Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Misteri Kematian Prajurit


__ADS_3

Setelah dengan beberapa pertimbangan, pangeran Jin memanggil jenderal untuk bertemu dengan Nerfia dan mendengarkan rencananya.


"Aku akan mengikuti perintah pangeran Jin," ucap jenderal.


"Baiklah. Kita ikuti rencana Ner," jawab pangeran Jin.


"Kalau begitu, aku akan pergi ke negeri tanah tinggi untuk menemui kakakku. Aku akan segera kembali," ucap Ner kemudian ia beranjak pergi. Jenderal pun pamit meninggalkan tenda pangeran Jin.


"Pangeran, kenapa kamu mempercayai Ner?" tanya Liu Li.


"Aku pernah dengar kabar tentang diusirnya putri bangsa Tartar. Seandainya dia berbohong, aku tak akan rugi apa pun. Bangsa Tartar tidak bisa meremehkan prajuritku," tutur pangeran Jin.


Liu Li tersenyum mendengarnya, ia tak tahu menahu masalah perang. Tapi ia percaya pada penilaian pangeran Jin.


"Pangeran Jin." Wei Hong datang melapor.


"Ada masalah apa?" tanya pangeran Jin saat melihat wajah Wei Hong yang tegang.


"Tiga orang prajurit kita tewas di tenda," jawab Wei Hong.


"Bagaimana bisa terjadi?"


"Tabib masih memeriksanya. Sementara ini diduga karena keracunan. Mereka merasakan demam beberapa hari sebelumnya," jelas Wei Hong.


"Aku melihatnya," ucap pangeran Jin.


"Aku ikut," seru Liu Li.


Kemudian mereka bertiga melihat mayat ketiga prajurit yang tewas.


Liu Li mengamati mayat yang terbaring. Ketiganya memiliki ciri-ciri yang sama, tubuhnya membiru seperti keracunan, dan lubang telinga serta hidung mengeluarkan darah.


"Tapi, jari tangannya tidak menghitam," gumam Liu Li.


"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya pangeran Jin.


"Belum," jawab Liu Li, "pangeran, Liu Li ingin memeriksa sesuatu."


"Apa itu?"


"Aku ingin membuka kepala mereka untuk memeriksa penyebab kematiannya," jelas Liu Li.


Permintaan Liu Li terdengar tak masuk akal. Pangeran Jin belum pernah mendengar ada hal seperti itu, "Liu Li, apa kamu yakin?"

__ADS_1


"Pangeran Jin, maafkan kelancangan jenderal," sela jenderal yang sedari tadi sudah berdiri di dekat mayat prajuritnya, "mereka adalah prajurit di bawah pimpinanku. Mereka telah gugur di medan perang, biarkan mereka gugur dengan terhormat. Aku akan memberikan mereka pemakaman yang layak."


"Jenderal, aku tak bermaksud buruk," ucap Liu Li, "aku merasa ada yang aneh dengan kematian mereka. Aku curiga ada makhluk atau sesuatu di kepala mereka. Mereka tetap gugur dengan terhormat, aku tidak pernah mengubahnya," jelas Liu Li, "bahkan setelah gugur, mereka masih berjasa karena membantu kita untuk menemukan penyebab kematian itu. Tidak menutup kemungkinan prajurit yang lain sedang terancam bahaya."


"Putri, maafkan atas kebodohanku. Putri memiliki hati yang mulia, bagaimana bisa jenderal bodoh ini berpikiran sempit," ucap jenderal menyesali prasangkanya pada Liu Li.


"Jenderal, aku mengerti maksudmu," jawab Liu Li, "sekarang aku akan melakukan pembedahan pada kepalanya. Kalau kalian tak sanggup melihatnya, kalian bisa keluar."


"Wei Hong akan berjaga di luar," pamit Wei Hong.


"Aku akan menemanimu di sini," ucap pangeran Jin.


"Jenderal tetap di sini?" tanya Liu Li.


Jenderal mengangguk. Ia telah terbiasa melihat darah, ia rasa melihat proses pembedahan bukan hal besar untuknya. Selain itu, ia ingin melihat sendiri apa yang terjadi pada prajuritnya.


"Baiklah, ayo dimulai." Liu Li menarik nafas panjang. Ia telah mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan.


Diambilnya pisau bermata tajam, lalu diirisnya tempurung kepalanya hingga terbelah. Otak prajurit itu terlihat jelas, Liu Li mengamatinya dengan saksama, ada sesuatu yang aneh di dalamnya. Liu Li mengeluarkannya dengan hati-hati dan meletakkannya di meja.


"Ini adalah cangkang serangga," tunjuk Liu Li pada benda kecil yang baru saja ia temukan, "bila ini cangkangnya, di mana serangganya?" Liu Li memberi pertanyaan.


Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Liu Li.


