Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Menggoda Pangeran


__ADS_3

"Brakkk!" Pintu didobrak dengan paksa dari luar.


"Liu Li!" Pangeran Jin berdiri dengan marah. Tatapan matanya sedingin es membuat pangeran Zang ketakutan setengah mati.


"Paman, paman, ini tidak seperti yang paman lihat!" Pangeran Zang membela diri.


Pangeran Jin menarik tangan Liu Li untuk menjauhkannya dari keponakannya itu, kemudian menampar pangeran Zang dengan keras. Darah segar mengalir dari mulut pangeran Zang.


"Paman, aku dijebak," ucap pangeran Zang sambil memegangi pipinya.


Liu Li bergelayut di leher pangeran Jin, "panas sekali di sini," keluhnya.


Pangeran Jin segera membopong Liu Li, "Wei Hong, bereskan tempat ini. Jangan sampai ada bukti," perintah pangeran Jin, "bawa dia ke penjara mansion."


"Baik, pangeran," jawab Wei Hong.


"Paman, aku tak bersalah! Paman!"


"Buk!" Wei Hong memukul pangeran Zang hingga pingsan, ia tak mau pangeran membuat keributan dan mengundang rasa ingin tahu orang lain.


Pangeran Jin membawa Liu Li masuk ke kereta kudanya untuk kembali pulang ke mansion.


"Pangeran ..." panggil Liu Li dengan suara menggoda, "apa pangeran tak menginginkanku?" Tangannya dengan nakal meraba dada pangeran.


"Kamu sungguh tak sabar, kita masih di kereta," jawab pangeran.


Sepertinya Liu Li terkena sesuatu yang membuatnya bergairah, batin pangeran.


Selama di perjalanan, Liu Li terus menggoda pangeran. Pangeran harus melawan dirinya sendiri untuk tidak merespon gerakan Liu Li.


Tenanglah, tenanglah, batin pangeran Jin mencoba menenangkan adik kecilnya.


"Pangeran, kita sudah sampai," ucap pengawal dari luar kereta kuda.


Pangeran membopong Liu Li turun dari kereta kuda. Para pengawal melihat dengan heran kondisi Liu Li yang acak-acakan dan bergelayut manja dalam dekapan pangeran. Tapi kemudian mereka tersenyum malu dan saling berbisik, "pangeran pasti sangat hebat."


"Aku rasa juga begitu, apa terjadi sesuatu di dalam kereta?" bisik pengawal lainnya.


“Sepertinya terjadi sesuatu,” jawabnya sambil cekikikan. Pangeran yang merasa sedang dibicarakan memandang para pengawal dengan tatapan dingin yang mematikan, dengan seketika mereka menutup mulutnya rapat-rapat.


Pangeran dengan cepat melangkahkan kakinya masuk ke mansion dan membawa Liu Li ke dalam kediamannya.


"Kamu harus mandi," perintah pangeran.


Pangeran memaksa Liu Li untuk masuk ke bak mandi. Ia merendam tubuh Liu Li di bak mandinya, dengan baju masih menempel di tubuhnya.


"Dinginkan tubuhmu," ucap pangeran.

__ADS_1


"Pangeran ..." desah Liu Li sambil berdiri. Kemudian ia keluar dari dalam bak mandi, bajunya yang basah membuat lekuk tubuhnya terlihat begitu jelas, "aku basah," ucap Liu Li menggoda, “bisa bantu aku melepaskannya?”


Pangeran tersenyum, "kamu yang memintanya." Kemudian ia menarik tubuh Liu Li dan mencium bibirnya, lalu keduanya berakhir di ranjang pangeran.


***


Liu Li menggeliat, ia merasa seluruh tubuhnya pegal, "di mana ini?" gumamnya. Lalu ia melihat pangeran sedang tertidur di sampingnya, "pangeran?" ucapnya tak percaya.


Liu Li lebih terkejut lagi ketika menyadari tubuhnya hanya ditutupi sehelai selimut, "tidak!" teriak Liu Li.


Teriakan Liu Li membangunkan pangeran, "Liu Li, ada apa?" tanya pangeran khawatir.


"Aku yang seharusnya bertanya. Apa yang pangeran lakukan padaku?" Liu Li merasa pangeran telah berbuat jahat padanya.


Pangeran membetulkan posisi duduknya, lalu memperlihatkan punggungnya yang tak tertutup apa pun, "lihatlah." Pangeran menunjukkan bekas kuku yang meninggalkan banyak luka di punggungnya.


Apakah aku yang melakukannya? batin Liu Li tak percaya. Kemudian samar-samar ingatan kejadian semalam terbesit di kepalanya. Ia sendiri yang terus menggoda pangeran untuk melakukannya.


"Ah!" Liu Li menutup wajahnya karena malu.


"Punggungku sakit," rintih pangeran. Sayatan pedang saja tak berarti baginya, apalah arti goresan kuku. Pangeran hanya ingin menggoda Liu Li.


"Aku akan mengobatinya," jawab Liu Li merasa bersalah.


Apa aku seganas itu, batinnya lagi tak percaya.


***


Selir Fu Rong melotot pada pelayan, "bagaimana bisa?!"


Pelayan hanya menunduk tak berani menjawab. Kemudian selir Fu Rong menariknya ke tempat yang sepi, "katakan!" perintahnya tak sabar.


