Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Terkuak


__ADS_3

"Putri, aku berhasil menemukan pelayan yang bersama selir Fu Rong ke kebun istana. Tapi ..." lapor nenek Zao.


"Kenapa?" tanya Liu Li.


"Karena mencuri, dia dihukum seratus cambuk oleh selir Fu Rong. Sekarang dia sedang terluka parah."


"Seratus cambuk? Aku mau melihatnya sekarang."


"Saya akan mengantar putri."


Kemudian nenek Zao mengantar Liu Li untuk melihat pelayan itu, Meng Meng mengikuti di belakangnya.


Kondisi pelayan selir Fu Rong sangat mengenaskan. Orang biasa tak akan selamat setelah mendapatkan cambukkan sebanyak itu, tapi pelayan ini bisa bertahan walau keadaannya sekarang sangat kritis.


"Nenek, ambilkan bungkusan berwarna merah di dalam kotak obatku. Lukanya sangat parah, dia harus segera meminum obat itu," ucap Liu Li.


"Baik, putri." Nenek Zao meninggalkan Liu Li.


"Putri, dia yang telah mencelakaimu. Apakah dia layak untuk diobati?" tanya Meng Meng.


"Tugasku untuk mengobati orang yang sakit," jawab Liu Li. Ia teringat sumpahnya saat ia dilantik menjadi seorang dokter.


Pelayan itu masih bernafas, tapi ia tak sadarkan diri. Pakaiannya sudah koyak dan tubuhnya penuh luka bekas cambukkan.


"Meng, ambilkan air hangat, handuk, dan baju yang bersih untuknya. Lukanya harus dibersihkan," perintah Liu Li.


"Baik, putri," jawab Meng Meng.


Nenek Zao kembali dengan membawa obat yang Liu Li minta, "putri, apa putri akan memberikan obat ini padanya? Bahan obat ini sangat langka, dan putri membuatnya sendiri menghabiskan waktu yang lama."


"Ya, dia sedang kritis." Liu Li memasukkan obat yang berbentuk bulat kecil ke mulut pelayan itu, "aku bisa membuatnya lagi."


Setelah Meng Meng membawa apa yang Liu Li minta, ia mulai merawat luka bekas cambukkan di tubuh pelayan itu dan mengganti bajunya dengan yang baru.


"Meng, kamu jaga dia sampai dia sadar. Selir Fu Rong tak akan membiarkannya bila tahu dia masih hidup," ucap putri.


"Baik, putri."


Beberapa jam kemudian, pelayan itu mulai membuka matanya. Tubuhnya masih lemah, tapi kondisinya sudah jauh lebih baik berkat obat yang diberikan Liu Li.


"Ah," keluhnya saat merasakan perih pada lukanya.


"Kamu sudah sadar," ucap Meng Meng, "kamu aman di sini. Putri Liu Li menyelamatkanmu. Dia sendiri yang mengobati dan merawat luka-luka di sekujur tubuhmu. Putri juga memberikan obat yang sangat berharga untukmu, lukamu jadi bisa pulih dengan cepat. Tanpa putri, mungkin sekarang kamu sudah mati," terang Meng Meng. Sebenarnya Meng Meng tidak menyukai pelayan itu, tapi karena dia adalah orang yang bisa membuktikan selir Fu Rong bersalah, Meng Meng harus bisa menahan diri.

__ADS_1


Pelayan itu menangis saat mengingat apa yang telah ia perbuat pada Liu Li, ia hanya menuruti perintah selir Fu Rong. Tapi tak disangka, selir Fu Rong memfitnahnya mencuri perhiasan darinya, "aku bersalah pada putri Liu Li."


"Baguslah kalau kamu tahu."


Seorang pelayan lain memberitahukan kondisinya pada Liu Li. Meng Meng tetap berada di sana untuk menjaganya. Beberapa saat kemudian Liu Li datang.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah sakit sekali?" tanya Liu Li untuk memastikan bahwa obat pereda nyerinya perlu ditambah atau tidak.


Pelayan itu mencoba turun dari ranjangnya.


"Jangan turun," cegah Liu Li, "tetaplah di ranjangmu."


Pelayan itu menghentikan gerakannya dan mulai menangis lagi, "putri Liu Li, hamba bersalah."


"Siapa namamu?"


"Ah Feng."


"Ah Feng, ceritakan padaku apa yang terjadi di kebun istana."


"Saat itu ... selir Fu Rong memerintahkanku untuk menjalankan rencananya. Hamba meminta seorang pelayan untuk mengatakan pada putri bahwa pangeran Jin menunggu di istana harum yang telah diberi dupa penenang, sehingga putri langsung tertidur begitu menghirupnya. Saat putri tertidur, dupa perangsang dibakar. Lalu sesuai rencana selir Fu Rong, pangeran Zang dipanggil ke istana harum. Hamba bertugas mengawasi dari kejauhan untuk mengawasi semuanya berjalan sesuai rencana. Lalu pangeran Jin datang ..." Ah Feng bercerita dengan penuh penyesalan. Orang yang telah ia celakai justru menyelamatkan nyawanya.


