
Saat malam tiba, pangeran Jin mendatangi Liu Li di kamarnya.
"Istriku, aku datang," ucap pangeran membuat Liu Li merasa aneh mendengarnya.
"Pangeran, apa ada hal yang membuatmu senang?" tanya Liu Li saat melihat wajah pangeran Jin yang bersemangat.
"Aku senang karena melihatmu," jawab pangeran.
Pangeran, kenapa berubah jadi seperti ini? Dasar bucin, batin Liu Li.
"Kemarilah, duduk di sebelahku," pinta pangeran, "ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu."
Liu Li menurut dan duduk di sebelah pangeran.
"Jenderal memerlukan bantuan, ia sedang memimpin perang melawan bangsa Tartar," ucap pangeran Jin, "di sana berbahaya. Kamu ingin ikut atau tinggal di mansion?" Pangeran Jin sengaja membiarkan Liu Li untuk memilih, ia tak mau bila Liu Li diam-diam bersembunyi mengikutinya sampai ke medan perang.
"Apa pangeran tidak keberatan bila aku ikut?" selidik Liu Li.
"Aku berharap kamu bisa ikut. Jadi tiap malam, ada yang menemaniku tidur," jawab pangeran Jin.
"Jangan harap," gerutu Liu Li.
"Jadi istriku mau tinggal di mansion saja?"
"Tidak, aku mau ikut."
"Kamu memang istri yang mengerti kemauan suami," goda pangeran Jin.
"Pangeran," protes Liu Li.
Setelah semua prajurit dan perbekalan siap, pangeran Jin memerintahkan para prajurit untuk berangkat lebih dulu karena memakan waktu yang lebih lama karena membawa kereta kuda berisi perbekalan.
"Wei Hong, pimpin prajurit ke perkemahan Jenderal, ajak Ah Feng bersamamu. Aku dan Liu Li akan menyusul dengan menunggang kuda lewat jalan pintas," perintah pangeran Jin.
"Baik, pangeran." Wei Hong pamit dan berangkat memimpin prajurit.
"Pangeran Jin," nenek Zao memberi hormat, "para selir ingin mengucapkan salam perpisahan."
"Ya," jawab pangeran Jin, "di mana Liu Li? Kenapa dia belum kemari?"
"Putri masih mempersiapkan sesuatu, sebentar lagi dia akan datang," jawab nenek Zao.
Kemudian nenek Zao mengisyaratkan pada bawahannya untuk memberi kabar pada para selir untuk segera menemui pangeran. Beberapa saat kemudian para selir sudah berkumpul untuk menemui pangeran.
Para selir tidak ada yang berani berkata-kata, mereka menunggu selir Fu Rong yang biasanya paling dominan. Tapi yang ditunggu tak juga mengeluarkan suaranya.
Kemudian dengan mengumpulkan keberaniannya, selir Ming mulai berbicara "pangeran, Ming sengaja membuatkan sapu tangan ini untuk pangeran. Sapu tangan ini telah diberkati oleh dewa," ucap selir Ming sambil menyerahkan sapu tangannya ke tangan pangeran Jin, "semoga pangeran pulang membawa kemenangan."
__ADS_1
"Aku akan menyimpannya," jawab pangeran Jin.
Wajah selir Ming sangat senang saat pangeran menerima pemberiannya dan membuat selir yang lain merutuki dirinya masing-masing,
kenapa tak terpikirkan olehku memberikan pangeran sapu tangan, batin mereka.
Liu Li datang dari arah samping, kemudian para selir memberi hormat.
"Putri, jangan khawatir pada pangeran. Aku telah memberinya sapu tangan yang telah diberkati dewa," ucap selir Ming, "selama pangeran Jin pergi, Ming akan menemani dan menjaga putri di mansion."
"Selir Ming tak perlu repot-repot menjagaku. Aku akan turut serta bersama pangeran pergi ke medan perang," jawab Liu Li.
"Apa? Tapi bagaimana mungkin? Putri adalah seorang perempuan," seru selir Ming.
Liu Li menatap selir Ming yang terus saja berbicara, lalu bola matanya bergeser melihat selir Fu Rong yang hanya diam saja.
Ada apa dengan selir Fu Rong? Dia terlihat berbeda, batin Liu Li.
"Liu Li akan pergi bersamaku. Dia akan membantu tim medis untuk mengobati prajurit yang terluka," ucap pangeran Jin.
Para selir tak ada yang berani untuk memprotes.
"Baiklah, kita berangkat sekarang," kata pangeran Jin.
"Ya," jawab Liu Li, kemudian ia menatap nenek Zao, "nenek, kupercayakan mansion padamu."
Pangeran Jin dan Liu Li menaiki kuda yang sama, dengan posisi Liu Li berada di depan.
Para selir memandang Liu Li dengan iri, ia terlihat begitu mesra dengan pangeran. Jin.
