Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Negeri Dong


__ADS_3

"Pangeran, aku tak mau menyinggung pangeran Han. Tapi ..." Liu Li tak menyukai sikapnya yang arogan.


"Jangan khawatirkan masalah itu. Perempuan itu harus diberi pelajaran," ucap pangeran Jin.


"Cepat menyingkir dari hadapanku," teriak perempuan itu.


"Cepat tangkap dan ikat dia," perintah pangeran Jin pada para pengawalnya.


Para pengawal melaksanakan perintah pangeran Jin dan bergerak dengan cepat.


"Pangeran Han tidak akan mengampuni nyawa kalian," teriak perempuan itu.


Setelah mengikat dan membungkam mulut perempuan itu-dia terus saja berteriak jadi mulutnya terpaksa dibungkam. Kemudian pangeran Jin melanjutkan perjalanannya ke negeri Dong. Rombongan sampai saat menjelang malam.


"Putri Liu Li, akhirnya kamu tiba juga," sambut pangeran Han dengan wajah berbinar.


"Ehem." Pangeran Jin mengingatkan pangeran Han bahwa ia sedang berdiri di samping Liu Li.


"Pangeran Jin," sapa pangeran Han dengan senyum yang dibuat-buat, "kalian pasti lelah, ayo kuantarkan kalian ke paviliun," ucapnya.


"Bagaimana perjalanannya?" tanya pangeran Han pada Liu Li. Mereka berbincang sambil berjalan.


Pangeran Jin merasa seakan dirinya adalah orang ketiga, "pangeran Han ..." gumamnya dengan geram.


"Di tengah jalan aku bertemu dengan calon istrimu," ucap Liu Li.


"Yun Xie? Kalian sudah bertemu?" tanya pangeran Han.


"Jadi namanya Yun Xie? Keretanya menghadang kereta kuda kami di tengah jalan. Karena dia mencoba membunuhku, jadi aku menangkapnya. Sekarang dia sedang terikat di dalam kereta kuda," kata Liu Li.


"Beraninya dia melakukan itu!" ucap pangeran Han marah, "biar aku yang mengurusnya nanti."


"Istirahatlah," ucap pangeran Han saat mereka sampai di paviliun, "katakan bila kamu membutuhkan sesuatu."


"Terima kasih, pangeran," jawab Liu Li.


"Pergilah, calon istrimu pasti sudah menunggu," kata pangeran Jin yang sedari tadi hanya diam.


Pangeran Han merasa dirinya sedang diingatkan untuk tidak mendekati Liu Li, "ya ya, aku akan pergi sekarang."


Selepas kepergian pangeran Han, Liu Li dan pangeran Jin duduk di teras paviliun. Mereka menikmati keindahan alam negeri Dong. Namun tiba-tiba terlihat orang-orang berlarian dengan panik.


"Ada apa ini?" tanya Liu Li.


"Wei Hong, cari tahu apa yang terjadi," perintah pangeran Jin.

__ADS_1


"Baik, pangeran." Wei Hong segera pergi untuk mencari tahu apa yang terjadi dan kembali beberapa saat kemudian.


"Kabarnya ada pangeran Han Tian mengamuk. Ia mencoba membakar istana," lapor Wei Hong.


"Pangeran Han Tian? Apa dia saudara pangeran Han Yu?" tanya Liu Li.


"Dia adalah kakak pangeran Han Yu. Kabarnya dia memang sakit dan sering mengamuk," jawab pangeran Jin.


"Mari kita ke sana untuk melihatnya," ajak Liu Li.


Pangeran Jin dan Liu Li menuju sumber keramaian, di mana pangeran Han Tian sedang mengamuk


Pangeran Han Tian memegang obor di tangannya, matanya merah, dan wajahnya pucat. Ia meracau tak jelas dan mengacung-acungkan obor ke semua orang yang ingin mendekatinya.


"Maaf, membuat kalian melihatnya berbuat hal yang memalukan ini," ucap pangeran Han Yu pada Liu Li.


"Apa dia sakit?" tanya Liu Li.


"Ya, seharusnya dia dirawat di istananya. Tapi dia kabur dan mengamuk. Semua obat penenangnya dibuang ke danau. Sekarang masih menunggu para tabib mengambil obat penenang ke luar istana," ucap pangeran Han.


Tabib tiba dan memberikan obat penenang berbentuk jarum pada pengawal, kemudian pengawal menembakkannya dan tepat mengenai tubuh pangeran Han Tian. Setelah pangeran Han Tian jatuh, para pengawal membopongnya masuk ke dalam istana.


