
Pintu kamar dibuka dari luar dan pangeran Jin masuk ke kamar, "kamu sudah bangun? Ayo kita sarapan lalu melanjutkan perjalanan."
"Baik. Aku akan membersihkan diri dulu," jawab Liu Li.
"Apa kamu mau aku membatumu berganti pakaian?" goda pangeran.
"Pangeran," protes Liu Li.
Pangeran Jin tersenyum, "kutunggu di bawah." Kemudian pangeran Jin keluar dari kamar dan menunggu Liu Li di kedai makan.
Beberapa saat kemudian Liu Li telah siap lalu menyusul pangeran di lantai bawah.
"Kamu tidur nyenyak sekali semalam. Kamu bahkan tidak terbangun ketika ..." Pangeran menggantung kalimatnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Liu Li penuh selidik.
"Semalaman aku memelukmu dan air liurmu menetes," jawab pangeran.
Liu Li secara spontan menutup mulutnya, tidak mungkin! Itu sangat memalukan! batinnya.
"Bahkan saat tidur pun kamu sangat cantik, aku menahan diriku semalaman," bisik pangeran tanpa malu-malu.
"Dasar mesum!" seru Liu Li.
Seorang pelayan perempuan membawakan makanan yang telah dipesan pangeran Jin, "silakan menikmati, tuan dan nyonya," ucapnya.
"Terima kasih," jawab Liu Li.
"Apakah kalian pengembara?" tanyanya.
"Ya," jawab pangeran Jin cepat.
"Apa kalian akan melewati hutan di perbatasan desa ini?" tanyanya kuatir.
"Ya."
"Kalian harus hati-hati. Baru-baru ini di hutan itu banyak orang hilang. Mereka masuk dan tak pernah kembali," ucapnya murung.
"Ada apa di sana?" tanya Liu Li ingin tahu.
"Tak ada yang tahu, karena tak satu orang pun kembali," jawabnya.
Pangeran Jin dan Liu Li saling menatap, mereka penasaran apa yang ada di hutan itu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan setelah selesai dengan sarapannya.
"Pangeran, kira-kira ada apa di hutan?" tanya Liu Li was was karena dia tak bisa ilmu bela diri.
"Kita akan cari tahu," ucap pangeran Jin sambil memacu kudanya menuju hutan gelap.
Warga desa baru-baru ini memberi nama hutan itu dengan sebutan hutan gelap karena cerita-cerita seram yang beredar, termasuk banyaknya orang yang tidak kembali setelah masuk ke sana.
__ADS_1
"Pangeran, hutan ini biasa saja seperti hutan pada umumnya," ucap Liu Li setelah berada di tengah hutan.
"Kurasa juga begitu," jawab pangeran Jin.
Kuda pangeran masih terus berlari dengan cepat, hingga sesuatu dibidikkan ke arah kuda, "tak!" Kuda terjungkal. Dengan sigap pangeran menangkap Liu Li yang terlempar dari tubuh kuda, sedangkan kuda itu sendiri tersungkur ke tanah.
Liu Li telah berada di pelukan pangera Jin, "apa kamu terluka?" tanya pangeran.
"Tidak," jawab Liu Li, "tapi sepertinya kuda kita terluka," ucapnya sambil memandang kuda yang sedang merintih di tanah.
"Hati-hati, ada sesuatu yang mengintai kita," ucap pangeran Jin sambil melepaskan Liu Li dari dekapannya.
"Aku tak bermaksud melukai kudamu," ucap seseorang di balik pohon.
"Keluar sekarang!" seru pangeran Jin, ia bersiap menghunus pedangnya.
Seseorang dengan luka di sekujur tubuhnya menampakkan diri di balik pohon, "hutan ini tidak aman. Ada segerombolan perampok yang bersembunyi dan membunuh siapa pun yang datang. Aku sudah beberapa hari di sini, tapi tak bisa menemukan jalan keluar hutan. Jika kalian terus berkuda ke arah matahari terbit, kalian akan menemukan para penjahat itu. Kalian harus berjalan ke arah sebaliknya."
"Dia seorang perempuan," bisik Liu Li pada pangeran Jin. Meskipun orang itu berpakaian seperti seorang laki-laki, tapi Liu Li dapat melihatnya dengan jelas bahwa dia seorang perempuan.
