
"Pangeran ini sudah malam, ada apa mencariku?" tanya Liu Li.
"Aku ingin menikmati teh melati buatanmu," jawab pangeran Jin.
"Meng Meng, buatkan kami teh melati," ucap Liu Li.
"Baik, putri," jawab Meng Meng, lalu menghilang di balik pintu.
"Pangeran sepertinya kelelahan, apa kamu baik-baik saja?" Wajah pangeran terlihat letih dan lesu.
"Aku baik-baik saja."
Liu Li meraih tangan pangeran, kemudian ia memeriksa denyut nadi pangeran, "peredaran darah pangeran tidak lancar. Aku akan memberikan pijatan untuk membantu melancarkannya."
Pangeran diam saja saat Liu Li berdiri dan mulai memijat pundak pangeran.
"Apakah rasanya nyaman?" tanya Liu Li.
"Ternyata kamu bisa juga memijat."
Liu Li merasa bangga dengan kemampuannya, "itu juga salah satu keahlianku."
"Bukankah saat memijat sebaiknya baju dilepaskan?"
"Ya, memang," jawab Liu Li cepat, tapi kemudian wajahnya memerah menyadari kebodohannya.
Meng Meng masuk dan membawa dua cangkir teh melati yang masih hangat, "pangeran, putri, teh melati sudah siap."
"Terima kasih, Meng Meng," ucap Liu Li.
"Tutup pintunya, aku akan bermalam di sini," perintah pangeran.
Meng Meng sangat senang mendengarnya, "baik, pangeran." Lalu ia keluar dan menutup pintu dengan cepat.
"Pangeran, kenapa kamu tidur di sini?" protes Liu Li.
"Bukannya kamu akan memijatku? Bantu aku melepas baju," perintah pangeran. Liu Li tak berdaya menolaknya, dengan patuh ia membantu melepaskan baju pangeran.
Kemudian pangeran berbaring tengkurap di ranjang, "Liu Li, aku tak mau kedinginan," ucap pangeran.
"Baik," jawab Liu Li sambil berjalan mendekat ke ranjang.
Liu Li mulai memijat pangeran.
"Kenapa kamu ingin mengikutiku saat bepergian?" tanya pangeran.
Sambil terus memijat, Liu Li menjawab, "aku bosan di mansion sendirian."
__ADS_1
"Bukankah ada banyak orang di sini?"
"Selir-selir itu? Mereka tidak ada yang menyukaiku."
Pangeran Jin memutar badannya. Kini ia dapat melihat wajah Liu Li, "apa kamu pikir aku menyukaimu?"
"Kalau tidak menyukaiku, pangeran tidak akan ada di sini," jawab Liu Li asal.
Pangeran menatap mata Liu Li, kemudian ia menarik tangannya hingga Liu Li jatuh pelukan pangeran, "apa kamu menyukaiku?" tanya pangeran.
Jarak mereka begitu dekat, hingga Liu Li mampu mendengar hembusan nafas pangeran, "tidak," jawab Liu Li.
"Benarkah?"
"Aku ti--"
Pangeran tidak membiarkan Liu Li menyelesaikan kalimatnya. Ia mencium bibir Liu Li dengan lembut. Liu Li yang terkejut berusaha menghindar, tapi tangan pangeran menahannya dengan kuat.
"Kamu," protes Liu Li setelah pangeran melepaskannya, Liu Li mundur sampai di ujung ranjang.
"Aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu," kata pangeran dengan lembut.
Liu Li masih tak percaya dengan apa yang terjadi, pangeran tiba-tiba saja menciumnya.
Ini ciuman pertamaku, batin Liu Li.
"Tidurlah." Pangeran menarik selimutnya dan memejamkan mata.
Setelah Liu Li tertidur, pangeran Jin membuka matanya. Kemudian ia menatap punggung Liu Li dan rambutnya yang tergerai indah.
Perempuan ini selalu membuatku ingin dekat dengannya, batin pangeran sambil menyentuh ujung rambut Liu Li.
***
Pagi ini suasana kediaman para selir sedang gaduh. Mereka mendengar bahwa pangeran Jin bermalam di kediaman Liu Li.
Begitu juga di kediaman selir Fu Rong. Seperti biasa, ia akan melempar barang-barang di sekitarnya ketika marah.
“Liu Li, kurang ajar!!” teriak selir Fu Robg sambil melempar cangkir tehnya.
