Reinkarnasi Permaisuri

Reinkarnasi Permaisuri
Sedikit Cemburu


__ADS_3

"Apa kamu tak tahu aturan mansion? Di mana tata kramamu," kata Liu Li.


Selir Fu Rong membungkuk dengan setengah hati lalu memberi salam, "selir Fu Rong memberi salam."


Liu Li meninggalkan Fu Rong begitu saja, tubuhnya sudah kelelahan. Ia ingin cepat-cepat merebahkan diri di tempat tidurnya.


"Dulu kamu bisa lepas dari hukuman karena pangeran menyelamatkanmu. Tapi hal itu tak akan terjadi untuk kedua kalinya," ucap selir Fu Rong lirih, "kali ini kamu pasti diusir dari sini karena ulahmu sendiri."


Orang-orang yang tak melihat dengan mata kepala mereka sendiri tak akan percaya tentang berita bahwa Liu Li menolong pangeran Jin malam itu. Mereka, termasuk Fu Rong, mengira kalau pangeran hanya ingin menyelamatkan nama baiknya saja, Liu Li yang terkenal bodoh dan mudah ditindas mana mungkin tiba-tiba memahami ilmu medis.


"Putri sudah pulang," sambut nenek Zao bahagia.


"Nenek, aku lelah sekali."


"Akan kusiapkan air hangat untuk mandi."


"Ya, nek ..." Liu Li menjatuhkan dirinya di kursi. Bagaimana pun tubuh ini masih belum kuat sepenuhnya karena tidak biasa melakukan pekerjaan berat.


Beberapa saat kemudian air hangat telah siap, Liu Li pun merendam tubuhnya, "ini nyaman sekali," gumamnya.


"Nenek," panggil Liu Li.


"Iya, putri," jawab nenek Zao yang menunggu di samping Liu Li.


"Ada kabar apa selama aku pergi?"


"Selir Fu Rong beberapa kali meminta bertemu. Aku katakan bahwa putri sedang istirahat karena kurang sehat."


"Selir Fu Rong, kenapa dia bersemangat sekali menggangguku?"


"Putri ... selir Fu Rong adalah selir pertama pangeran Jin, dia ..."


"Kalau aku tidak ada, dia yang akan menjadi istri utama pangeran. Ya ya ... aku mengerti. Keluarganya juga memiliki pengaruh yang besar," ucap Liu Li.


"Putri harus berhati-hati."


"Tenanglah, nek ... aku tidak selemah dulu."


***


"Kakak, kondisi wabah di wilayah sudah dapat dikendalikan. Tapi aku belum menemukan siapa dalang dari semua itu. Aku yakin ada seseorang yang dengan sengaja melakukannya," ucap pangeran Jin pada raja.


Mereka hanya berdua saja, jadi berbicara selayaknya kakak beradik.


"Wabah sudah membuat rakyat menderita. Pejabat dan tabib di wilayah selatan tidak mampu menanganinya. Dengan campur tanganmu, dalam tiga hari saja wabah sudah dapat diatasi," ucap raja.


"Semua ini berkat bantuan Liu Li."


"Liu Li? Dia ikut ke selatan?"

__ADS_1


"Dia diam-diam naik kereta barang."


"Hahaha ... istrimu itu memang luar biasa. Dia sungguh wanita yang tangguh."


Dia wanita yang merepotkan, batin pangeran Jin.


"Besok, ajaklah dia ke istana. Dia juga telah menyembuhkan cucuku. Aku akan memberinya hadiah."


"Baik, aku pamit dulu."


"Pergilah."


Pangeran kembali ke mansionnya. Para selir telah menunggu untuk menyambut kedatangannya.


"Di mana putri Liu Li? Kenapa ia tak hadir?" tanya selir Miu.


"Ssst ... kepala pelayan telah kembali ke istana ibu suri. Saat ini yang mengambil alih kepala pelayan adalah bawahan selir Fu Rong, kamu pikir dia akan memberi tahu putri Liu Li untuk ikut menyambut pangeran?" bisik selir Fang.


"Ah, sepertinya akan ada pertunjukan lagi."


Pangeran Jin memasuki pintu gerbang mansion. Ia nampak gagah berjalan diiringi oleh beberapa pengawalnya.


"Salam hormat kami, yang mulia," sambut para selir sambil membungkukkan badan.


Pangeran Jin nampak dalam suasana hati yang baik, ia tersenyum pada selir-selirnya.


"Selamat atas keberhasilan pangeran menangani wabah di selatan," ucap selir Fu Rong.


"Saya akan membantu pangeran membersihkan diri," ucap selir Fu Rong.


"Ya," jawab pangeran Jin singkat.


Selir Fu Rong dengan bangga mengikuti pangeran Jin menuju kamarnya. Setelah berada di kamarnya, selir Fu Rong membantu pangeran melepaskan bajunya untuk berendam di air hangat yang telah disiapkan.