"Apakah kakak pangeran Han sudah lama seperti ini?" tanya Liu Li.


"Ya, sejak masih kecil ia sakit-sakitan. Ayahanda mengurungnya di istana karena dia sering kali di luar kendali," jawab pangeran Han.


"Aku tak bisa menemani kalian, aku harus melihat kondisi kakakku," pamit pangeran Han.


"Pangeran pergilah, kami baik-baik saja," ucap Liu Li.


Kemudian pangeran Han pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa ada yang mengganggumu?" tanya pangeran Jin ketika melihat ekspresi Liu Li.


"Pangeran Han Tian kecanduan sesuatu, mungkin opium. Aku curiga ada orang dalam yang terlibat. Bagaimana mungkin tabib istana tak mengetahuinya," ucap Liu Li.


"Apa kamu mencurigai pangeran Han?"


"Aku tak yakin," jawab Liu Li.


"Meskipun aku tak menyukai pangeran Han, tapi dia bukanlah orang yang bisa berbuat hal seperti itu. Dia adalah seorang ksatria di medan perang yang memegang teguh kebenaran."


"Sama sepertimu," ucap Liu Li sambil tersenyum, "apakah kita perlu memberi tahu pangeran Han mengenai hal ini?"


"Besok pagi kita akan memberitahunya. Sekarang beristirahatlah."

__ADS_1


Kemudian pangeran Jin dan Liu Li kembali ke paviliun. Keesokan paginya, pangeran datang menemui mereka.


"Liu Li, apa kamu membutuhkan sesuatu? Kenapa pagi-pagi kamu memintaku untuk datang?" tanya pangeran Han dengan hati riang, ia senang sekali menjumpai Liu Li.


Pangeran Jin mendorong pangeran Han supaya tidak berdiri terlalu dekat dengan Liu Li, "tetap berdiri di sana!" seru pangeran.


Pangeran Han hendak memprotes tapi kemudian Liu Li mulai berkata, "pangeran, ada hal penting yang ingin kubicarakan. Duduklah."


Ketika semuanya telah duduk, Liu Li mulai berbicara lagi, "pangeran Han, aku melihat pangeran Han Tian semalam, aku rasa dia kecanduan sesuatu yang terlarang."


Pangeran Han terkejut mendengarnya, "jadi maksudmu seseorang dengan sengaja membuatnya seperti itu?"


"Aku harap aku salah. Tapi, pangeran Han Tian telah bergantung pada sesuatu yang terlarang," jelas Liu Li, "apakah di istana ini ada perkebunan yang luas?"


"Ya, permaisuri suka dengan bunga yang indah. Ia menanam banyak bunga di kebun pribadinya. Bahkan orang luar tidak boleh masuk, ia tak mau bunganya rusak," jawab pangeran Han.


"Apa pangeran pernah ke sana?"


"Ya, beberapa kali."


"Apakah bunga yang ditanam berwarna merah dengan kelopak bunga yang besar?"


"Bagaimana kamu tahu?" Pangeran Han balik bertanya.


Liu Li terkejut mendengarnya.


"Ada apa?" tanya pangeran Jin.


"Itu bunga opium," jawab Liu Li.


"Opium? Aku tak pernah tahu bagaimana pohon opium. Jadi permaisuri menanamnya sendiri di kebun istana?" Pangeran Han lebih terkejut lagi mengetahui apa yang terjadi. Dia diam sejenak, sepertinya mulai memahami sesuatu.


"Liu Li," ucap pangeran Han, "jangan bicarakan ini dengan siapa pun. Aku tak mau kamu terluka," pangeran Han memandang pangeran Jin, "pangeran Jin, tolong biarkan aku menyelesaikan urusan di istanaku. Aku tak mau melibatkan kalian."


"Aku tahu," jawab pangeran Jin.


"Aku ingin membawa kalian menikmati keindahan negeri Dong, tapi ..." ucap pangeran Han.


"Pangeran Han, pergilah. Kami akan berjalan-jalan sendiri di sini," jawab Liu Li.


Pangeran Han tersenyum kemudian meninggalkan pangeran Jin dan Liu Li.


"Apakah permaisuri ibu dari pangeran Han?" tanya Liu Li.


"Ya," jawab pangeran Jin.

__ADS_1


Kehidupan di istana bisa sangat mengerikan. Mereka saling membunuh untuk memperebutkan kekuasaan, batin Liu Li.


Pangeran Jin menggenggam tangan Liu Li, "jangan takut, aku akan selalu berada di sampingmu."


__ADS_2