Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Perkemahan Prajurit


__ADS_3

"Plak!!" Sekali lagi kakak pertama memukul kepala pemimpin perampok, "kamu tidak tahu?! Dia putri Liu Li.”


Pemimpin perampok yang benar-benar tidak mengetahui siapa putri Liu Li hanya melongo di tempatnya. Meski tidak mengenal Liu Li, ia tak berani menyerangnya karena rupanya kakak pertama menaruh rasa hormat padanya.


"Maafkan aku kak, aku tak tahu." Pemimpin perampok meminta maaf pada kakak pertama.


"Hah, dasar bodoh! Jangan minta maaf padaku, minta maaf pada putri Liu Li!" perintah kakak pertama.


"Putri Liu Li, maafkan aku yang bodoh. Aku benar-benar tidak tahu," ucap pemimpin perampok.


"Bila aku tahu kamu adalah bahawan lima bersaudara, aku juga tak akan membuat kalian tertidur," jawab Liu Li, "kenapa kalian di sini? Apa kalian juga yang membunuh orang-orang yang masuk ke hutan?" tanya Liu Li.


Pemimpin perampok menunduk, "itu ... itu ..." Ia tidak bisa menjawab.


"Jawab yang benar!" perintah kakak pertama, "aku juga mau tahu apa yang kalian lakukan di sini."


"Itu ... kami menyembunyikan hasil rampokan kami di hutan ini. Jadi kami memasang formasi sihir sehingga tidak ada orang yang bisa keluar setelah masuk hutan ini. Bila kami tak berhasil membunuh mereka, pada akhirnya mereka juga tak bisa keluar dari sini hidup-hidup," jawab pemimpin perampok sambil memandang nona misterius yang lolos dari pengejarannya.


"Berani-beraninya kamu merampok tanpa ijin dariku!" bentak kakak pertama.


"Aku bersalah, kak," jawabnya takut.


"Kalian membuat penduduk desa takut," ucap Liu Li, "bagaimana kalian membayarnya?"


"Itu ... itu ..." Pemimpin perampok tidak bisa berkata-kata.


"Kembalikan hasil rampokan kalian, lalu ikut aku kembali ke lembah kematian," perintah kakak pertama.


"Baik, kak," jawabnya pasrah. Lima bersaudara adalah seniornya, ia tak berani melawan perintahnya.


"Baiklah, sekarang buka formasi sihirnya. Kami harus pergi," ucap Liu Li.


"Baik, putri,” jawab pemimpin perampok.


Kemudian pemimpin perampok membangunkan anak buahnya yang membuat formasi sihir dari pengaruh obat tidur yang Liu Li berikan. Beberapa saat kemudian formasi sihir terlah terbuka.


"Putri bisa melanjutkan perjalanan," kata kakak pertama.


"Bisakah kamu memberikan seekor kuda pada nona itu? Dia sedang terluka," ucap Liu Li.


"Kami akan memberinya."


"Suamiku, kita pergi sekarang,” ucap Liu Li pada pangeran Jin yang sedari tadi hanya memperhatikannya.

__ADS_1


Liu Li dan pangeran Jin menaiki kudanya meninggalkan hutan gelap. Namun setelah beberapa saat kemudian, pangeran Jin menghentikan kudanya.


"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Liu Li.


"Kita sedang diikuti," jawab pangeran Jin.


Liu Li menoleh ke belakang, nampak nona misterius sedang menunggang kuda di belakang mereka.


"Kenapa kamu mengikuti kami?" tanya pangeran Jin.


"Aku tak tahu harus ke mana," jawab nona misterius.


"Kamu sangat mencurigakan. Namamu saja kamu tak ingin memberitahukannya," ucap Liu Li.


"Panggil aku Ner," jawabnya.


"Apa kamu tidak berasal dari sini?" tanya Liu Li. Namanya cukup asing di telinga, batin Liu Li.


"Aku berasal dari tempat yang jauh. Aku diusir dari rumah," ucap Ner sedih.


"Tapi kami tak bisa membawamu serta," kata pangeran Jin.


Pangeran Jin mengacuhkannya dan memacu kudanya untuk berjalan meneruskan perjalanan, dan perempuan bernama Ner itu masih keras kepala mengikutinya. Pangeran Jin pun tak mempedulikannya lagi dan membiarkannya mengikuti mereka hingga sampai ke perkemahan Jenderal.