Kemudian Liu Li membungkuk dan melihat lubang telinga prajurit yang tewas itu, ia memasukkan sesuatu yang tipis dan panjang lalu menariknya keluar, sesuatu ikut tertarik keluar.


Itu adalah seekor serangga kecil yang telah mati.


"Entah bagaimana larva serangga itu masuk ke otak prajurit dan hidup di dalamnya. Larva itu hidup dengan memakan otak inangnya hingga ia berubah menjadi serangga dengan melepas cangkangnya. Saat inangnya mati, serangga ini lalu mencoba keluar lewat rongga telinga. Tapi sepertinya serangga ini tidak bisa hidup lama tanpa inangnya, ia pun ikut mati," jelas Liu Li panjang lebar.


Rasanya tak masuk akal, tapi Liu Li pernah membaca buku zaman kuno yang menceritakan tentang ilmu sihir yang dapat mengirimkan serangga ke dalam tubuh manusia. Saat itu ia membacanya untuk menghabiskan waktu saja, tak disangka kejadian seperti itu dialami orang-orang di sekitarnya.


Liu Li menyatukan kembali tempurung kepala yang terpisah. Ia menjahitnya dengan cepat, "entah sudah berapa orang prajurit yang memiliki larva serangga di tubuh mereka, aku khawatir larva itu ..."


"Kurang ajar! Siapa yang berani menyerang prajurit kita dengan cara licik seperti ini!" geram jenderal.


"Tenanglah jenderal," ucap Liu Li, "saat ini yang kita butuhkan adalah cara menyelamatkan para prajurit yang lain. Kita tak tahu apakah larva itu sudah tertanam di tubuh mereka atau belum." Liu Li berpikir sejenak, "bukankah mereka mengalami demam sebelumnya? Pangeran, cari prajurit yang sekarang mengalami demam," pinta Liu Li.


"Wei Hong," panggil pangeran Jin.


Wei Hong masuk ke tenda, "saya, pangeran."


"Bawa kemari prajurit yang sekarang mengalami demam," perintah pangeran.

__ADS_1


"Pangeran dan putri, jenderal mohon pamit. Aku harus mengurus beberapa hal," ucap jenderal kemudian keluar meninggalkan tenda.


Beberapa saat kemudian Wei Hong kembali ke tenda dengan membawa empat orang prajurit yang sedang mengalami demam.


"Wei Hong, bantu aku memindahkan mayat para prajurit. Aku akan melakukan pemeriksaan di sini," pinta Liu Li.


"Baik, putri." Dibantu beberapa orang lainnya, Wei Hong memindahkan mayat-mayat itu keluar tenda.


"Siapa nama kalian?" tanya Liu Li.


Mereka menyebutkan nama masing-masing, "Jang, An, Bay, dan Eum."


"Apa yang kalian rasakan saat ini?" tanya Liu Li pada keempat orang prajurit di hadapannya.


"Kepalaku sakit dan tulang-tulangku ngilu," jawab salah seorang prajurit.


"Putri tenanglah, ini hanyalah ciri-ciri flu biasa," jawab yang lain.


"Kalian tahu? Tiga orang teman kalian yang baru saja meninggal itu juga mengalami ciri-ciri yang sama seperti kalian," jelas Liu Li, "apa kalian ingin mati?"


"Tidak, putri," jawab mereka serempak dengan rasa takut.


"Pangeran, apa kamu percaya padaku?" tanya Liu Li.


"Ya," jawab pangeran Jin cepat.


"Aku harus membedah kepala mereka," ucap Liu Li.


Apa? Membedah kepala manusia yang masih hidup? Aku masih bisa menerima bila Liu Li membedah mayat, tapi mereka masih hidup, batin pangeran Jin.


Keempat prajurit yang mendengarnya pun sangat terkejut hingga kaki mereka bergetar, "kepala dibedah? Maksudnya diiris seperti mengiris semangka?"


Liu Li menarik nafas panjang, "hal ini harus dilakukan. Aku tak bisa mempelajari serangga yang sudah mati. Aku harus mendapatkan serangga itu hidup-hidup untuk mencari kelemahannya," jelas Liu Li.


Pangeran Jin menggenggam tangan Liu Li, "aku percaya padamu."


Liu Li merasa senang mendapat dukungan dari pangeran.


"Tenanglah, aku akan menemukan obatnya dan menyelamatkan hidup kalian," ucap Liu Li.


"Tidak ada bedanya, pada akhirnya kita akan mati bila tidak segera diobati," jawab Jang, dan yang lainnya pun mengiyakan.


"Baiklah, siapa yang mau menjadi yang pertama?" tanya Liu Li.

__ADS_1


Jang maju dengan penuh percaya diri, "saya, putri."


"Jang, kamu sungguh berani. Tenanglah, ini tak akan sakit," ucap Liu Li sambil tersenyum, "semuanya keluar. Tinggalkan kami berdua," pinta Liu Li.


__ADS_2