"Putri Liu Li membuatku sangat iri," gumam salah satu selir, "mereka terlihat serasi sekali," ucapnya lirih. Selir yang lain pun mengiyakannya dalam hati mereka masing-masing.
"Berpeganglah, kita berangkat," ucap pangeran Jin, kemudian memacu kudanya untuk berlari. Ia mengarahkan kudanya dengan cepat untuk menyusul rombongan prajurit yang telah berangkat lebih dulu di bawah pimpinan Wei Hong.
"Kenapa kita hanya berdua saja? Kenapa tidak ikut di rombongan prajurit?" tanya Liu Li, suaranya samar-samar tertiup angin.
"Aku ingin berkuda berdua denganmu. Kita begitu intim hahaha ...," jawab pangeran tanpa beban.
"Pangeran," seru Liu Li kesal, "katakan padaku sejujurnya, aku tahu bukan itu alasannya."
"Menjadi istri seorang pangeran sepertiku membuatmu makin pintar," ucap pangeran Jin.
"Aku sudah pintar sejak lahir," gumam Liu.
"Itu hanya untuk mengelabui musuh. Mereka pasti mengirim mata-mata, lalu mereka akan menerima laporan bahwa aku tak ada dalam rombongan. Dengan begitu mereka akan lengah."
"Sebegitu pentingnyakah pangeran berada di medan perang?" tanya Liu Li. "Lalu kenapa bukan pangeran saja yang memimpin bertempur melawan bangsa Tartar?"
__ADS_1
"Kamu senang sekali bila aku terus berada di medan perang. Apa kamu tak ingin tinggal dengan suamimu di mansion?"
Untuk kestabilan kerajaan Fang, raja tidak mungkin meminta pangeran Jin memimpin semua perang. Masih ada jenderal perang dan juga menteri pertahanan yang juga mampu, tapi memang tak bisa dipungkiri bahwa peran pangeran Jin sangatlah besar. Para musuh pun gentar dengan hanya mendengar pangeran Jin ikut dalam perang. Selain kuat, dia juga memiliki taktik perang yang tak mudah dibaca oleh musuh.
"Apakah kamu lelah?" tanya pangeran Jin.
"Tidak," jawab Liu Li.
"Baiklah, kita istirahat setelah sampai di pemukiman penduduk."
Beberapa jam kemudian mereka berhenti di sebuah desa. Pangeran Jin mengaitkan kudanya di sebuah pohon besar. Lalu mereka berdua masuk ke sebuah kedai makan. Pangeran Jin memesan begitu banyak hidangan untuk mereka berdua.
"Aku merasa kita sedang bertamasya. Sepanjang jalan kita melewati bukit dan pemandangan indah. Sekarang kita singgah di rumah makan dan menyantap makanan enak," ucap Liu Li senang saat melihat hidangan yang menggugah selera di hadapannya.
"Kamu harus berterima kasih padaku. Aku yang merancang perjalanan ini untukmu," ucap pangeran Jin bangga, "hari juga sudah gelap. Kita akan cari penginapan dan bermalam di sana."
"Apakah tidak apa-apa? Apa kita tidak terlambat nantinya?"
"Jangan khawatir, kuda yang kita tunggangi lebih cepat dari para prajurit. Selain itu, aku mengambil jalan pintas. Kita akan sampai lebih dulu di perkemahan."
"Aku mengerti. Mari makan," ajak Liu Li.
Setelah menghabiskan makanan, mereka mencari sebuah penginapan di desa itu.
"Kebetulan sekali," ucap pemilik penginapan, "kamar kosong yang tersisa hanya tinggal satu saja."
"Kami akan mengambilnya," jawab pangeran Jin.
Apa kita harus satu kamar? batin Liu Li.
"Kalian pasangan muda yang serasi," puji pemilik kamar.
"Bibi pandai memuji," jawab pangeran Jin senang.
Pangeran Jin selalu bersikap dingin, kenapa akhir-akhir ini dia jadi suka berbicara, batin Liu Li.
Liu Li tidak mengerti bahwa pangeran Jin sedang berusaha memenangkan hatinya.
"Kamarnya lumayan," ucap Liu Li setelah mereka masuk ke kamar penginapan, "apa pangeran yakin kita akan tidur seranjang?"
"Apa ada yang salah? Kamu adalah istriku," jawab pangeran Jin, "ayo kemarilah," pintanya pada Liu Li untuk mendekat ke ranjang.
Liu Li menurut dan berbaring di sebelah pangeran, "aku lelah sekali, aku mau tidur," ucap Liu Li sambil memiringkan tubuhnya membelakangi pangeran Jin. Ia tak mau pangeran Jin mengambil kesempatan padanya.
Pangeran Jin melingkarkan tangannya ke pinggang Liu Li, "biarkan aku memelukmu. Tidurlah."
Pipi Liu Li bersemu merah. Ini nyaman sekali, batin Liu Li.
__ADS_1
Kemudian ia membiarkan pangeran memeluknya hingga ia tertidur.