"Liu Li, istirahatlah. Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan jenderal," ucap pangeran Jin.


"Baik." Liu Li memandang Ner yang sepertinya sedang terkejut melihat apa yang ada di depannya, sebuah perkemahan prajurit negara Fang.


"Ner," panggil Liu Li, "ayo, kamu pasti lelah."


Ner mengikuti Liu Li masuk ke tenda.


"Tunggu di sini sampai tenda untukmu siap," ucap Liu Li.


"Kalian sedang berperang?" tanya Ner.


"Seperti yang kamu lihat. Kamu bisa pergi bila tak nyaman di sini," jawab Liu Li.


"Tidak," jawab Ner, "aku menunggu di luar saja. Kamu istirahatlah," ucapnya sambil melangkah keluar tenda.


Ner berdiri di luar tenda, ia menunggu untuk bertemu pangeran Jin. Ia berdiri hampir dua jam, hingga akhirnya pangeran Jin datang setelah menyelesaikan urusannya dengan jenderal.


"Pangeran Jin, aku ingin berbicara denganmu." Ner tahu bahwa dia adalah pangeran Jin saat lima bersaudara menyapanya.

__ADS_1


Pangeran Jin menghentikan langkahnya, "katakan."


"Apa kamu tak keberatan jika kita memilih tempat yang lebih sepi?"


"Masuk ke tenda."


"Tapi, di dalam ada istrimu. Aku ingin berbicara secara pribadi."


Pangeran Jin menatap Ner dengan tajam, "tak ada rahasia di antara kami. Kamu bisa berbicara di dalam tenda atau tidak sama sekali." Kemudian pangeran Jin meninggalkan Ner dan masuk ke tendanya.


Ner ingin berbicara berdua saja dengan pangeran Jin, tapi kini ia tak punya pilihan. Ner pun ikut masuk ke tenda.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya pangeran Jin tanpa basa-basi.


Ner melihat perbedaan sikap pangeran Jin. Selama di perjalanan, ia terlihat begitu manis pada Liu Li. Tapi sekarang, pangeran Jin berbicara dengan dingin padanya.


"Duduklah, Ner," pinta Liu Li.


Ner ikut duduk di dekat pangeran Jin, kemudian ia mulai berbicara, "apa kalian sedang berperang melawan bangsa Tartar?"


"Bagaimana kamu tahu?" selidik pangeran Jin.


"Tidak ada musuh paling kuat selain negara Fang yang dipimpin pangeran Jin," jawab Ner.


"Apa maumu?"


"Namaku adalah Nerfia. Aku adalah penerus tahta setelah ayahku, raja Tartar, wafat. Tapi kemudian pamanku mengambil alih kekuasaan dan berusaha membunuhku, tapi aku bisa kabur dan menyelamatkan diri. Aku bisa membantu kalian untuk mengalahkan mereka," ucap Ner.


"Apa untungnya bagimu?" tanya pangeran Jin.


"Gulingkan kekuasaan pamanku. Lalu aku akan mengambil kembali meneruskan tahta ayahku. Setelah aku berkuasa, kita akan melakukan perjanjian perdamaian."


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?"


"Pangeran Jin adalah orang yang pintar dan berwawasan luas. Tak sulit bagi pangeran untuk menilaiku."


Pangeran Jin memang mengetahui bahwa Ner bukanlah orang jahat, karena itulah dia dibiarkan mengikutinya sampai ke perkemahan prajurit.


"Anggap saja aku setuju dengan penawaranmu. Lalu bagaimana rencanamu?"


"Aku akan menghubungi kakak sepupuku di negeri tanah tinggi. Aku akan meminta dia untuk memberikan berita palsu pada pamanku bahwa negara Fang akan menyerang negeri tanah tinggi. Dengan begitu, pamanku akan lengah dan kalian bisa mengalahkannya dengan mudah."


"Aku di sini hanya membantu jenderal, kewenangan penuh kuberikan pada jenderal," jawab pangeran Jin. Sebenarnya pangeran Jin bisa menolak atau menyetujuinya tanpa perlu bertanya pada jenderal. Ia hanya ingin melihat apakah Ner bisa dipercaya atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2