Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Siap Berperang


__ADS_3

"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan dia?" tanya pangeran Jin tak suka.


"Dia terluka di tengah hutan, tak sengaja aku melihatnya dan membantu mengobatinya. Kemudian dia menunjukkan jalan ke pemukiman bangsa barbar. Dia juga membantuku ketika kaum barbar mencoba menyerangku. Saat kabur, kami bertemu Wei Hong di tepi sungai, " jawab Liu Li.


"Kamu adalah istriku. Tak pantas bila kamu berjalan dengan laki-laki lain."


"Ehem, apa kamu cemburu?" tanya Liu Li menyelidik.


Pangeran memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan ekspresi malunya, "kamu hanya akan merepotkan di sini."


"Aku akan membantu tim medis di sini. Pangeran jangan kuatir. Aku sudah membawa peralatan medis dan obat-obatan,” ucap Liu Li serius.


"Pergilah ke tendaku untuk istirahat, masih ada hal yang harus kubicarakan dengan Wei Hong."


"Baiklah." Liu Li keluar dari tenda dan melihat-lihat keadaan perkemahan. Para prajurit mengasah senjata mereka masing-masing seperti pedang, tombak, dan busur, "apa di zaman ini belum ada bubuk mesiu? Akan lebih mudah mengalahkan musuh menggunakan senjata api," gumam Liu Li.


Liu Li berdiri di tengah perkemahan cukup lama, ia sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari pangeran Jin telah berada tepat di sampingnya.


"Kenapa kamu melamun di sini?" tanya pangeran Jin.


Liu Li menoleh dan menatap pangeran Jin, kenapa sepertinya pangeran makin tampan, batin Liu Li.


"Liu Li," panggil pangeran.


Liu Li menelan ludahnya, "ah, aku hanya sedang berpikir."


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Pasti akan ada banyak korban saat perang." Sebagai seorang dokter di zaman modern, ia belum pernah merawat pasien korban perang.


"Wanita memang lemah, kalian tak cocok berada di sini."


"Aku tidak selemah itu, hanya saja -- sudahlah. Di mana tendaku? Aku sangat lelah," ucap Liu Li mengalihkan pembicaraan.


"Tak ada tenda untukmu. Tidurlah di tendaku."


"Tapi," protes Liu Li.


"Kamu ke mari tanpa persetujuan dariku. Sekarang menurutlah."


"Ya, ya. Di mana tenda pangeran?" Liu Li tak berdaya membantah perkataan pangeran.

__ADS_1


Pangeran menunjuk sebuah tenda besar di tengah-tengah perkemahan. Liu Li menuju ke sana tanpa bicara sepatah kata pun pada pangeran.


"Perempuan ini," gumam pangeran kesal.


"Pangeran," Wei Hong datang untuk melapor, "pasukan dari kerajaan Dong dalam perjalanan ke mari di bawah pimpinan pangeran Han. Mereka akan sampai sebelum matahari terbenam."


"Bagaimana situasi bangsa barbar?"


"Sepertinya mereka belum mengetahui keberadaan kita di sini, tidak ada pergerakan di garis depan."


"Bagus. Tidak baik di sini terlalu lama, kita harus bergerak malam ini."


"Baik, pangeran."


Sebelum matahari terbenam, pangeran Han telah menemui pangeran Jin di perkemahan.


"Lima ribu prajurit kutempatkan di hutan perbatasan kerajaan Dong. Karena masih masuk wilayahku, bangsa barbar tidak akan tahu keberadaan mereka," ucap pangeran Han.


"Malam ini aku telah menyiapkan hiburan untuk bangsa barbar. Tunggu aba-aba dariku, kita serang dari semua sisi,” jelas pangeran Jin.


Untuk mengalihkan perhatian, pangeran Jin telah menyusupkan beberapa penari untuk menghibur kaum barbar dan membuat mereka berpesta pora, biasanya mereka akan minum hingga mabuk. Saat mereka lengah, prajurit akan dengan mudah mendekati pertahanan kaum barbar yang terkenal cukup kuat. Apalagi dengan tambahan prajurit dari kerajaan Dong, hal ini akan membuat bangsa barbar kualahan.


