


"Wei Hong, aku mau membakar seluruh kebun ini dengan cepat," ucap pangeran Jin.


"Pangeran sedang terluka, biar aku yang melakukannya." Wei Hong melompat dan mengelilingi kebun opium, ia menyebarkan sesuatu yang bisa menyulut api dengan cepat. Tak lama kemudian ia kembali ke tempat pangeran Jin.


"Pangeran, semua sudah siap," lapor Wei Hong.


Pangeran Jin menyulut api dari sebatang kayu, lalu dilemparkannya ke tengah kebun dan ... "blum!" Si jago merah melahap kebun opium.


"Ayo kita pergi." Pangeran menarik pinggang Liu Li dan membawanya pergi.


Saat melayang di udara, Liu Li memeluk tubuh pangeran Jin sangat erat, ia tak mau terjatuh. Namun sesungguhnya, Liu Li sangat nyaman berada di pelukannya.


Ini sangat nyaman, rasanya aku tak ingin melepaskannya, batin Liu Li.


Liu Li segera tersadar bahwa saat ini mereka sudah berada di tempat yang aman, buru-buru ia melepaskan pelukannya, "bagaimana keadaanmu? Apa pangeran baik-baik saja?" tanya Liu Li mengingat pangeran telah terluka saat membuka formasi bintang.


"Dadaku sakit," keluhnya.


"Benarkah?! Aku akan memeriksanya." Liu Li bersiap membuka baju bagian atas untuk melihat dada pangeran.


"Sebaiknya kamu memeriksanya di kamar," goda pangeran.


Mengetahui bahwa pangeran hanya menggodanya pipi Liu Li bersemu merah.


"Kebakaran! Kebakaran!" Para pelayan berteriak.


Pangeran Jin dan Liu Li saling menatap, "ayo kita melihatnya," ajak pangeran Jin sambil menggandeng tangan Liu Li. Mereka berjalan menuju kobaran api, asap hitam mengepul di langit.


Para pelayan dan pengawal bersama-sama berusaha memadamkan api yang berkobar. Api terlalu besar, dengan cepat membakar kebun opium. Saat mereka berhasil memadamkannya, tanaman-tanaman itu telah hangus tanpa tersisa.


Permaisuri terlihat sangat marah saat mengetahui kebunnya telah hancur, "siapa yang berani membakar kebunku? Pengawal! Cepat tutup pintu istana, siapa pun tidak boleh keluar dari istana!" perintah permaisuri, "selidiki semua yang ada di dalam istana, aku yakin penjahat itu masih ada di sini! Membakar istana adalah kejahatan besar!"

__ADS_1


Pangeran Han nampak berdiri di sebelah permaisuri, "ibu tenanglah, aku akan menangkap pelakunya. Ibu istirahatlah di dalam," ucap pangeran Han.


"Han, kamu harus menangkap pelakunya," ucap permaisuri sambil berjalan masuk ke istana.


Pangeran Han menatap Liu Li dan pangeran Jin dari kejauhan, lalu ia mendekatinya. "Kalian cepat juga," ucap pangeran Han. Sepertinya ia tahu betul siapa yang membakar kebun milik permaisuri.


"Pangeran ..." Liu Li mencoba menjelaskan tapi pangeran memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Aku tak tahu bagaimana kakakku akan bertahan tanpa kebun itu. Sekarang semuanya telah menjadi abu," kata pangeran dengan sedih.


Pangeran Han Tian telah kecanduan opium sejak kecil. Ia akan mengamuk seperti orang gila bila tidak mendapatkannya. Pangeran Han Yu khawatir dengan keadaan kakaknya.


"Para tabib yang pernah kubawa ke istana tak bisa mengobatinya saat dia kesakitan dan mengamuk," ucap pangeran Han.


"Pangeran, aku akan mengobati kakakmu," ucap Liu Li.


"Liu Li, apa kamu sungguh-sungguh?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu, aku akan membawamu menemui pangeran Han Tian. Pangeran Han Tian dalam penjagaan permaisuri. Kita akan menemuinya diam-diam," ucap pangeran Han.


Pangeran Jin dan Liu Li mengikuti pangeran Han dari belakang. Mereka menyelinap masuk ke istana tempat tinggal pangeran Han Tian.


"Kakak," sapa pangeran Han pada kakaknya. Saat ini pangeran Han Tian sedang dalam kondisi sadar, "aku membawa seorang tabib untuk menyembuhkanmu."


"Aku tidak sakit!" teriak pangeran Han Tian, rupanya ia bertemperamen tinggi.


"Pangeran Han Tian memang tidak sakit," ucap Liu Li, "aku hanya ingin menghilangkan ketergantungan pangeran pada permaisuri."


Pangeran Han Tian menatap Liu Li tajam, "bagaimana kamu tahu?!"


"Apakah permaisuri memberimu sesuatu saat pangeran membutuhkannya? Tubuh pangeran akan merasakan sakit luar biasa saat bila terlambat memakannya."


"Kamu bisa membuatku berhenti memakannya?" tanya pangeran Han Tian tak sabar, ia menarik baju Liu Li, "aku sudah terlalu lama dikurung permaisuri."


Pangeran Jin tidak terima dengan kelakuan pangeran Han Tian, tapi Liu Li menatap pangeran Jin untuk tidak melakukan apa pun pada pangeran Han Tian.


"Pangeran Han Tian, aku akan membantumu. Tapi kendalikan dirimu," ucap Liu Li.


Pangeran Han Tian melepaskan genggamannya.


"Kita tidak bisa melakukannya di sini, permaisuri pasti akan menghentikannya," ucap Liu Li.

__ADS_1


"Baiklah, kita keluar sekarang," jawab pangeran Han.


"Siapa di sana?!" seru seorang pengawal. Rupanya ia mengetahui keberadaan orang lain di kamar pangeran Han Tian.


__ADS_2