Selir Fu Rong menuliskan sesuatu dan melipatnya. "Kirim pesan ini ke ayahku," perintah selir Fu Rong pada pelayannya, ia menyerahkan sepucuk surat itu. Ayahnya adalah salah satu menteri di kerajaan.
Tak membutuhkan waktu lama, ayah Fu Rong menerima surat itu dan langsung membacanya, "dasar anak bodoh! Begini saja tidak bisa mengatasi," keluhnya. Kemudian ia menulis sebuah surat, tapi surat itu bukan ditujukan untuk Fu Rong, "berikan surat ini pada pangeran Jin, sekarang!" perintahnya.
"Baik, Tuan." Pelayan dengan cepat mengirim surat ke kediaman pangeran Jin.
"Tuan, menteri pertahanan mengirim surat untuk pangeran Jin," lapor pelayan pada Wei Hong.
__ADS_1
"Berikan padaku. Kamu bisa pergi sekarang," jawab Wei Hong. Kemudian ia memberikan surat itu pada pangeran Jin.
Pangeran Jin membaca surat lalu meletakkannya begitu saja di meja, "menteri pertahanan sampai ikut campur masalah rumah tanggaku, dia tak tahu di mana posisinya," ucap pangeran. Menteri pertahanan meminta pangeran Jin untuk menghabiskan malam bersama putrinya, selir Fu Rong.
"Dengan kekuatan pangeran sekarang, kehilangan dukungan dari menteri pertahanan bukanlah masalah besar," ucap Wei Hong.
"Tidak. Bila aku melepaskan dukungan menteri pertahanan, aku tidak akan bisa mengontrol pergerakannya. Sementara aku akan mengikuti permainannya. Panggil Liu Li kemari,” perintah pangeran.
"Baik, pangeran,” jawab Wei Hong.
Beberapa saat kemudian Liu Li datang menemui pangeran Jin.
"Liu Li, kamu adalah seorang tabib. Apakah kamu bisa membuatku sakit atau terkena demam pada malam nanti?" tanya pangeran.
"Bisa, tapi ... untuk apa pangeran membutuhkannya?" tanya Liu Li tak mengerti.
"Ada sesuatu yang harus kulakukan," jawab pangeran.
Liu Li merasa pangeran tak ingin ia mengetahuinya, "baiklah, aku akan membuatkan obat untuk pangeran, pangeran bisa meminumnya nanti. Kurang setelah satu jam obat itu akan membuat tubuh pangeran demam."
"Bagus."
"Kalau begitu, Liu Li pamit dahulu." Liu Li meninggalkan pangeran.
Malam pun tiba. Pangeran telah meminum obat yang diberikan Liu Li. Sekarang dia sedang berjalan menuju kediaman selir Fu Rong.
Selir Fu Rong benar-benar senang saat melihat pangeran, "selir Fu Rong memberi hormat."
Pangeran melihat begitu banyak kue di meja, "apa kamu sendiri yang membuatnya?" tanya pangeran.
"Ini semua makanan kesukaan pangeran. Fu Rong sendiri yang membuatnya."
Akhirnya, malam yang kunantikan segera tiba. Pangeran akan jadi milikku dan aku akan segera mengandung putra dari pangeran, batin Fu Rong senang.
"Pangeran, apa kamu baik-baik saja?" tanya Fu Rong saat melihat pangeran memegangi kepalanya.
"Kepalaku terasa berat," ucap pangeran. Obatnya mulai bekerja dan tepat waktu. Sebenarnya itu hanyalah gejala flu biasa.
Fu Rong menyentuh kening pangeran, "pangeran tubuhmu panas sekali," pekik Fu Rong, "pelayan, panggil tabib istana," perintahnya.
"Aku tidak apa-apa," ucap pangeran.
Kemudian tabib istana datang dengan tergesa-gesa sambil membawa peralatannya. Ia segera memeriksa denyut nadi pangeran, "pangeran, Anda terkena demam. Istirahatlah, saya akan memberi pangeran obat," ucapnya.
"Apa pangeran ingin kembali ke kediaman pangeran?" tanya Fu Rong, ia mengkhawatirkan kondisi pangeran.
"Tidak, aku telah berjanji untuk bermalam di sini," jawab pangeran.
__ADS_1
"Fu Rong akan merawat pangeran dengan baik," ucap Fu Rong terharu. Ia merasa pangeran sangat perhatian padanya.
Pangeran Jin tidur di kediaman selir Fu Rong. Hanya tidur, tidak melakukan hal lain.