"Kebetulan aku lapar sekali," jawab pangeran Han.


"Ayo, ikuti aku." Liu Li keluar dari tenda.


Bukannya kamu mengajakku makan? Kenapa sekarang meninggalkanku? Lalu kamu tadi memanggil namanya saja, Han Yu? gerutu pangeran dalam hati, dahinya berkerut-kerut. Dengan kesal ia ikut keluar tenda, ia tak akan membiarkan Liu Li dan pangeran Han berduaan.


"Pangeran," panggil Liu Li di depan tenda, ia sedang membakar ikan di atas api unggun, "kemarilah!" Liu Li melambaikan tangannya.


"Ini enak sekali. Ternyata kamu pandai juga," puji pangeran Han.


"Ini hal kecil untukku hahaha ..." ucap Liu Li bangga.


Pangeran Jin duduk di sebelah Liu Li dengan kesal, kamu tak pernah membuatkan sesuatu untuk suamimu tapi malah membuatkan orang lain, batin pangeran.


"Pangeran, makanlah. Ini enak," Liu Li menyodorkan setusuk ikan bakar yang masih panas.


"Tidak," jawab pangeran.


"Kamu harus makan banyak," Liu Li mengambil secuil ikan dan meniupnya, lalu menyuapkannya ke mulut pangeran.

__ADS_1


Pangeran terkejut, tapi dengan cepat menghilangkan perasaan itu dan mengunyah makanan di mulutnya.


"Enak kan?" tanya Liu Li sambil bersiap memberikan suapan yang kedua.


Prajurit yang kebetulan berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk terkejut melihat pemandangan yang tak biasa itu, mereka berbisik, "lihat, ternyata pangeran bisa luluh juga pada putri."


"Ya, pangeran yang terkenal dingin pada perempuan ditaklukkan oleh putri."


"Putri memang luar biasa."


Pangeran Jin mendengar bisik-bisik prajuritnya dan memberikan pandangan mata yang mematikan, dalam sekejap mereka menutup mulutnya rapat-rapat.


"Aaa ..." Liu Li menyuapkan lagi ikan bakar di tangannya, "habiskan, pangeran." Pangeran menurut saja membuka mulutnya dan melupakan bisik-bisik para prajurit.


"Pangeran Jin beruntung sekali memiliki istri seperti putri," ucap pangeran Han.


"Kudengar kamu akan menikah dengan putri dari negara seberang, kami akan datang untuk mengucapkan selamat." Pangeran Jin sengaja mengatakannya supaya Liu Li juga mendengar.


"Benarkah?" tanya Liu Li, "pangeran jangan pergi sendiri, kamu harus mengajakku," ucap Liu Li pada pangeran Jin.


"Aku akan mengajakmu." Kemudian Liu Li dan pangeran asyik berbincang sendiri.


Sial, aku seperti obat nyamuk di sini, batin pangeran Han.


"Baiklah, ini sudah hampir waktunya," ucap pangeran Jin, "Liu Li, tinggallah di perkemahan. Jangan pergi ke mana pun, di luar terlalu berbahaya," perintahnya.


"Ya, aku akan menunggu di sini," jawab Liu Li.


"Wei Hong," panggil pangeran Jin, "perintahkan pengawal untuk menjaga putri secara khusus."


"Saya telah mempersiapkannya, pangeran."


"Bagus. Kita bersiap sekarang, semua menempati posisinya. Tunggu perintahku untuk bergerak."


Semua prajurit bersiap untuk menempati posisinya masing-masing. Begitu juga dengan pangeran Jin dan pangeran Han, mereka berdua telah berada di atas kudanya masing-masing.


"Tunggu aku di sini, berjanjilah," ucap pangeran Jin lembut sambil menatap mata Liu Li. Melihat sikap Liu Li selama ini, ia khawatir Liu Li akan menyusul ke medan perang.


"Aku berjanji. Pangeran juga harus berjanji untuk kembali kemari." Liu Li begitu sedih melepas pangeran ke untuk berperang.


"Aku berjanji," pangeran menepuk kudanya lalu pergi meninggalkan Liu Li yang masih berdiri terpaku hingga pangeran tak lagi terlihat.

__ADS_1


__ADS_2