Pangeran menikmati berendam air hangat dan pijatan lembut di pundaknya oleh selir Fu Rong, "pangeran, nampaknya putri Liu Li sedang tidak sehat. Kulihat dia tidak hadir saat menyambut pangeran tadi."


Pangeran tidak menyahut.


"Sepertinya putri Liu Li kelelahan karena selama tiga hari ini ia sibuk di luar. Kemarin Fu Rong hendak melihatnya, kupikir ia sedang sakit, ternyata ..." Selir Fu Rong mencoba memberikan kesan buruk tentang Liu Li pada pangeran dengan cara yang halus.


"Aku akan melihatnya setelah mandi," jawab pangeran.


Apa? Setelah mandi? Kupikir setelah ini kita akan menghabiskan malam bersama. Tapi, bila hal ini bisa membuat Liu Li terusir dari mansion ini, aku bisa mendapatkan malam yang lain dengan mudah, batin Fu Rong.


"Pangeran sungguh perhatian pada putri," ucap selir Fu Rong dengan lembut.


Sebenarnya pangeran belum pernah menghabiskan malam dengan selir-selirnya. Ia menikah karena permintaan ibu suri untuk menguatkan posisinya sebagai pangeran.


Tak dapat dipungkiri, posisi raja saat ini tidak begitu kuat, dengan sedikit guncangan saja, siapa pun yang memiliki posisi kuat bisa menggantikan posisinya menduduki tahta. Ibu suri memiliki dua orang putra, bila suatu saat raja dilengserkan, ia akan menaikkan pangeran Jin sebagai kaisar. Maka dari itulah, ibu suri memerintahkan pangeran menikahi perempuan-perempuan pilihannya sebagai selir untuk menguatkan posisinya. Namun, ibu suri tak tahu, tanpa selir-selit itu pun posisi pangeran sudah sangat kuat dengan prajuritnya yang setia.

__ADS_1


Setelah berpakaian, pangeran Jin dan selir Fu Rong menuju kediaman Liu Li.


"Pangeran Jin dan selir Fu Rong datang," ucap pelayan di pintu kamar Liu Li.


Liu Li yang sedang menikmati teh hangatnya sedikit terkejut karena tak mengira kedatangan mereka, "hormat pada pangeran. Ada keperluan apa hingga pangeran datang?" tanya Liu Li dengan sopan.


Pangeran duduk di kursi sebelah Liu Li duduk, "hmm ... apa yang kamu minum?" tanya pangeran.


"Ini adalah teh melati buatanku," jawab Liu Li.


"Benarkah?"


"Ya, apa pangeran mau?"


"Ya."


Liu Li memberikan kode pada nenek Zao untuk menyeduhkan teh untuk pangeran.


"Putri." Selir Fu Rong memberi salam.


"Selir Fu Rong, malam-malam begini, apa yang membawamu ke mari?" tanya Liu Li.


Saat datang pangeran tak mengatakan apa pun, ia bahkan ingin minum teh di sini, dia mau memarahi Liu Li tidak?! batin Fu Rong, "tadi Fu Rong membantu pangeran menggosok tubuhnya," ucap Fu Rong dengan sengaja, ia ingin memperlihatkan betapa intimnya hubungannya dengan pangeran Jin, "lalu Fu Rong ikut pangeran ke mari untuk menemui putri."


Kalian habis mandi bersama lalu kemari? Mau pamer kemesraan padaku? gerutu Liu Li, "pangeran, ada keperluan apa?"


"Apa kamu sakit?" tanya pangeran.


"Aku baik-baik saja. Seperti yang pangeran lihat sekarang."


Pangeran mendekat ke wajah Liu Li, "kamu sedikit pucat."


"Mungkin karena sedikit kelelahan." Liu Li gugup karena begitu dekat dengan wajah pangeran.


Fu Rong yang melihatnya menjadi geram, "kelelahan? Apa putri telah melakukan perjalanan jauh sampai kelelahan?"


Liu Li memandang Fu Rong, ia tahu perempuan itu mencoba untuk menjebaknya, "pangeran ... aku kelelahan, pangeran harus bertanggung jawab."


Pangeran tersenyum, "baiklah, aku akan menemanimu malam ini."


Karena ingin membuat Fu Rong marah, Liu Li merespon perkataan pangeran dengan manja, "baiklah ..."


"Tapi, pangeran --" protes Fu Rong.


"Kamu kembalilah ke istanamu, hari sudah malam," perintah pangeran.


Fu Rong tak berdaya menolak perintah pangeran, "selir Fu Rong pamit." Kemudian ia berjalan pulang dengan kesal.


"Apa aku harus memijatmu malam ini?" goda pangeran.

__ADS_1


"Jangan mimpi!"


__ADS_2