"Kenapa kami harus percaya padamu?" tanya pangeran Jin pada perempuan itu.
"Aku hanya ingin menyelamatkan kalian. Terserah mau percaya atau tidak," jawabnya.
"Pangeran, sepertinya dia bukan orang jahat," bisik Liu Li.
"Ah!" Perempuan itu memekik kesakitan karena luka di kakinya.
Perempuan itu diam saja ketika Liu Li menolongnya.
"Dari mana asalmu?" tanya Liu Li saat mengoles obat pada lukanya.
"Aku tak punya rumah, aku seorang pengembara," jawabnya.
"Siapa namamu?"
"Aku juga tak punya nama," jawabnya.
"Baiklah, nona misterius. Lukamu sudah kuobati," ucap Liu Li.
"Kamu tahu kalau aku seorang perempuan?" tanyanya tak percaya.
Liu Li hanya tersenyum.
"Ayo kita pergi." Pangeran Jin menggandeng tangan Liu Li dan mengajaknya pergi.
"Tunggu!" seru nona misterius, "tolong keluarkan aku dari hutan ini," pintanya.
Pangeran Jin diam sejenak. Ia melihat kudanya yang terluka, sementara waktu ia tak akan bisa menungganginya, "apa kamu bisa berjalan?"
__ADS_1
tanyanya pada nona misterius.
"Ya," jawab nona misterius dengan cepat.
"Suamiku, sebentar," ucap Liu Li, "aku akan mengobati kudanya dulu."
"Apa yang kamu bilang barusan?" tanya pangeran dengan bersemangat.
"Aku akan mengobati kuda," jawab Liu Li.
"Bukan."
Liu Li menghela nafas panjang, "suamiku." Liu Li merasa perlu menyembunyikan identitas pangeran Jin, maka dari itu dia memanggilnya dengan sebutan suamiku. Tapi di telinga pangeran Jin, panggilan itu terdengar sangat romantis.
"Ucapkan lagi," pinta pangeran.
"Suamiku, tunggu sebentar. Kuda kita harus diobati," ucap Liu Li kesal.
"Tentu," jawab pangeran Jin bersemangat.
Liu Li mengobati luka pada kaki kuda. Hanya luka kecil. Tapi, nona itu bisa membidik tepat di kaki kuda, pangeran Jin yakin dia bukan orang sembarangan. Selain itu dia merahasiakan identitasnya. Dia sangat mencurigakan.
"Selesai. Kita belum bisa menungganginya," ucap Liu Li.
"Kita berjalan sampai keluar dari hutan ini," kata pangeran Jin.
"Kalian yakin mau terus berjalan ke arah sana?" tanya nona misterius.
"Ya, kami tak akan kembali ke tempat kami masuk. Tidak apa bila kamu tak ingin ikut," jawab pangeran Jin.
"Aku ikut," ucapnya.
Kemudian mereka bertiga berjalan menyusuri hutan. Seperti yang nona misterius katakan, di depan sana segerombolan penjahat sedang berkumpul. Mereka sedang menikmati arak.
"Hutan ini dilindungi formasi sihir yang membuat orang hanya berputar-putar saja di dalam hutan," terang pangeran Jin saat mereka sedang bersembunyi di balik semak-semak, mengamati para penjahat.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Liu Li.
"Bunuh para penjahat itu, mantra sihirnya akan terpatahkan bila pemiliknya mati," jawab pangeran Jin.
"Mereka sangat kuat dan jumlahnya terlalu banyak," ucap nona misterius.
"Aku bisa memberikan mereka obat tidur," ucap Liu Li.
"Tidak, itu terlalu berbahaya," cegah pangeran Jin. Tapi terlambat, Liu Li telah berjalan ke arah lain menjauh dari pangeran Jin. Pangeran Jin hendak menyusulnya, tapi nona misterius memegang tangannya.
"Tunggulah, kita akan menyelamatkannya bila sesuatu terjadi," ucap nona misterius.
Pangeran Jin menghempaskan tangan perempuan itu, lalu dia diam di tempatnya.
__ADS_1
Liu Li, bila sesuatu yang buruk terjadi padamu, aku tak akan bisa memaafkan diriku, batin pangeran Jin.