"Pangeran Jin datang dan mendobrak pintu. Lalu ia membawa putri Liu Li pergi. Pangeran Zang juga dibawa pergi oleh anak buah pangeran Jin. Kemudian para pengawalnya membersihkan istana harum tanpa meninggalkan bukti apa pun, seperti tak pernah terjadi apa-apa di sana," lapor pelayannya yang selir Fu Rong beri tugas untuk mengamati istana harum dari kejauhan.


Selir Fu Rong meremas sapu tangannya, "dasar tak berguna!"


Pelayan hanya bisa menunduk ketakutan.


Aku harus mengetahui, apakah pangeran Zang melakukan sesuatu pada Liu Li atau tidak, batin selir Fu Rong.


***


"Anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu menggoda bibimu," sentak pangeran Jin dengan marah di dalam penjara bawah tanah miliknya.


"Paman, aku dijebak. Tolong percaya padaku." Wajah pangeran Zang telah babak belur terkena pukulan, ia sudah tidak berdaya.


"Renungkan perbuatanmu. Tinggallah di sini," perintah pangeran.

__ADS_1


"Paman, di sini sangat dingin. Setidaknya berikan aku selimut yang tebal,” pinta pangeran Zang.


Pangeran Jin mengacuhkan pangeran Zang, kemudian meninggalkannya sendiri di dalam sel.


"Pamaaaaan!" teriak pangeran Zang memelas, "sial! Siapa yang berani menjebakku?! Aku pasti akan membalasnya." Pangeran Zang begitu pendendam, ia tak akan dengan mudahnya melepaskan orang yang menjebaknya.


Seekor tikus lewat di depan kaki pangeran Zang, "akh, di sini sangat menakutkan,” pekiknya, “pamaaaaan, lepaskan aku!" teriak pangeran Zang memecah kesunyian penjara bawah tanah.


***


Keesokan harinya, selir Fu Rong berkunjung ke kediaman Liu Li.


"Ada apa selir Fu Rong?" tanya Liu Li tanpa basa basi.


"Putri tiba-tiba menghilang di kebun istana, permaisuri menanyakan keberadaan putri saat itu," jawab selir Fu Rong.


"Kenapa bukan suruhan permaisuri yang datang? Apa selir Fu Rong ada hubungannya dengan kepergianku saat itu?" Selir Fu Rong membawa dirinya sendiri, hal ini membuat Liu Li yakin bahwa selir Fu Rong ada kaitannya dengan kejadian di istana harum.


"Fu Rong tidak mengerti maksud putri. Apa yang terjadi pada putri saat itu? Fu Rong hanya menyampaikan pertanyaan dari permaisuri. Permaisuri begitu khawatir pada putri, apa putri mencurigai permaisuri?" Selir Fu Rong mencoba membolak-balikkan fakta. Bila Liu Li menjelek-jelekkan permaisuri, ia akan punya sesuatu untuk diadukan pada permaisuri nantinya.


"Sampaikan permintaan maafku pada permaisuri karena membuatnya khawatir," jawab Liu Li, ia tak mau terjebak kalimat selir Fu Rong, "kemarin aku merasa kurang sehat. Lalu pangeran Jin membawaku pulang. Kami tak sempat berpamitan pada permaisuri."


Selir Fu Rong menatap Liu Li, ia nampak baik-baik saja, tak ada luka di tubuhnya, dan wajahnya pun cerah. Tidak ada tanda-tanda bahwa Liu Li telah dilecehkan. Selir Fu Rong bisa menebak kalau pangeran Zang belum melakukan sesuatu pada Liu Li.


"Fu Rong akan menyampaikan permintaan maaf putri pada permaisuri. Fu Rong mohon diri," ucapnya lalu pergi meninggalkan kediaman Liu Li.


"Meng Meng, panggil nenek Zao kemari," perintah Liu Li.


Beberapa saat kemudian nenek Zao telah menghadap, "putri memanggilku," ucap nenek Zao.


"Nenek, cari tahu, pelayan mana yang pergi menemani selir Fu Rong ke kebun istana kemarin. Bawa dia ke hadapanku," perintah Liu Li.


"Putri, apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya nenek Zao.


"Aku akan mencari tahu siapa yang menjebakku."


"Baik, putri."


Sementara itu di kediaman selir Fu Rong, ia sedang berusaha untuk melenyapkan bukti keterlibatannya.


"Dasar pencuri!" tuduh selir Fu Rong pada pelayannya. Ia sengaja melakukannya untuk mencari alasan memberi hukuman pada pelayan itu. Dia adalah pelayan yang sama yang ia ajak menghadiri jamuan di kebun istana.


"Nyonya, aku tidak melakukannya, aku tidak mencuri." Pelayan itu mengiba, ia tahu nyawanya sedang terancam, "nyonya, ampuni aku!"


"Bukti sudah ada di depan mata, kamu masih mengelak! Pengawal, berikan dia hukuman seratus cambuk," perintah selir Fu Rong.


Orang biasa tak akan mampu menahan seratus cambukkan, itu berarti kematian sedang menantinya.

__ADS_1


"Tidak! Tidak!" Pelayan itu terus menangis dan mengiba. Tapi selir Fu Rong mengacuhkannya. Lalu dua orang pengawal menyeretnya keluar.


__ADS_2