"Dia harus dihukum atas perbuatannya," ucap pangeran Jin yang telah berdiri di belakang Liu Li.


"Meng Meng, jangan tinggalkan tempat ini," perintah Liu Li, "pangeran, ayo kita pergi," Liu Li menggandeng tangan pangeran Jin dan mengajaknya keluar.


"Aku ingin menjadikannya pelayanku," jawab Liu Li, "sepertinya dia punya ilmu bela diri, siapa yang bisa menahan seratus cambukkan. Hanya orang yang memiliki tenaga dalam dan terlatih yang bisa bertahan, meski kondisinya saat itu sudah diambang kematian."


"Baiklah, aku akan mengurus selir Fu Rong."


Liu Li mengerutkan alisnya, "apa kamu akan mengampuninya? Sebegitu berharganya dia?"


Pangeran tersenyum, "kamu cemburu?"


Liu Li memalingkan wajahnya, "aku lapar."


"Apa yang ingin kamu makan?" tanya pangeran Jin sambil meraih tangan Liu Li, "apa kamu ingin memakanku?" goda pangeran.


Pipi Liu Li bersemu merah, ia kembali teringat saat mereka melewatkan malam pertama, "pangeran, aku benar-benar lapar."


"Baiklah," ucap pangeran sambil menggandeng tangan Liu Li. Kemudian mereka makan siang bersama.


Setelah makan, pangeran Jin pergi mengunjungi pangeran Zang di penjara bawah tanah.

__ADS_1


"Paman," seru pangeran Zang bahagia. Rambutnya nampak acak-acakan, "paman, lihatlah tubuhku menjadi kurus dan kulitku pucat karena tinggal di sini."


"Aku telah menemukan orang yang menjebak Liu Li," ucap pangeran tanpa memedulikan ocehan pangeran Zang.


"Benarkah? Akhirnya paman tahu bahwa aku tidak bersalah," ucapnya berbinar-binar, "siapa orang itu? Berani-beraninya dia melakukannya."


"Selir Fu Rong."


"Selir Fu Rong, aku tak pernah mengganggunya, kenapa dia melakukan ini," gumam pangeran Zang, "Bukannya dia selir kesayangan paman?"


Pangeran Jin tak memedulikan pertanyaan pangeran Zang, "kamu ingin tinggal di sini lebih lama?"


"Tidak!" seru pangeran Zang.


Kemudian pangeran Jin meninggalkan pangeran Zang dan membiarkan pintu penjara terbuka.


"Selir Fu Rong ... aku tak akan diam saja atas perbuatanmu padaku. Aku hampir saja membusuk di penjara bawah tanah ini. Kamu harus membayarnya." Pangeran Zang mengepalkan tangannya penuh dendam.


"Paman, tunggu aku!" seru pangeran Zang saat menyadari pangeran Jin sudah meninggalkan penjara.


***


"Nyonya, tubuh Ah Feng hilang," lapor salah satu pengawalnya.


"Apa dia sudah mati?" tanya selir Fu Rong.


"Aku ... aku tak yakin," jawabnya ragu. Ia tahu bahwa Ah Feng memiliki ilmu bela diri yang tinggi.


"Bodoh!" teriak selir Fu Rong sambil melemparkan makanan yang ada di mejanya, "cari dia sampai ketemu! Atau kamu yang akan menggantikannya masuk ke peti mati!"


Pengawal itu meninggalkan ruangan dengan rasa takut.


"Kenapa pekerjaan kalian tak ada yang memuaskan?!" gerutu selir Fu Rong, "siapkan air hangat, aku mandi," perintahnya pada seorang pelayan.


Beberapa saat kemudian air hangat telah siap dan selir Fu Rong berendam di dalamnya.


"Tubuhmu lumayan bagus juga," ucap pangeran Zang yang telah berdiri di dekat tirai.


Selir Fu Rong begitu terkejut melihat pangeran Zang, "pangeran, kenapa kamu di sini? Pergi! Atau aku akan memanggil pengawal," teriak selir Fu Rong.


"Pengawalmu telah pergi," ucap pangeran Zang sambil menyeringai, "bila kamu berteriak, semua orang akan tahu kalau aku telah melihat tubuhmu tanpa pakaian. Kamu sendiri yang akan menghancurkan nama baikmu."


Selir Fu Rong mengetahui sifat pangeran Zang, ia tak akan peduli dengan nama baiknya sendiri. Terakhir kali raja menghukumnya ke pengasingan karena dia masuk ke kamar selir raja, tak ada yang tahu apa yang ia lakukan, raja tak membiarkan berita itu menyebar.

__ADS_1


"Jangan mendekat! Mau apa kamu!" Selir Fu Rong sangat ketakutan, "jangan macam-macam padaku! Ayahku adalah seorang menteri pertahanan!"


"Aku tak peduli," kata pangeran Zang, ia tetap melangkah mendekati selir Fu Rong.


__ADS_2